One Love, One Heart

One Love, One Heart
35. Aku tidak apa-apa



Sudah 2 hari aku dirawat di rumah sakit, setelah sempat selama satu hari aku dirawat di puskesmas. Aku tidak tahu Nanda ngotot membawaku ke Rumah sakit di ibu kota provinsi yaitu di Manokwari.


"Mas, stop bikin capek diri sendiri,"ucapku saat hampir tengah malam kulihat Nanda masuk ke dalam kamar rawat ku.


"Siapa yang bikin repot diri sendiri ? tidak ada yang merasa direpotkan "ucapnya.


"Mas bikin repot diri mas sendiri, pagi-pagi mas harus berangkat ke lokasi bencana dan balek kesini tengah malam,apa itu namanya kalau bukan bikin repot diri sendiri"Ucapku.


"Mas senang melakukannya kamu tidak perlu terbebani"ucapnya menenangkan diriku.


"Jika mas merasa ga tega meninggalkan aku, seharusnya biarkan aku tetep berada di puskesmas daerah"ucapku.


"Tetapi di sana obat-obatan nya tidak selengkap disini,mas mau kamu mendapatkan yang terbaik"ucap Nanda.


"Kalau begitu mas fokus jadi relawan tidak perlu terlalu kuatir tentang kondisi ku, disini aku banyak yang menjaga ada perawat dan perwakilan dari orang Indonesia mengajar juga"ucapku.


"Tapi mas mas ingin memantau sendiri keadaan mu, mas tidak mau terjadi apa-apa dengan mu"ucapnya.


"Tapi mas datang kesini buat relawan banjir bukan mengurusi aku,"ucapku kesel."Kalau kamu tidak mau di urusi mas kamu kembali ke Jakarta,di sana obat-obatan dan rumah sakit lebih memadai untuk kesehatanmu dan ada keluarga yang menjagamu "ucap Nanda sambil meraup mukanya kasar.


"Ok,aku lebih baik kembali ke Jakarta "ucapku tak kalah emosi.


"Mas tidak mau kehilanganmu, kamu haru tahu ular yang menggigit mu termasuk ular yang beracun di Papua sini ,bahkan ada beberapa yang tidak bisa di selamatkan setelah terkena gigitan ular tersebut" ucapnya lirih.


"Tapi saat aku terkena gigitan ular mas Nanda sudah memberikan pertolongan pertama padaku, mungkin yang meninggal itu tidak mendapatkan pertolongan pertama yang bener seperti yang aku dapatkan dari mas"ucapku. Meskipun ada rasa takut mendengar cerita mas Nanda, tetapi aku tidak mau memperlihatkan rasa takutku meski efek gigitan ular itu masih terasa meski 3 hari sudah berlalu.


"Tapi kita harus berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak inginkan di rumah sakit besar lebih terjamin ,"ucapnya.


"Mas mendoakan aku,"kesal ku. "Astaghfirullah, gak usah berpikir negatif terhadap mas kenapa!" ucapnya.


3 hari berlalu pasca adu debat kami aku tidak melihat Nanda sama sekali, sebenarnya aku tidak tahu apa yang kurasakan saat melihatnya ada perasaan kesal dan senang secara bersamaan. Begitupun dengan kondisi ku sudah membaik tetapi bekas luka gigitan masih bengkak dan memerah bahkan bernanah dan nyeri.


"Kamu besok akan kembali ke Jakarta bersama beberapa orang yang habis masa tugasnya "ucap mbak Felly,orang yang bertanggung jawab disini.


"Tetapi masa tugasku belum selesai masih satu setengah bulan lagi ,"ucapku.


"Masalahnya musibah yang kamu alami itu harus segera mendapatkan penanganan yang lebih baik,mbak mau tanya apa baju mbak sekarang ?"tanyanya. Aku hanya bisa menelan air liur ku bingung untuk menjawab. "Tidak bisa menjawab kan"ucapnya.


"Putih"ucapku tak yakin.


"Salah,saat ini aku memakai kemeja warna broken white, kenapa kamu tidak jujur dengan kondisi matamu?" tanya mbak Felly.


"Saat masih di puskesmas aku mengagap mungkin efek biasa,tapi aku gak tahu kenapa tidak pulih sampai sekarang. Mbak ko bisa tahu dengan apa yang terjadi pada mataku?" tanyaku.


