
Semua berjalan lancar dan usia kandunganku sudah masuk trimester ketiga. Nanda berencana membeli sebuah rumah tapi bunda melarang, dengan alasan Risa sekarang jarang pulang Lebih sering menghabiskan waktu di rumah barunya, sedang mas Khalid sudah menempati rumah lamanya yang sudah selesai di renovasi. Jadinya kami memutuskan untuk tinggal di rumah bunda, sekaligus menemani Bunda dan ayah dan keputusan kami di dukung Risa dan mas Khalid biar Bunda dan ayah tidak kesepian.
"Hari ini jadwal kontrol di kembar ,adek jam berapa ke rumah sakitnya,?" tanya Nanda saat kami sedang menikmati sarapan bersama. "Aya ke rumah sakitnya tergantung kamu saja, jika kamu sudah mendapatkan no antrian baru Aya berangkat ke rumah sakit " ucap bunda.
"Berangkat awal juga tidak apa-apa Bun bisa menunggu di ruangan aku."
"Tetap saja tidak senyaman di rumah, bunda aja yang hamil tunggal saja capek, apalagi ini kembar 2. Coba aja kamu bayangkan kemana-mana harus bawa perut Segede itu."
"Iya-iya nanti kalau sudah dapat no antrian baru aku hubungi Aya supaya berangkat."
"Ya udah sana berangkat ke buru macet"usir bunda.
"Kenapa sih bun ahkir-ahkir ini sensitif, jangan-jangan hamil ya. Aku gak mau ya Bun punya adik lagi !" ucap Nanda yang langsung kena pukul bahunya oleh bunda.
"Umur bunda itu sudah tua, sudah menopause gak usah asal ngomong kamu!"
"Kalian ini pagi-pagi ribut aja gak malu apa dilihat Aya!" tegur ayah. "Habis ini anakmu suda tau istrinya hamil besar,bawaan nya malasmulu. Pulang kerja langsung tidur, ayah mu dulu tiap malam selalu memijat kaki bunda yang mulai bengkak."
"Bukan aku malas Bun,tapi sudah seminggu ini banyak sekali pasien rujukan. Belum lagi punggung ini ahkir-ahkir ini sering terasa nyeri, " keluh Nanda.
Waktu aku bercerita ke ibu tentang keluhan Nanda, ibu bilang Sepertinya aku mau melahirkan padahal usia kandunganku baru 35 Minggu.
Meskipun aku tinggal di rumah bunda, tapi tiap pagi aku akan pergi kerumah ibu, karena di sini hanya ada pembantu. Bunda masih kerja di rumah sakit , sedang ayah semakin tua juga sibuk membantu bisnis keluarga besarnya, hanya hari libur kami bisa berkumpul.
"Dek kalau mas sibuk tar mas kirim pesan Daffa supaya menjemputmu ya, "ucap Nanda saat kami di dalam mobil.
"Kalau mas capek aku langsung nunggu di rumah sakit juga tidak apa-apa,"ucapku menenangkannya.
"Bener dek,!"ucap Nanda. "Iya ,aku tunggu aja di ruang kerja mas " ucapku.
Ahkirnya disini aku di kantin rumah Sakit karena bosan menunggu Nanda di ruangannya. "Bagaimana rencananya sudah matang " ucap seseorang yang duduk saling membelakangi denganku,tetapi mungkin dia tidak melihat keberadaan ku yang tertutup tiang bangunan.
"Sudah beres selama aku menjadi asistennya dua minggu ini, aku sudah perhatian dia akan meninggalkan ruang kerjanya setelah menghabiskan air minum nya."
"Bagus, setelah dia tepar tidak berdaya Lo panggil gw jangan lupa,"
"Siap aku mengerti,tapi bagaimana bayaran ku?" tanyanya. "Kamu tidak perlu kuatir ini DP nya bisa kamu gunakan untuk membayar biaya rumah sakit, sisanya jika rencanaku berhasil."
Setelahnya terdengar kursi yang terdorong di lanjutkan dengan langkah kaki menjauh. Ingin aku melihat siapa yang ngobrol barusan,tapi taku ketahuan dan bisa membuat mereka curiga kalau aku sudah menguping.
Ah siapa pun orangnya yang dituju jika itu rencana jahat semoga bisa terhindar, doa ku dalam hati.
"Kemana saja kamu dek tidak kasih kabar,aku cari-cari. Ayo sebentar lagi no antrian kita" ucap Nanda yang tiba-tiba muncul mengagetkan aku.
"Maaf membuatmu cemas, padahal aku sudah tempel memo Lo di meja kerjamu."
"Ah mungkin karena terlalu cemas lihat kamu tidak ada, jadi tidak aku perhatikan!"
