
SANDRA senang bukan main saat Alkana mengajaknya jalan-jalan sepulang Sekolah. Yang ada di fikirannya Alkana akan mengajaknya, nonton, pergi ketempat wisata atau makan di tempat yang romantis, memikirkannya saja sudah membuat gadis itu berbunga-bunga.
Tapi sayang itu tidak sesuai dengan kenyataan, karena lelaki itu malah mengajaknya di sebuah tempat yang berbeda jauh dari yang ia bayangkan. Dan disepanjang jalan selama menuju tempat itu sampai pulang Sandra tak henti mengoceh, menumpahkan rasa kesalnya pada Alkana.
Bagaimana Sandra tidak kesal, lelaki itu malah membawanya ke tempat pameran buku. Sandra bersumpah, jangankan ke perpustakaan melihat tumpukan buku pelajaran saja kepalanya sudah terserang migran, sungguh ini adalah mimpi buruk dalam hidupnya.
Belum lagi jika membayangkan Alkana yang akan mengajarinya membuat Sandra ingin segera melarikan diri, tapi harus kemana ia berlari? Sepertinya hari-harinya akan lebih buruk setelah ini.
"Nyesel banget gue percaya sama omongan lo?" dengus gadis itu seraya turun dari mobil.
"Kok lo gue, aku kamunya mana?" Alkana meledek sambil mengekori langkah pacarnya menuju pintu.
"Nggak ada aku kamu aku kamuan, udah ilang" ketusnya dengan wajah galak, sangar dan kesal bertubi-tubi.
Alkana tergelak, puas karena dendamnya terbalaskan. Tak ada maksud lain dari Alkana melainkan ingin membuat gadisnya marah, sama seperti yang Sandra lakukan tadi di sekolah.
"Gue pikir lo mau ngajakin ke tempat wisata, dinner romantis atau setidaknya nonton gitu, tapi apa? malah ke pameran buku, ngapain coba nggak penting banget," Sandra bersidekap dengan perasaan dongkol yang luar biasa.
Alkana menghela nafas lalu berhenti di depan pintu.
"Jadi marah nih," tanya Alkana tapi Sandra diam saja.
Tanpa bertanya harusnya Alkana sudah tau jika ia sedang marah, untuk apa bertanya lagi? "Dasar tidak peka!" gerutunya dalam hati.
Alkana menipiskan jarak wajahnya lalu mengecup kening gadis itu.
"Masih marah nggak?"
Sandra diam, kali ini ia menatap Alkana tanpa ekspresi.
Alkana mencium pipi kirinya. "Masih marah ya?"
Sandra mengalihkan pandangannya dengan bibir mengerucut.
Alkana mencium lagi pipi kanannya. "Masih marah juga?"
Sandra masih tidak menjawab. Alkana baru sadar, pacarnya itu benar-benar marah rupanya, jika sudah begini sepertinya ia harus menggunakan cara lain.
Alkana menarik pinggang gadis itu sampai Sandra terkejut, kemudian tanpa aba-aba Alkana menipiskan jarak bibirnya.
Cup
Seharusnya Sandra tidak terkejut tapi gadis itu tetap terkejut. Belum lagi saat tangan lelaki itu menahan tengkuknya membuat Sandra tak bisa berkutik.
Amarahnya perlahan mencair akibat serangan Alkana yang mampu melemahkan pertahanan dirinya.
Tanpa sadar Sandra membuka mulutnya membuat bibir Alkana menerobos masuk dan bergulat dengan lidah. Sandra tidak tau hal gila apa yang ia lakukan tapi semakin hari ia semakin menyukai lelaki itu bahkan saat sedang seperti ini, ia tidak ingin berhenti.
Sandra mengalungkan lengannya di leher Alkana dengan gemetar dan detak jantung memburu, sementara bibirnya terus bergerak membalas setiap perbuatan Alkana yang mampu membuatnya melambung ke udara.
Selang beberapa menit Alkana menarik diri lalu mengusap bibir gadis itu, yang basah karena ulahnya.
