
Selama 2 Minggu Nanda di karantina,Bunda melarang ku mengunjungi Nanda karena letaknya yang jauh dari rumah dan aku yang harus kerja kecuali jika hari libur.
"Bagaimana persiapan pernikahan kamu ?" tanya ayah Dito. "Semua berkas kantor sudah lengkap tinggal nunggu kondisi Nanda membaik, baru langsung pengajuan " jawabku. "Kalau buat resepsi sudah dapat gedung ?" tanya bunda Anin,Ya saat ini aku lagi mengunjungi Nanda.
"Sudah WO sudah dapat yang cocok,cuma kata ibu dari pada menyewa gedung pakai halaman rumah saja sampai jalan, seperti warga lainya "ucapku.
"Ya gitu juga tidak apa-apa, gak harus pakai gedung, tetapi jika mau pakai gedung bilang bunda aja tar bunda yang aku mengurusnya"ucap bunda.
"Apa tidak apa-apa kalau di rumah orang tuaku Bun,bukan di gedung takutnya bikin malu"ucap ku.
"Saat putra bunda milih kamu dan bunda sudah setuju,maka bunda juga harus menerima semua kekurangan dan kelebihan mu serta keluarga besar mu. Buat bunda yang penting kebahagiaan anak-anak bunda" ucap Bunda.
"Berarti Senen langsung pengajuan kita" ucap Nanda berjalan menghampiriku,membuatku melotot melihatnya "Mas sudah sehat?" tanyaku.
"Selama 2 minggu di karantina 3 kali di tes mas sudah sehat, cuma masih takut anaknya membawa penyakit jadi mas di suruh bertahan di karantina"kesel Nanda.
"Itu demi kebaikan mu bunda tidak mau karena ulahnya 1 orang semua terkena imbasnya"ucap Bunda.
"Sekarang aku sudah sehat ayo kita pulang" ucap Nanda sambil merangkul bahuku.
" Boleh. Ayo sekarang kita pulang sekalian kita perkenalkan Aya pada keluarga besar kita"ucap Bunda.
"Tapi Bun aku belum siap, masih malu"ucapku. "Tida apa-apa biar kenal aja kita cuma ada acara makan siang bersama dengan nenek kakek,opa Oma, sambil menyambut kedatangan anak nakal ini"ucap Bunda sambil menepuk pundak Nanda.
"Ada aku kamu ga perlu takut "bisik Nanda. "Iya bun" jawab ku sambil mengagukan kepala.
Nanda memiliki keluarga besar yang ramai bunda Anin anak tunggal tetapi mempunyai sepupu yang banya, sedang papa Dito punya dua pasangan orang tua membuat keluarga ini tampak ramai.
"Kenapa?" tanya Nanda sambil duduk di sampingku. "Ramai juga ya keluargamu"ucapku. "Sebentar lagi mereka juga bakal jadi keluarga mu, keluarga kita"ucap Nanda. "Mama punya adik tinggal di kampung ketemu kalau pas mudik, papak punya adik di Bogor ketemu pas lebaran doang kalau ada momen penting juga sih,"ucapku.
"Gimana kalau setelah nikah kantor beres,kita langsung nikah saja" ucap Nanda. "Gak usahlah aneh-aneh merubah rencana orang tua, sesekali nurut kenapa sih kemauannya orang tua"keselku.
"Iya-iya ga usah ngambek, bikin aku gemes jadi pingin cium" ucap Nanda.
Setelah hampir 2 jam di rumah Nanda,aku pamit pulang dengan diantar Nanda tentunya dan kedatangan Nanda dirumah tidak hanya disambut oleh kedua orang tuaku, tetapi juga para tetangga ku yang sudah akrab dengan Nanda terutama ayah yang semangat mengajak main catur.
"Bagaimana orang tua Nanda keberatan tidak jika acaranya resepsi pernikahan kita adakan di rumah melibatkan para tetangga ?" tanya ibu. "Tidak, kata bunda terserah pihak kita aja" ucapku. "Buat catering sudah ok sama yang bunda sarankan atau mau cari yang lain ?" tatanya ibu.
"Yang itu aja lah Bu ribet kalau nyari lagi,ini ibu pegang aja pin nya tanggal lahir ku"ucapku menyodorkan ATM pemberian Nanda.
"Berapa jumlahnya? takut kurang ibu bisa jaga-jaga siapin punya ibu"ucap ibu sambil tertawa.
"Gak tau punya Nanda penghasilan dari rumah kosan" ucapku. "Gak usah punya simpanan ibu dan ayah saja "kata ibu sambil mengembalikan kembali.
"Kata Nanda ini khusus buat pernikahannya jadi ibu bawa aja" ucapku. " Tidak usah itu tanggung jawab kami sebagai orang tua "ucap ibu tetap menolak.
