NEVER

NEVER
Ketika Kita Bertemu Lagi



...Never UP!...


...Huuuuuuu......


...Akan ada kejutan sebelum ENDING...


...Semoga kalian terkejut ya.......


...😄😄😄😄...


...Happy Reading...


...*******...



Alkana langsung bergegas menghampiri wanita itu sebelum keduanya masuk kedalam mobil.


Sandra kembali...


Kenyataan yang membuat Alkana senang bukan main. Setelah sekian lama ia tersiksa dengan rasa sakit dan penyesalan yang luar biasa kini semua terlepas sudah. Alkana berjanji setelah ini ia tidak akan pernah melepaskan gadis itu, tidak akan pernah.


"Sandra!" Alkana memanggil saat Sandra akan memasuki mobil diiringi tatapan penuh binar dan harapan menggebu-gebu sampai Alkana yakin mungkin Sandra bisa melihat ia nampak gemetar.


Alkana tidak tau harus bagaimana mengekspresikan diri. Mungkin ia terlalu bahagia, detak jantungnya berpacu lebih cepat sama antusias dengan dirinya.


Sandra menoleh bersamaan dengan lelaki yang tengah merangkul pundaknya. Tatapannya menyorot datar seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.


Baru sampai di situ, Alkana merasa tubuhnya melemas. Ia kecewa, mengapa Sandra menatapnya seperti itu. Alkana merasa tidak ada lagi dirinya dalam hati wanita itu.


"Dia siapa?" tanya lelaki yang nampak lebih dewasa dari Alkana. Dia lumayan tampan, dilihat dari wajahnya seperti bukan berdarah asli Indonesia.


Sandra mendongak, menatap lelaki di sampingnya dan sebelum ia menjawab seorang wanita berpakaian perawat menghampirinya.


"Ibu Sandra?" panggilnya.


Semua yang ada di sana menoleh.


"Suamimu meninggalkan ini," wanita itu menyodorkan kantong plastik pada Sandra.


'Suami? apa maksudnya?' Alkana membatin.


Setelah mendapat ucapan terimakasih perawat itu berlalu.


"Kamu beli susu ibu hamil?" tanya Sandra ketika mengetahui isi kantong plastik yang ia bawa.


Lelaki itu tersenyum, "Iya. Untuk anak kita."


'Anak kita' ralat Alkana yang semakin tidak mengerti. 'Tidak, itu anakku bukan anak lelaki itu.'


Bibir Sandra melengkung sempurna, menampilkan senyum manis yang ia punya. Sayangnya dia tersenyum untuk lelaki di sebelahnya.


"Kamu selalu perhatian," tuturnya.


"Sudah kewajibanku," jawab lelaki itu yang kemudian mendaratkan kecupan singkat pada pucuk kepala wanitanya. Sandra tidak menolak ia seolah sudah terbiasa akan hal itu.


What the hell, Alkana tidak terima melihat itu. Baru beberapa minggu ia tidak bertemu dengan Sandra tapi mengapa secepat itu Sandra melupakannya.


"Oh iya, aku sampai lupa" Sandra berkata sambil melirik Alkana, "Perkenalkan Nick dia Alkana."


Lelaki itu terhenyak beberapa saat, lalu manatap Alkana dari atas sampai bawah.


"Dia... lelaki itu?" tanyanya.


Sandra mengangguk, dan lelaki itu masih mengamati Alkana dengan tatapan tidak percaya. Sebenarnya ia mengakui Alkana memang tampan, tapi jika melihat penampilannya Nichol ragu.


Rambutnya terlihat panjang, hingga ia yakin bisa kucir. Jaket kulit, kaos serta celana jeans yang ia gunakan sangat terlihat tidak cocok. Alkana terlihat amburadul, bahkan Sandra sendiri miris melihatnya.


"Aku Nichol," lelaki itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri. Jangankan menjawab mendengar nama lelaki itu saja Alkana bagai di sambar petir.


Alkana masih mengingat dengan baik siapa Nichol dan ia sangat terkejut dengan itu. Ia memang tidak pernah memperhatikan seperti apa foto lelaki itu, atau menanyakan penyebab Sandra putus dengannya dulu. Alkana diam dan membiarkannya namun bukan berarti tidak perduli ia hanya percaya hubungan di antara mereka memang sudah selesai dan tidak terfikir sedikitpun jika mereka akan bersama kembali.