"Masih marah?" tanya Alkana dengan suara begitu pelan.
Sandra menggeleng singkat sambil menormalkan deru nafasnya.
"Ayo kita nonton" bisik Alkana kemudian.
Sandra mendongak, kurang yakin dengan yang barusan ia dengar.
"Nonton?"
Alkana mengangguk dengan ibu jari masih mengusap bibir pink kekasihnya.
"Dimana?"
"Di rumah, nonton TV, berdua" jawabnya tanpa berdosa.
Sandra mendelik, ternyata Alkana benar-benar tidak bisa mempelajari telepati wanita.
"Kok TV? BIOSKOP!" protes gadis itu di iringi rasa kesal yang kembali menyerang.
"Kan kita di rumah, berdua. Bukannya lebih romantis, hm?"
"Tapi aku kan juga pengen ngrasain nge-dete gitu sama pacarnya, kayak pasangan yang lain. Kita kan selama ini nggak pernah, kalau cuma nonton TV doang mah udah bosen!" sewot gadis itu dengan suara meninggi.
"Ya udah, kita nonton malam ini," Alkana mengalah demi kebahagiaan gadis yang dicintainya.
"Di bioskop kan?" Sandra menatap Alkana penuh harap.
"Iya."
Sandra langsung tersenyum semringah. "Beneran?" tanyanya dengan mata penuh binar.
Alkana meraih ponselnya di saku dan melihat pukul berapa malam ini, dan sepertinya waktu memang sedang berpihak padanya, sebab malam ini masih menunjukkan pukul 20.00.
"Dua puluh menit cukupkan buat mandi dan siap siap?"
"Cukup," Sandra menjawab dengan bersemangat.
"Ya udah sana, nanti kita langsung berangkat."
"Ok, siap!" katanya dan sebelum bergeming ia mencium sekilas pipi pacarnya.
Alkana tersenyum, 'Dasar gadis nakal...!'
****
Kebahagiaan gadis itu malam ini tak terhingga rasanya, bahkan tak ada kata kata yang mampu melukiskan betapa bahagianya ia karena bisa menghabiskan waktu bersama Alkana.
Jika ini mimpi, Sandra ingin tidur selamanya, dan Jika nyata ia ingin selalu bisa merasakan kebahagiaan seperti ini seterusnya.
Alkana bisa membuatnya melupakan rasa sedihnya jika mengingat Mona, rasa kecewanya pada ayahnya dan kemarahannya pada kakaknya. Semua luka yang pernah ia rasakan terganti sudah dengan kebahagiaan.
Sandra merasa hidupnya lebih berarti ketika berada di samping Alkana.
Keduanya baru saja keluar dari bioskop dengan kedua tangan yang saling berpautan dan melangkah beriringan menuju tangga escalator.
Senyuman gadis itu tidak pernah pudar seolah menunjukkan bahwa ia tengah berbahagia.
"Udah puas nontonnya?" Alkana seraya mengusap pucuk rambut kekasihnya.
"Iyalah, Tiga jam" jawab gadis itu.
Alkana tersenyum, ia memang paling bisa membuat Sandra puas.
"Pulang kita?"
Sandra mengangguk, lalu menurunkan kakinya pada tangga escalator, begitu juga Alkana.
Setelah mendarat dengan selamat keduanya kembali bercengkrama sambil terus berjalan menuju lantai dasar.
Di sela perjalanan tanpa sengaja Alkana bertemu dengan seseorang yang tak asing dimatanya, dan sialnya perempuan itu juga melihatnya.
"Al...." Sapa wanita itu, yang secara otomatis langsung menghadang langkah Alkana dan tanpa basa basi langsung mencupika cupiki.
Sandra yang melihat itu melotot, rasa sesak tiba-tiba menyerang dadanya, hidungnya kembang kempis persis ikan laut yang mental ke daratan.
"Apa-apaan!" Sandra mendorong wanita itu menjauh.
