
ALKANA bersyukur karena meskipun Sandra mudah marah ia gampang di bujuk, sangat sesuai dengan dirinya yang memang tidak bisa merayu. Apalagi merayu wanita, ia bukan ahlinya.
Beruntung Sandra sangat mengerti dirinya dan bisa percaya hanya dengan sebuah kata. Alkana fikir akan sulit membujuk Sandra agar percaya dengannya, ternyata tidak. Sandra memberinya kesempatan asalkan Alkana tidak mengulang lagi perbuatan serta kebiasaan buruknya selama ini.
Tentu saja Alkana tidak keberatan, kehilangan Ratu bukan masalah besar baginya karena yang terpenting ia bisa mengambil kepercayaan kekasihnya lagi. Bahkan Alkana beruntung, sebab meskipun tidak ada Ratu masih ada Sandra yang bisa memuaskannya. Every day, every time. hidupnya memang indah bukan?
Sudah beberapa minggu berlalu, hubungan Sandra dan Alkana terus membaik. Keduanya semakin mengenal satu sama lain, saling pengertian dan saling percaya. Keduanya menyadari jika mereka saling membutuhkan dan sudah bergantung. Berpisah adalah hal yang tak pernah terlintas di benak keduanya. Nyaman, itu menjadi alasan keduanya untuk tetap bertahan.
Tiada hari yang ia lalui tanpa kebersamaan baik dirumah maupun di sekolah, Sandra dan Alkana seperti tidak akan terpisah sampai membuat orang-orang yang melihatnya merasa iri.
Seperti saat ini contohnya, mereka sedang duduk berdampingan di kantin dengan meniadakan jarak di antara mereka bahkan lengan keduanya saling bersinggungan. Jery yang berada di depannya merasa risih sekaligus tersiksa karena kejombloannya.
Sandra dan Alkana masih berkutat pada makannya tanpa menyadari sejak tadi Jery nampak gelisah di kursinya. Ia menyesal mengikuti saran Alkana untuk makan bersama, jika tau akan jadi obat nyamuk lebih baik ia duduk sendiri. Biarlah seperti penjaga gawang, yang penting ia tidak minder seperti sekarang.
"Sayang, tisu..." Sandra menunjuk tisu yang ada di samping Alkana.
Alkana yang sedang makan menyempatkan diri untuk menuruti permintaan pacar kesayangannya.
"Makasih," ucap gadis itu sambil tersenyum manis. Sedang Jery yang ada di depannya hanya memutar bola mata, jengah.
Lama-lama berada di sini ia bisa mual.
Jery tidak pernah menyangka Alkana yang dulunya tidak pernah mempunyai niat ingin berpacaran kini sudah menjelma menjadi bucin, sungguh itu bukan Alkana yang ia kenal. Tapi di sisi lain ia senang melihat temannya lebih berbahagia, meskipun kini ia yang menderita karena selalu di nomor Duakan. Nasip!
"Al, ntar malem temenin gue clubbing ya?" Jery membuka obrolan.
"Kayaknya nggak bisa Jer, soalnya gue udah janji sama...."
"Nggak papa, kasihan Jery" Potong Sandra, "Tapi ingat, kamu jangan dekat-dekat sama cewek itu, jaraknya harus Dua meter. Ingat ya Dua meter!"
Alkana menghela nafas, lalu memutar arah menghadap kekasihnya. "Ra, aku udah janji dan aku nggak mau...."
"Al...." Sandra menatapnya lebih dalam. "Nggak papa, aku izinin. Lagian kasian Jery, selama inikan kamu keluarnya sama aku terus."
"Nggak nggak, aku nggak mau. Aku bisa cari ke tempat lain selain itu."
"Sayang...." Sandra menyela, membuat Jery yang melihat Alkana beralih pada Sandra. "Nggak papa...."
"Nggak, Ra. Sekali aku bilang nggak ya nggak."
