
ALKANA membaringkan Sandra di kasurnya, lalu menarik selimut memberi kehangatan untuk gadis malang itu. Sandra hanya terpejam tanpa menyadari bahwa saat ini ia sudah berada di rumah Alkana.
Sebelum Alkana bergeming Alkana melihat pipi merah di wajah Sandra dan tergambar jelas bekas jari tangan.
"Pengecut itu main tangan rupanya" gumam Alkana seraya mengusap wajah damai gadis itu.
Tak lama kemudian Sandra memiringkan kepalanya seakan memamerkan leher mulusnya pada Alkana, tapi sayang di leher itu sudah ada sebuah karya dari Reza.
Alkana duduk di pinggiran kasur seraya mengamati leher mulus yang terpajang bercak marah, "Gadis malang" gumamnya lagi. Alkana menyempitkan jarak wajahnya memiringkan kepala gadis itu kearahnya memeriksa seberapa banyak karya yang di tinggalkan lelaki kurang ajar itu.
Setelah meneliti keseluruhan wajah beserta leher gadis itu Alkana tidak menemukan apa apa, ia hanya menemukan satu bercak merah di leher Sandra. Sepertinya Alkana mulai mengerti dari mana asal kis mark milik Sandra yang ia lihat beberapa minggu lalu, dari mana lagi asalnya kalau bukan dari lelaki itu.
Alkana masih duduk di tempatnya menatap Sandra yang masih terlelap, "Apa dia secantik itu?" batin Alkana.
Matanya tak lepas dari Sandra mengamati setiap inci gadis itu, baru kali ia merasa terpesona dengan lekuk wajah cantik seorang gadis. "Dia benar-benar cantik rupanya" semakin lama ia pandangi gadis itu Sandra terlihat semakin manis yang membuat Alkana akhirnya menyerah dan mengakui jika Sandra memang sangat cantik.
Entah mendapat keberanian dari mana Alkana lalu meniadakan jarak di wajahnya dan mengecup sekilas bibir ranum yang sejak tadi menggodanya. Sialnya belum sempat Alkana memberi jarak pada bibirnya Sandra sudah melingkarkan kedua lengannya di leher Alkana yang membuat Alkana mengerjap beberapa kali, ia tertangkap basah.
Alkana melirik kearah Sandra, untungnya ia masih terpejam. Melihat itu Alkana melanjutkan kegiatannya dan mengeksplorasi kecupannya lebih dalam pada bagian yang ia sukai. Alkana berharap Sandra tidak mengingat kejadian itu.
Alkana kita tidak tau apa yang membuatnya begitu menginginkan Sandra, hasrat itu muncul begitu saja tanpa mampu ia kendalikan
***
Sandra membuka matanya ketika merasakan cahaya matahari menelisik indra penglihatannya, ia bangkit dari kasur seraya memegangi kepalanya yang masih terasa berat.
"Gue dimana?" Sandra menatap ke sekeliling ruangan itu, seingatnya semalam Alkana mengantarnya pulang tapi mengapa pagi ini ia berada di tempat yang tampak asing baginya.
"Rumah gue" sahut Alkana, ternyata saat itu ia tengah berdiri di depan cermin seraya merapikan bajunya.
Sandra terkejut lalu meraih selimut dan menutupi tubuhnya. Sandra hanya menggunakan tengtop ia tidak tau kemana perginya jaket jeans yang semalam ia kenakan.
"Kenapa gue bisa di sini?" tatapan matanya mengikuti Alkana yang mondar mandir mempersiapkan buku dan beberapa alat tulisnya.
"Setelah gue pulang gue harap lo udah pergi."
Merasa ucapan Alkana tidak menjawab pertanyaannya Sandra bertanya lagi, "Lo balik lagi semalam?"
Alkana menggunakan ranselnya lalu melirik sekilas kearah Sandra dan melangkah keluar. Sandra berdecak sebal melihat lelaki menyebalkan itu, "Apa susahnya sih tinggal jawab, sok jual mahal!" dengusnya kesal sendiri.
Sandra bangkit dari kasur lalu berjalan kearah kamar mandi, saat ia melewati cermin langkahnya terhenti. Sandra merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
"Oh my God" Sandra seakan tak percaya ketika menatap pantulan dirinya dalam cermin. Ia tidak tau mengapa lehernya penuh dengan kis mark padahal ia tidak merasa melakukan apa apa, dan yang membuatnya bingung adalah siapa yang melakukan itu?
