NEVER

NEVER
Realita



SANDRA menatap kosong keluar jendela, sambil sesekali menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Meloloskan kejanggalan yang menyiksa batinnya. Ia baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama Rena, tapi kakaknya tidak membahas apa-apa mengenai masalahnya. Mungkin seharusnya Sandra bersyukur, namun nyatanya tidak. Sandra merasa tidak tenang, apalagi tadi ia melihat sendiri Rena mengusir suaminya yang membuatnya semakin merasa bersalah.


"Tante belum tidur?"


Sandra tersentak mendengar suara keponakannya, ia lalu mendekati Pika yang tengah berbaring "Ya udah tante mau ke kamar?"


Pika bangkit dan duduk disampingnya.


"Kenapa lagi, Mily sama Al udah tidur," Sandra melirik kedua kucing keponakannya yang sudah tertidur di atas matras.


Tadi Pika memang memaksanya untuk menemaninya bermain di kamar bersama Mily dan Al, dan Sandra beruntung ketika Pika ketiduran kedua kucingnya juga ikut tertidur.


"Mama sama Ayah lagi marahan," ucap Pika kemudian dengan nada melas, "Gimana ya Tan caranya supaya mereka nggak marahan lagi? Pika kangen sama ayah," Pika sambil mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh.


Belum genap Dua puluh empat jam Reza pergi tapi Pika sudah merindukannya, lalu bagaimana dengan Sandra yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Hema? apa benar ia tidak memiliki rasa rindu sama sekali.


"Tadi ayah nelpon, tapi di reject sama mama. Pika juga lihat mama dari tadi nangis...." Pika menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya dilengan Sandra. "Apa mama sama Ayah bakal pisah?"


"Pika kata siapa?"


Pika diam, sebenarnya ia juga belum mengerti dengan pernikahan, tapi ia sering melihat di televisi saat ada sebuah keluarga yang memiliki masalah berat dan tidak memiliki kecocokan lagi mereka pasti memutuskan untuk berpisah. Pika juga mengetahui dari beberapa temannya yang tidak tinggal bersama ayah kandung, karena setelah berpisah ia memiliki keluarga baru dan memiliki orang tua tiri.


Dan Pika tidak mau seperti itu, sebab dari yang ia dengar orang tua tiri itu jahat dan suka menyiksa.


"Mama nggak bilang bakal pisah sama Ayah, kan?"


Pika menggeleng, "Tapi, bukannya ayah sama mama udah pisah rumah."


"Itu bukan berarti mereka pisah. Mungkin mama cuma marah sama ayah, dan nggak mau lihat ayah untuk sementara waktu. Nanti kalau mama udah nggak marah lagi pasti ayah boleh pulang."


Pika mendongak dengan sorot mata berbinar, "Serius tante?"


Sandra mengangguk yakin. "Berapa lama Tante?" Pika antusias.


"Tante nggak tau...."


"Yah...." Pika kembali lesu. Ia fikir Sandra bisa mengetahui jawaban yang pasti, nyatanya Sandra juga tidak tau. Mengecewakan.


"Udahlah nggak usah di fikirin Pika tidur aja, besokkan Pika sekolah dan bisa ketemu sama Ayah."


"Oh iya ya...." Pika baru ingat kalau sekolahan tidak jauh dari sekolah dimana ayahnya mengajar, hanya berjarak beberapa puluh meter.


"Ya udah sana tidur."


Pika mengangguk kemudian berbaring, Sandra yang melihat itu lalu menarik selimut dan menangkupkan di tubuhnya.


Sandra melangkah menuruni anak tangga dengan pandangan mengedar ke sekeliling ruang yang hanya di terangi oleh cahaya redup, membuat suasana sunyi semakin terasa. Rumah yang biasanya selalu terlihat ramai sekalipun hanya di tinggali tiga orang itu kini serasa tak berpenghuni.


Reza, satu-satunya orang yang sering membuat keributan di rumah itu. Entah itu saat sedang lipsing bersama anaknya, menonton televisi bersama Rena atau berlarian kesana kemari bersama kucing-kucingnya. Reza memang pandai membuat semuanya terlihat sempurna.