Bodoh! Alkana memaki dirinya sendiri. Ia lupa jika selalu ada lelaki yang menginginkan Sandra. Haris salah satunya meski gadis itu tidak pernah melihat ketulusannya dan kini Nichol, cinta pertamanya. Lelaki itu tiba-tiba muncul dan merebut posisinya.


Melihat Alkana tak jua membalas uluran tangan Nichol, lelaki itu akhirnya menarik diri. "Kayaknya nggak perlu...." ucapnya.


Alkana masih mematung melempar tatapan tajam pada Nichol.


"Nick ayo pulang, ayahku pasti nunggu," ajak Sandra yang kemudian di balas anggukan oleh Nichol.


"Senang bertemu dengan mu," ujar Nichol dengan senyuman menyungging.


Alkana mengeraskan rahang ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak ada kata kata yang keluar. Mungkin karena terlalu banyak ungkapan yang tersimpan hingga tidak mampu lagi terurai. Di saat seperti ini Alkana juga tidak mungkin merayu Sandra untuk ikut dengannya, membiarkan Sandra pergi dengan lelaki itu mungkin lebih baik untuk sementara.


Alkana masih berdiri di sana, menatap mobil hitam yang membelah jalan sampai tak lagi terlihat.


'Suami? Anak kita? Nichol?' kalimat itu terus berputar di otaknya membuat Alkana memekik tertahan 'Tuhan, apa lagi ini?'


******


"Sandra pulang, kenapa kakak nggak bilang?" Alkana bicara pada ponselnya, sesampainya di rumah ia sudah tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya.


"Masak? kapan kakak nggak tau," balas suara dari seberang sana yang tak lain adalah Rena.


"Aku lihat tadi kak dia sama laki-laki, apa Sandra menikah di Singapore?"


"Aku kurang tau. Al maaf kak Rena lagi sibuk gimana kalau kamu nanti telpon lagi?"


"Tapi Sandra beneran nggak nikah, kan kak?"


"Harus berapa kali kak Rena bilang, kakak nggak tau apa-apa. Kamu tau sendirikan Sandra emang susah di hubungi akhir-akhir ini?"


"Yaudah kakak tutup telponnya, kalau mau lebih jelas datang saja nanti malam."


"Iya kak, nanti malam Al datang sama mama."


"Iya, kak Rena tunggu."


Kemudian sambungan telepon terputus. Meski tidak mendapat jawaban apa apa Alkana bersyukur Rena sudah berbaik hati menunggu kedatangannya.


Semenjak Alkana sering datang untuk menanyakan Sandra sikap Rena yang semula kaku perlahan berubah. Rena selalu merespon ucapannya tidak ketus ataupun sinis seperti sebelumnya. Mungkin Rena kasian dan merasa Alkana bersungguh-sungguh ingin bertanggungjawab hingga akhirnya Rena luluh lalu menerima lelaki itu.


Seandainya saja dari awal Alkana mau menyelesaikan masalahnya dengan baik kejadiannya mungkin tidak seperti ini, Sandra pasti sudah bersamanya dan ia tidak perlu memiliki prasangka atau pemikiran apapun. Sayangnya Alkana masih terlalu labil dalam menghadapi sebuah masalah, ia salah melangkah dan menjebak dirinya sendiri dalam masalah yang cukup pelik.


****


Nichol melirik Sandra yang nampak murung di kursinya. Sepenuhnya Nichol menyadari Sandra pasti masih memikirkan pertemuannya dengan Alkana.


"Kita mau kerumah ayah dulu atau kerumah kak Rena?" Nichol mencoba memecah keheningan.


"Kak Rena," Sandra menjawab singkat.


"Bukannya tadi kamu bilang Ayah nunggu?"


Sandra menoleh, "Kapan?"


"Tadi waktu ada Alkana."


"Oh," Sandra kembali memasang wajah murungnya, "Aku cuma pengen menghindar..." Katanya, sementara di pelupuk matanya sudah menggenang air. Sandra tidak kuat menahan kesaksiannya.


