NEVER

NEVER
Pergi



      SEPERTI biasa, setiap pagi Sandra menyiapakan sarapan untuk Alkana sebelum berangkat kesekolah. Tapi ada yang berbeda dengan hari ini, sebab hari ini Sandra tidak masak. Ia hanya menyiapkan Roti tawar dan membuat susu putih untuk Alkana.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Sandra mengoleskan beberapa lembar roti dengan selai Strawberry lalu memasukannya dalam kotak bekal.


"Buat Haris?" tebak Alkana dengan nada yang terdengar tidak suka.


Sandra menoleh kearah lelaki tampan berseraham putih abu-abu yang baru saja datang, "Bukan. Tapi, buat pacar gue" jawabnya seraya tersenyum singkat.


"Ini buat makan siang, lo suka selai Strawberry, kan?"


Alkana mengangguk diiringi lekukan dibibirnya.


"Jangan lupa dibawa ya?" pesan gadis itu.


"Iya" ucap Alkana dengan seyuman yang masih sama.


Disini, disini sisi yang selalu membuat Alkana bersemangat untuk bangun pagi. Bahkan ketika matanya baru terbuka yang paling ia inginkan adalah segera bertemu gadis itu, dan yang lebih menyenangkan ialah menebak apa yang dimasak gadis itu pagi ini. Alkana selalu menunggu momen dimana ia bisa bertemu dan duduk bersama di meja makan.


Belum lagi jika mendengar Sandra bercerita mengenai bagaimana ia memasak makanannya, yang terkadang gosong, hambar atau bahkan ia pernah membuang masakannya karena terlalu asin dan tak layak dimakan itu membuat pagi hari Alkana semakin berwarna.


Hari-harinya terasa lebih berharga, Alkana selalu menikmati setiap detik yang ia lalui bersama gadis itu.


Sandra mampu mengisi kekosongan hatinya dengan cara yang sederhana.


"Pagi ini lo sarapan sendiri ya gue mau beres-beres dulu?"


Alkana menaikan sebelah alisnya. Ada rasa kecewa ketika mendengar Sandra menyuruhnya makan sendiri, sungguh Alkana berharap ia bisa melewati pagi seperti biasanya.


"Beres-beres apa?"


Sandra bergumam, "Hari ini gue pulang. Jadi gue harus beresin barang-barang gue."


"Oh...." ucap Alkana lemas. Semangatnya pudar saat mengetahui gadisnya akan pergi.


Seandainya Alkana bisa berkata jika yang ia katakan semalam adalah yang sebenarnya, dan ia mengucapkan itu dengan segenap perasaannya, tapi sayang sepertinya Sandra tidak mengerti.


"Stay here, i need you...."


Alkana sadar dengan yang ia ucapkan, namun sekalipun Sandra mengetahuinya itu tidak bisa membuatnya tetap tinggal.


"Al...."


Alkana terperanggah saat merasakan tepukan kecil di pundaknya, "Iya."


"Kok malah bengong?" Sandra menatap Alkana bingung.


"Iya apa, lo ngomong apa?"


"Kenapa nggak dimakan, lo nggak biasa sarapan roti ya? Atau luka lo masih sakit?"


"Udah nggak sakit, ini gue makan" Alkana langsung mencomot sepotong roti lalu memasukan kedalam mulutnya dengan terburu-buru bahkan Alkana tidak memberinya selai terlebih dahulu.


Sandra yang semula akan bergeming ahirnya kembali duduk.


"Sini gue bantuin," Sandra meraih roti dan pisau makan lalu mengolesi selai rasa Strawberry untuk Alkana.


"Eh em-iya."


Entah mengapa Alkana mendadak linglung, tapi ia senang Sandra mau menemaninya sarapan.


Pipi Alkana mengembang ketika sepotong roti ia masukan seutuhnya. Rahangnya terus bergerak bekerja sama dengan organ lainnya menggiling makanan yang ada di mulutnya. Sedangkan arah pandangnya masih setia mengamati gadis cantik di sampingnya.


Hari ini rambut pirang nan lurus itu di bagian bawahnya di buat ikal, sisi kanannya di biarkan terurai sedangkan sisi kirinya di jepit dibelakang telinga membuat Alkana yang berada di sebelah kirinya bisa melihat jelas wajah cantik dan leher jenjang gadis itu.


Dengan telaten, Sandra meratakan selai pada permukaan roti tanpa menyadari sejak tadi Alkana menatapnya.


