One Love, One Heart

One Love, One Heart
28. Rumah sakit



Di dalam hatiku bergejolak ingin mengunjungi dan melihat keadaannya, tetapi di sisi lain melarang jika aku menjenguknya nanti dia besar kepala.


Ahhh sial "Gw perhatiin dari tadi tingkah Lo persis orang galau,perlu teman curhat gw siap jadi pendengar yang baik "ucap Daffa.


"Gw denger kalau mas Nanda terkena tipes karena pola makannya dan jam istirahatnya yang kurang. Gw mau nengok tapi gw takut terjadi salah paham " ucapku.


"Kamu takut keluarganya salah terhadap mu?"tanya Daffa, yang kujawab dengan anggukan, sebenarnya aku juga takut kalau Nanda jadi baper kataku dalam hati.


"Mas Nanda dirawat dimana ?"tanya Daffa. "Wira Hospital "jawab ku.


"Ya udah habis sholat Maghrib kita kesana berdua, sekarang Lo mandi bau asem "ucap Daffa.


"Sialan wangi ya gw meski tidak mandi emang situ!" ucapku tidak terima.


"Daff jangan bilang Ayah dan Ibu nanti mereka merasa bersalah dan kuatir "ucapku, yang di jawab Daffa dengan mengacungkan 2 jempolnya.


"Dirawat di kamar mana ?"tanya Daffa saat kami sudah di area parkir Wira hospital.


"Kamar Presiden suite 1"ucapku.


"Sepertinya mas Nanda keluarga sultan ya mbak "ucap Daffa.


"Bukan sepertinya emang dia keluarga Sultan, Bapaknya jendral polisi ibunya salah satu pemegang saham di sini"ucapku.


"Bu Aya"teriakan Vina dari lobby membuat semua mata melihat kearah ku. "Siapa mbak ?"tanya Daffa.


"Udah lama gak lihat Bu Vina,"ucapnya. "Vina sama siapa ?"tanyaku.


"Papa, tetapi papa lagi beli kopi, itu papa. Papa sini "teriak Vina lagi-lagi membuat kami jadi perhatian.


"Mbak ni bocah teriak-teriak apa ga di marahi sama orang "bisik Daffa aku hanya melirik Daffa supaya diam.


"Bu Aya ada disini juga,siapa yang sakit"ucap Khalid.


"Ini saya mengantar adek katanya mau jenguk teman" ucapku membuat Daffa melotot tidak terima dan tersenyum sekilas pada Khalid sambil berjabat tangan.


"Bapak sendiri sama Vina ko disini ?"tanyaku pura-pura tidak tahu.


"Si Nanda lagi drop"ucapnya , membuat Daffa langsung tersenyum penuh arti.


"Boleh kami sekalian menengok mas Nanda ?"tanya ku, "Tentu ayo,pasti Nanda senang melihat bu Aya disini"Ucapnya sambil berjalan menujuk lift.


"Ayo masuk Bu, "ucap Khalid sambil membukakan pintu.


"Mbak ini rumah sakit apa rumah"bisik Daffa saat kami masuk ruangan yang sangat luas bukan seperti kamar pasien, berukuran (+/- m2) : 117,40 M² , 80 M².


Diruang tamu ada ayah Khalid yang sedang bekerja di depan laptop "Yah ada Bu Aya mau nengok Nanda"ucap Khalid.


"Eh nak Aya masuk sini"ucap pak Dito.


"Mana bunda ?"tanya Khalid ,"lagi istirahat di kamar,ajak aja Aya sama temennya masuk"ucap Dito,saat aku ingin mengklarifikasi tentang siapa Daffa ada pintu kamar terbuka nampa Nanda keluar dengan baju pasien berjalan sambil memegang infus.


"Yah ,eh Aya kesini. Hai bro "ucap Nanda sambil bersalaman ala cowok dengan Daffa.


"Gw kira Lo ga bisa sakit mas" ucap Daffa sambil bercanda, Khalid dan Dito yang melihat ikut tersenyum.


"Sialan gw manusia ya,ya pasti bisa sakit lah kalian mau menjenguk ku kesini"ucap Nanda.


"Jangan percaya diri, Aya nganterin adeknya yang hendak menjenguk temannya yang kebetulan dirawat di sini" ucap Khalid membuat Nanda tersenyum penuh arti. Sial gw nyesel datang kesini kataku dalam hati.


"Ramai banget ternyata ada tamu ya ?"ucap bunda Nanda yang keluar dari kamar satunya lagi.


"Ini siapa ?"tanya bunda Anin. "Saya Daffa adeknya Aya"ucap Daffa.


"Oo adek Aya aku kira cowoknya atau malah calon Bu Aya"ucap ayah Nanda.


"Kan cowok Aya aku yah"ucap Nanda.


"Halah emang Aya mau sama kamu"ucap ayah, membuat Nanda hany cemberut.


