NEVER

NEVER
Tanggung Jawab



RENA hampir saja pingsan saat mendengar kabar dari bu Septi meski awalnya ia tak percaya, tapi kemudian bu Septi meminta dokter yang menangani Sandra berbicara langsung padanya. Dan dokter itu menjelaskan detail tentang keadaan bayi dalam kandungan adiknya yang ternyata sudah berusia Enam minggu membuat Rena mau tidak mau mempercayainya.


Rena melangkah ragu menuju koridor sekolah, melewati siswa siswi yang berbondong-bondong menuju parkiran. Ada rasa cemas yang luar biasa ketika akan menemui lelaki itu dan sejujurnya Rena tidak siap dengan semua ini, tapi biar bagaimana pun ia harus menghadapinya.


Sebenarnya ia kecewa, tapi entah rasa kecewa itu harus ia tunjukkan kepada siapa. Benarkah pada Sandra yang telah mempermalukan dirinya dan keluarganya atau pada dirinya sendiri yang telah gagal menjaga adiknya. Tapi kurang bagaimana Rena selama ini, apapun kebutuhan adiknya ia penuhi. Ia memberikan uang yang cukup, kehidupan layak, bahkan lebih dari itu. Rena bekerja keras agar bisa membuat adiknya merasa nyaman dan berkecukupan, tapi apa balasannya? sungguh itu tidak pantas ia dapatkan.


Dalam hal pergaulan Rena akui Sandra terlalu bebas, namun ia juga tidak tinggal diam. Rena sering menegur dan menasihati adiknya meski ia tau semua itu percuma karena Sandra hanya mengaggapnya angin lalu. Hingga pada akhirnya Rena mengalah dan membiarkan Sandra memilih jalannya sendiri.


Selama ini Rena fikir ia telah berhasil dengan membiarkan Sandra tinggal di rumah Kanaya. Sebab sejak saat itu bu Septi tidak pernah lagi menghubunginya dan terakhir saat ia bertanya bu Septi berkata nilai-nilai Sandra mulai meningkat bahkan Sandra juga tidak pernah membolos membuat Rena merasa jauh lebih tenang, namun nyataannya sekarang lain dari perkiraan. Sandra hamil dan itu sungguh memalukan.


Rena begitu terkejut saat mengetahui kebenaran tentang adiknya, dan lebih terkejut lagi saat Kanaya berkata selama ini Sandra tinggal di rumah pacarnya. Ia begitu marah, ingin sekali Rena menumpahkan semuanya pada adiknya tapi tidak bisa, mengingat keadaan Sandra yang sedang lemah dan butuh perawatan. Mungkin nanti setelah Sandra pulih ia akan menanyakan langsung.


Dan demi kehormatan adik serta keluarganya ia akan meminta pertanggungjawaban dari Alkana yang Rena tau dari Kanaya, ternyata lelaki itu teman sekolahnya.


Setelah menjenguk Sandra di rumah sakit, Rena kemudian meluncur ke sekolahan. Tadi bu Septi sempat berkata Alkana membuat keributan dan masih berada diruangannya, itu yang memudahkan Rena untuk menemuinya.


"Mau kemana kamu?" ucap bu Septi saat melihat muridnya akan bergegas. Tentu saja ia tidak akan membiarkan murid laknatnya itu pergi begitu saja.


Alkana terdiam kaku dengan sorot mata terkejut mengarah pada wanita yang sangat mirip dengan kekasihnya.


"Kak Rena," bisik Alkana, ia syok melihat kedatangan wanita itu.


"Apa kita saling kenal?" Rena bertanya dengan tatapan mengintimidasi. Sepertinya Rena memang mengingat lelaki itu, Alkana adalah orang yang sempat ia kira kakak dari Kanaya.


"Oh, aku lupa pasti Sandra sering cerita tentang saya. Kayaknya kalian berdua dekat," Rena tersenyum miring seraya melangkah lebih dekat.


Alkana menatapnya waspada, ia tidak tau apa alasan Rena mendatanginya. Meski kelihatannya Rena mengetahui apa yang ia rahasiakan dengan Sandra.


"Seberapa dekat kamu sama Sandra?" Rena menatapnya tajam, "Apa dia pernah bilang bilang kalau dia nggak pernah di ajari sopan santun sampai kamu berani..."


Plakkk...


"Menghamilinya, hahh...!!!"


Alkana merasakan panas dipipinya, tamparan itu terlalu keras untuk diabaikan ia tau Rena marah dan kecewa tapi apa harus menamparnya di depan bu Septi?


"Apa karena Sandra hidup tanpa orang tua kamu berani melecehkannya... kamu nggak tau betapa susah saya mengurus dia selama ini, dia adikku satu-satunya dan kamu seenaknya merusak dia." Rena berucap dengan emosi tertahan, ia tidak bisa lagi menahan rasa kecewanya sampai tanpa sadar cairan bening mengalir di sudut matanya.


"Apa yang ada di otakmu? kamu masih sekolah bahkan untuk mengurus dirimu sendiri saja kamu tidak becus gimana kamu bisa bikin Sandra seperti itu."