"Kemarin waktu kamu minta tolong padaku buat mengambil jaket,kamu bilang warna jaket mu coklat susu padahal coklat tua dari sana mbak curiga, mbak tidak mau mengambil resiko.Karena itu kamu harus segera mendapatkan penanganan tidak hanya luka luar yang kelihatan bengkak dan bernanah,tetapi matamu juga. Semua bajumu dan perlengkapan yang lain dah mbak siapkan siang ini kita berangkat "ucap mbak Felly sebelum pergi.


Aku ingin menghubungi ayah dan ibu tapi aku takut mereka cemas dan berpikir macam-macam,kataku dalam hati.


Ahkirnya aku menghubungi Daffa sebelum pesawat lepas landas, tanpa memberitahu apa-apa cuma berpesan jangan bilang-bilang ayah dan ibu.


Pov.Nanda


"Maaf Pak gimana keadaan Bu Nia,apa sudah lebih baik?"tanya Widuri yang baru aku tahu namanya ahkir-ahkir ini.


"Waktu saya menemuinya 3 hari yang lalu kata dokter masih sama, bengkak dan merah bekas gigitan masih belum mengecil tapi malah membesar, "ucapku.


"Saya yang menariknya untuk mengantarkan ke kamar mandi dan karena teriakan saya juga yang mengakibatkan ular itu menggigit Bu Nia"ucapnya.


"Kalau anda merasa bersalah bantulah dengan doa, permisi saya harus melanjutkan tugas saya"ucapku meninggalkannya.


Perasaanku benar-benar merasa tidak nyaman hari ini, karena itu lebih baik aku menjauh dari teman Aya dari pada aku berkata lebih kasar dan bisa menyakiti hatinya.


🎼✉️ Daffa


Mas sudah ketemu mba Aya


Barusan mbak Aya mintak di jemput sekarang sedang dalam pesawat dari Papua


^^^me^^^


^^^Sudah ketemu seminggu yang lalu^^^


🎼✉️ Daffa


kayanya dia kalah taruhan dengan ibu makanya minta di rahasiakan kepulangannya.


^^^me^^^


^^^Taruhan apa^^^


🎼✉️


Taruhan kalau mbak kalah pulang sebelum masa tugasnya, mbak akan di jodohkan dengan pilihan ibu


Apa dijodohkan,ahhh kenapa bisa begini, ingin sekali aku menyusul Aya dan membatalkan perjodohan ibunya.


Selama ini aku merahasiakan kondisi Aya dari orang tuaku dan orang tuanya karena kemauannya. Kalau si begini terpaksa aku menghubungi bunda dan menceritakan apa yang terjadi.


"Bunda janji akan bantu dan bilang ke ayahmu untuk memantau kondisi Aya ,tapi tidak dengan perjodohan yang dilakukan orang tua Aya bunda tidak bisa janji."Ucap bunda di sebrang telepon membuatku kian frustasi, ditambahkan informasi dari Felly kalau selain luka luar yang kelihatan bengkak dan bernanah,tetapi mata Aya yang di duga mengalami penurunan dalam penglihatan.


Waktu kali ini terasa lebih lambat berjalan,aku merasa seminggu ini waktu terasa seperti berhenti.


"Kenapa lo besok kita sudah balik ke Jakarta harusnya Lo senang tapi kenapa malah gelisah kaya begitu ?" ucap Pandu.


"Gw pingin sekarang balik ke Jakarta bukan besok "ucapku. "Ya udah sana balik ke Jakarta sekarang, tetapi terbang sendiri " ucapnya sambil tertawa ngakak.


"Percaya kondisi Aya pasti lebih baik sekarang,di Jakarta obat-obatan dan dokter juga sangat memadai jadi kamu tidak perlu kuatir "ucapnya.


"Aku percaya itu apalagi aku sudah menghubungi bunda, tetapi aku takut terlambat dan orang tua Aya yang terlanjur menjodohkan Aya dengan lelaki lain,"ucapku membuat Pandu langsung menghentikan tawanya dan melihat kearah ku.


"Kalau masalah itu berharap lah pada Tuhanmu, yang mempunyai. keajaiban "ucap Pandu,