Alkana memutar bola mata, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Sandra paling tidak bisa jika melihat perempuan yang satu ini, Ratu.
"Alkana pacar gue, main sosor sosor aja lo murahan banget sih jadi cewek," sewot gadis itu tidak terima, tapi Ratu melengos tanpa perduli dengan rasa keberatan gadis di depannya.
"Satu meter ya jaraknya. Lo jangan dekat-dekat!" lanjutnya seraya memeluk lengan Alkana, takut kehilangan.
"Lo berdua aja?" tanya gadis berpakaian ketat dan mengabaikan peringatan dari Sandra.
"Iya," Alkana menjawab singkat.
"Sorry gue fikir lo udah putus sama dia," Ratu melirik penampilan Sandra dari atas sampai bawah, "Ternyata belum."
"Gue nggak akan putus sama Alkana, jangan mimpi lo!" tukas Sandra tidak suka.
Ratu tersenyum miring, seolah meremehkan.
"Lo sendirian?" tanya Alkana, Sandra langsung mendongak. What the hell?
Sandra tidak menyangka Alkana perduli dengan perempuan itu, jika tidak untuk apa dia bertanya Ratu bersama siapa.
"Iya, tadi gue janjian sama temen temen gue, mereka udah balik."
"Owh..., ya udah kalau gitu gue duluan ya...." pamit Alkana.
Ratu mengangguk, melihat itu Alkana kemudian berlalu dengan lengan di pundak kekasihnya.
****
Sepulang dari bioskop Sandra langsung kekamarnya, ia marah karena Alkana bertanya Ratu bersama siapa. Padahal itu hanya hal sepele bukan?
Alkana tidak menyangka jika itu bisa membuat Sandra semarah ini, bahkan tadi saat di perjalanan Sandra diam saja sementara bibirnya mengerucut beberapa senti membuat Alkana bingung harus bagaimana.
Alkana lebih baik mendengar Sandra mengoceh seperti tadi dari pada diam seperti ini, keadaan ini membuatnya merasa tersiksa.
Cklekkk...
Sandra melirik saat mendengar handle pintu kamarnya berbunyi, dan tak lama berselang Alkana muncul.
Sandra buru-buru menarik selimut, dan menutupi seluruh tubuhnya, ia merasakan firasat buruk.
Sepertinya Alkana sudah mulai pandai merayunya, sekarang contohnya. Alkana sudah berani menyelinap masuk ke kamarnya dengan bertelanjang dada.
Astaga, ia sepertinya sudah menyusun rencana untuk menyerang gadis yang sedang marah itu.
Sejauh ini, Alkana menggunakan kemampuan mesumnya dengan baik dan selalu berhasil mengalahkan dinding pertahanan gadisnya dan sepertinya malam ini akan termasuk.
Alkana menaiki ranjang memeluk Sandra dari belakang, hanya sebatas itu tapi Sandra sudah memikirkan hal yang tidak tidak. Oh my gosh!
"Sayang, masih marah?" Alkana menjumput anak rambut dan menyelipkan di belakang telinga.
Sandra diam. 'Jangan tergoda jangan tergoda', begitu kalimat yang ada di fikiran gadis itu.
"Sayang aku minta maaf...."
Alkana lalu berceloteh mengungkapkan penyesalannya dengan tangan terus bergerak naik turun mengusap rambut kekasihnya.
"Aku nggak akan ngulangin lagi, janji" sambungnya.
Sandra masih diam, Alkana kemudian mengangkat kepalanya melihat apa yang terjadi. Dan ia baru sadar mengapa Sandra diam saja rupanya gadis itu tidur.
Ya ampun, Alkana fikir Sandra sekuat itu membiarkannya ternyata dia tidur, sepertinya dia kelelahan. Baiklah jika sudah begini apa boleh buat, mungkin lebih baik Alkana juga ikut tidur mengingat malam yang sudah mulai larut.
Beberapa jam kemudian...
Sandra menggeliat, sebelum pada akhirnya membuka mata dan menyadari Alkana yang berada di sampingnya.
