
Sebulan sejak aku menengok Nanda dirumah sakit aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, awalnya aku kesel mengingat Nanda sudah berjanji akan membantuku menghapus bayangan buruk ku tentangnya dan kaum lelaki lain, dan menunjukan cinta tidak hanya memberikan luka tetepi juga bahagia. Tapi semuanya cuma omong kosong saja, buktinya sudah sebulan tidak ada kabar baik melalui pesan atau Nanda sendiri yang nongol ke rumah.
"Bagaimana dengan Indonesia mengajar jadi daftar, ?" tanya ayah sambil joging berdua denganku mengelilingi taman kompleks.
"Jadilah yah gimana sih,malah udah udah di terima tinggal melengkapi berkas dan mengikuti serangkaian tes"ucapku.
"Nanti angsuran apartemen biar ayah yang bayar kalau begitu, ucap ayah.
"Tidak perlu Yah,pengontrak yang tinggal di apartemen rencananya bulan depan mau bayar full setahun, kalau di tambah uang kaleng sudah cukup buat angsuran apartemen selama setahun ko"ucapku.
"Meskipun terlihat pengaguran anak ayah ternyata banyak duit ya, ayah dan ibu aja tidak punya Lo tabungan sebanyak kamu"ucap ayah.
"Ayah emang tidak punya banya duit tetapi ayah mempunyai kami bertiga "ucapku.
"Bener kamu kak, kalian bertiga adalah harta-harta ayah yang sangat berharga tidak akan ternilai dengan materi "ucap ayah sambil tertawa kecil.
"Kemarin sore waktu kakak dan ibu pergi ke mall Nanda kerumah" ucap ayah. Jantungku berdebar-debar saat denger ayah menyebutkan nama Nanda.
"Nyari ayah ya atau mau ngapain ?"tanyaku pura-pura bodoh.
"Meminta izin Ayah untuk mengenalmu lebih dekat"ucap ayah.
"Kalau udah saling mengenal mau ngapain dasar " Ucapku sedikit kesel, tetapi aku tidak tahu kesal karena apa, karena Nanda yang tiba-tiba menemui ayah tanpa bilangan padaku atau karena dia yang tidak menghubungiku sama sekali.
"Haha jangan pura-pura tidak tahu lah kak,"ucap ayah sambil tersenyum menggoda.
"Apaan sih yah,gak usah aneh-aneh"ucapku.
"Ayah setuju dan merestui kalau kalian saling mengenal dan menjalin hubungan yang serius,bukan karena keluarga Nanda yang kata kakak keluarga berada, tetapi karena ayah sudah mengenalnya" ucap ayah.
"Ayah mau ngobrol dengan para bapak-bapak di pos kamu sana pulang aja duluan "ucap ayah.
Kenapa ayah begitu percaya pada Nanda apa dia tidak tahu apa yang telah dilakukan padaku dan akibatnya,hufff Ucapku dalam hati sambil berjalan pulang.
Ya ampun baru juga di omongin dengan bapak orangnya malah sudah ada dirumah ,apa sih ni orang maunya "nyari ayah mas? ayah lagi mampir ke pos aku samperin atau mas nyusul ayah di pos?" tanyaku.
"Aku kesini nyari kamu bukan nyari ayah,jadi berhenti pura-pura tidak tahu atau pura-pura bodoh deh" ucapnya.
"Mau apa sih jangan bikin masalah baru deh "Ucapku.
"Aku bukan mau bikin masalah baru, tetapi membuat hubungan baru"ucapnya. "Ehhh gak ada ya mas kemarin aku tidak bilang apa-apa ke mas,jangan bikin masalah ya"ucapku sedikit melotot.
"Kamu menggemaskan kalau lagi marah, jadi pingin bawa ke KUA biar bisa mas kurang dalam kamar"ucapnya.
"Gak nyambung mas"ucapku kesel.
"Ko kamu gak datang sih waktu acara syukuran pernikahan Khalid kan kamu sudah di undang bunda ?" tanyanya padaku."Lagi ada kerjaan mas"bohong ku malas.
"Sekarang sedang gak ada kerjaan ?"tanya Nanda.
"Ada kerjaanku hari ini adalah beristirahat "ucapku yang disambut tawa renyah oleh Nanda.
"Eh Aya dah pulang sana buruan mandi, katanya mau pergi"ucap ibu.
"Pergi kemana?" tanyaku bingung, "Sepertinya Aya lupa bu" ucap Nanda memotong ucapanku.
"Emang kaya begitu dia. Sana mandi dulu atau mau sarapan dulu ajak nak Nanda kalau mau sarapan" ucap ibu sambil berjalan keluar mungkin mencari ayah.
"Apa-apaan sih, kita gak pernah buat janji ya mas "ucapku sambil masuk diikuti Nanda.