"Apa ini perbuatan Reza, atau Al?" Sandra menebak nebak siapa lelaki kurang ajar yang telah memanfaatkan dirinya.
"Argh, kedua orang itu sulit di percaya" Sandra akhirnya menyerah dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Rumah bukanlah tempat yang aman untuk Sandra namun bermalam di rumah Alkana juga bukan tempat yang tepat. Sandra bagaikan lepas dari mulut harimau dan masuk kedalam mulut buaya, keduanya sama sama berbahaya.
***
Alkana memang tidak sepopuler Sandra yang di kagumi banyak orang karena kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya. Tapi bukan berarti Alkana tidak di kenal, Alkana termasuk dalam jajaran lelaki idaman di sekolahnya.
Meskipun selalu bersikap dingin Alkana banyak di sukai gadis gadis di sekelilingnya. Bagi mereka Alkana adalah lelaki dingin tak tersentuh, ia sangat menutup diri dan tidak mau berbaur dengan orang lain. Tapi siapa sangka sikapnya yang tertutup itu membuat auranya terpancar dan membuat wanita menggila karena penasaran.
Sekalipun Alkana adalah seorang cowok misterius tapi tidak ada yang berani mengungkap siapa dia sebenarnya, Alkana menggunakan topengnya begitu sempurna. Namun semenjak pertemuannya dengan Sandra di tempat hiburan malam itu membuat Alkana harus berhati-hati.
Selama ini ia sukses menjalankan misinya untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun, tapi karena keberanian gadis itu yang secara terang terangan mengikutinya membuat Alkana harus berpikir seribu kali untuk mengabaikan gadis seperti Sandra.
Alkana sangat mengenal watak gadis seperti Sandra, ia tidak akan berhenti sebelum rasa penasarannya terpenuhi. Tapi kebenaran tentang siapa Alkana sebenarnya bukanlah sebuah lelucon yang layak di pertontonkan, ia telah menutup dirinya bertahun-tahun dan tidak akan membiarkan seorang pun mengetahui siapa dia sebenarnya.
Krrring....
Lonceng pulang sekolah berbunyi, Alkana buru buru membereskan alat tulisnya. Setelah guru Matematikanya keluar kelas Alkana langsung bergegas menuju parkiran.
"Al...!" pangil suara itu yang tak lain adalah Jery.
Alkana menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Kenapa?"
"Buru buru banget," Jery seraya berlari kecil menghampiri temannya.
"Nggak juga, kenapa?"
Jery merangkul pundak Alkana lalu melangkah beriringan, "Gue pulang kerumah lo ya?"
"Ngapain?" tanya Alkana seketika.
"Main-lah.." jawab jery santai.
Alkana tampak menggaruk tengkuknya, "Ada acara apa, tumben?"
"Nggak ada acara apa apa sih."
"Oh-em gimana kalau lo pulang dulu aja terus ganti baju, baru kerumah gue?" sebenarnya Alkana ingin memastikan terlebih dahulu apakah Sandra masih di rumahnya atau tidak.
Jery tertawa, "Lo kayak nyimpen istri orang aja di rumah."
"Nggak, siapa yang nyimpen istri orang?"
"Ya udah biasa aja lagi, kenapa lo tegang gitu."
Kini Alkana yang tertawa "Tegang apaan, becanda aja lo."
Sesampainya di parkiran Alkana memberikan kunci mobilnya pada Jery.
"Siap bos."
Selama di perjalanan Alkana sibuk mengotak atik ponselnya, ia sedang mencari akun instagram milik Sandra tapi sejak tadi ia tidak menemukannya.
"Ada orderan Al?" Jery seraya menoleh. Hanya Jery satu satunya orang yang mengetahui siapa Alkana sebenarnya.
"Nggak," jawab Alkana tanpa menoleh.
Jery melirik kearah layar ponsel Alkana yang menyala, "Nyari akun siapa lo?"
"Apaan, nggak nyari apa apa" Alkana melirik Jery sekilas lalu memfokuskan diri lagi pada ponselnya.
