
"Aku dengar Mbak daftar menjadi relawan pendidikan ya buat Indonesia mengajar!"tanya Daffin yang kebetulan lagi ijin berlibur dua hari yang baru datang tadi pagi.
"Iya mencari pengalaman "ucapku.
"kalian siap-siap kita pulang ke solo sekarang Mbah Putri drop"ucap ayah, membuat kami langsung berlari mengemasi barang yg perlu kami bawa. Mbah Putri adalah ibu ayah yang menetap di solo, tinggal bersama ponakannya karena. Ayah 2 bersaudara dan adiknya tinggal di Bogor mengikuti suaminya seorang ASN di dinas pendidikan.
"Aku aja yang bawa mobil pikiran ayah lagi kacau bahaya bawa mobil" ucapku menyuruh ayah keluar dari bangku kemudi.
"Kalian mau kemana ?"tanya Nanda yang baru datang.
"Mudik mas Mbah Putri sakit "ucap Daffin.
"Aku ikut biar aku yang bawa kendaraan"ucap Nanda.
"Terus gimana mobilmu? gak usah aneh-aneh "ucap ku kesel.
"Kamu keluarkan dulu mobilmu biar mobilku ku tinggal di sini"ucap Nanda.
"Ga usah aneh-aneh deh !" ucapku.
"Buruan kasihan Ayah !" ucap Nanda.
"Harga mobilmu mobilmu mahal kalau ada apa-apa aku gak mau tanggung jawab ,"ucap ku sebelum mengeluarkan mobil dari garasi.
"Gampang kalau ada apa-apa Lo sebagai gantinya gantiin mobil,"ucap Nanda, hanya membuatku mencebik.
"Nak Nanda gimana kerjanya,?"tanya ayah saat kami sedang dalam perjalanan menuju ke tempat kos Daffa.
"kebetulan besok jatah libur saya,pak"ucap Nanda yang duduk di kursi pengemudi di temani Daffin.
"Lihatlah putrimu baru ke kos Daffa aja udah tidur "ucap ibu saat mobil sampai di kos Daffa,aku yang pura-pura tidur hanya mendengus.
"Bangun dulu kak"ucap ibu, setelah Daffa duduk di bangku belakang di temani Daffin, setelah itu baru bener-bener tidur kami hanya beristirahat 2 kali waktu sholat magrib dan isya.
"Ini calon mantu mu pak dhe"ucap aji ponakan bapak.
"Doakan saja "ucap ayah membuatku melotot dan sikembar tertawa.
"Ngomong jangan diam saja"ucapku kesel.
"Ngomong apa ?"tanya Nanda.
"Sangkal lah bilang 'bilang kami hanya teman 'gitu Jangan hanya diam dan tersenyum"ucapku kesel.
" Karena gw berharap jadi kenyataan makanya gw diam,"bisik Nanda saat rombongan kami sudah memasuki ruang rawat Mbah Putri.
"Bu ini Rahmat Bu, Rahmat pulang" ucap ayah sambil mencium keningnya, setelah kami bergantian mencium punggung tangan Mbah Putri nampak kelopak matanya mulai terbuka perlahan dan tersenyum lembut. Ayah mendekat dan terus memperdengarkan kalimat lâ ilâha illallâh di telinganya Mbah Putri dan ibu menyuruh kami mengambil air wudhu, dengan mata yang masih mengantuk ibu menyuruh kami semua membaca surat Yasin.
"Lihat mas Nanda yang nyopir mobil tanpa diganti aja masih semangat membaca surat Yasin, Lo yang selama perjalanan tidur malah menguap terus,gak malu lo"ucap Daffa.
"Berisik"sewot ku, setelah sholat subuh ahkirnya Mbah Putri berpulang.
"Ndok ajakin calon suami mu makan kasihan sepertinya dia belum makan "ucap Bu lek Rahmi adik ayah yang datang tadi pagi.
"Apan si Bu lek dia bukan calonku hanya kami teman "ucapku.
"Nggak papa usiamu juga sudah pada nugu apa lagi"ucapnya.
"Aisss" sungut ku sambil berjalan menghampiri Nanda.
"Di suruh makan sama bulek!" ucapku.
"Ayo temani"ajak Nanda sambil menggeret ku.
"Jangan aneh-aneh kamu ikut pulang aja mereka sudah menganggap mau calon suamiku, apalagi kalau mereka melihatku menemanimu makan bisakah barunya" ucapku kesel.
"Tidak apa-apa semoga terkabul , lagian gw ga ada teman dobel D tidur no ,"ucap Nanda sambil menujuk ruang tamu nampak si kembar lagi tiduran di sofa ruang tamu.
"Bapak akan disini sampai tahlilan 7hari Mbah mu jadi kalian bisa pulang besok dengan bawa mobil,"ucap ayah, saat kami sedang berkumpul setelah acara malam tahlil.
"Tapi yah "protes kami.
"kalian masih terikat pekerjaan dan kegiatan pembelajaran, "ucap ayah ahkirnya kami pulang bertiga tanpa Daffin karena akan langsung kembali ke asrama.
'Egh kulirik jam dinding menujukkan angka 5. 40 segera ku turun dari tempat tidur dan berlari mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Kok tumben ibu tidak membangunkan aku untuk sholat subuh kataku dalam hati sambil melepaskan mukena, seketika aku sadar kalau Ibu tidak di rumah dan semalam Siapa yang menggendong ku dalam kamar perasaan kami masih dalam perjalanan pulang ke sini.