"Kenapa bangun?" tanya Alkana tiba-tiba yang membuat Sandra terkejut. Ia pikir Alkana masih tidur, "Dingin?"
Sandra menggeleng dengan bibir masih mengerucut.
"Masih marah?" tanya Alkana lagi.
Sandra diam, sementara netra abu-abunya menyorot tajam pada Alkana.
"Masih ngambek, hm?"
Sandra menggeleng pelan membuat Alkana yang tengah menatapnya tersenyum senang.
"Are you sure?"
Sandra diam, nampaknya ia kurang yakin jika ia sudah memaafkan lelaki itu.
"Boleh gue nanya sesuatu?" Sandra akhirnya bersuara.
Mata Alkana menyipit, namun sesaat kemudian ia berkata "Nanya apa?"
Sandra memiringkan posisi tidurnya menghadap Alkana dan lelaki itu terkesiap mengulurkan tangannya mengusap rambut gadis itu.
"Jawab jujur tapi ya?" Sandra mewanti-wanti.
"Iya, mau nanya apa sayang?"
Sandra menarik nafas, kemudian berkata "Sebenarnya apa hubungan kamu sama Ratu???"
Alkana berhenti mengusap rambut gadisnya, ia berfikir keras kali ini. Pertanyaan macam apa itu?
"Nggak ada," katanya. "Kebetulan dia sering clubbing aku juga. Jadi kita kenal...."
"Jawaban yang tidak memuaskan," rutuk gadis itu dalam hati.
"Terus kalau nggak ada hubungan kenapa kemarin di kamar, berduaan lagi?"
Alkana membeku, pertanyaan itu lebih tepat seperti interogasi. Belum lagi tatapan mengintimidasi dari Sandra membuat Alkana tidak bisa berkutik.
"Apa lo juga nglakuin itu, sama Ratu?"
Tanpa Sandra jabarkan Alkana sudah tau apa "itu" yang di maksud oleh Sandra. Dan tidak mungkin ia jujur, pasti akan sangat menyakitkan untuk Sandra.
Ia mendapatkan yang pertama dari Sandra sedang yang ia berikan pada Sandra entah yang keberapa, sungguh tidak sebanding.
"Al, jawab...." Sandra bertanya dengan air mata menggenang membuat Alkana merasa seperti lelaki berengsek yang telah menyakiti kekasihnya.
"Iya kan!" Sandra menyimpulkan sendiri pertanyaannya, diiringi cairan bening yang akhirnya tumpah.
Alkana menelan ludahnya susah payah, tidak mungkin ia bohong, sebab selama ini ia seperti sudah membodohi gadis itu. Tapi apa kejujurannya membuat situasi ini membaik atau malah bertambah parah, entahlah Alkana tidak tau harus berbuat apa.
Sandra membalik badan membelakangi Alkana lalu menangis sesegukan. Sandra sendiri sebenarnya tidak tau apa yang ia tangisi, kebodohannya kah, kebohongan Alkana kah atau kenyataan yang menyiksanya. Semua terasa rumit di kepalanya.
Alkana mendekati gadis itu lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang maaf?"
Seandainya ada jalan lain, pasti Alkana tidak akan jujur, tapi nyatanya tidak ada. Dan satu-satunya cara yang harus ia lakukan adalah mengakui kesalahannya lalu membuat gadis itu percaya lagi, meski ia tau mungkin itu sulit.
"Aku janji, aku nggak akan berhubungan lagi sama dia. Kalau kamu masih khawatir, aku nggak akan ke tempat clubbing lagi?"
Sandra masih menangis di sana, ungkapan Alkana tidak mampu meredam rada sesak di dadanya.
"Sayang...."
Alkana membalikkan posisi gadis itu agar menghadapnya.
"Aku janji," katanya penuh kesungguhan.
Sandra masih diam seraya menatap netra biru lelaki itu, mencari kebohongan tapi ia tidak menemukannya.
Alkana mengusap cairan yang masih mengalir, "I promise there will never be another."
***