Kini lelaki itu pergi dan sialnya Sandra tidak bisa merasa senang dengan itu, sebab kepergian Reza membuat Pika merasa kehilangan.


"Pika kangen sama ayah."


Mengingat kalimat yang di ucapkan keponakannya membuat Sandra merasa dialah penyebab semua masalah ini, meski tidak sepenuhnya.


Sandra menyibak rambutnya kebelakang dengan langkah berbelok menuju dapur, sepertinya ia butuh air minum untuk menyegarkan kepalanya.


"Kak Rena?"


Sandra berhenti di ambang pintu begitu melihat kakaknya sedang berada di meja makan. Rena tengah termenung disana dengan jemari memutari bibir gelas didepannya.


Merasa ada yang memperhatikan, Rena menoleh. "Kamu belum tidur?" sapa Rena yang kemudian meneguk air minum di gelasnya.


Sandra menghampiri Rena lalu duduk di sebelahnya. "Kakak sendiri kenapa, belum tidur?"


Rena diam, tanpa menjawab seharusnya Sandra sudah tau apa penyebabnya.


Hening, Sandra ataupun Rena tidak ada yang berkata lagi. Keduanya hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Sebenarnya banyak yang ingin Rensp sampaikan, tapi entah mengapa saat mengetahui penyebab masalahnya adalah Reza membuat semua yang ingin ia bicarakan pada adiknya tercekat di tenggorokan. Rena masih belum siap mengetahui kebenaran itu.


"Soal tadi... Sandra minta maaf ya kak," Sandra akhirnya bersuara. Meski ia tidak tau untuk apa ia minta maaf, seharusnya Reza yang meminta maaf. Lebih tepatnya mungkin Sandra harus meminta maaf atas kehamilannya, bukan mengenai kejadian tadi.


"Sejak kapan, Reza kurang ajar sama kamu?" Rena bertanya dengan air mata menggenang, hanya bertanya saja sudah membuatnya serasa tersayat-sayat.


Sebelum menjawab sandra melirik kakaknya terlebih dahulu takut Rena belum siap mendengarnya, "Sudah... lama."


Air mata yang semula tertahan kini terurai, Rena menunduk di meja sambil menangis sesegukan. Sementara Sandra hanya diam di kursinya menjadi saksi kehancuran kakaknya akibat lelaki munafik dan tak bertanggungjawab.


Rena menyesal mengetahuinya, sepertinya memang lebih baik ia tidak tau agar semua baik-baik saja, tapi bagaimana dengan adiknya?


"Apa itu alasan kamu nggak mau tinggal di rumah?" Rena bertanya setelah merasa sedikit lebih tenang.


Sandra mengangguk singkat. "Kenapa kamu nggak pernah jujur sama kakak?"


Rena menyibak rambutnya kebelakang lalu memijat pelipisnya, ia pusing dengan semua ini sampai kepalanya serasa mau pecah.


"Kalau sudah begini gimana nanti kakak ceritanya sama ayah?"


Sandra diam, ia tidak punya jawaban untuk itu. Ia tau kakaknya pasti berat menerima keadaannya, apalagi ayahnya? dia pasti sangat kecewa.


"Terus anak kamu, dia butuh seorang ayah."


Sandra mendekatkan jarak kursi pada Rena, lalu menatap kakaknya lebih dalam. "Kakak tadi ke sekolahkan buat nemuin Alkana. Gimana, Alkana mau kan tanggung jawab?"


Rena mengamati adiknya tidak mengerti. Melihat Reza yang memperlakukan Sandra seperti tadi membuat Rena yakin bahwa ayah dari anak dalam kandungan Sandra adalah Reza tapi mengapa Sandra meminta Alkana yang bertanggung jawab.


"Maksud kamu?"


Kini Sandra yang tidak mengerti, apalagi Rena menatapnya dengan tatapan tidak terbaca membuatnya khawatir jika Alkana tidak mau bertanggung jawab.


"Iya, Alkana. Ayah dari anakku... dia mau tanggung jawabkan kak?"


***


"Arghh!"