"Ya, udah ayo kita sekarang ke poli kandungan "ucapku sambil menarik tangan Nanda.
"Sehat semua, ketuban juga sudah pas tetap jaga kesehatan,atur pola makan. Usia kehamilan 36 Minggu."
"Aku langsung pulang aja,ya. Tidak usah menunggu kamu,aku lelah sekali berjalan sebentar saja" ucapku. "Mau aku antar sampai rumah."
"Tidak usah nanti kamu capek, habis nganter aku pasti balik lagi ke rumah sakit,"ucapku sebelum berbelok ke arah yang berlawanan dengan Nanda.
"Kamu belum di jemput Nanda kak?" tanya ibu saat melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 9 malam. "Belum Bu ada operasi kali," Jawabku asal. Karena kenyataannya Nanda akan selalu memberikan kabar jika telat menjemputku,atau sedang operasi Nanda juga pasti memberikan kabar tapi ini tidak sama sekali, sangat aneh.
Tepat pukul 10 malam Nanda juga belum pulang, waktu aku hubungi bunda juga tidak ada yang mengakat. Ahkirnya aku putuskan ke rumah sakit dengan di temani Daffa .
"Maaf sus dokter Nanda, apa masih berada di dalam ruangannya ?" tanyaku pada suster jaga. Tampak suster itu kaget dengan kedatangan aku, "Itu Bu dokter Nanda sedang menjalani pemeriksaan..." ucapnya lirih.
"Pemeriksaan.. Pemeriksaan apa?"tanyaku , karena tadi siang tidak terjadi apa-apa kenapa sekarang bisa menjalani pemeriksaan,tanyaku dalam hati.
"Daf antar mbak menemui Nanda, mbak ingin tahu apa yang terjadi !" ucapku, tetapi rencana tinggal rencana saat tiba-tiba kepala ku terasa berputar dan badan terasa melayang sebelum gelap yang ku dapati.
"Egh,"
"Kamu tidak apa-apa,apa yang dirasakan ?" tanya bunda yang berdiri di samping ranjang pasienku.
"Apa yang terjadi bun? Kenapa tadi perawat bilang Nanda menjalani pemeriksaan ?"tanyaku penasaran.
"Nanda di duga melakukan pelecehan terhadap seseorang perawat baru," ucap Bunda lirih.
"Tapi bagaimana bisa ?"tanyaku. "Nanda di temukan hanya memakai celana pendek tidur dengan posisi duduk, dan sang perawat menangis dengan baju dan rambut berantakan "ucap bunda.
"Siapa yang melihatnya pertama kali ?"tanyaku penasaran. "Winda,kamu ingat Winda kan "ucap bunda.
Winda bukannya salah satu wanita yang terobsesi dengan Nanda, bahkan gara-gara dia yang mencium Nanda , membuatku nekad ikut Indonesia mengajar ke pedalaman kataku dalam hati.
"Kamu tidak apa-apa,bunda dan ayah tidak yakin. Karena itu kami akan mencari bukti" ucap bunda.
"Boleh aku tahu kronologinya,bun?" tanyaku penasaran. "Menurut perawat tersebut dia ditarik Nanda saat lagi lewat di lorong ,"ucap Bunda.
"Apa ada di lorong ada CCTV ?"tanyaku. "Itu masalahnya CCTV rusak ,anehkan" ucap bunda.
"Bunda bisa tolong ambilkan ponselku " ucapku. Jika CCTV lorong rumah sakit rusak, semoga kamera mini ku tidak dan masih berfungsi kataku dalam hati.
"Ini "ucap bunda. "Ah koneksi internetnya buruk"keluhku.
"Bun minta tolong seseorang untuk mengambil laptopku di rumah. Daffa aja...Atau ijinkan aku pulang bunda,aku harus memastikan sendiri sesuatu"ucapku lirih.
Dengan perdebatan ahkirnya bunda mengijinkan aku pulang, begitu sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan membuka laptopku.
Nampak di situ Nanda memeriksa pasiennya satu persatu, karena tidak sabar aku percepat dan ahkirnya aku menemukan apa yang kucari. Tampak Nanda tidur di kursi kerjanya sedang perawat tadi beserta Winda melucuti Nanda.
"Bunda !" terlalu sambil berlari kecil ke kamar Bunda.
"Ada apa Aya jangan berlari bunda ngeri melihatnya."
"Ini bunda bukti kalau Nanda tida bersalah "ucapku memperlihatkan laptopku pada bunda.
"Alhamdulillah Aya ,ini bisa membuktikan Nanda dari tuduhan palsu itu."
"Bunda perutku sakit,bunda" teriakku saat perutku terasa mules.
"Sekarang kita kerumah sakit lagi !" ucap bunda.