NEVER

NEVER
Prom Night




Satu minggu sebelumnya...


      Semenjak Nichol menghindar dari Sandra ia memang tidak pernah lagi menemuinya. Selain karena tugas kuliah yang menumpuk Nichol juga kerap pergi bersama teman-temannya. Entah ada acara penting atau sekedar nongkrong. Tapi Nichol senang, dengan kesibukan dan aktivitasnya yang padat lama kelamaan ia semakin terbiasa tanpa Sandra.


Namun pada suatu hari, Nichol diminta oleh Amira untuk menjemput Sandra di rumah sakit sebab Amira sedang sibuk di kantornya dan Nichol tidak bisa menolak.


Ketika Nichol sudah sampai di rumah sakit, Nichol tidak menemukan Sandra. Alkana bilang Sandra sedang pergi bersama Fany ke sebuah butik untuk membeli beberapa pakaiaan, dan Alkana juga berkata setelah itu Fany akan mengantar Sandra pulang kerumah.


Di waktu yang sama ketika Nichol pamit dan baru melewati batas pintu, datang seorang dokter yang hendak memasuki ruangan Alkana. Awalnya Nichol ingin terus saja, melewatkan kehadiran dokter itu namun Nichol tidak bisa. Begitu dokter itu masuk, Nichol turut masuk. Bahkan Nichol bergerak melebarkan daun pintu, mempersilahkan pria berjas putih itu memasuki ruangan Alkana. Ia ingin tau sejauh mana kesehatan Alkana.


Nichol lega saat dokter berkata minggu depan Alkana bisa pulang, mengingat lukanya yang sudah mulai pulih tapi yang membuat Nichol terkejut adalah Alkana berkata ingin pulang secepatnya. Dengan Alasan ada hal penting yang harus di lakukan. Sebelumnya dokter tidak menyarankan, tapi melihat Alkana kekeuh akhirnya dokter memberi jalan tengah.


Alkana boleh pulang tiga hari lagi asalkan dalam rentan waktu itu kesehatannya meningkat. Meski tiga hari masih terlalu lama bagi Alkana pada akhirnya ia setuju. Setalah sepakat sang dokter kemudian pamit undur diri.


Karena penasaran dengan apa yang akan Alkana lakukan pertanyaan yang semula tercekat di tenggorokan meluncur bebas dan Nichol bersyukur saat mengetahui Alkana akan melamar kekasihnya, nampaknya lelaki itu juga sudah tidak bisa menahan diri.


Mengetahui itu, Nichol memberikan solusi terbaik untuk melamar Sandra. Sebab menurut Nichol rencana Alkana yang hanya akan datang kerumah Sandra bersama Fany bukanlah ide yang kreatif "Terasa biasa saja," begitu ujar Nichol. Karena Alkana bukan lelaki yang romantis atau penuh kejutan, Alkana kemudian menuruti ide Nichol. So, tidak ada salahnya menyenangkan hati wanita yang paling ia cintai.


Untungnya setelah Alkana menceritakan niat baiknya untuk Sandra, Fany setuju. Fany juga berkata akan mempersiapkan semuanya. Dan tentunya di bantu oleh Amira, Rena dan terutama Nichol.


Begitulah proses terjadinya pesta pertunangan sederhana itu, dan mereka sangat bersyukur Sandra senang. Sampai sampai Sandra menangis saking terharunya.


Itu artinya mereka berhasil...


***


        Sejak pagi buta hingga kini waktu sudah menunjukan pukul Delapan malam Sandra masih stay di rumah Alkana. Mulanya Sandra akan di jemput oleh Amira namun Alkana berkata ia sendiri yang akan mengantarnya, dan sialnya Alkana lupa jika malam ini di sekolahnya sedang mengadakan acara "Lepas Landas." Jadi mau tidak mau Sandra harus menunggu Alkana pulang.


Alkana berjanji tidak akan lama, ia hanya akan datang, mengobrol sebentar, berfoto bila perlu lalu pulang. Tentu saja Alkana tidak mau membiarkan Sandra terbengkalai di rumahnya, mengingat Sandra yang tidak terlalu akur dengan mbak Yani.


Memang tidak saling cakar menyakar, atau kejar kejaran seperti Tom and Jerry mereka hanya beradu mulut, tapi tetap saja Alkana khawatir jika Sandra marah-marah dan sering mengumpat dalam keadaan hamil. Jelas itu tidak baik.