Jery bertopang dagu seraya menyimak perdebatan tidak penting di depannya. Ia yang semula berniat agar tidak terkesan menjadi obat nyamuk kini malah menjadi obat nyamuk yang sesungguhnya. Hidup macam apa ini?
****
Sandra menatap Alkana bosan, sudah Dua jam lebih Alkana mengajarinya, dan sejak tadi ia belum di perbolehkan istirahat. Padahal seusai makan malam tadi Alkana bilang hanya sebentar tapi sampai sekarang belum juga selesai.
Jika itu bukan pacarnya, dalam mimpi pun ia tidak akan membuang waktunya sia-sia untuk mendengar penjelasan Alkana mengenai Barisan Geometri dan penjumlahannya ini adalah hal konyol paling menyebalkan dalam hidupnya.
Bayangakan saja, sejak lima belas menit pertama kepalanya sudah teserang rasa sakit, dan kini ia sudah berjam-jam di sana membuat kepalanya serasa mau pecah. 'C**obaan macam apa ini?' keluhannya dalam hati.
Karena ia tidak bisa melarikan diri akhirnya sebuah ide nakal muncul di kepalanya.
Diam-diam Sandra meraih headset dan memasangkan di telinganya, dengan rambut sebagai penutup benda itu. Setelah selesai Sandra kembali duduk dengan tenang. Telinganya terasa lebih nyaman ketika mendengar lagu 'You are the Reason' dibanding mendengar celotehan Alkana.
Drrrt... drrrt...
Alkana yang semula sibuk mengoceh sambil berkut pada buku kini menoleh saat mendengar dering ponsel milik Sandra.
Sandra menarik kabel penghubung headset pada ponselnya lalu buru-buru menggeser layar berwarna merah.
"Siapa yang nelpon, kok langsung di matiin?" Alkana penasaran.
"Bukan siapa-siapa, ayo lanjutin."
Alkana meletakkan bukunya, "Nih kerjain?"
Lelaki itu menunjuk salah satu soal di lembar LKS.
Sandra melirik soal itu miris, "Aku belum paham. Jelasin lagi ya?"
"Gimana mau ngerti kalau dari tadi nggak di dengerin."
Sandra nyengir lalu melepas headset yang masih menggantung di telinganya, "Kirain nggak tau."
Alkana diam dengan tatapan menyorot pada gadis itu. Ia selalu tau hal sekecil apapun yang dilakukan gadisnya tapi ia tidak pernah marah, ia tau jika Sandra tidak bisa di kasari.
"Capek, istirahat sebentar ya?" ucap Sandra memelas.
"Sepuluh menit lagi," Alkana meraih bukunya untuk melanjutkan pelajaran.
Drrrt... drrrt...
Ponsel itu kembali berdering, Alkana melirih nama yang tertera di layar 'Kak Rena.'
"Kenapa nggak di angkat?" tanya Alkana saat melihat Sandra memandangi layar ponselnya.
"Males," jawabnya sambil cemberut.
"Ra...."
"Males ya males!" Sandra mereject panggilan itu lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar.
"Ra....!" panggil Alkana, namun gadis itu tetap berlalu.
Akhir akhir ini ia sering melihat Rena menelpon, tapi Sandra tidak pernah mengangkatnya. Ia memang tidak ingin Sandra pergi tapi biar bagaimana pun Rena berhak tau keadaannya, apa lagi saat Sandra pergi dari rumah keluarganya sedang tidak baik-baik saja, dan mungkin ada hal yang harus di selesaikan.
Sayangnya Sandra keras kepala, apalagi jika menyangkut ayah dan Amira. Sering Alkana membujuknya untuk menjenguk Hema tapi Sandra selalu berkata belum siap.
***
Perlahan Alkana mendorong daun pintu kamar yang tidak tertutup rapat, dan sebelum ia melangkah lebih dalam Alkana melihat Sandra yang berdiri di depan cermin. Gadis itu nampak sedang memperhatikan bentuk tubuhnya, terutama perut.