"Nanti habis pulang sekolah lo mau kan nganterin gue?" ucap gadis itu sambil memberikan roti yang sudah selesai ia lumuri selai pada Alkana.


"Kemana?"


"Kerumah gue-lah, emang kemana lagi?"


Alkana meraih pemberian Sandra dan langsung mendaratkan makanan itu di mulutnya.


"Mau nggak?"


Alkana mengangguk, "Iya."


"Nah, gitu dong!" Sandra tersenyum cerah lalu beranjak dari kursi, tapi sebelum ia melangkah Sandra menatap Alkana terlebih dahulu.


Lelaki yang mulutnya penuh dengan makanan itu mendongak, merasa aneh saat gadis itu tiba-tiba menatap intens kearahnya.


"Kenapa?"


Sandra menggeleng cepat, kemudian...


Cup


Bibir pink gadis itu sengaja didaratkan di bibir Alkana hanya seperkian detik tapi sukses membuat Alkana terkejut.


Sandra tersenyum sekilas kemudian berlari menuju kamarnya meninggalkan Alkana yang masih mematung di kursi.


'Ah gadis itu sudah pandai mencuri rupanya?'


***


         Jam istirahat pertama sedang berlangsung, seperti biasa Jery sudah nongkrong di kantin sambil menikmati mi ayam legendaris mbak Wati. Kali ini Jery sendirian karena Alkana sedang tidak bisa di ganggu. Alkana sedang sibuk melamun.


Entah apa yang Alkana fikirkan Jery tidak tau, padahal seingatnya masalah preman sudah selesai. Lalu apa lagi yang mengganggu fikirannya? keinginan temannya yang satu itu sunguh sulit di mengerti. Kini Jery hanya bisa menunggu sampai Alkana mau bercerita, ia sangat hapal jika temannya itu tidak bisa hidup tanpa dirinya. Ralat, tidak bisa menyimpan rahasia dengannya.


"Hai Jer, sendirian aja lo?" sapa Sandra sambil merebahkan pantatnya di kursi, tepat di hadapan Jery.


Jery mendongak ketika mendengar suara gadis yang tak asing di telinganya.


"Sandra...." Jery terkejut dengan sorot mata berbinar. 'Mimpi apa dia semalam?'


"Alkana mana?" tanya Sandra sejurus kemudian.


Tepat seperti dugaannya gadis itu pasti mencari temannya.


"Dia nggak ke kantin, mungkin karena dia tadi lo bawain bekal" ucapnya, tidak mungkin ia berkata temannya sedang melamun, percayalah Jery adalah teman yang berbakti pada Alkana.


Sandra mengangguk, "Oh. Gue emang tadi bawain bekal sih."


"Nah itu lo tau" Jery nyengir lalu kembali melanjutkan makannya.


"Tapi ya bagus deh, sebenarnya gue ada perlunya sama lo?"


Jery buru-buru menyeruput mi di mangkuknya sampai kuahnya terciprat ke baju. Ia begitu terkejut ketika Sandra berkata ada perlu dengannya.


"Ish Jery jorok" Sandra sambil menggeser kotak tisu kearah Jery.


"Sorry sorry" dengan terburu buru Jery menyeka sisa kuah di bibirnya dan membersihkan bajunya dengan tisu.


Sandra hanya geleng-geleng. Untung saja yang memaksa Sandra untuk jadi pacarnya Alkana bukan Jery, melihat dari cara makan Jery saja sudah membuatnya mengelus dada. Jery luar biasa brantakan.


"Gue syok Ra, jadi kotor semua deh...." Jery mengelap sisa-sisa kuah yang membasahi mejanya. "Lagian lo kok tumben banget ada perlu sama gue, emang ada apa?"


"Jadi gini" Sandra memperbaiki posisi duduknya seolah ingin membicarakan hal yang penting. "Kemarin lo bilang Alkana di keroyok preman, emang preman yang mana?"


"Aduhh...." Jery menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Emh... gimana ya Ra, gue nggak berani cerita kalau Alkana nggak kasih gue izin. Gimana kalau lo sendiri aja yang nanya langsung sama dia?"


Sandra menunduk memasang wajah kecewanya.


"Bukannya apa-apa Ra, soalnya itu menyangkut hal pribadi Alkana jadi gue nggak bisa asal cerita. Tapi gue yakin kok kalau lo sendiri yang nanya pasti dia mau cerita" sambung Jery meyakinkan.