Seperti tadi pagi contohnya, mbak Yani memasakkan sarapan untuk Alkana telur dadar sebagai pendamping sayur dan ikan saos seperti kebiasaanya, namun Sandra tidak setuju. Sandra lebih merekomendasikan telur mata sapi, sebab Alkana pasti bosan dan disanalah mereka beradu mulut. Mengalahkan debat hebat perebutan capres dan cawapres, membuat Alkana hanya mengelus dada.


Mbak Yani kekeh pada pendapatnya, karena Alkana selama ini tidak pernah bosan sekalipun ia memasak itu setiap hari, sementara Sandra kukuh pada pendiriannya sebab ia tau Alkana lebih suka telur mata sapi.


Alkana sampai geleng-geleng. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama telur dan rasanya juga sama hanya beda cara pengolahan. Mau didadar atau di ceplok Alkana juga akan memakannya, lalu apa yang mereka ributkan? disana terkadang Alkana merasa bingung. Kaum hawa memang sulit dimengerti.


Singkat cerita, Alkana akhirnya menengahi. Alkana meminta mbak Yani mengalahan dan harap maklum sebab Sandra mungkin sedang sensitive dengan kehamilannya. Dengan sangat terpaksa Yani menurut, kemudian ia menggoreng telur mata sapi untuk Alkana dan telur dadar yang sudah Yani masak tadi dimakan oleh Sandra. Entah apa maksudnya.


Tin... tin...


Yani langsung bergegas menuju gerbang saat mendengar klakson mobil Alkana berbunyi berulang, sedangkan Sandra yang tengah duduk manis di sofa celingukan ingin memastikan benarkah itu mobil Alkana sebab waktu baru menunjukan pukul Delapan lewat empat puluh lima menit.


Sandra khawatir, Alkana mencemaskannya sampai pulang di saat acara perpisahan itu sedang meriah-meriahnya. Alkana tidak harus seperti ini tapi selain itu siapa tau Alkana pulang karena ada masalah lain, pikirnya.


Walau sebelumnya Alkana berkata ingin pulang cepat, tapi bukan berarti Sandra tidak mengizinkan Alkana menikmati pestanya.


Pintu utama terbuka lebar, munculah Alkana dari balik pintu disusul dengan Yani yang mengikutinya di belakang.


"Dimana Sandra mbak?" Alkana bertanya di sela langkah lebarnya.


"Ada mas, tadi lagi main HP di sana" Yani menunjuk dimana Sandra berada.


Alkana mengangguk dengan ayunan kaki menuju tempat sesuai petunjuk Asistennya "Oh iya, jangan lupa siapin semuanya ya mbak?" pesan Alkana sambil lalu.


Yani menurut, lalu berbelok menuju dapur. bersiap-siap menyambut tamu yang sebentar lagi akan datang.


Disisi lain, Sandra yang tengah duduk sambil celingukan kejutkan dengan kedatangan Alkana. Lelaki itu nampak tergesa, dan wajahnya serius seperti sedang dalam masalah besar.


"Al, kenapa?"


Begitu mendekat Alkana langsung memeluk tunangannya.


"Sayang..." bisiknya lirih dan cemas.


"Al, kenapa?"


Setelah dirinya agak tenang barulah Alkana menarik diri "Maaf. Gue lama ya?"


Sandra menggeleng, "Nggak kok. Kenapa, kok panik gitu?"


Alkana tidak menjawab, namun ia tersenyum tipis. Tangannya terulur mengusap rambut, dan sesekali mengecup keningnya.


"Al...?" Sandra bertanya lagi, masih tidak mengerti.


"Sayang." Kini Alkana berbicara, dan tangannya beralih mengelus perut buncit dimana bayinya berada. "Maaf ya. Harusnya lo udah istirahat dirumah, tapi gue baru pulang?"


Sandra menghela napas. Ya ampun ia fikir ada masalah serius.


"Nggak papa Al, lagian nggak lama kok..."


"Dan seharusnya gue bisa nahan mereka, biarin lo istirahat tapi...." Alkana tidak menyambung kalimatnya kala mendengar suara ribut-ribut beberapa kendaraan di luar, membuat Sandra menunggu dangan tatapan bertanya.


"Mereka siapa maksudnya?"


"Panjang ceritanya" Alkana memperbaiki posisi duduk, "Tapi yang jelas mereka udah janji kok nggak akan ngerepotin dan bikin kamu capek."


Sandra diam, memahami ucapan Alkana yang tidak dapat dimengerti.


"SANDRA!!!"


Sandra tergeragap mendengar suara panggilan tak asing di telinganya, ia seketika menoleh pada sumber suara.


"Audi, Kanaya. Kalian kok ada di sini?" Sandra bangkit dari sofa.


Kedua makhluk astral itu tersenyum, dan berlari kecil hendak mendekap sahabatnya.