Sandra menoleh saat menyadari kedatangannya.
"Al...." Sandra berlari kecil menghampiri Alkana lalu menariknya menuju cermin. "Aku gendutan ya, lihat deh perutku buncit?" Sandra memperlihatkan bagian tubuh yang menurutnya lebih besar dari beberapa minggu lalu.
Kening Alkana berkerut, dari penglihatannya bentuk tubuh kekasihnya itu masih seperti biasa.
"Nggak."
"Al, serius!" Sandra berdecak sebal. "Aku nggak mau jadi gendut, ntar kamu nggak suka lagi sama aku."
"Siapa bilang?" Alkana memeluk gadis yang tengah bercermin itu dari belakang, "Asalkan yang gendut itu cewek paling cantik seantero sekolah, aku masih suka kok."
Bibir gadis itu tertarik lucu, "Beneran?" Sandra menatap Alkana dari pantulan cermin. "Emang kamu nggak malu punya pacar gendut?"
Alkana menggeleng, "Nggak, kenapa harus malu."
Sandra tersenyum senang lalu membalik badan dan mengeratkan pelukannya. "Jadi makin sayang," katanya manja.
Lelaki itu mengangguk lalu mengecup sekilas kening pacarnya.
Tentu saja tidak akan ada yang berubah dari perasaan Alkana, apalagi hanya karena Sandra gendut itu tidak mungkin. Alkana sudah memantapkan hatinya pada gadis itu.
Selang beberapa saat Alkana merenggangkan dekapannya.
"Ra, sebenarnya ada yang mau aku omongin?"
Alkana tidak langsung menjawab, ia nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Sebenarnya, aku juga ada yang mau di omongin."
"Ada juga?"
Sandra mengangguk, "Tapi kamu dulu deh, kan kamu yang duluan bilang."
"Ya udah," Alkana membawa gadis itu untuk duduk di tepi ranjang. "Tapi kamu dengerin aku ya?"
Sandra mengangguk, "Emang kamu mau ngomong apa?"
Alkana memperbaiki posisinya, menatap lawan bicara dengan serius seolah akan membicarakan hal yang penting.
"Ra, kamu mau ya jenguk papa kamu?"
Sandra membeku, permintaan apa itu? ia tidak menduga jika Alkana akan mengatakan hal itu padanya.
"Sekali aja...." Alkana memohon. Namun Sandra mengedarkan pandangannya kelain arah.
"Ra, coba seandainya kamu yang jadi aku. Aku pengen banget ketemu ayah, tapi aku nggak bisa. Aku kangen sama dia, aku pengen lihat gimana keadaan dia, aku pengen rasain gimana rasanya tinggal sama ayah dan punya keluarga. Tapi aku nggak bisa," Alkana meraih tangan gadisnya membuat Sandra terpaksa menatapnya lagi.
"Jadi... sebelum kamu ngerasain apa yang aku rasain, kamu mau kan nemuin papa kamu...."
"Al...."
"Ra, papa kamu sakit. Kamu sendirikan yang bilang, dan sekarang dia pasti lagi butuh kamu."
Sandra menarik tangannya, membicarakan tentang Hema membuat matanya terasa pedih. Namun Sandra mendongak, agar air matanya tidak tumpah.
"Nggak tau Al, aku masih belum bisa nemuin dia."
"Apa yang bikin kamu nggak bisa nemuin dia?"
"Amira, ibu tiriku."
Alkana menghela nafas, jika yang satu itu ia tidak tau bagaimana mengatasinya. Kedua orang tuanya berpisah karena kesalahan ayahnya jadi ia tidak tau cara menghadapi perempuan seperti Amira.
Drrrt... drrrt...
Sandra melirik kearah ponsel yang ia letakan di atas nakas, dan lagi itu dari Rena.
