NEVER

NEVER
Bad Liar



"Satria!"


Sapa Audi saat tidak sengaja bertemu ketua osisnya di sebuah club.


"Hai... " balas cowok itu, "Lo dari tadi di sini, Sandra mana?"


"Sandra katanya mau dinner jadi nggak bisa ikut," Audi seraya duduk di sebuah kursi tak jauh dari Satria sementara Kanaya berdiri di sampingnya.


Ini pertama kali Audi dan Kanaya bertemu Satria di tempat itu, meski sebelumnya mereka pernah dengar dari Sandra jika Satria memang pernah ke tempat hiburan.


Penampilan lelaki itupun berbeda drastis, Satria yang biasanya selalu rapi dan klimis di sekolah kini terlihat lebih bebas. Celana jeans sobek dan jaket hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat lebih dewasa, belum lagi rambut panjang yang mulai melewati telinga itu malam ini di biarkan berantakan, membuat kesan bad boy di wajahnya semakin terlihat.


Satria pandai menempatkan diri rupanya, dan Audi suka itu. Ralat lebih tepatnya Audi lebih suka Satria yang bersama Sandra.


Satria meneguk minuman keduanya, "Oh," jawabnya singkat dengan sorot mata kecewa.


"Lo sendirian dari tadi?"


"Iya, gue sengaja nunggu kalian, gue fikir Sandra ikut...."


Audi dan Kanaya beradu pandang.


"Jadi lo udah dari tadi?"


"Tapi lo nggak nungguin kita di tempat ini tiap malamkan?" Kanaya menimpali, namun Audi menyikut lengannya.


"Apaan sih lo Nay, ya nggak mungkin lah...." bisiknya.


"Ya, kali aja," Kanaya menjawab sambil mengibaskan rambutnya.


Satria yang mendengar perdebatan singkat itu berdeham pelan, "Sebenarnya... udah beberapa hari ini gue selalu kesini."


"OMG," Kanaya menepuk jidat "jadi lo selama ini nungguin Sandra?"


Satria tersenyum tipis, ia merasa kasihan pada dirinya yang nampaknya terlalu terobsesi dengan gadis itu.


"Sat, gue kasih tau ya Sandra tu udah lama banget nggak pernah clubbing, jangankan ke club gabung sama kita aja sekarang jarang, cuma di sekolah doang. Hari-harinya itu penuh sama Alkana, Alkana dan Alkana, sampai mau muntah gue lihatnya.


"Iya, gue suka heran deh sama dia, apa coba hebatnya Alkana sampai dia bisa cinta mati gitu...."


Satria menatap gelas kosong di depannya, "Gue, juga tau itu. Mungkin seharusnya gue yang tau diri."


"Sat, kalau gue boleh jujur sebenarnya gue lebih dukung lo dari pada Alkana, tapi ya mau gimana lagi Sandra jatuh cintanya sama Alkana," sambung Audi.


"Iya Sat, lo yang sabar ya," Kanaya seraya menepuk pelan pundak Satria.


Satria mengangguk, di satu sisi ia prihatin pada nasibnya tapi di sisi lain ia senang saat mengetahui ternyata ada yang mendukungnya.


Akhir-akhir ini Satria memang merasa iri sekaligus risih melihat kedekatan Sandra dan Alkana yang semakin lama semakin terlihat harmonis. Kedekatan keduanya membuat Satria kehilangan kesempatan untuk mendekati Sandra.


Satria fikir hubungan mereka tidak berlangsung lama, hanya bertahan beberapa minggu sama seperti ketika Sandra menjalin hubungan dengan mantan mantannya yang lain tapi ternyata kali ini berbeda, bahkan sudah Tiga bulan berlalu dan Satria tidak melihat tanda tanda keduanya akan putus, malah keduanya semakin lengket yang membuat Satria terkadang jengah melihatnya.


Saat ketiganya tengah asik berbincang, Audi melihat lelaki yang ia kenali melintas di depannya. Lelaki itu nampak tergesa sampai tidak menyadari keberadaannya.


"Naynay...." Audi mentoel pundak sahabatnya, "Lihat deh, itu Alkana bukan sih?" Audi menunjuk seorang lelaki yang berjalan membelah keramayan.


Meski dari jarak yang lumayan jauh dan dalam pencahayaan lampu yang remang-remang mereka masih bisa mengenali Alkana dengan baik.


