NEVER

NEVER
Tatapan Sengit



         RENA menoleh kearah adiknya yang sedaritadi mengalihkan pandangannya pada kaca mobil menatap orang orang di jalanan dengan tatapan kosong.


Setelah agak lama memperhatikan Sandra Rena akhirnya bersuara, "Masih marah sama kakak?" tanyanya.


"Nggak" jawab Sandra tanpa menoleh.


"Kak Rena tau kamu nggak suka sama Reza, tapi biar bagaimanapun dia tetap kakak kamu."


Sandra diam, tidak berniat menjawab pertanyaan kakaknya. Percuma apapun yang ia sampaikan Rena tetap menjadi pemenang, suka atau tidak.


"Kalau kamu nggak bisa menganggap dia sebagai kakak ipar setidaknya kamu bisakan menghargai dia sebagai orang yang pernah nolongin kakak."


Rena menghentikan laju mobilnya begitu sampai di depan gerbang SMA Pelita.


"Sandra," Rena menyentuh pundak gadis yang sedari tadi menekuk wajahnya.


Sandra terperanjat lalu menoleh, "Ya."


"Kamu masih ingatkan kapan terakhir kali papa datang kerumah?"


"Nggak usah di bahas" ucap Sandra malas.


Rena menelan salivanya susah payah, Rena tau adiknya tidak ingin lagi mengingat kejadian itu.


"Setelah papa dan mama pergi cuma Reza yang kakak punya. Cuma Reza satu satunya orang yang bisa bantu kakak bayar semua biaya kuliah kakak, sampai kak Rena lulus."


Rena mengusap pundak adiknya. "kak Rena nggak akan dapat pekerjaan ini kalau dulu Reza nggak bantu kakak. Kita nggak akan punya rumah, mobil bahkan makananan yang kita makan setiap hari, semua ini berawal dari dia."


Sandra menyunggingkan senyuman remeh lalu bersidekap. "Bukannya Reza di kasih uang sama ayahnya, Reza taunya cuma minta."


"Tapi kalau kak Rena hanya mengenal orang tuanya tanpa pacaran dengan Reza kakak nggak akan menerima bantuan itu kan?"


"Iya, tapi seharusnya kakak berterimakasih sama ayahnya bukan sama Reza."


Rena menatap adiknya penuh harap "Sandra, apapun itu kakak mohon terima dia sebagai keluarga kita. Kak Rena tau Reza memang bukan suami yang bisa di andalkan. Dia tidak bisa bantu kakak meringankan beban keluarga kita, tapi setidaknya dia ayah yang baik. Dia tidak kasar dan selama ini dia tidak pernah menyakiti kakak, bahkan sebelumnya. Jadi bisa kan kamu menghargai dia?"


Sandra melengos menatap orang orang yang berjalan melewati mobilnya. Ia bertahan duduk di kursinya karena menghargai Rena bukan karena ingin mendengar permohonan kakaknya. Reza mungkin memang ayah yang baik untuk Pika, tapi bukan suami yang baik untuk Rena.


Lama Sandra berdiam diri mendengar ocehan kakaknya tentang kebaikan Reza namun kemudian ia jenuh. Sandra membuka daun pintu mobil bosan dengan drama dari Reza yang ia dengar dari mulut kakaknya.


Saat Sandra baru akan beranjak turun Rena menahan pergelangannya. "Apa sebenarnya yang buat kamu benci sama Reza?"


Sandra menoleh menatap ke dalam mata kakaknya, sorot mata itu seolah di penuhi ribuan tanda tanya.


"Sandra akan turutin permintaan kakak" jawab Sandra mengalah meskipun ia tau bukan itu jawaban yang di inginkan Rena.


"Jawab pertanyaan kakak?"


Sandra menarik tangannya, "Itukan yang kakak mau," Sandra turun dan membanting keras daun pintunya. Baginya tidak mungkin membuka aib kakak iparnya sebenci apapun ia pada Reza, Sandra tidak mau menyakiti kakaknya karena ia tau Rena sangat mencintai suaminya.


Rena menurunkan kaca mobil dan berteriak, "Sandra...!"


Sandra berhenti lalu memutar arah, Rena berharap Sandra memberi jawaban atas pertanyaannya tapi adik satu-satunya itu malah berkata "Seandainya dulu kak Rena minjam uang di Bank pasti sudah lunas, dari pada kakak di kasih uang sama Reza tapi harus balas budi seumur hidup."


Harapan Rena musnah seketika, ia lupa kalau kepala adiknya lebih keras melebihi batu.


***


Krrring...


 


Semua siswa siswi berbondong\-bondong menuju kantin memenuhi setiap kursi yang ada di sana. Kantin sekolah memang tidak pernah sepi sekalipun di jam pelajaran, pasti ada siswa atau siswi yang nekat melipir ke kantin dengan alasan ke toilet namun setelah itu tidak kembali lagi ke kelas.


Sama halnya dengan gadis berseragam olahraga di yang ada di sana, ia sudah menghabiskan makanan di mangkoknya dari satu jam yang lalu. Sandra memang tidak pernah jengah menghadapi kemarahan bu Septi, apapun nasehatnya hanya di anggap angin lalu.


