
Saat aku membuka mataku kepalaku terasa berat dan berputar-putar, sayup-sayup terdengar suara berisik pertengkaran atau suara orang lagi marah-marah yang aku tidak tahu siapa.
"Kalau terjadi apa-apa dengan mantu dan cucu-cucu mama kamu tidak akan mama maafkan."
"Sabar mama dokter sudah bilang tidak apa-apa hanya anemia dan terlalu banyak pikiran"suara ayah Dito. "Ayah harus tahu banyak pikiran dan anemia bagi ibu hamil itu bahaya, apalagi ini kehamilan ganda resikonya juga dobel ayah. Harusnya anakmu itu juga tahu karena dia juga seorang dokter, yang tentunya juga paham itu tapi ini ,di trimester pertama aja sudah 2 kali pingsan dan 2 kali masuk rumah sakit "ucap bunda marah sebelum meninggalkan ruang rawat ku di ikuti ayah.
"Kamu sudah sadar. Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit?" tanya Nanda beruntun saat melihat ku membuka mata.
"Tidak apa-apa hanya kepalaku terasa berat, badanku lemas, boleh aku minta minum".
Dengan cekatan Nanda mengambilkan air minum buatku juga membantuku untuk duduk dan bersandar biar lebih mudah minumnya.
"Emosiku tidak bisa terkontrol saat melihatmu bersama perempuan lain, meskipun kalian tidak ngapa-ngapain jadi aku minta maaf."
"Aku senang kamu cemburu,berati kamu sayang dan cinta pada mas"ucap Nanda.
"Tapi cemburuku suda tidak sehat dan mengancam dosa bagiku ,karena setahuku cemburu yang berlebih kepada pasangan bisa menimbulkan dosa yang terus tertumbuk dari rasa marah yang ku tanamkan pada diriku."
"Dek , Adek tidak usah ngomong kayak gitu "ucap Nanda.
"Akibat cemburuku aku selalu berburuk sangka terhadap mu yang memicu pertikaian diantara kita. Saat perasangka sudah ada di dalam hati, maka kecemburuan juga semakin menjadi-jadi, yang menimbulkan adanya luka dalam hatiku. Dimana saat aku benci seseorang, tentu luka hati juga akan tertanam pada diriku. Dan memicu timbulnya permasalahn baru di dalam rumah tangga kita , berawal hanya sebuah prasangka kecil menjadi prasangka besar, hingga memburuknya komunikasi di antara kita. Dan yang di sini yang akan tersakiti "ucapku sambil mengusap-usap perutku yang mulai sedikit kelihatan.
"Terus adik mau gimana,?" tanya Nanda.
"Kita break sebentar ya, sampai kehamilanku bener-bener kuat, biar aku bisa introspeksi dengan diriku" ucapku, membuat Nanda menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Demi si kembar mas,rasa cemburuku yang berlebihan sudah membuatku 2 kali pingsan "ucapku lirih."Tapi tidak dengan menjauhkan diri dari aku" ucap Nanda.
"Sampai emosiku bisa aku kontrol, kita akan tinggal bersama lagi ".
"Kalau pengaruh hormon itu sampai usia kehamilan trimester ketiga bagaimana"ucap Nanda sambil menggelengkan kepalanya.
Ku pegang wajah Nanda dengan kedua tanganku ,ku belai wajahnya sebelum ku beranikan diri untuk memberikan kecupan di kedua pipinya dan berahkir dengan kecupan di bibirnya.
"Mas kangen "ucap Nanda kedua tangan memegang mukaku disambung dengan ******* bibirku secara kasar tersirat rasa kecewa dengan keputusanku dan rasa marah,tapi aku tidak tahu dia marah sama siapa,sama dirinya sendiri atau pada diriku.
"Mas ijinkan tapi kamu tinggal di rumah bunda dan aku di apartemen "ucapnya dengan nafas tersengal setelah ciuman panas, kasar dan dengan durasi lama.
"Kenapa harus di rumah bunda ?"tanyaku masih dengan posisi kening kami yang masih saling menempel."Paling tidak kalau dirumah bunda aku bisa melihatmu, tanpa rasa canggung dan kamu tidak kena marah ayah dan ibu "ucap Nanda,ah iya benar itu.
Setelah dirawat 2 hari aku diijinkan pulang dengan syarat tidak boleh setres dan harus bed rest.