Malam itu, cowok yang sering Audi lihat di club menggunakan kaos itu malam ini terlihat menggunakan kemeja begitu juga rambutnya yang terlihat lebih rapi dari biasanya. Ok, mereka akui bagaimanpun bentuknya Alkana memang lebih tampan daripada Satria dan mungkin itu salah satu poin mengapa Sandra lebih memilih lelaki itu daripada Satria, tapi yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa Alkana ke tempat ini?


"Iya benar, tapi kenapa dia disini?" Kanya menatap punggung Alkana dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Bukannya tadi lo bilang Sandra dinner ya?" Satria tak kalah bingung.


"Itu dia masalahnya Sat!"


Ketiganya beradu pandang, dengan sorot mata saling menebak-nebak.


"Nay, gimana kalau kita telpon Sandra aja?"


"Bener banget...," tanpa babibu Kanaya langsung merogoh ponselnya. Dan tak butuh waktu lama panggilannya sudah terhubung.


"Kan gue udah bilang sama kalian, gue nggak bisa ikut, kalian ngeyel banget sih," seloroh Sandra seketika.


"Iya gue tau, tapi... emang malam ini jadi ya, lo dinner sama Alkana?"


"Jadi, emang kenapa...?"


Kanaya menjauhkan ponselnya dari telinga lalu melihat Alkana, Audi dan Satria yang melihatnya hanya menatapnya tidak mengerti.


"Sandra ngomong apa Nay?" Audi penasaran.


Kanaya menggeleng, sungguh ia benar-benar bingung. Ia tidak mungkin salah lihat, tapi bagaimana mungkin Alkana ada di Dua tempat yang berbeda.


"Emm... Alkana udah dari tadi sama lo?"


"Nggak sih, dia belum datang. Mungkin lagi di jalan...?"


Dan Kanaya mengerti sekarang, Alkana pasti lebih memilih datang ke tempat ini daripada menemui temannya. Sungguh lelaki yang tak pantas di pertahankan, Alkana sama saja dengan mantan Sandra sebelumnya, Nicole.


"Halo, Nay! lo masih denger gue nggak sih?"


Kanaya tergeragap, "Iya gue denger."


"Kenapa lo nanyain Alkana segala, tumben?"


"Gini, Ra... tadi gue nggak sengaja lihat Alkana di sini. Dia nyamperin cewek, nggak tau siapa?"


"Ya nggak mungkin lah, nggak usah ngaco deh lo."


"Serius Ra, gue nggak mungkin salah lihat. Mata gue masih jernih."


"Kayaknya lo kebanyakan minum deh Nay, lo mabuk ya?"


"Gue nggak mabuk Ra gue serius, gue tadi lihat-"


"Nay, udah ya pesenan gue udah datang. Gue tutup telponnya."


"Ra kalau lo nggak percaya lo coba aja telpon Alkana sekarang dan tanyain dia ada dimana... halo Ra... Ra...."


"Sial...!" umpatnya kesal sendiri.


"Kenapa Nay?" kekepoan Audi kian meradang.


"Gila ya Sandra, dia malah bilang gue mabuk coba..."


"Jadi Sandra nggak percaya?"


"Nggak, dan dia bilang Alkana nggak mungkin ke tempat ini."


"Sok suci banget tu cowok," sewot Audi. "Kayaknya kita harus kasih bukti deh ke Sandra biar dia percaya kalau yang kita lihat itu beneran Alkana. Gimana?"


"Ide lo berlian banget," Kanaya menepuk pundak sahabatnya, kagum.


"Kalian berdua yakin???" Satria ahirnya bersuara.


Kedua mahluk centil itu beralih pada Satria.


"Kenapa nggak?" Kanya seraya bersiap menghidupkan kameranya.


"Satria, ini juga buat kebaikan lo. Kan kalau Sandra sama Alkana bubar enaknya di elo. Iya nggak...?"


"Iya juga sih."


"Ya udah makannya lo tenang aja. Lagipula cepat atau lambat Sandra pasti tau keburukan Alkana, Yang namanya bangkai mana bisa sih di tutup-tutupi. Jadi dari pada kelamaan mending langsung kita bongkar siapa Alkana sebenarnya.


"Setuju, biar Sandra juga tau kalau ternyata pacar yang ia bangga bagain itu ternyata bad liar."


Satria tidak punya pilihan lain selain menurut pada kedua perempuan itu. Lagipula ada benarnya ucapan Audi, sedikit banyaknya apa yang mereka lakukan akan menguntungkan baginya.