"Hari Minggu ke rumah ya ada acara syukuran pernikahan Khalid "ucap bunda.


"Cuma syukuran biasa ko ijab qobul sudah Minggu kemarin" ucap Khalid.


"Yang penting kan doanya mas mau syukuran atau pesta intinya sama bersyukur"ucapku.


"gw tahu Lo tadi bohong mengenai nengok teman Daffa,Lo pasti kesini karena kuatir padaku"ucap Nanda saat cuma kami berdua yang berada di ruang rawat Nanda.


"Terlalu percaya diri"Ucapku.


"Tentu aku percaya diri"ucap Nanda sambil dudunya mendekat kearah ku.


"Gimana mau jadi pacarku atau aku langsung melamarmu ?"tanya Nanda.


"Apa sih mas"ucap ku sedikit gugup karena keringat dingin mulai keluar dan bayangan Nanda mabuk berputar kembali di kepalaku.


"Nafasmu mulai tidak teratur, keringat dingin mulai keluar, kamu mulai gelisah, sekarang masih bilang kamu baik-baik saja ?" tanya Nanda.


"Mas jahat ....,mas jahat aku benci mas" ucapku terus-terusan dengan suara serak, saat bayang-bayang pelecehan Nanda saat mabuk berputar kembali dalam ingatanku.


"Maaf mas minta maaf "ucap Nanda sambil memelukku.


"Aku tidak trauma mas ataupun stres atau menderita ptsd atau yang lainnya,aku hanya susah menghilangkan bayangan masa lalu"ucapku dengan sesenggukan masih dalam pelukannya,sesekali memukul-mukul dada bidangnya.


"Ijinkan mas buat menghapus bayangan buruk mu tentang mas dan kaum lelaki lain , ijinkan mas buat menunjukan cinta tidak hanya memberikan luka tetepi juga bahagia" bisik Nanda.


"Biarkan waktu yang menjawab mas ,aku belum bisa memberikan jawabannya banya wanita yang lebih baik dariku di luar sana yang pantas dan cocok buat mas" ucapku sambil melepaskan pelukannya.


"Tetapi mas maunya kamu"ucap Nanda.


"Biarkan waktu yang menjawab mas,aku mau pulang semoga mas lekas sembuh "ucapku berjalan keluar.


"Ayo balik "bisikku pada Daffa yang sedang main catur dengan pak Dito.


"ok, skakmat om"ucap Daffa puas.


"Wah rasanya lama om ga main catur, kapan-kapan kita harus main lagi"ucap Pak Dito.


"Kan mas Nanda jago om,aku dan kembaran ku yang ngajari mas Nanda Lo bahkan kembaran ku lebih jago dari aku yang ngajari mas Nanda"ucap Dafa sebelum kami pamit pulang.


****Pov.Nanda****


"Sejak kapan kamu bisa main catur?"tanya ayah padaku selepas Aya dan Daffa pulang.


"Kenapa emang yah?"tanyaku.


"Tadi ayah main catur dengan Daffa dan Daffa bisa mengalahkan ayah, kata Daffa dia bisa main catur kamu yang ngajarin, bahkan saudara kembarnya lebih jago daripada dia"ucap ayah.


"Oo sejak SMA gara-gara sering nemenin Pak Rahmat main catur, lama-lama jadi menguasai permainan catur"ucapku.


"Siapa pak Rahmat ?"tanya ayah.


" Ayahnya Aya dan si kembar, Pak Rahmat juga guruku waktu SMA. Menurut ayah bisa tidak aku menaklukkan Aya?"tanyaku.


"Apapun yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin jika kita mau berusaha dan berdoa, karena yang di atas yang bisa merubah segala sesuatunya" ucap ayah.


" Aku ingin menghapus kenanga buruknya terhadap ku belasan tahun yang lalu, aku ingin membuatnya percaya cinta itu ada cinta itu juga memberikan kebahagiaan "ucap Nanda.


" Kalau begitu kamu harus bekerja keras untuk membuatnya percaya padamu,"ucap ayah "


"Selama ini wanita yang mendekati ku, jadi aku kurang paham bagaimana caranya bersikap manis di depan perempuan"ucapku.


"Halah dasar play boy kaya Lo bilang ga tau bersikap manis pada perempuan,itu bohong aku gak percaya " ucap Risa yang baru masuk ruang rawat ku.


"Biasanya aku memanjakan mereka dengan materi, tetapi Aya selalu menolak materi yang kuberikan"ucapku yang disambut tawa oleh Risa dan ayah.


"Berarti kali ini lu harus berjuang tanpa mengandalkan materi,Lo harus bekerja extra untuk meningkatkan kepercayaan Aya terhadap lo"ucap Risa.


"Tetapi sebelum itu pastikan dulu perasaanmu jangan kamu permainkan dia lagi" ucap ayah membuatku merenungi tentang apa yang kurasakan selama ini.