Meskipun aku tinggal di rumah bunda dan Nanda bilang tinggal di apartemen, tapi kenyataannya Nanda selalu pulang kerumah bunda saat malam aku sudah pulas dan pulang ke apartemen setelah sholat subuh. Dan itu sukses membuatku merasa bersalah dan menyesal dengan keputusan yang ku buat, apalagi setelah tidak sengaja mendengar Obrolan Nanda dengan ayah Dito beberapa hari yang lalu. Saat itu Puku 11.30 malam karena lupa membawa air minum aku terpaksa turun ke bawah untuk mengambil air minum di dapur dan tanpa sengaja aku mendengarnya.
"Mau sampai kapan kamu membohongi Aya dengan tidur di kamar tamu, bukan Aya sudah memintamu untuk tinggal di apartemen untuk sementara waktu "ucap ayah.
"Percuma yah aku tidak akan bisa tidur di apartemen sendirian tanpa Aya"ucap Nanda. "Tapi di sini kalian juga tidur terpisah, sama aja kan"ucap ayah.
"Beda yah ,kalau di apartemen begitu aku membuka pintu ga ada siapa-siapa kosong. Kalau disini meskipun aku sampai rumah sudah malam kalian sudah pada pulas tidur, aku bisa melihat Aya tidur. Hanya dengan melihatnya tidurku menjadi lebih baik ,Aya sudah seperti obat penghilang rasa lelah ku setelah seharian bekerja."
"Bagus kamu jadi bisa menghargai istrimu, selalu berpikir positif mengalah bukan berarti kita kalah. Ayah salut padamu, jangan sampai kamu menyesal seperti ayah yang kehilangan momen berharga itu"ucap ayah membuatku penasaran.
"Apa karena penyesalan ayah itu membuat ayah buncin sama bunda"ucap Nanda sambil terkekeh.
"Mungkin, ayah tidak tahu perjuangan Bundamu melewati kehamilan dan kelahiran Khalid, yang katanya sempat membuat Bundamu koma."
Karena tidak sanggup menahan kantuk aku kembali ke kamar dan menghentikan menguping pembicaraan mereka.
"Bun bagaimana cara mengontrol emosiku ?" tanyaku setelah 2 Minggu berperang dengan egoku, sebagai seorang psikiater aku harap bunda bisa memberikan solusi buatku.
"Lakukan kegiatan yang menyenangkan Misalnya saja, berjalan-jalan, melakukan pijat kehamilan, menonton film dengan teman atau pasangan, serta beberapa hal lain yang dapat menghilangkan perasaan sensitif. Daripada membiarkan diri kita stres dan frustrasi, ada baiknya untuk mengelolanya supaya tidak berkembang menjadi lebih parah. Caranya adalah dengan istirahat cukup. Makan dengan teratur, olahraga, dan bersenang-senang. Aya bisa mencoba kelas yoga kehamilan, berlatih meditasi, atau berkonsentrasi, jangan menyimpan masalah sendiri Curhat ke orang lain dan cari solusi untuk masalah-masalah yang kau hadapi. Sebenarnya menghabiskan banyak waktu dengan Ayah bayi dapat menurunkan tingkat sensitivitas Ibu selama masa kehamilan,tapi karena kesibukan Nanda malah membuat kalian sering berantem.
Sering menghabiskan waktu dengan ayah dapat memperkuat ikatan batin antara anak dan ayah juga lo".
Setelah mendengar semua saran dan masukan dari bunda aku memutuskan untuk ikut kelas Yoga khusus buat wanita hamil.
Aku terbangun pukul 01.00 dini hari karena haus setelah minum di dapur aku kembali ke kamar,saat aku melewati kamar yang aku duga tempat tidur Nanda aku beranikan diri untuk membukanya.
Nampak Nanda tidur dengan pulas, setelah kudekati aku berniat membelai pipinya tapi takut menggagu tidurnya, jadi ku urungkan ku kecup keningnya sebentar.
"Dek "ucap Nanda dengan suara serak khas orang bangun tidur dan tangan memegang tanganku.
"Maaf mengganggu tidurnya " ucapku lirih tapi Nanda malah menarik tanganku hingga aku terjatuh di atas tubuhnya." Mas rindu "ucapnya dengan menjilati leherku, aku tidak melawan atau memberontak seolah tubuh ini juga merindukannya.Tidak cukup menjilati leherku Nanda merubah posisi hingga aku tidur terlentang di bawahnya.
"Boleh ya dek, mas rindu "ucapnya. "Tapi di kamar mas jangan di kamar tamu "ucapku , tanpa bicara lagi Nanda langsung menggendongku untuk pindah ke kamarnya.