"Stop!" Alkana tiba-tiba berdiri, menjadi penghalang Audi dan Kanaya yang hampir menambrak Sandra secara paksa. "Kalian ingatkan, apa pesan gue tadi?"


Audi dan Kanaya memutar bola mata. Jengah mendengar ucapan Alkana yang sudah mirip seperti kaset, diulang ulang.


"Iya ingat Al. Nggak boleh ngerepotin, nggak boleh bikin Sandra capek, nggak boleh ngomongin orang apa lagi jelek jelekin, nggak boleh lama lama bertamu, dan bla bla bla. Sampe pusing gue ngapalnya, lo udah bilang itu ratusan kali...." sewot Kanaya.


"Ok," Alkana manggut-manggut, "Gue harap kalian patuh sama omongan gue."


Senyuman Sandra mengulum, tidak menyangka Alkana sangat sensitive dengan teman-temannya.


"Ya udah lo minggir dong, kita mau peluk nih. Kangen tau."


"Tapi ingat ya pesan gue?" Alkana bergeser seraya memperingati.


"Iya bawel. Nyebelin banget lo, dasar bapak bapak..." Audi mendengus sebal. Begitu Alkana benar benar menyingkir Audi dan Kanaya menghambur dalam pelukan sahabatnya.


"Kangen deh gue, serasa udah ratusan tahun kita nggak ketemu" Kanaya yang berada di sisi kiri berujar sambil merekatkan pelukannya.


"Iya, Ra. Nggak ada lo nggak rame..."


Sandra mengangguk dan tersenyum, tangannya bergerak mengusap lengan Audi dan Kanaya yang menyilang pada leher.


Alkana masih mematung, namun diam diam memperhatikan. Khawatir Audi atau Kanaya membuat Sandra tidak nyaman.


"Oh iya, tapi kok kalian malah kesini sih. Terus acara perpisahannya gimana?"


Kanaya menarik diri, "Biarin deh, lagian kita juga udah datang dari jam tujuh. Udah bosen tau nggak? isi acaranya juga cuma ceramahan kepsek sama cuap-cuap Ketua Osis nggak penting, kan males banget. Yang ada ngantuk gue lama-lama..." kesal Kanaya.


"Iya, Ra" Audi yang dagunya masih menempel pada pundak Sandra menambahi, "Payahnya lagi makanan sama kuenya juga baru boleh di makan kalau acaranya khotbahnya selesai. Kan bete jadinya, kelaperan deh kita..."


"Hm'em..." Kanaya membenarkan sambil manggut-manggut.


"Makanya kita pilih kesini," Audi mengeratkan pelukannya dilengan Sandra. "Sepi nggak ada lo. Nggak seru tau nggak, hidup kita?"


Kanaya mengangguk, "Iya, Ra. Semenjak nggak ada lo kita berdua jarang seru-seruan, clubbing, nonton, jalan-jalan, shopping atau pergi ke tempat-tempat unik yang sering lo recommend dulu. Kita berdua nggak kreatif tau nggak tanpa lo."


"Masak sih?" Sandra tidak percaya ia berpengaruh bagi kedua temannya. Padahal penilaiannya selama ini Audi dan kanaya selalu asik sendiri, baik bersama atau tanpa dirinya.


"Iya Ra, nggak percayaan banget jadi orang."


Tak lama berselang datang beberapa rombongan, dan hanya beberapa menit mereka memenuhi isi rumah. Sandra sampai mengerjab berkali-kali, heran kedatangan tamu sebanyak itu.


"Itu dia mereka..." ucap Kanaya.


"Jad-jadi itu mereka yang lo maksud Al?" Sandra bertanya terbata.


Alkana mengangguk, dengan tatapan miris. "Mereka datang kesini buat kasih ucapan selamat atas pertunangan kita, juga buat menyambut acara penikahan kita yang tinggal beberapa minggu dan sekalian buat ngerayain perpisahan, soalnyakan habis ini kita mau ke London...." Alkana diam beberapa saat sebelum melanjutkan, "Tadinya gue udah cegah, tapi mereka maksa."


"Terus kalau merka semua pindah kesini emang kalian nggak takut kena marah bu Septi?"


"Sejak kapan lo mikirin bu Septi???" jawab Jery yang berdiri di antara teman-temannya.


"Iya" Kanaya menyahut, "Lagian kalau kena marah kita kan udah lulus, ya nggak teman-teman? palingan bu Septi cuma ngedumel sendiri."


Jawaban Kanaya di sambut gelak tawa teman-temannya.


Sandra nyengir, "Iya juga ya."