"Ibu jadi tambah takut memegangnya "
Bener yang dikatakan Nanda ,besoknya hari Senin hari pertama Nanda masuk kerja dia langsung mengajukan izin nikah kantor kepada atasannya. Semua kita jalani bersama-sama meskipun kami masih sering cekcok seperti kali ini.
" Kalau repot bilang ga bisa jemput jadi kita tinggal janjian di tempat tujuan gak kayak gini ngaret,"keselku. "Mereka maklum kali,aku juga sudah bilang ke mereka kita telat" ucap Nanda tidak mau di salahkan. Hari ini kita fighting baju pengantin untuk acara resepsi, sebenarnya hanya baju ku karena Nanda hanya memakai jas putih mengimbangi aku yang memakai kebaya modern warna putih bersih.
"Maaf ya mbak telat,"ucapku saat sampai di butik. " GA apa-apa tadi mas Nanda bilang macet lalu lintas,"ucap pegawai butik.
"sekalian ini baju baju buat kedua keluarga juga sudah siap belum mbak?" tanya Nanda.
"Sudah mas, buat ke dua orang tua juga buat keluarga juga sudah siap,buat among tamu, suda siap semua mas."
"Kamu beli juga buat para among tamu, ?"tanyaku.
"Ini buat kedua orang tua,ini buat keluarga, buat among tamu,buat penerimaan tamu serta pagar ayu dan pagar Bagus nya juga" ucap pegawai butik di ikuti beberapa pelayan yang membawa setumpuk pakean."Tolong bantu bawa ke mobil ,saya bayar dulu"ucap Nanda berjalan ke kasir.
"Mas kita mau nikah Lo bukan mau jualan baju" keselku saat kami di mobil, dalam pembicaraan awal hanya sepasang baju pengantin kedua orang tua ku dan keluarga tidak sebanyak ini.
"Iya mas tau, mas gak enak sama para ibu-ibu dan bapak-bapak di sekitar lingkungan mu yang sudah menerima mas, anggap ini ucapan terimakasih mas"ucap Nanda, apa bilangnya ucapan terimakasih dengan membelikan baju semua tetangga ucapku dalam hati.
"Tapi tidak memberikan mereka baju mas dengan jumlah orang yang begitu banyak , hampir 20 rumah kita bisa menyewakan buat mereka pemborosan " keselku. Karena rasa marah dan kesel selama perjalanan aku hanya diam dan pura-pura tidur, begitu sampai rumah aku juga langsung masuk meninggalkan Nanda yang masih ngobrol sama para tetangga.
"Kenapa kak?" tanya ibu menghampiriku. "Bu tolong panggil Daffin dan Daffa untuk membantu Nanda menurunkan baju"ucapku sambil mengatur nafasku.
"Ini baju apaan banya amat ?" tanya ibu. " Ini ulah mantu ibu tanya saja sama dia, bukan bertanya dulu malah langsung beli"ketusku. Lantas semua keluarga ku yang berada di ruang tamu melihat kearah Nanda meminta penjelasan.
"Kata ibu-ibu kalau warga di sini menikah para among tamu,pagar ayu dan pagar Bagus nya serta para penerima tamu selalu pakai seragam jadi kelihatan kompak. Makanya aku tanya pegawai butik Aya pesen berapa baju,katanya hanya untuk kedua orang tua dan keluarga saja, bahkan keluarga jauh hanya minta kain yang sama" ucap Nanda.
"Dan mas berinisiatif membelikan buat mereka ?" ucap Daffa sambil terkiki yang di jawab anggukan kepala Nanda.
"Biasanya mereka disewakan oleh yang punya hajat buat ibu-ibu dan bapak-bapak paling kita kasih baju batik,kalau tidak pakai seragam dari RT yang pernah kita beli secara mencicil buat acara-acara tertentu" ucap ayah.
"Tu dengerin "ketusku." Ya udah karena ga bisa di balikin ke toko kita bagikan saja,mau giman lagi" ucap ayah. "Terus model bajunya siapa yang milih?" tanya ibu. "Aku melihat foto-foto yang ditunjukkan ibu-ibu dari sana aku mintak saran bunda" ucap Nanda.
Ibu berdiri dan membuka kardus-kardus itu yang masing-masing ada tulisannya."Ini batik mahal, biasanya yang 35 ribuan paling mahal juga 50 ribuan. Ini harganya berapa mas ?" tanya ibu.
"Gak tau Bu,semuanya hampir 100"ucap Nanda.
"Juta mas?" tanya Daffin yang diangguin Nanda.
"Terserah lah Bu aku pusing,mau tidur urus saja menantumu itu"ucapku meninggalkan ruang keluarga dengan tawa si kembar yang menggelegar.