"Aku nggak sanggup lihat dia Nick," Sandra menunduk lalu menangis tergugu.


Nichol mengulurkan tangan, meraih pergelangan Sandra dan menautkan jemarinya.


"Aku tau pasti ini berat buat kamu, tapi kamu harus kuat... ingat Ra, ada bayi dalam rahim kamu. Kamu jangan terlalu stres ya?"


Sandra mengangguk singkat, namun tidak mengindahkan perkataan Nichol Sandra tetap menangis.


Nichol mengamati jalanan sambil sesekali memperhatikan Sandra. Setelah lama berselang tangisannya tak jua mereda, Nichol yang melihatnya jadi khawatir.


"Ra, kalau kamu berat ngelakuin ini apa salahnya kamu coba buat maafin dia?" Nichol berkata hati-hati, takut menyinggung gadis yang ada di sampingnya.


"Nggak segampang itu Nick."


Nichol menghela nafas, "Terus mau sampai kapan kamu menghindar, aku yakin dia udah sadar sama kesalahan yang dia lakuin. Ra... jangan terlalu egois, setiap orang punya salah, nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini termasuk dia."


Sandra mengangkat kepalanya, "Lo bisa ngomong gitu karena lo nggak ngerti gimana rasanya ada di posisi gue!"


Sandra kembali pada tabiat aslinya, memanggil Nichol dengan sebuah lo-gue. Pada dasarnya Sandra memang tidak bisa berpura-pura bersikap sopan dalam berbicara.


"Aku emang nggak pernah ada di posisi kamu, tapi aku tau gimana rasanya ada di posisi dia sekarang," balas Nichol yang kemudian menghentikan laju mobilnya di tepi jalan, ia tidak konsen lagi menyetir.


Sandra terhenyak lalu menatap Nichol.


"Aku tau Ra gimana rasanya kehilangan seseorang yang aku cintai... aku tau gimana rasanya saat kamu nggak pernah angkat telpon ku, kamu marah, kamu menghindar, kamu nggak bisa maafin aku, kamu ninggalin aku, aku tau rasanya..."


Nichol memberi jeda pada ucapannya, mengingat potongan potongan cerita masa lampau yang kandas karena kebodohannya.


"Aku benar-benar sadar aku salah, sampai pada akhirnya aku nggak punya keberanian buat sekedar nemuin kamu...."


"Nick," Sandra menyentuh pundaknya.


"Aku nyesel Ra, aku nyesel udah khianati kamu, aku nyesel udah sia-siain kamu, aku..."


"Nick!" Sandra memanggilnya lebih keras ketika pandangan Nichol sudah mulai berkaca-kaca, "Gue udah maafin lo kok."


Nichol lalu membawa Sandra kedalam pelukannya, dan Sandra menurut membalas dekapan lelaki itu.


"Seharusnya dulu aku bahagiain kamu Ra," lanjut Nichol.


"Nggak usah di sesali, yang penting sekarang kita baik-baik saja."


Nichol mengangguk lega mendengarnya, dia menarik diri lalu senyum. "Jadi, sekarang kamu bisa, kan maafin dia."


Sandra diam, menelan ludah dengan rasa getir menjalar di tenggorokan. Sementara tatapannya tertuju pada Nichol penuh keraguan.


Nichol meraih kedua tangannya, "Please, jangan ada orang kedua yang kamu perlakuin sama seperti aku. Jangan siksa orang lain dengan penyesalan Ra, cukup aku... ya?" bujuk Nichol penuh harap.


Sandra diam lagi, terpaku dalam netra abu-abu milik lelaki itu hingga pada akhirnya tanpa sadar ia mengangguk.


Nichol tersenyum lalu mengusap pucuk kepala gadis itu. "Aku tau kamu nggak setega itu Ra."


Sandra melengkungkan bibirnya keatas, tidak ada salahnya ia memaafkan Alkana di depan Nichol.


"Aku beruntung punya kamu Ra," Nichol menyelipkan anak rambut gadis di depannya.


"Gue juga beruntung bisa ketemu lo lagi, Nick."


********


Sylvester Nicholas



...Readers kamu tim yang mana nih......


...Sandra💖Alkana X Sandra💖Nichol...


...Komentar di bawah ya?...