Aku berlari untuk membangunkan Daffa untuk sholat subuh, tetapi saat aku buka kamar Daffa aku lihat Nanda lagi melantunkan ayat ayat suci Al-Qur'an.
"Dari mana lo?"tanya ku.
"Beli sarapan".
"Semalam siapa yang mindahin gw ke kamar?"tanyaku.
"Yang jelas bukan gw, karena gw bukan orang baik sampai mau capek menggendong Lo naik tangga"ucap Daffa .
"Oh gw mau mandi tinggal aja kalau mau sarapan duluan"ucapku sambil berjalan ke kamar.
"Selama ayah dan ibu tidak dirumah,gw kuliah pulang pergi dari rumah"ucap Daffa saat kami sarapan bertiga.
"Tar Lo capek di jalan,gw gak mau ya denger drama Lo ngeluh "ucap ku.
"Gak lah gw bukan anak SMA lagi"ucapnya.
"Ulu-ulu adikku sudah dewasa ternyata "ucapku.
"Kalau gw dewasa berarti Lo sudah tua "ucapnya.
"Sialan lo", "Aya tar mas antar pulangnya juga mas jemput "ucap mas Nanda.
"Ga usah mas aku bawa motor sendiri aja" Ucapku.
"Mas udah berjanji sama ayah dan ibu untuk menjagamu selama mereka tidak ada di sini"ucap Nanda.
"Tapi tidak harus mengantar jemput aku kerja kali Mas aku udah dewasa bisa pulang pergi sendiri, lagian mas itu bukan sopirku Mas punya kehidupan dan kerjaan sendiri"ucapku.
"Sudah terima saja nyenengin orang itu pahala" ucap Dafa.
"Kalian sama aja sukanya modus "ucapku yang disambut tawa mereka berdua.
Selama seminggu hidupku benar-benar tidak bebas,Nanda akan datang pagi untuk sarapan bersama dan sehabis menjemput ku diakan menemaniku sampai Daffa pulang,kalau Daffa udah pulang dia akan bermain PS bersama Daffa.
" Mas tidak ada kerjaan apa, apa mas tidak di tegur atasan mas ?"tanyaku.
"Kenapa ,selama mas gak lalai dengan tanggung jawab mas kenapa mas di tegur "ucapnya.
"Nanti malam ayah dan ibu sudah datang jadi mas tidak perlu capek-capek menjagaku lagi"ucapku.
"Ok, "jawab nya dengan suara sedikit serak seperti orang mau terkena flu. Setelah orang tuaku balik mas Nanda tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali,ada perasaan lega tetapi juga perasaan rindu aku sendiri kesel dengan diriku sendiri kenapa harus rindu sama dia.
"Bu ada murid yang tanganya terluka kena pecahan kaca darahnya susah berhenti bu"lapor salah satu murid saat aku sedang berjalan di lorong sekolah.
"Ya udah kita bawa ke rumah sakit terdekat aja"ucapku.
"Kenapa bisa terkena kaca , sampai lebar begitu?" tanyaku pada murid yang tanganya terluka.
"Saya gak lihat bu eh kesenggol " ucapnya.
"Gak apa-apa ko Bu sudah dijahit ini pasti akan lekas sembuh ?"ucap perawat.
"Udah kamu tunggu disini Ibu mau mengurus administrasi dulu, nanti Ibu antar pulang" ucapku sebelum melangkah pergi.
"Eh Nia ngapain disini?" ucap mas Eki menghampiri ku.
"Ada sedikit kecelakaan kecil dengan murid ku mas,mas ngapain disini?"tanyaku.
"Mas itu selain praktek di Wira hospital juga praktek di citra Medika ," ucapnya.
"Ga capek mas ?"tanyaku.
"Capek lah pastinya , tapi gimana butuh dana. Mas kan lagi ngumpulin duit buat melanjutkan studi spesialis Mas, bukan kaya Nanda yang sepertinya duitnya tidak ada habisnya.
Eh kamu tau belum kalau Nanda lagi di rawat di rumah sakit?"tanyanya.
"Sakit apa Mas?"
"Dengar-denger kena tipes,tau tu anak sejak masuk kerja habis cuti kerjaan nya terforsir jadi kecapean"ucap mas Eki.
"Terforsir gimana mas?"tanyaku.
"Ya seperti layaknya kerja Kitakan punya jam kerja masing-masing, seminggu ini jadwalnya kerja malam ,terus 2 jam sebelum pulang dia akan ijin pulang dan 2 jam itu disambung siangnya. Jadikan waktu istirahatnya gak stabil, ya sebanyak-banyaknya tidur siang kan lebih sehat istirahat Malam"ucap mas Eki membuat ku teringat ucapan Nanda 'selama mas gak lalai dengan tanggung jawab mas kenapa mas di tegur' ucapan Nanda terus berputar di kepalaku.
Apa dia sakit karena sibuk ngurusin aku,tapi siapa suruh dia repot merhatiin aku, emang aku anak kecil yang harus dijaganya ahhhh. Suara hatiku yang terdalam merasa kasian tetapi juga tidak mau di salahkan kalau aku menjadi penyebabnya.