Sandra nampak berfikir, tak lama kemudian ia berkata. "Tapi Alkana kemarin udah janji sama gue kalau dia nggak akan berhubungan lagi sama preman itu dan dia juga bilang akan ninggalin pekerjaannya."


"Serius Alkana bilang gitu???" Jery terbelalak tidak percaya.


Sandra mengangguk yakin, "Serius. Tapi dia nggak cerita detailnya makannya gue penasaran."


"Hebat lo Ra, sumpah ini pertama kalinya ada cewek yang bikin Alkana terbuka" Jery berkata sambil menepuk pundak gadis di depannya, ia kagum. "Keren parah lo Ra, gue salut sama lo."


Sandra menatap Jery dengan kening mengeryit, "Maksud lo apa sih Jer, gue nggak ngerti?"


"Jadi sebenarnya gini" Jery mencondongkan tubuhnya, "Gue udah berkali-kali nyuruh Alkana berhenti dari kerjaannya tapi dia nggak pernah mau, tapi sejak ada lo dia dengan mudahnya mundur gitu aja." Jery bertepuk tangan tunggal tanpa perduli suaranya mengundang perhatian penghuni kantin.


Sandra mengulum senyumannya sambil manggut-manggut. Ia merasa ada yang meledak ledak di dadanya. Ternyata perjuangannya selama ini tidak sia-sia.


Tidak sia-sia Sandra bangun pagi, meskipun itu adalah hal yang tidak pernah ia lakukan. Dan semenjak ia tinggal di rumah Alkana ia rela melakukannya. Bukan hanya itu terkadang ia juga tidur terlalu larut karena mencari resep masakan di internet untuk di praktekkan pagi harinya. Dan yang tak kalah membuatnya lelah adalah ketika ia sudah berusaha menyapa Alkana berceloteh panjang lebar tapi Alkana hanya memutar bola matanya atau yang lebih ironis Alkana diam saja, entah ia suka dengan ceritanya atau tidak. Sungguh itu membuatnya membutuhkan stok sabar yang berlipat-lipat.


Mendengar penuturan Jery sungguh membuatnya merasa lega. Usaha tidak pernah menghianati hasil bukan???


"Tapi kalau menurut lo gimana, apa Alkana akan nepatin janjinya?"


Jery menghela nafas panjang, makanan yang tadi ia nikmati kini tak lagi membuatnya berselera. Bercengkrama dengan kekasih sahabatnya nyatanya lebih menyenangkan.


"Nepatin dong" jawabnya yakin.


"Serius?"


"Iya serius."


"Kenapa lo bisa seyakin itu?"


"Iya. Jadi kemarin kita emang sengaja nemuin preman itu dan kita bilang kalau Alkana udah nggak bisa kasih barang itu, dia mau berhenti. Tapi preman itu nggak percaya, dia malah nyerang kita berdua tapi untungnya ada warga yang lihat terus nelpon polisi kalau ada perampokan dan nggak lama setelah itu polisi datang dan nangkap kedua preman itu. Dan ternyata preman itu emang buronan karena pernah nyuri motor beberapa minggu yang lalu jadi masalah selesai dan pacar lo selamat."


"Oh... gitu ceritanya" Sandra menggut manggut.


"Jadi lo harus percaya kalau Alkana bakal nepatin janjinya."


"Ok gue percaya. Tapi waktu itu lo bilang Alkana di keroyok, kan premannya cuma dua." protes gadis itu, Sandra sebal karena Jery melebih-lebihkan ceritanya.


"Biar lebih dramatis gitu" lanjut Jery lalu tertawa.


Sandra mencebikan bibirnya kesal.


"Ya elah gitu doang marah yang pentingkan sekarang Alkana baik-baik aja."


"Iya deh iya, kali ini gue maafin awas aja kalau lo sampai ulangin lagi dan bikin gue khawatir?"


"Iya nggak" lanjut Jery lalu menyeruput es jeruk pesanannya hingga tandas.


"Bye the way kalau sekarang Alkana milih berhenti kenapa dulu dia mau ambil job itu?" Sandra menatap Jery dengan tatapan mengintimidasi membuat Jery semakin tertegun.


"Emh...." Jery memegang dagunya, ia ragu untuk menceritakannya.


"Apa nyokapnya sama bokapnya tau tentang kerjaan Alkana selama ini?"


