
"Kak, itu ada yang ketok pagar bukannya di bukain ko malah di cuekin saja sih,"ucap ibu berjalan dari arah dapur menuju depan untuk membuka pagar.
"Tanggung Bu," ucapku masih selonjoran sambil memasang LCD ponsel milik tetanggaku.
"Lagian ayah kan masih di depan bu" ucapku tidak mau di salahkan.
"Ayo sini masuk duduk dulu, nyari bapak atau nyari putri saya?" tanya ibu yang terdengar suaranya.
"Bapak " ucap tamu, sepertinya lelaki suaranya ada 2.
"Haha kalian lucu kompak jawabnya,"ucap ibu sambil tertawa.
"Kalian teman datang bersama tadi apa ko bisa kompak gini?" tanya ibu.
"Tidak, kami tidak saling mengenal waktu saya ketuk pagar masnya ini baru datang "ucap suara Toni,Toni mau ngapain dia kesini kataku dalam hati sambil mendengarkan obrolan mereka,terus satu lagi siapa ya?tanyaku dalam hati.
"Eh ada tamu nak Toni,Nanda ada perlu apa ini ko bisa bareng kesini?" tanya ayah,Nanda dan Toni aduh mau ngapain mereka kesini keluhku.
"Kak itu tamu bikini minum apa!" ucap ibu menyuruhku sambil berdiri di pembatas ruang tamu dan ruang keluarga yang di sekat dengan korden panjang.
"Ibu ajalah aku lagi sibuk ni" ucapku , pura-pura sibuk padahal pekerjaanku sudah selesai tinggal merapikan dengan menarik nafas dan gelengan kepala ibu melangkah ke dapur membuatkan hidangan buat tamunya.
"Jadi nak Toni kesini berniat untuk minta maaf atas yang terjadi tempo hari?" tanya ayah setelah basa-basi Toni.
"Iya saya dan Aya teman kuliah dulu, bahkan kami sempat dekat karena itu saya cuma tidak mau nama baiknya ikut tercemar gara-gara gosip itu,"ucap Toni aku yang mendengarnya hanya bisa mencibir mendengar ucapan Toni.
"Oo terima kasih atas perhatiannya kalau begitu, kalau Nanda mau ngapain kesini?"tanya ayah.
"Mau ketemu Aya pak ada yang mau saya bahas dengan dia"ucap Nanda,'bahas apa lagi sih dasar play boy 'kataku dalam hati.
"Ya dicari Nanda"ucap ayah.
"Kenapa gak bilang aku lagi pergi sih yah" ucapku sambil berdiri malas.
" Agama kita mengajarkan untuk memelihara silaturahmi dengan saudara, salah satu cara menjaga silaturahmi adalah dengan memuliakan tamu" ucap ayah.
"Iya-iya Aya memulihkan tamu"ucapku sambil berjalan kearah ruang tamu.
"Ada apa mencariku dan Lo kan tujuannya meminta maaf pada ayah, ayah sudah memaafkan mu sebaiknya kamu pulang "ucapku pada Toni.
"Tadi aku masuk rumah bareng Mas ini ntar kalau pulang juga bareng Mas ini, jadi aku tunggu masnya ini pulang baru aku juga pulang "ucap Toni tanpa rasa malu.
"Tu Lo dengerkan mas, lebih baik mas segera ngomong mau ngomong apa terus kalian semua pulang"ucapku.
"Ok kenapa kamu tadi kabur dari mas, mas mencari-cari keberadaan mu di sekitar mall"ucap mas Nanda.
"Aku juga ada keperluan kali mas,kalau aku nungguin mas bisa jadi penonton dong "ucapku berusaha sesantai mungkin, padahal aku kesel dalam hati.
"Kan mas udah bilang mau bicara,ya kamu kan bisa nungguin mas"ucap mas Nanda.
"Terus aku suruh nungguin mas yang lagi nemeni belanja cewek,emang aku satpam apa"ucapku.
"Kamu juga bisa milih mau apa nanti mas yang Bayar, bukannya malah langsung pergi meninggalkannya Mas"ucap Nanda.
"Udah sekarang intinya Mas mau bicara apa sama aku?" tanyaku.
"Cewek yang pergi sama mas bukan siapa-siapa mas, dia hanya teman biasa tidak lebih"ucap mas Nanda, emang gw pikirin kataku dalam hati.
"Mas sekarang aku tanya untungnya apa sih menjelaskan padaku tentang hubungan kalian, mau itu cewek Mas teman Mas tunangan Mas aku tidak ada hubungan dengan kalian. Lagian aku bukan mas yang mau membayar belanjaan teman yang tidak ada hubungan apa-apa apalagi bernilai juta-an," ucapku,mas Nanda nampak kaget mendengarnya.
"Mas ini apa kamu sih Ya?"tanya Toni.
"Mantan murid bapak juga mantan gw kaya Lo,jadi gw harap sekarang kalian pulang jangan ganggu aku lagi gw masih banyak kerjaan"ucapku sambil berdiri didekat pintu, tetapi dasar tamu tidak tau malu bukannya keluar Toni malah mengeluarkan rokok dan menyodorkan pada Nanda.
