One Love, One Heart

One Love, One Heart
48. Kecelakaan II



Pov.Nanda


Aku sebenarnya tidak tega menyuruh Aya pulang sendiri,tapi aku juga tidak tega jika meninggal di hotel sendirian. Bagaimana jika ada gempa susulan lagi atau hal-hal yang tidak di inginkan lainnya, karena itu aku segera memesankan tiket pesawat buatnya dan segera menghubungi Daffa untuk menjemput kakaknya. Setelah mengantarkan Aya ke bandara dan menghubungi Daffa supaya bersiap-siap untuk menjemput Aya , aku segera bergabung dengan relawan lainya yang baru datang dari Jakarta.


"Pengantin baru kasihan harus terganggu acara bulan madunya, yang sabar ya tar habis dari sini di gempur lagi istrinya"ucap Pandu yang disertai tawa kecil di ahkiri kalimatnya. "Tidak apa-apa tar di rayu, perempuan itu suka dirayu pasti kamu jago kalau urusan merayu wanita "ucap Danu. "Aya itu tidak mempan di rayu"celetuk ku yang disambut tawa teman-temanku.


Kami bekerja sama mengevakuasi para korban seharian ini, bahkan aku sampai lupa tidak pegang ponsel untuk berkirim pesan dengan Aya untuk menanyakan keadaannya apa sudah sampai rumah dengan selamat.


"Gimana sudah menghubungi istri mu?" ucap Danu saat kami menikmati sarapan .


"Gw lupa semalam ingat-ingat pas tengah malam mau tidur, karena gak mau menggagu jam tidurnya jadi aku urungkan rencana pagi ini eh baterai ku malah habis ini lagi di cas di pos"jawab ku.


"Lo tinggal ponsel mu di pos ga takut hilang" tanyanya yang kujawab gelengan kepala " Kemarin pas mandi dompet Robi isinya hilang tinggal KTP, SIM dan ATM duitnya hilang semua " ucap Danu.


"Yang Bener ?" tanyaku tak percaya. "Lebih baik sekarang kamu kembali ke pos kamu cek ponselmu masih ada tidak!" ucapnya,aku segera menghabiskan sarapan ku dan kembali ke pos.


"Ahhh sial " umpat ku."Gimana masih ada?" tanya Danu. "Ada apa?" tanya Roby yang baru datang.


"Ponselnya di cas di tinggal sarapan, saat balik sarapan zonk "ucap Dani yang di sambut tawa oleh Roby.


"Gw temani kemarin semua uang yang ada di dalam dompet ku juga hilang semua "ucap Roby.


"Masalahnya itu ada no ponsel istri ku , kalau ponsel hilang aku bisa beli lagi "kesal ku.


"Ya udah Lo hubungi keluarga Lo yang Lo hafal no nya, terus Lo mintalah no istri Lo ko repot !" ucap Danu.


"Masalahnya istriku tidak akan mengakat semua panggilan dari no asing,"kesal ku. "Yaudah tunggu Sabtu sepertinya kita dah balik ke Jakarta, korban semua sudah di evakuasi ini. Hari ini kita yang di lapangan hanya membereskan puing-puing bangunan dari fasilitas umum yang rusak berat "ucap Danu. Aku hanya berharap waktu cepat berlalu dan bisa segera pulang, pasti Aya marah karena aku tidak pernah menghubunginya, terlebih setelah ponselku hilang no ku tidak bisa dihubungi lagi. Jelas ini sengaja diambil ahhh aku tanya ke bunda,bunda lagi di perkebunan bersama ayah dan Risa malah marah-marah katanya aku tidak sayang istri.


Sepertinya nasib baik belum berpihak pada ku, Minggu pagi aku baru bisa meninggalkan kepulauan Lombok. "Aya ikut kegiatan bakti sosial yang diadakan kampus nak Risa,"ucap ibu saat aku menanyakan keberadaan Aya.


"Astaghfirullah apa-apa Aya tidak pamit kepada Nanda?" tanya ibu yang ku jawab dengan gelengan kepala. "Astaghfirullah, semoga Nanda ikhlas dan tidak marah, sebenarnya ibu sudah menasehatinya. Jika sudah menjadi istri tidak boleh keluar dari rumah kecuali dengan izin suami. Baik keluar untuk mengunjungi kami orang tua ataupun untuk kebutuhan yang lain, bahkan untuk keperluan shalat di masjid."


"Saya ikhlas Bu, kalau begitu saya susul Risa aja Bu,kata Risa di pantai sekitar Anyer "ucapku. Ditemani Daffa sebagai sopir aku berangkat menyusul Aya, tetapi saat kami berhenti sholat asar hujan turun dengan derasnya, membuat susah melihat kearah jalan ahkirnya kami baru bisa melanjutkan setelah sholat isya.