"Emang lo tau siapa orang tuanya?" Jery langsung nyolot.


"Kalau nyokapnya gue tau tapi kalau bokapnya Alkana bilang di luar negri."


"Alkana pernah cerita???" Jery di buat terkejut berkali-kali. Bagaimana tidak ia tau tentang asal muasal Alkana saja dari asisten rumahnya tapi Sandra mengetahuinya langsung dari Alkana. 'Alkana di kasih apa sama Sandra?' batinnya.


Sekalipun Jery sudah mengenal Alkana sejak SMP tapi soal keluarga Alkana selalu tertutup, bahkan Jery mengetahui tentang keluarga Alkana saat ia berada di bangku kelas Sepuluh.


Sandra mengangguk, "Iya. Kenapa sih kok lo kayak kaget terus kalau gue habis ngomong!" Sandra mendadak sensi.


"Ya nggak, ya bagus deh berarti dia terbuka sama lo."


"Jadi lo tau nggak kenapa dia ngambil job itu?" Sandra kembali pada inti pembicaraan.


"Tau."


"Apa?"


Karena Sandra sudah banyak mengetahui tentang Alkana sepertinya tidak masalah jika Jery menceritakan yang sebenarnya.


"Jadi dulu pas Alkana mau masuk SMA Alkana lagi butuh banyak biaya, tapi nyokapnya nggak pernah datang dan nggak pernah ngirim uang dan ahirnya ada om-om yang nawarin dia kerjaan itu dan dia ambil karena memang nggak ada jalan lain."


"Tapikan kerjaan lain yang nggak beresiko banyak?"


"Tapi yang hasilin duit banyak dalam waktu cepat cuma itu Sandra" Jery tak mau kalah.


"Iya juga sih."


"Gue yakin kok kalau nggak kepepet Alkana nggak akan mau ambil kerjaan gila itu."


Sandra mangangguk, ia mengerti sekarang Alkana tak seburuk yang ia kira.


"Kalau soal Alkana yang sering main sama perempuan di hotel lo tau kenapa?"


Glek, Jery menelan salivanya susah payah. Sepertinya Sandra memang berniat mengorek informasi tentang siapa Alkana sebenarnya.


"Jer lo pasti tau juga kan?" paksa Sandra.


'Tuhan tolongin gue?' batin Jery menjerit.


Krrring...


"Yah kok udah bel aja sih" Sandra mendengus sebal.


"Ya udah Ra masuk aja dulu, lain kali kita lanjut lagi."


"I-iya udah deh."


"Gue duluan ya?" pamitnya dan hanya di balas anggukan oleh Sandra.


Dengan berat hati Sandra mengalah. Jery lalu bangkit dari kursi dan melangkah gesit menuju kelas. 'Selamat selamat....'


***


 


Sandra menatap malas kearah mobil yang terparkir di samping gerbang sekolahnya, ia sangat hapal siapa pemilik mobil itu. Seadainya ia bisa memilih ia lebih baik naik truk angkutan beras dari pada satu mobil dengan lelaki itu, tapi kali ini ia tidak punya pilihan lain.


 


"Al kayaknya Reza jemput gue deh" ucap Sandra pada lelaki yang sudah berdiri di depan mobilnya.


Ya, pemilik mobil itu adalah Reza.


"Reza siapa?" Jery yang sudah bersiap memasuki mobil ikut bersuara.


"Kakak ipar gue."


"Jadi hari ini lo pulang?"


"Iya, tadinya Alkana yang mau ngantar tapi kayaknya nggak bisa deh. Kak Rena kayaknya udah pulang makanya Reza sampai jemput."


Jery manggut-manggut, ia tau sekarang ternyata ini yang membuat Alkana melamun seharian.


"Nggak papa kan Al kalau gue pulang duluan?"


"Iya nggak papa" jawabnya padahal dalam hati Alkana luar biasa sakit.


Alkana tidak tau perasaan macam apa ini, ia merasa dunianya seakan berubah. Mungkin Alkana berlebihan tapi itulah kebenarannya, rasanya sulit merelakan gadis itu pergi setelah beberapa hari ia selalu bersama-sama.


Sandra bergegas melangkah menuju bagasi mengambil koper lalu membawanya kearah mobil kakaknya.


Saat itu parkiran sekolah sudah nampak sepi jadi Sandra tidak perlu berdesak-desakan.