Pandangan gadis itu menyapu tiap-tiap penjuru kantin berharap menemukan kedua temannya, tapi kedua mahluk astral itu tak jua menampakkan diri. Alih-alih menemukan sahabatnya tatapan Sandra terpaku pada cowok yang duduk di sudut kantin dengan wajah di penuhi memar. Tanpa pikir panjang Sandra bangkit menghampiri pacarnya.


Sandra duduk di depan Alkana dengan tangan terulur menyentuh lebam di ujung bibir. "Lo berantem lagi?"


Luka yang Alkana dapatkan kemarin belum sempat mengering tapi kini ia sudah mendapat luka baru.


Alkana menepis tangan yang mengarah pada wajahnya, "Jangan sentuh gue."


Sandra mencebik kesal, "Gue juga cuma basa-basi" katanya.


Alkana melanjutkan makannya dan membiarkan gadis aneh itu terpaku menatapnya.


"Hai Ra...!" sapa seorang cowok dengan senyuman paling manis yang ia punya, "Jangan di godain, pacar lo lagi sensitif" lanjut cowok itu sambil melirik sahabatnya.


"Sensitif kenapa?"


"Ya itu" Jery menunjuk wajah Alkana, "di keroyok lagi."


"Lo udah bosen hidup ya kayaknya, kenapa nggak di laporin ke polisi aja?"


Bukannya menjawab pertanyaan Sandra Alkana dan Jery malah beradu pandang.


Tak lama kemudian Haris datang menghampiri mantannya. "Ra.." panggil Haris hati hati, takut menganggu kebersamaan gadis itu bersama Alkana.


"Aku tadi nyariin kamu di kelas tapi nggak ada, pas aku tanya sama temen kamu katanya..."


"Ada apa?"


Pertanyaan itu seakan memaksa Haris menjelaskan pada maksud dan tujuannya, sepenuhnya Haris sadar ia mengganggu.


"Balikin buku" Haris memberikan buku paket dan beberapa buku tulis milik Sandra.


"Udah selesai?" Sandra terbelalak lalu meraih pemberiannya.


"Udah."


Sandra membuka buku tulisnya, memastikan apakah benar Haris mengerjakan PRnya atau tidak.


"Thanks ya!" ucap Sandra setelah mengetahui buku latihannya sudah di penuhi oleh tulisan mantannya.


Haris mengangguk, "Aku balik ke kelas..." pamitnya.


Sandra menepuk kursi di samping tempat duduknya, "Makan dulu" titahnya.


Jery membulatkan matanya seakan tak percaya jika Sandra menempatkan Haris satu meja dengan Alkana.


"Serius Ra?" Jery menyampaikan rasa keberatannya.


Sandra mengangguk yakin, namun kemudian Haris berkata "Nggak usah, aku ke kelas aja."


Sebenarnya bukan penolakan Jery yang membuat Haris sungkan melainkan tatapan sengit dari Alkana.


"Kenapa, takut sama Alkana?" Sandra mendelik pada cowok bermata biru di depannya.


"Bu-bukan gitu," Haris menggaruk tengkuknya tidak tau harus bersikap bagaimana.


"Ya udah duduk..."


Haris terpaksa mengangguk dan merebahkan pantatnya di samping gadis yang ia cintai. Sesekali Haris menoleh melihat Alkana yang tampak tidak suka dengan kehadirannya.


"Lo mau makan apa?"


Haris membenarkan posisi kacamatanya, menepis rasa gugup yang ia rasakan.


"Kayak biasanya aja Ra."


"Tunggu bentar," Sandra bangkit dari kursi bergegas menuju etalase tempat biasa memesan makanan. Setelah beberapa saat ia kembali membawa pesanan Haris.


"Makasih Ra?" Haris tersenyum simpul dan hanya di balas anggukan oleh Sandra.


"Jer beliin minum gih buat Haris, gue lupa tadi?" titah Sandra.


"Lo nyuruh gue beli minuman buat ni cupu?"


"Iya, emang kenapa?"


"Nggak usah Ra gue bisa beli sendiri kok?" Haris tidak ingin menjadi beban keduanya.


"Nggak papa kali Jery baik kok, iya kan Jer?" Sandra tersenyum manis kearah Jery.


Jery bengong, ia tidak sudi membuang waktunya untuk meladeni lelaki cupu itu tapi senyuman Sandra seakan memaksa.


"Ya udah deh," Jery beranjak dari kursi "Tapi gue terpaksa ya" lanjutnya.


Sandra tergelak, "Gue nggak perduli yang penting lo mau."


Jery berdecak sebal lalu bergeming menuju Showcase yang tidak jauh dari tempat duduknya. Merasa diabaikan dan tak berguna Alkana ahirnya memutuskan untuk enyah dari kantin.


Sandra mendongak mengamati Alkana yang hendak berlalu, "Kemana Al?"


Alkana menoleh sejenak lalu melangkah pergi.


"Dasar budek!" ucap Sandra seraya menatap punggung Alkana yang mulai menjauh.


"Dia marah karena ada aku ya?" Haris bingung mengartikan sikap Alkana.


"Bodo amat" sahut Sandra enteng.


Haris semakin di buat bingung oleh ucapan Sandra. "Ra kalau kalian sama sama nggak cinta kenapa pacaran???"


***


Sandra & Haris