"Itu lo tau. Jadi boleh, kan kalau kita bikin party disini?"


Sandra mengangguk "Iya deh, boleh."


Jery dan teman-temannya bersorak ria, "Ayo teman-teman kita siapin semuanya?" titah Jery pada rombongannya.


Hanya dalam hitungan detik orang-orang yang kebanyakan teman sekelas Alkana mulai menyibukkan diri. Mereka beramai ramai menyusun makanan yang mereka bawa, menyusun kursi bahkan ada yang menyalakan musik. Tidak keras hanya sampai cukup di dengar, dan juga bukan musik dance melainkan instrument.


Sandra senang melihat teman-temannya antusias. Audi dan Kanaya yang biasanya sibuk berfoto-foto juga kini ikut menyusun beberapa roti dalam piring yang di bantu mbak Yani.


Disana juga bukan hanya Jery teman dekat Alkana tapi ada juga Bimo, Michael, Haris, Riska bahkan si centil Cecilia dan dayang dayangnya turut ikut serta.


"Sayang," Alkana mengusap pundak Sandra sambil mengamati orang orang yang berlalu lalang, "Maaf ya...."


Sandra menggeleng, "Gue suka kok. Gue suka teman-teman lo, gue senang mereka datang dan gue anggap ini acara 'Prom Night' ala kita" Sandra menajamkan matanya menatap netra biru milik Alkana. "Makasih ya Al, lo selalu bisa bikinin gue kejutan. Gue suka...."


Alkana tersenyum lalu mendekap tunangannya. Alkana bersyukur mendengar Sandra berkata ia selalu memberi kejutan, padahal acara ini terjadi begitu saia dan sangat mendadak.


"Ye! tuan rumah bukannya bantuin malah peluk pelukan" sewot salah satu temannya.


Alkana kemudian menarik diri, tidak enak disindir temannya "Ra, gue bantuin mereka dulu ya?"


Sandra mengangguk, membiarkan Alkana bergeming bergabung bersama teman-temannya.


Untungnya lantai dasar rumah Alkana lumayan lebar, sehingga ia tidak khawatir karena pasti muat untuk menampung mereka.



Sandra menghela napas, bibirnya merekah melihat teman-temannya. Merasa bosan berdiam diri, Sandra akhirnya turut bergabung bersama Audi dan Kanaya. Namun di sela langkahnya ia di hadang oleh seseorang.


"Selamat ya?" ucap cewek itu yang tak lain adalah Cecilia, dia sambil mengulurkan tangannya.


Orang orang yang semula sibuk pun langsung menoleh, melihat apa yang tengah dilakukan Cecilia.


Satu alis Sandra terangkat, tidak tau apa maksud cewek jelmaan ulat nangka itu.


Cecil menarik tangannya, malu Sandra tidak mengindahkan ulurannya. "Selamat buat pertunangan lo, dan gue juga mau ucapin selamat, karna sebentar lagi lo mau married sama Al."


Sandra masih diam, dengan sorot mata mengintimidasi. Ragu, ucapan Cecilia benar-benar tulus.


Cecil menyelipkan anak rambutnya, tidak nyaman di tatap seperti itu. Tapi ia terus berkata, "Gue ikut kesini karena gue mau minta maaf sama lo, karena selama ini gue selalu jahilin lo. Tapi apapun itu sebenarnya gue cuma iseng kok, gue juga nggak pernah punya dendam sama lo" selesai mengatakan itu Cecilia menunduk.


"Santai aja lagi," Sandra menjawab seadanya. "Gue juga nggak pernah ngambil hati kok omongan-omongan lo selama ini."


Cecil sepontan mengangkat kepala, "Serius?"


Sandra mengangguk, "Iya, lagian udah gue lupain."


Cecil tersenyum cerah, lega Sandra memaafkannya. "Thanks ya," Cecil meraih tangan Sandra, "Gue fikir lo benci sama gue, padahal gue sering banget usilin lo. Tau nggak sebenarnya gue tu cuma iri sama lo, lo tu bad girl tapi masih ada aja yang suka sama lo kan kesel jadinya."


Dan Cecil berujung curhat, ia menceritakan segala unek uneknya pada Sandra tentang kekesalannya selama ini.


"Tapi gue beruntung ternyata lo nggak pakai topeng, lo nggak munafik kayak orang orang yang pura-pura baik" Cecil menutup kalimatnya.


"Iyalah, secara Sandra-kan teman kita," Audi dan Kanaya tiba-tiba datang dan berdiri disisi kanan serta kiri Sandra.


Orang-orang yang ada disana menatap tak suka pada kehadiran Audi dan Kanaya. Sepertinya mereka berdua tidak paham jika Cecil menyindirnya.