"Nay, Alkana mau bawa tu cewek kemana tuh?" Audi terbelalak ketika melihat Alkana memapah tubuh seorang wanita, keduanya lalu bangkit dari kursi.


"Vidio-in cepetan..."


***


   Seusai mengantar Pika kesekolah Alkana langsung meluncur menuju ke sekolahnya. Selama di perjalanan Sandra diam saja, bukan karena marah tapi Sandra sedang sibuk pada gadgetnya, entah apa yang dilihat.


Begitu sampai di parkiran sekolah Alkana menghentikan laju mobilnya.


"Sayang, kamu beneran nggak marah, kan?"


Sandra menoleh menatap pacarnya, "Nggak, lagian kan masih ada nanti malam, besok atau besoknya lagi. Masih banyak waktu buat kita jalan...."


Semalam Alkana memang tidak jadi makan malam karena setelah ia mengantar Ratu ke kamarnya, Ratu malah muntah muntah dan kemudian minta di antar pulang jadi terpaksa Alkana mengantarnya.


Alkana tersenyum, dan sebelum turun dari mobil ia meraih kedua tangan pacarnya.


"Aku minta maaf banget ya, lain kali aku janji nggak akan gitu lagi," Alkana menatap Sandra penuh penyesalan, sungguh ia merasa bersalah telah berbohong pada Sandra.


Sandra menatap Alkana bingung, entah ini yang keberapa Alkana meminta maaf padahal ia sudah memaafkannya tapi lelaki itu masih selalu merasa bersalah.


"Al, kan udah aku maafin."


Alkana mengangguk senang, "Kalau adek bayinya marah nggak?"


Sandra menarik diri lalu menyentuh perutnya yang masih rata, "Kayaknya marah deh...."


Alkana melirik perut gadis itu lalu turut menyentuhnya. "Maafin ayah ya sayang, ayah janji nggak akan gitu lagi."


"Percuma deh Al, kayaknya nggak di maafin...." Sandra menatap Alkana dengan serius.


"Masak, terus gimana dong?"


"Emm... katanya harus sayang Bunda dulu." Sandra menunjuk pipi kanannya lalu tersenyum nakal.


"Oh, gitu ya," Alkana menanggapi serius ucapan gadisnya, "Sini...." tanpa mengulur waktu Alkana langsung menempelkan bibirnya di pipi gadis itu.


"Udah."


"Tapi kangennya belum?" Sandra berucap manja.


"Kangen?" ucap Alkana dengan alis berpaut.


"Iya, emang kamu nggak kangen?"


Dan tanpa aba-aba Alkana langsung menipiskan jarak wajahnya dan mencumbu gadis itu.


Semua akan baik-baik saja. Sandra tidak tau kejadian semalam, Sandra juga tidak marah bahkan kini ia masih bisa mencium gadis itu. Ya, semua akan baik-baik saja, begitu kalimat yang terus berputar di kepala Alkana. Dan tidak ada yang perlu ia takutkan, karena semua berjalan sebagaimana mestinya.


Sandra yang tadi duduk di samping kursi kemudi kini entah bagaimana sudah berpindah di pangkuan Alkana, sementara kedua lengannya mengalung di leher lelaki itu.


Sejenak keduanya menarik diri untuk memasok oksigen sebelum pada akhirnya melanjutkan kegiatannya lagi.


Sandra mengeratkan pegangannya di leher Alkana begitu juga dengan lengan lelaki itu yang berada di pinggang kekasihnya seolah tak ingin lepas. Bunyi decapan pertemuan bibir keduanya pun memenuhi seisi mobil, entah kapan mereka akan mengakhirinya.


Tin... tin...


Alkana terkejut saat mendengar bunyi klakson mobil di belakangnya, dan lama kelamaan parkiran sekolah yang semula sepi mulai ramai.


"Udah," Sandra berucap seraya mengusap bibir lelaki di depannya. Bibir sexy yang selalu berhasil membuatnya mabuk.


"Sekali lagi," jawab Alkana seakan tak pernah puas.


"Kamu udah bilang itu tiga kali loh," Sandra menyadarkan.


"Kali ini beneran, sekali lagi...."


Belum sempat Sandra menjawab Alkana sudah merengkuhnya. Alkana seolah tidak ingin menyia-nyiakan waktunya saat bersama dengan Sandra. Cukup semalam ia merasa bersalah dan ia berjanji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi.


***