"Kenapa nggak di angkat?"
"Males."
"Kamu mau sampai kapan diamin kakak kamu, kasian dia?"
Sandra cemberut sambil bersidekap, Alkana yang dulu nampaknya selalu diam dan tidak perduli kini sudah mengendalikan semua yang ia lakukan. Sebenarnya Sandra senang, Alkana melakukan itu karena ia perduli padanya tapi jika perintah Alkana yang satu itu Sandra tidak mau.
"Sudah satu bulan kamu disini. Kakak kamu pasti khawatir apa salahnya kamu angkat, mungkin dia cuma ingin tau gimana keadaan kamu sekarang.
"Udahlah biarin aja. Palingan dia dia cuma iseng...."
"Kalau kamu nggak mau angkat biar aku yang angkat," Alkana bergeming untuk meraih ponsel yang masih berbunyi.
"Jangan...." Sandra buru-buru bangkit dan menyambar ponselnya "Biar aku aja."
Jika sudah begitu terpaksa, Sandra menggulir layar berwarna hijau.
"Halo kak," sapa Sandra malas. Jika bukan karena Alkana ia tidak mau melakukan itu.
"Kakak senang akhirnya kamu mau angkat telpon kakak, gimana kabar kamu sekarang?" suara dari seberang sana terdengar kegirangan.
"Baik kak."
"Kamu masih di rumah Kanaya?"
Mata gadis itu menyipit, seingatnya ia tidak pernah berkata ia tinggal disana.
"Kak Rena tau dari Reza, dia bilang kemarin dia yang ngantar kamu kerumah Kanaya."
"Oh, iya kak. Sandra masih di... rumah Kanaya."
Sandra bersyukur Reza tidak jujur, ia fikir Reza akan berbicara yang macam-macam pada kakaknya.
"Besok kakak jemput ya?"
"Jangan...!"
"Kenapa, kamu masih betah tinggal di sana. Ibunya Kanaya baik ya?"
Sandra bingung menanggapi pertanyaan kakaknya, "Maksud kakak?"
Alkana yang masih ada di sana hanya menjadi pendengar setia.
"Bukannya yang waktu itu di Mall ibu sama kakaknya Kanaya?"
Sandra terbelalak, ya ampun mengapa Rena pintar sekali jika tau sejak awal Rena berpikir seperti itu ia seharusnya tidak perlu menghindar dari kakaknya.
"Iya kak, dia ibu sama kakaknya Kanaya," Sandra membenarkan.
"Kakak senang kamu baik-baik saja, tapi besok bisakan kamu pulang?"
Sandra berjalan hilir mudik, ia sedang bingung mencari alasan.
"Sandra nggak bisa janji kak, emang ada acara apa. Harus banget ya Sandra pulang?"
"Reza mau kemping sama murid-muridnya, dan kemungkinan kakak juga besok mau ke Bandung, jadi bisa ya kamu temanin Pika di rumah, kasian dia."
"Emang berapa hari?"
"Cuma semalam, bisakan. Kalau pulang sekolah Kanaya nggak bisa ngantar biar Reza yang jemput, Reza bilang dia berangkatnya sore."
"Nggak usah kak, Sandra bisa sendiri kok."
"Jadi kamu mau?"
"Iya, tapi cuma sehari kan kak?"
Rena diam beberapa saat. "Iya, nggak papa" katanya, dengan suara yang terdengar kecewa. "Kakak nggak akan paksa kamu buat pulang...."
"Ra maafin kakak ya...." lanjut Rena setelah diam beberapa saat.
Kini Sandra yang diam, bahkan ia juga tidak mondar-mandir lagi. Ia duduk lemas di tepi ranjang, membuat Alkana khawatir melihatnya.
"Iya kak, Sandra ngerti kok."
***
***Kalian suka cerita yang sad ending tau happy ending?
Komen ya....😊***