NEVER

NEVER
Peraturan Baru



"Ngapain coba tadi gue pake ngobatin Alkana segala, kurang kerjaan" Sandra ngedumel seraya melepas sepatunya. Punya cowok nggak bisa nguntungin malah nyusahin."


Sandra meletakkan sepatunya pada rak di belakang pintu kamar lalu melempar tasnya di kasur.


"Tante...!" suara melingking itu memenuhi seluruh sudut ruangan.


Sandra menghela nafas lalu membuka daun pintu, "Kenapa?" tanya Sandra malas.


"Ayo makan mama udah nungguin dari tadi?"


Kening Sandra berkerut "Mama kamu udah pulang?"


Pika mengangguk, "Ayo makan Pika laper" Pika seraya menarik lengan Sandra.


"Iya iya..." Sandra menurut mengikuti keponakannya.


Sandra melangkah melewati ruang tamu, di sana ada Reza yang tengah duduk sambil menonton televisi. Jika ada Rena, Reza menjelma menjadi suami patuh dan penurut.


"Munafik" ucap Sandra lirih. Reza melirik Sandra acuh lalu memfokuskan diri lagi pada layar televisi.


"Mama, tante udah pulang!"


Rena tersenyum melihat kedatangan putrinya. "Akhirnya yang di tunggu pulang juga ya?"


"Ngapain nungguin Tante?" Sandra sembari duduk di meja makan di ikuti Pika.


"Buat makan makan" jawab Pika.


Rena tampak memindahkan makanan yang semula berada di plastik ke dalam piring.


"Mama beli makanan kesukaan tante loh, iya kan ma?" Pika berdiri di kursinya dengan kedua tangan memegang sendok. "Tuh kan ada udang galau kesukaan tante" Pika menunjuk piring berisi udang saus pedas dengan gapunya.


"Udang gala sayang bukan bukan udang galau" Reza membenarkan lalu duduk di depan Sandra.


Pika nyengir, "Eh iya, lupa..."


"Harusnya kak Rena nggak usah repot repot beli makan, pake jasa kurir aja. Atau kalau nggak kakak manfaatin aja orang rumah dari pada kerjaannya cuma rebahan" sindirnya.


Rena melirik suaminya kemudian beralih pada Sandra, "Kamu ngomongin siapa?"


"Ng-nggak, aku lupa kalau hari ini mbak Irma libur" Sandra mengalihkan pembicaraan, padahal mustahil kakaknya tidak tau siapa yang ia maksud. Mungkin Rena menjaga perasaan suaminya.


Reza hanya bekerja sebagai guru olahraga di salah satu sekolah dasar, ia memiliki banyak waktu luang untuk melakukan pekerjaan lain, tapi Reza lebih memilih berdiam diri di rumah Reza menghabiskan waktunya untuk menonton televisi atau bermain futsal bersama teman-temannya, dan itu yang membuat Sandra geram dengan Reza.


"*S*uami tak berguna" begitu kata yang tepat untuk kakak iparnya.


Berbeda dengan Rena yang bekerja sebagai desainer dan harus mengurus beberapa butiknya di luar kota. Jauh dari keluarga sebenarnya bukan keinginan Rena tapi karena banyaknya pesaing membuat Rena mau tidak mau harus menjalani pekerjaannya demi mencukupi kebutuhan.


Ditengah hikmatnya mereka menikmati makan siang, ponsel Rena berdering. Rena meletakkan sendoknya lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja.


"Halo selamat siang?" sapa Rena.


"Iya saya sendiri?" Rena menatap layar ponselnya mencoba mengingat siapa pemilik nomor baru itu.


"Oh... iya, bagaimana bu?" Rena beranjak dari kursi berjalan menuju pintu dapur.


Sandra, Pika dan Reza masih menikmati makanannya sambil sesekali melirik Rena yang tampak sangat serius menanggapi sang penelpon.


Setelah menutup panggilan Rena menghela nafas berkali-kali seakan baru saja kehabisan oksigen. Ia harus tenang kali ini, ia tidak mau merusak jam makan siangnya.


Rena kembali pada kursinya namun tidak lagi berniat menyentuh sendok, selera makannya sudah hilang.


"Siapa kak?" tanya Sandra seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Bu Septi."


Sandra tercekat mendengar ucapan kakaknya, "Oh..."


Rena tidak akan marah kali ini karena ia tau selama ini mungkin Rena yang salah karena tidak memberikan perhatian yang cukup untuk adiknya. Tapi, bukan berarti Rena diam saja ia akan mencari cara lain agar Sandra bisa patuh tanpa harus memarahinya.