"Rokok di luar di teras "Ucapku.
"Bukannya pak Rahmat juga merokok ya?"tanya Nanda.
"Iya dulu tapi sudah 2 atau 3 tahun ini lagi berusaha berhenti karena saran dokter "ucapku,membuat Nanda langsung mematikan rokoknya di ikuti Toni.
"Pak Rahmat sakit apa ?" tanya Nanda.
"Gejala jantung ringan "ucapku.
"Kalau begitu harus jaga pola makan dan rutin olahraga ringan"ucap Nanda.
"Iya, sekarang sudah gak pegang rokok bagaimana kalau kalian sekarang pulang "ucapku, terdengar hembusan nafas kasar dari kedua tamuku.
"Emang saatnya kita harus pulang, bagaimana kalau kita ngopi berdua habis ini"ucap Toni yang di sambut Nanda dengan anggukan.
"Sepertinya putri kita direbutkan oleh dua lelaki ya bu"ucap ayah saat aku masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu pagar.
"Apaan sih yah Bu, tidak ada yang di perebutkan"ucapku langsung duduk di samping ayah.
"Dari wajah ganteng semua kalau Nanda kaya artis yang matanya sipit yang di sebut KPop atau apalah namanya, kalau yang satu gantengnya Indonesia banget " ucap ibu.
"Yang manapun pilihan mu Ya?" tanya ayah sambil tersenyum.
"Apa sih ya,ga ada yang dipilih," ucapku sambil merapikan peralatan ku tadi ku tinggalkan menemui mereka.
"Umurmu sudah mau 26 Lo kak ga ada salahnya memulai mengenal lawan jenis "ucap ibu yang diangguin ayah.
"Aku udah kenal banyak lelaki ko yah, bahkan 70 persen teman kuliahku lelaki semua" ucapku sambil menyodorkan 2 ponsel yang tadi baru saja selesai aku betulkan.
" Seperti biasa kan kas?" tanya ibu sebelum mengambil ponsel dan menyimpannya.
"Apa Kakak ada kenangan pahit atau trauma dengan salah satu mantan pacar atau teman lelaki kakak?"tanya ayah, membuatku menghentikan kegiatanku mendengar kalimat ayah.
"Tida ada yah, cuma belum ada yang sreg di hati aja"Ucapku sambil mengatur detak jantungku.
"Manusia membutuhkan cinta, baik dicintai maupun mencintai. Dicintai dan mencintai perlu dilakukan secara seimbang biar membuat kita bahagia. Cinta memberikan luka tapi cinta juga memberikan obatnya.Karena itu mencintai lah sewajarnya, jangan terlalu berlebihan pada dasarnya semua hanyalah titipan Yang Maha Kuasa" ucap ayah sambil mengelus rambutku sayang.
"Jatuh cinta itu mudah. Jatuh cinta dengan orang yang sama berulang kali itu luar biasa"ucap ibu.
"Ibu puitis"ucapku sambil meledek ibu.
"Ketika kamu mencintai, kamu terluka. Ketika kamu terluka, kamu membenci. Ketika kamu membenci, kamu mencoba untuk melupakan. Ketika kamu mencoba untuk melupakan, kamu mulai kehilangan. Dan ketika kamu mulai merindukan, kamu akhirnya akan jatuh cinta lagi." Ucap ayah membuatku terkekeh geli ayah dan ibu usia boleh matang tapi kelakuan mereka kadang seperti ABG yang lagi kasmaran, membuatku kadang iri.
"Apa ayah dan ibu tidak pernah berselisih paham atau bertengkar ?"tanyaku.
"Siapa bilang sering apalagi di awal kami menikah 1bulan pertama indah,bulan kedua mulai berantem bahkan ibu pernah ngambek ga pulang, tetapi setelah pikiran kita sama-sama dingin kita mulai mengingat kebaikan-kebaikan, kenangan-kenangan indah yang kita lalui, apalagi setelah ada kakak sekesel-keselnya ibu sama ayah ibu ga bisa egois ada kakak yang membutuhkan kami berdua"ucap ibu.
"Jadi sebisa mungkin kami menyelesaikan tidak di depan kalian, kakak ingat waktu Daffa bilang tidak mau kuliah mau kerja saja,ibu sempat marah karena ayah mendukung kemauannya bahkan seminggu ayah tidur di kasih punggung sama ibu"ucap ayah sambil tertawa.
"Ya gimana gak marah mau kerja apa pakai ijazah SMA, apalagi dia laki-laki tulang punggung keluarga"ucap ibu.
"Ya kakak ingat ahkirnya Daffa mau kuliah setelah ibu marah akan menjual motor mereka dan ayah hanya diam "ucapku.
"Ayah berpikir jika dia ga mau kuliah kita lihat apa yang dia mau,tapi ibu tidak sabar apalagi mengingat Daffin sudah ada rencana mau melanjutkan kemana,"ucap ayah.
"Ibu tidak sabar karena adikmu itu lelaki, lelaki calon pemimpin rumah tangga jadi harus tegas dalam mengambil keputusan " ucap ibu.
"Aku sayang ibu dan ayah " ucapku sambil memeluk kedua orang tuaku.