Reza turun dari mobil diiringi senyuman yang merekah di bibirnya. Reza senang Sandra mau pulang bersamanya.


"Woi tolongin berat tauk!" ucap Sandra, ketika sudah berdiri di belakang mobil Reza.


Reza mendekati adiknya lalu membatu Sandra memasukan koper itu dalam bagasi.


"Ada lagi?"


Sandra terdiam sejenak, pupilnya bergerak dan tertuju pada Alkana yang ternyata sudah memasuki mobil.


"Ada yang ketinggalan" dusta gadis itu lalu berlari mendekati mobil Alkana.


Alkana yang baru saja akan menyalakan mesin mobilnya akhirnya mengurungkan niatnya dan membuka kaca pintu.


"Kenapa?" tanya Alkana pada gadis yang berdiri di depan pintu mobilnya.


Sandra diam sambil menatap pacarnya, ia tidak tau apa yang harus ia katakan tapi ada rasa berat ketika harus pergi begitu saja.


Alkana dan Jery beradu pandang, sama-sama tidak mengerti apa yang di inginkan gadis itu.


"Ada yang ketinggalan ya Ra?" Jery memastikan.


Sandra mengangguk pelan.


"Apa?" Jery dan Alkana hampir bersamaan.


"Emm...." Sandra menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga sambil berpikir, ia berharap ada ide cemerlang mendarat di otaknya.


Alkana membuka pintu mobilnya takut tidak bisa mendengar ucapan gadis itu.


"Sebenarnya nggak ada yang ketinggalan sih" jujur Sandra pada ahirnya, otaknya sedang ngblak.


"Terus???" kening Alkana berkerut tak terhitung jumlahnya.


Sandra mendekat kearah Alkana lalu meniadakan jarak diantara mereka.


Cup.


Sandra menarik diri setelah berhasil mencuri kecupan bibir dari Alkana namun lelaki itu tidak membiarkannya, Alkana menarik tengkuk gadis itu dan membalas perbuatan gadisnya. Jery yang melihat itu langsung keluar dari mobil.


Tin... tin... tin...


Mengetahui apa yang di lakukan adik iparnya dalam mobil Reza tidak terima. Ia sudah lelah menunggu Sandra tapi malah pemandangan tak mengenakkan itu yang ia dapatkan.


Tapi sayang keduanya tidak menghiraukan keadaan sekitar. Sandra masih terpejam menikmati lummatan lummatan yang Alkana berikan sampai ia tidak sadar jika tubuhnya sudah masuk dalam mobil dan duduk di pangkuan Alkana.


Tangan Alkana melingkar pada pinggang gadis itu sedangkan kedua lengan Sandra mengalung di leher Alkana tak ingin lepas.


Alkana tidak tau kapan ia bisa melakukan hal itu lagi mengingat ketika di sekolah keduanya hanya saling diam dan acuh tak acuh, dan mungkin inilah waktu yang tepat untuk memuaskan hasratnya mencumbu gadis itu.


.


.


.


.


Kurang lebih lima menit lamanya kecupan panas itu berlangsung keduanya baru menarik diri. Alkana mengusap bibir pink itu dengan lembut dan Sandra masih menormalkan detak jantungnya yang berdebar hebat.


"Kalau sudah sampai rumah telfon ya?" pesan Alkana.


Sandra tersenyum lalu mengangguk singkat.


"Ya udah sana pulang, Reza udah nungguin."


Sandra mengangguk lagi namun sebelum bergeming ia memeluk Alkana terlebih dahulu.


"Gue pasti bakal kangen banget sama lo" ucapnya di sela pelukan.


"Iya, kan tiap hari masih bisa ketemu di sekolah."


Sandra menghela nafas lalu memberi jarak pada tubuhnya.


"Gue pulang ya?" pamitnya, Alkana hanya mengangguk.


Setelah itu Sandra benar-benar berlalu dan pergi bersama Reza.


Jery kembali memasuki mobil dan membanting keras daun pintunya.


"Kenapa lo?" tanya Alkana tidak mengerti.


"Harus banget ya lo ngelakuin itu di depan gue!" sewot Jery.


"Nggak ngertiin banget ya lo kalau gue jomblo...."


Jery berceloteh tidak terima Alkana menunjukan hal yang tak semestinya di lakukan di depan Jery tapi Alkana tidak perduli ia malah tertawa melihat kekesalan temannya.


"Rese lo Bambang!"


***