"Apa lo, mau sirik lagi sama kita?" Audi mendelik pada Cecil.


"Nggak," Cecil menggeleng, sebenarnya ia malas berbicara pada mahluk titisan mak lampir itu.


"Iya, sebenarnya selama ini Sandra emang nggak seburuk yang kalian kira kok," Riska tiba-tiba menyahut diantara berdebatan mereka. "Sandra cuma anak broken home yang butuh perhatian dari orang orang, Sandra kesepian selama ini. Sandra nggak punya tempat berbagi, Sandra jauh dari orang tua dan kakaknya sering nggak punya waktu buat dia. Sandra jelas beda sama kalian, yang bisa setiap saat bisa habisin waktu sama keluarga jadi gue harap kalian ngerti gimana posisi Sandra sekarang.


Jelas, Riska mengetahui latar belakang Sandra. Memang dari siapa lagi kalau bukan dari Jery.


"Dan gue juga berharap apa yang terjadi sama Sandra bisa kalian petik hikmahnya, ambil yang baik dan buang yang buruk. Karena kalian sendiri pasti tau nggak ada manusia yang sempurna."


Hening beberapa saat, dan sorot mata masih tertuju pada Riska.


Riska perlahan mendekat, Cecil yang melihat itu bergerak mundur.


"Ra, maafin gue juga ya" Riska berbicara lirih, "Gue pernah nuduh lo perusak hubungan gue sama Satria. Gue juga sempat berpikiran buruk tentang lo, maafin gue ya."


Sandra mengangguk pelan, ia luluh dengan tatapan tulus dari Riska.


"Harusnya gue berterimakasih sama lo, karna lo udah tunjukin seperti apa Satria sebenarnya bukan malah benci sama lo. Gue nyesel Ra...."


"Nggak papa Ris, gue ngerti kok."


Riska menarik sudut bibirnya keatas, senang Sandra memaafkannya.


"Sandra maafin kita juga, kita janji deh nggak akan cuekin lo lagi. Kita juga janji bakal inget terus hari ulang tahun lo ya, ya, ya..."


Audi dan Kanaya yang tengah bergelantungan di lengan Sandra merengek penuh sesal, Sandra hanya mengangguk antara percaya dan tidak.


***


       Sandra benar-benar lega dan sangat menikamati acara itu. Meski dengan makanan seadanya dan waktunya dihabiskan dengan bercengkrama atau sekedar berfoto tapi malam ini berjalan dengan menyenangkan. Dan yang lebih melegakan lagi ternyata selama ini banyak orang-orang yang sayang padanya. Itu tidak terlihat buruk seperti yang ia fikirkan selama ini.


"Sayang?"


Sandra menoleh, ia sampai tidak sadar jika sedang berada dalam mobil.


"Iya kenapa?"


"Kamu capek ya?" tangan Alkana terulur mengusap pundak wanita yang nampak sangat lelah.


Sandra tersenyum, dari pada usapan Alkana Sandra lebih fokus pada panggilannya, 'kamu.'


"Manggilnya udah aku, kamu lagi?"


"Kita kan udah lebih dari pacar."


Senyuman Sandra masih sama merekah, senang Alkana memperdulikan hal hal kecil.


"Oh iya Al, besok aku mau USG. Temenin ya?"


Alkana mengerang, "Boleh, mau sama mama Fany sekalian nggak?"


"Boleh."


Alkana mengangguk sepakat, kemudian kembali terfokus pada jalanan. Tak lama berselang mobil yang dikendarai Alkana tiba di halaman rumah Amira. Sebelum melepas seatbelt dan membuka pintu Alkana merogoh saku, ponselnya berdering.


"Kebetulan banget mama telepon" kata Alkana saat melihat layar ponsel.


"Masak?"


Alkana menunjukan layar ponsel yang tertulis nama "Mama."


"Ya udah sekalian ngomong aja."


"Iya, sebentar ya...." Alkana menggeser layar ponsel.


Sandra diam, menunggu Alkana yang tak kunjung berbicara. Sementara wajahnya perlahan berubah serius, nampaknya Fany sedang menceritakan sesuatu yang penting.


"Al ada apa?" Sandra penasaran.


Alih alih menjawab Alkana malah meletakan jari telunjuknya di ujung bibir. Sandra menurut dan diam tanpa suara, berbeda dengan tatapan matanya yang seolah menyerang Alkana dengan ribuan pertanyaan.


"Al, ada apa?" Sandra bertanya lagi saat Alkana menyelesaikan panggilannya.


Alkana menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Besok ayah datang ke Indonesia."