"Tante, Mily tadi udah di mandiin loh. Main sama Mily yuk?" ajak Pika setelah menyelesaikan makannya.


"Tante capek."


"Ayolah tante sebentar" rengeknya.


"Pika main duluan sama Mily ya, nanti tante nyusul" ibunya menyahuti.


"Beneran ya Tan?"


Sandra melirik kakaknya, untuk sekedar menolak ajakan konyol itupun ia tidak mampu.


"Hm."


Pika tersenyum kegirangan lalu bergegas turun dari kursi berlari menuju dimana kucing kesayangannya berada.


"Kamu tadi bolos?" tanya Rena.


Kalimat itu tidak terdengar sarkas seperti biasanya, Rena bertanya dengan hati-hati.


"Mak Lampir tadi cerita?" tanyanya balik sambil mengunyah udang kesukaannya.


"Bu Septi bilang poin yang di berikan sekolah untuk kamu tinggal Dua Belas. Jadi gimana kalau seandainya kamu di keluarkan dari sekolah?" sebisa mungkin Rena menahan diri agar tidak terpancing emosi dengan karena adiknya.


"Ya udah...."


Tangan Rena mengepal mendengar jawaban sepele itu, "Sandra kamu sudah kelas Dua Belas. Kalau kamu di keluarkan nggak akan ada sekolah yang mau nerima kamu."


Sandra diam, ia sungkan melawan jika Rena berkata dengan nada rendah.


"Boleh kakak minta satu hal sama kamu?" pinta Rena.


"Apa?"


"Kakak minta kamu bertahan di sekolah itu sampai kamu lulus. Bisa?"


"Bisa" jawab Sandra seketika seakan yakin jika ia mampu.


"Buktikan, dan setelah ini kakak nggak akan transfer uang jajan kamu kecuali kamu minta sama kak Reza."


"Kenapa harus minta sama Reza?!" Sandra langsung nyolot.


"Kakak akan pantau apa aja yang kamu beli, kamu terlalu boros. Kamu harus belajar berhemat."


"Ma apa itu nggak berlebihan?" Reza ahirnya angkat bicara.


"Itu wajar" Rena menatap suaminya, "seharusnya aku lakuin itu dari dulu."


Sandra mendengus sebal lalu membanting kedua sendoknya "Sandra lebih baik mati kelaparan daripada harus minta uang sama dia!" Sandra kemudian beranjak pergi.


"Sandra apa bedanya dia juga kakak kamu?"


"SANDRA...!!!"


***


         Siang tadi Sandra tidak jadi menemani Pika bermain tapi Pika menagih di malam harinya. Awalnya Sandra menolak namun kemudian Pika mengeluarkan jurus andalannya, menangis.


Pika menggendong Mily memasuki kamar lalu meletakkan Mily di pangkuan Sandra.


"Tante Mily mau bobok sini ya tan?" Pika seraya mengelus ekor kucing Anggora yang bergerak kesana kemari.


"Nanti kalau Mily pup gimana?" Sandra mengusap pucuk kepala kucing berwarna putih itu.


Pika menunjuk pintu kamar, " pintunya udah Pika buka sedikit. Jadi nanti Mily bisa keluar kalau mau pup."


Sandra mengangguk pasrah, "Iya..."


"Pika juga boleh kan Tan bobok sini?"


"Kan Pika punya kamar sendiri."


"Buat malam ini aja, boleh ya?" rayunya. "Pika janji Pika nggak akan ngompol, ya boleh ya." Pika memasang wajah memelas dan ahirnya di balas anggukan oleh Sandra.


"Yee... makasih tante" Pika kegirangan.


"Pus pus... bobok yuk," Pika memindahkan Mily dikasur lalu dibaringkan di sana. "Ayo Tante tidur" ajak Pika sambil merebahkan tubuhnya.


"Pika tidur duluan aja, tante belum ngantuk."


"Tante mau telponan sama Om Al ya?"


Kening Sandra berkerut, "Nggak."


"Terus mau ngapain?"


"Mau tiduran aja" Sandra berbaring di samping keponakannya seraya menghela nafas.


Pika mengusap perut Mily yang mengembung dan mengempis dengan lembut. "Tante Pika mau dong di dongengin?"


"Pika kan udah besar masak masih minta di dongengin."


"Tapi Ayah masih sering dongengin Pika, kalau Pika nggak bisa tidur."