"Anyer kan luas ini posisinya dimana nya mas"ucap Daffa saat kami sudah sampai di pantai Anyer.


"Ok kita kesana "ucap Daffa. "Hati-hati habis hujan jalanan licin apalagi kalau jalan lurus begini para pengemudi suka main kebut-kebutan "ucapku yang di anggukin Daffa. Tapi sesampainya disana katanya bus baru pergi sekitar 40 menit , paling belum jauh mengingat cuacanya yang gerimis dan ada beberapa jalanan yang rusak parah. Ahkirnya kami langsung balik dengan aku yang menggantikan menjadi sopir bagi Daffa.


"Ko macet,coba aku tak turun mas "ucap Daffa, lalu dia turun dan berjalan kedepan Setelah 20 menit baru Daffa kembali.


"Ada kecelakaan tunggal mas didepan, seperti kata mas tadi. Jalan lurus para pengemudi suka main kebut-kebutan apalagi dengan kondisi jalanan yang rusak dan licin habis ujian memperparah keadaan.


"Inna innalillahi wainnailaihi rojiun " ucap Daffa dan aku secara bersamaan saat melihat kondisi bus yang hancur terutama bagian depan tertimpa pohon besar. "Menurut mas yang depan selamat gak mas ?" tanya Daffa. "Kemungkinan kecil buat selamat, sepertinya belum ada polisi atau ambulance yang datang. Bagaimana kalau kita tolong mereka dulu boleh ?" Ahkirnya aku dan Nanda membantu mereka keluar dari bus." Ini yang di bawah kemana dulu pak ?"tanya ku pada bapak-bapak yang ikut mengevakuasi. "Tidak jauh dari sini ada balai desa, selain luas mereka juga tidak bakal kehujanan kalau disana cuma 5 menit ko dari sini" ucapnya.


"Cepat keluar bau bensin takut bus akan meledak" teriak seseorang penyelamat. "Ya udah tolong bapak bawa kesana dulu,saya bantu ngeluarin yang masih selamat" ucapku. Setelah hampir satu jam ambulans dan tim medis datang baru kami kembali melanjutkan perjalanan.


🎼✉️ Risa


Bus yang di tumpangi Aya mengalami kecelakaan tunggal.


Pesan yang baru masuk dari Risa bagai petir di siang bolong,"Kenapa mas?" tanya Daffa saat aku tiba-tiba menghentikan mobil di tepi jalan raya , tanpa menjawab pertanyaan Daffa aku langsung memutar mobil kearah lokasi kecelakaan yang masih macet.


"Kenapa mas?" tanya Daffa. "Aya salah satu korban di dalam bus" ucapku, setelah tidak terlalu jauh karena macet aku segera keluar dari mobil dan berlari dan kemudi mobil di teruskan Daffa,tetapi saat sudah sampai di sana balai desa sudah sepi.


"Para korban sudah di bawa pergi semu pak?" tanyaku pada beberapa warga yang masih ngobrol di sana. "Sudah pak, yang terakhir 5 menit yang lalu "ucapnya


"Coba aja mas susul ke rumah sakit umum daerah yang terdekat "ucap salah satunya. Dengan perasaan kacau aku mencari ke beberapa rumah sakit tapi hasilnya nihil, malam itu aku pulang dengan tangan kosong. Keesokan harinya aku terjun langsung ke lapangan untuk mencari Aya,aku hanya menemukan ponselnya yang terjatuh di lantai bus dan tas kecil yang berisi kartu identitas nya.


"Melihat tas dan ponsel ditemukan kita tidak bisa jamin bagaimana keadaan istrimu ,tetapi 4 bangku yang hancur ada yang bilang di duduki satu dosen dan 2 mahasiswa serta relawan yang di duga istri mu"ucap Kasatlantas Cilegon.


Duka menyelimuti keluarga Aya,3 hari berturut-turut ke dua orang tua Aya hanya bisa berdoa. Hingga Daffin bilang no Aya aktif.


"Menurut dokter ponsel ini di jual oleh pasiennya yang hilang ingatan,katanya dia korban kecelakaan yang lagi mencari jati dirinya tapi dia juga tidak ingat namanya" ucap Daffin.


"Allhamdullilah paling tidak kakakmu selamat"ucap ayah. "Aku juga menemui keluarga yang mengantar kakak ke puskesmas, dia menyerahkan baju yang terakhir di pakai kakak."


Apa sebenarnya yang terjadi ucap ku dalam hati. " Jika kita menyebarkan iklan bagaimana !"ucap Daffa. "Terlalu berbahaya buat kakak "ucap Daffin.


"Jika dia mencari asal usulnya pasti di ke rumah sakit rujukan di dokter, kantor polisi atau kampus penyelenggara baksos "ucapku.