"Kalau aku buat janji dulu belum tentu kamu bersedia, pasti kamu mencari alasan untuk menolak ajakan ku"ucap Nanda, emang benar sih kataku dalam hati.
"Udah sarapan belum,tapi cuma ada nasi goreng "ucapku sambil mengambil nasi.
"Eh " Ucapku. " Sepiring berdua lebih nikmat dan romantis"ucapnya.
"Kaya gini ko romantis "Ucapku, "terus menurut mu yang romantis itu bagaimana ?"tanya Nanda.
"Belajarlah menjadi pria yang lebih baik bukan pria romantis"ucapku, "Kamu membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik,setiap menit, setiap jam bahkan setiap hari " ucapnya.
"Sebulan gak ada kabar Lo jadi aneh mas, udah ah aku mau mandi dulu" ucapku melangkah meninggalkan Nanda. Setelah selesai mandi aku keluar melihat Nanda sedang mengobrol bersama ibu dan ayah.
"Tu anaknya dah siap lain kali kesini temani om main catur "ucap ayah.
"Kamu ko pakeannya kaya gitu kak?" ucap ibu sambil menilai penampilan ku, yang menggunakan celana jeans panjang sobek di bagian lututnya dan atasan kemeja longgar polos.
"Emang kenapa?" tanyaku pada ibu,"Kan mau menghadiri acara ulang tahun anak teman Nanda yang sopan lah kak, pasti disana juga banyak teman Nanda " ucap Ibu.
"Males naik tangga lagi , ya dah gak jadi aja ya"Ucapku.
"Ga papa ko bu"ucap Nanda kulihat ayah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Emang siapa yang lahirran, mantan lo?"tanyaku asal. " Salah satu mantan waktu kuliah kebetulan nikah suaminya temen waktu menjalani Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana SIPSS tapi dia dari Fakultas hukum"ucapnya.
"Kalau mau masuk Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana gw bisa gak ya?"tanyaku asal.
" Kamu disuruh lari langsung pingsan palingan "ucap Nanda sambil terkekeh,aku hanya cemberut mendengarnya.
"Ayo udah sampai,!"ucap Nanda.
"Kadonya mana masak tangan kosong "ucapku saat Nanda menggandengku masuk, ke dalam rumah minimalis sederhana hampir sama dengan rumah orang tuaku lah ukurannya.
"Gak perlu kado amplop aja yang tebel,ni kamu kasih istrinya nanti" ucap Nanda sambil meletakkan amplop di atas tangan ku.
"Wiih ini yang di tunggu-tunggu datang juga" ucap seorang lelaki mungkin seumuran dengan Nanda, begitu kami masuk ke dalam rumah.
"Eh tumben bawa adeknya "ucap seorang lagi, ada lima lelaki dan 3 perempuan di ruang itu.
"Kenalin dong adeknya"ucap yang satu lagi,Nanda menyalami mereka dengan muka datar.
"Duduk disini"ucap Nanda sambil menarikku untuk duduk di sampingnya.
"Posesif amat sih" ucap salah satu lagi. "Ini bukan adikku tapi calon istriku"ucap Nanda membuat semua mata melihat kearah ku.
"Yakin calon istrimu,muda banget masih kuliah mbak? semester berapa? " ucapnya.
Aku yang bingung dengan situasi yang terjadi hanya tersenyum canggung.
"Jangan begitu lah, mbak nya jadi malu tu" ucap seorang perempuan yang keluar dengan seorang bayi.
"Kenalin aku Arkana,"
"Aku Pandu," . "Aku Danu".
"Aku Roby "
"Aku yang terakhir sekaligus tuan rumah Ilham dan istriku yang baru melahirkan Nadia " ucap Ilham mengahkiri sesi perkenalan kami. Dari mereka aku tahu mereka semua teman seperjuangan Nanda saat menjadi Taruna di SIPSS.
"Kamu cewek pertama yang dikenalkan nya pada kami, bahkan tunangannya yang dulu kami tidak pernah di kenalkan ,kami hanya tahu dari cerita Nanda kalau sudah bertunangan tapi dia tidak yakin untuk menikah dengannya" ucap Ilham di depan kami semua.
"Ga usah membuka kartu,deh" ucap Nanda.
"Berarti sama Aya sudah yakin kayanya"ucap Danu. "Insyaallah gw udah yakin tapi tetep doakan kami berjodoh " ucap Nanda.
"Ngomong-ngomong Aya kuliah semester berapa ?" tanya istri Ilham.
"Dia itu udah 25 tahun lewat,dia seorang guru SMA "ucap Nanda.
"Yang bener tak kira umurnya masih di awal 20 tahun Lo, pantas awet muda guru SMA dikelilingi brondong "ucap istri Danu sambil terkekeh.
"Hati-hati bro sainganmu brondong" ucap Roby yang disambut tawa yang lain. Hari ini aku mengenal dunia pertemanan Nanda selain mas Eki dan teman-teman SMAnya.