Sandra jijik jika mendengar kata Ayah keluar dari mulut Pika. "Ya udah Pika tidur sama ayah aja, kenapa malah mau tidur sama tante."


"Pika maunya di dongengin sama Tante" Pika menoleh, "Ayolah tante sekali-kali."


Sandra tampak berfikir "Em... dongeng apa ya?"


"Apa aja, yang penting bisa bikin pika tidur."


"Cerita Cinderella mau?"


Pika menggeleng, "Bosen."


"Ya udah gimana kalau cerita kancil dan buaya?"


"Ish tante ceritanya nggak kreatif banget, tante nggak pernah baca buku lain ya selain kancil dan buaya?"


Sandra berdecak sebal, jika itu bukan keponakannya mungkin sudah Sandra jitak sejak tadi, Pikut cerewet.


"Ya apa, tante kan udah bilang kalau tante nggak punya cerita."


"Emm.. kalau nggak punya cerita dongeng tante cerita tentang Om Al juga nggak papa?" Pika lalu nyengir.


Sandra melengos, emang apa yang bisa di ceritakan dari Alkana? Kesombongannya kah? kurang ajarnya kah? atau sikap dinginnya? Cowok itu tidak punya sisi yang bisa dibanggakan sama sekali.


"Ayo Tante cerita..." pintanya lagi.


"Ok tante mau cerita."


"Tentang?" Pika tidak sabar.


"Tentang anak ayam yang kehilangan induknya."


"Kayak lagu tek kotek kotek ya Tan?"


"Bukan, ini ceritanya anak ayamnya hilang bukan mati."


"Pika mau dengar" Pika yang semula mengusap Mily langsung berbalik arah menatap Sandra. Sandra tersenyum lalu membiarkan tangannya menjadi alas tidur untuk Pika.


"Pada suatu hari ada seekor induk ayam sedang mencari makanan di hutan bersama anak-anaknya, tapi kemudian saat mereka akan kembali kerumahnya induk ayam kehilangan satu anaknya."


"Anaknya emang kemana tante?" Pika sambil memperhatikan Sandra yang tengah menghayati ceritanya.


"Anaknya tersesat di hutan, terus induk ayamnya mencari-cari anaknya sama saudaranya tapi nggak ketemu. Ahirnya karena hari mulai larut induk ayam memutuskan untuk pulang dan berniat untuk mencari lagi keesokan harinya."


"Terus..." Pika masih menikmati ceritanya tapi matanya sudah berat untuk terbuka.


"Sayangnya setelah beberapa hari induk ayam tetap tidak menemukan anaknya. Kemudian induk ayam dan saudaranya berhenti tidak mencarinya lagi tapi induk ayam berharap anaknya pulang."


"Apa anak ayamnya bisa pulang tante?" Pika bertanya dengan mata terpejam.


Sandra mengusap pucuk kepala keponakannya, "Nggak, anak ayamnya sudah tersesat jauh dari hutan. Dia sudah nggak tau lagi dimana ia berada. Dia juga nggak tau jalan menuju kerumahnya. Dia kehilangan arah, Dia kehilangan keluarga, saudara, kasih sayang, dan kebahagiaan."


"Setiap malam dia cuma bisa nangis sambil mangil induknya, mama... mama... bawa aku pergi sama mama. Tapi sayang itu percuma karena mamanya nggak akan bisa kembali sama dia."


Sandra menatap Pika yang sudah terlelap, dan tanpa ia sadari air matanya mengalir deras. Mungkin nama anak ayam dan induknya terdengar akrab di telinga Pika tapi itu terdengar pilu di telinganya.


"hiks... hiks..." Sandra terisak dalam tangisnya. Sekuat apapun ia berusaha tegar, rasa rapuh di relung hatinya tidak pernah bisa ia abaikan.


"Mama..." bisik Sandra lirih, namun begitu menyakitkan ketika mengingat hal yang tidak pernah ia inginkan terjadi.


Sandra bangkit dari kasur enggan menganggu tidur nyenyak keponakannya bergegas menuju pintu kamar. Saat baru saja Sandra menutup daun pintunya Sandra di kejutkan dengan Rena yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping pintu kamar.


Sandra buru buru menyeka air matanya "kak Re..." belum sempat Sandra menyelesaikan kalimatnya Rena sudah mendekap erat tubuhnya.


hiks... hiks...


Tak ada kata yang terucap Rena menangis dalam diam, membiarkan Sandra kebingungan dalam pelukannya.


"Besok kakak antar kamu ke sekolah."


***


Sandra & Rena Natalie




Pikutt...