Alkana mengerang frustasi, ia pusing dengan bunyi notif whatsapp yang sejak satu jam lalu berbunyi dan sialnya ia tidak bisa menghentikan celotehan teman-tamannya di grub. Dan lagi, orang yang menjadi objek perbincangan teman-tamannya adalah dia. Sungguh mereka tidak memiliki sopan santun.


Mereka sepertinya lupa jika Alkana bisa membaca, dan ia juga masih berada di grup yang sama. Atau mungkin mereka sengaja, mengumpat Alkana secara terang-terangan untuk mempermalukan dirinya. Menjengkelkan! gerutu Alkana kesal sendiri.


Silent


Alkana menghela nafas lega, mengapa tidak sejak tadi ia mengganti mode hening? saat pikirannya kacau terkadang memang membuatnya sedikit payah.


"Shh..."


Alkana memegang memar di bawah kantung mata, yang sejak tadi terasa berdenyut ngilu. Membuatnya tidak bisa tidur. Jery benar-benar tidak kira-kira memukulnya, sampai ia tersiksa seperti ini. Teman macam apa dia? Alkana jadi ragu, Jery seperti mempunyai dendam lama padanya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar nyaring, Alkana sampai terkejut di buatnya. Lagi pula Siapa yang tengah malam bertamu, mengganggu orang aja. Alkana mengumpat seraya berjalan mendekati kearah pintu.


Untungnya ia sedang menonton televisi di lantai bawah jadi tidak perlu repot menuruni anak tangga.


Brak brak brak


Ketukan yang tadinya santai kini terdengar brutal. Alkana serasa sedang menghadapi debt colektor yang tidak sabaran.


"Sebentar!" pekiknya emosi.


Perlahan Alkana membuka daun pintu rumahnya, dan alangkah terkejutnya Alkana saat melihat siapa yang datang.


Seorang wanita dengan wajah lusuh dan mata sembab, penampilannya juga tak kalah berantakan, nafasnya tersengal dan tatapannya berapi-api seolah sengaja menunjukkan kemarahannya. Alkana tidak tau mengapa gadis itu datang ke rumahnya tengah malam begini, tapi melihat gadis itu menangis membuat Alkana sadar itu pasti karena ulahnya.


Ya, wanita itu Sandra. Ia sengaja datang menumui Alkana karena geram lelaki itu tidak mau bertanggung jawab dan malah menuduh Reza ayah dari bayinya, Sandra kecewa Alkana tidak menepati janjinya dan kesalahan lelaki itu tak termaafkan baginya.


PLAKKK


Tanpa sepatah katapun, tamparan itu meluncur dengan sempurna. Alkana hanya meringis merasakan sakit.


Awalnya Sandra juga terkejut melihat Alkana yang mempunyai beberapa lebam di wajahnya, tapi mengingat apa yang Alkana lakukan ia tak lagi memiliki rasa kasian.


Dan sepenuhnya Alkana menyadari ia memang bersalah, dan ia tau Sandra pasti sangat marah padanya namun ia hanya bisa diam ia tidak akan membela diri Sekalipun Sandra ingin membunuhnya.


Sandra tetap bungkam, hanya matanya yang menyala dan menyorot tajam kearah Alkana membuat lelaki itu semakin menunduk. Baginya tidak ada sepatah katapun yang bisa mewakili rasa kecewanya, lagipula percuma ia berbicara penjelasan apapun tidak akan membuat Alkana mengerti. Sandra tidak mau menyia-nyiakan tenaganya untuk lelaki itu, sudah cukup waktunya selama ia terbuang sia-sia, dan Sandra tidak mau melakukan apa-apa lagi untuk Alkana.


PLAKKK


Alkana terkejut saat tangan Sandra menyentuh pipinya lagi. Setelah tadi pipi kiri kini beralih dipipi kanan sampai rasa ngilunya menjalar di kepala.


Sandra melihat Alkana meringis kesakitan dan ia tidak perduli. Rasa sakit yang Alkana derita tidak sebanding dengan yang Alkana berikan.


Setelah melakukan itu Sandra melangkah pergi, dan Alkana tidak percaya melihat Sandra pergi begitu saja.


Jadi ia datang hanya untuk menamparnya?


H**ard to believe.


****