"Kalau akun instagramnya Sandra namanya Nicol Alex Sandra, lo nggak bakal ketemu kalau cuma nyari pakai Alex Sandra doang" Jery seakan tau apa yang ada di kepala temanya.
Alkana menoleh lalu nyengir, "Tau dari mana lo kalau gue lagi nyari akunya Sandra?"
Tangan Jery terulur menjitak pelipis Alkana "Munafik banget lo jadi cowok, kayak cewek aja punya malu segala."
"Kirain lo mau ngetawain gue?" kata Alkana seraya mengetik nama akun Sandra sesuai petunjuk Jery.
"Kenapa lo nyariin tu cewek, kangen lo sama dia karena sebulan lo cuekin?"
"Nggak, ngapain juga kangen" bantah Alkana.
"Nggak kangen tapi di cariin" sindir Jery seraya mengamati jalanan.
"Ada yang mau gue omongin."
"Jangan bilang lo mau ngomong i love you."
Alkana tertawa "Nggak mungkinlah."
"Kenapa? bukannya lo udah jadiin dia pacar. Sikat men sikat!"
"Kepala lo gue sikat."
Setelah Alkana menemukan akun yang ia cari Alkana menjelajahi semua foto Sandra, untungnya akun Sandra tidak di privat yang membuat Alkana bebas stalking akun pacarnya tanpa harus memfollow terlebih dahulu sampai ia lupa dengan tujuan utamanya.
"Tapi Al, lo tau nggak kenapa meskipun Sandra playgirl di sekolah tapi masih banyak cowok yang ngejar ngejar dia?"
Alkana menoleh, "Kenapa?"
"Dari cerita mantan mantannya yang pernah gue denger, dia itu nggak tersentuh."
"Maksudnya?"
"Iya, Sandra memang sering gonta ganti pacar tapi nggak ada cowok yang pernah nyentuh dia. jangankan yang kayak lo itu, di pegang tangannya aja dia nampar. Sadis banget kan tu cewek."
Alkana manggut-manggut, seraya mengamati satu persatu foto gadis cantik di layar ponselnya.
"Cantik, seksi, bisa di dapetin tapi nggak bisa di sentuh itu yang bikin semua cowok penasaran dan tergila gila sama dia" Jery menoleh kearah Alkana, "Lo beneran Al nggak suka sama dia?"
"Nggak" jawab Alkana tanpa pertimbangan.
"Nggak suka tapi dari tadi liatin fotonya terus" bisik Jery tak percaya.
Tanpa Alkana sadari tangannya menekan tombol love di salah satu foto, Alkana lalu menghapus simbol hati yang tak sengaja ia tekan tapi naas karena layar ponselnya kemudian mati. Alkana berdecak sebal lalu meremas ponselnya.
"Kenapa, nggak di balas?" tanya Jery.
"Di DM aja belum."
"Pake HP gue aja?" Jery mengeluarkan ponselnya, "kalau udah langsung di hapus, kalau takut gue baca."
"Nggak!" Alkana tampak kesal.
"Ya biasa aja kali tu muka nggak usah BT gitu" Jery mengembalikan ponselnya di saku. "Kangen berat ya?" ledeknya.
"Apaan sih lo, brisik!"
Cowok bertubuh jangkung itu lalu mingkem. Tak lama kemudian ia bersuara lagi.
"Bakal habis nih si Sandra kalau lo beneran suka sama dia."
Alkana hanya diam, malas menghadapi kecerewetan Jery.
"Mana bisa seorang Alkana lihat yang bentuknya kek Sandra di anggurin, gue aja yang liatnya sesekali tegangan tinggi."
Alkana melotot kearah Jery seolah memberi peringatan agar lelaki itu tidak melanjutkan kalimatnya, Jery ahirnya bungkam. Tatapan Alkana mengerikan baginya.
Jery menghentikan laju mobilnya di halaman rumah, keduanya lalu turun dan melangkah kearah pintu.
Belum sempat Alkana membuka pintu rumahnya tapi daun pintu itu sudah bergerak seakan tau jika ada yang datang. Alkana dan Jery mengerutkan dahinya ketika melihat gadis kecil berpakaian sekolah dasar keluar dari balik pintu seraya menyilangkan tangannya di dada.
"Siapa ya?" tanya gadis mungil itu, seraya mendongak mengamati kedua tamunya.
***
Alkana Dirga & Alex Sandra