Bu Septi yang masih berdiri di sana hanya mengusap pundaknya dari belakang, ia turut prihatin. Sementara di luar ruangan itu lama kelamaan banyak siswa yang mengintip, mereka penasaran dengan apa yang terjadi dan itu yang membuat Alkana semakin malu.


"Apa Sandra bilang kalau aku nggak pernah perduli sama dia? apa dia pikir aku membuang dia sampai kamu menampungnya di rumah mu?"


"Nggak kak," cicit Alkana seraya menunduk.


"Terus apa? kamu fikir setelah kamu kasih dia tempat tinggal kamu berhak berbuat sesukamu, kamu fikir kamu siapa berani-beraninya menyentuh adikku..."


Alkana diam, ia pasrah dengan apapun yang dikatakan Rena. Ia sadar ia bersalah meski bukan hanya dirinya yang patut di salahkan tapi juga Sandra. Sebab mereka melakukan itu dalam keadaan sadar.


"Aku susah payah menjaganya selama ini agar Sandra bisa hidup dengan baik tapi kamu..." Rena menunjuk Alkana, "Kamu dengan mudah merusak harapan ku."


Rena menyentuh kedua pundak Alkana, memaksa lelaki itu untuk menatap kearahnya. "Kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu."


Sepontan Alkana mengangkat kepalanya.


"Kamu ayah dari bayi yang adikku kandung, kan?"


Seketika suasana di luar ruangan menjadi gaduh, orang orang itu tidak ada menyangka jika lelaki pendiam seperti Alkana ternyata berani menghamili seorang gadis.


"Kamu harus bertanggung jawab, kamu harus bertanggung jawab...." Rena mengguncang guncangkan pundak Alkana sambil menangis, ia begitu frustasi dengan keadaan ini.


"Maaf..." ucap Alkana yang mampu membuat semua orang yang ada di sana menatapnya. "Bukan aku ayah dari bayinya...."


Rena tercengang mendengar itu, kemudian.


Plakkk...


Lagi, tamparan keras itu melesat sempurna Alkana sampai meringis menahan sakit.


"Berani-beraninya kamu nggak mengakui anakmu, apa kamu fikir aku bodoh... kamu pacarnya dan selama ini Sandra tinggal di rumahmu!"


"Tapi bukan aku ayahnya!" kekeuh Alkana.


Rena mengepalkan tangannya, ia benar-benar habis kesabaran menghadapi lelaki itu. "Lalu siapa?"


"Reza...." Alkana menjawab santai.


"Kamu nggak mau tanggung jawab malah nuduh orang lain, lelaki macam apa kamu!"


"Terserah kalau kak Rena nggak percaya, tapi seharusnya kak Rena tau apa alasan Sandra nggak betah di rumah."


Setelah mengatakan itu Alkana melangkah pergi, membiarkan Rena yang mematung dalam kebingungan.


***


Tidak, tidak Reza tidak mungkin melakukan itu, tidak mungkin. Jelas itu tidak mungkin...


Rena mengendalikan kemudi dengan otak terus berputar, ia tidak percaya jika Reza benar pelakunya. Meskipun sampai saat ini Rena tidak menemukan jawaban atas dasar apa Sandra membenci kakak iparnya, tapi ia juga penasaran kenapa Sandra dulu sempat meminta ingin tinggal sendiri.


"Apa benar itu karena Reza yang sering mengganggunya?"


Rena mempercepat laju mobilnya, ia ingin segera sampai agar bisa menanyakan langsung pada adiknya.


Di tempat lain, setelah Audi dan Kanaya mengantar Sandra dirumahnya mereka langsung pulang. Mereka sengaja tak ingin singgah terlebih dahulu karena Sandra masih membutuhkan banyak istirahat.


Begitu sampai di kamar yang sudah dua bulan ia tinggal Sandra langsung berbaring, tubuhnya masih lemah. Apalagi kepalanya, masih sangat berat, tadi kepalanya sempat membentur keramik untunglah bayinya baik baik saja.


Sandra menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya lalu memejamkan mata, ingin sekali ia melupakan kejadian hari ini terlebih tentang Rena yang sudah mengetahui kehamilannya rasanya ia ingin mengumpulkan tenaga sebanyak mungkin untuk menghadapi kemarahan kakaknya.


Baru dua menit matanya terpejam Sandra mendengar seseorang membuka pintu kamarnya.


"Kamu pulang?" tanya orang itu yang tak lain adalah Reza, "Kamu sakit... kok pucat?" Reza duduk di pinggiran kasur seraya menatapnya cemas.


"Ini kenapa?" Reza menyentuh pelipis adiknya yang tertempel plaster, namun Sandra menepis tangannya.


"Udah deh Za... gue mau tidur!"


"Tapi kamu sakit, aku panggil dokter keluarga ya...?"


"Ck, males..." lama kelamaan ia jengah melihat Reza.


"Mau teh hangat, aku bikinin?" Lelaki itu belum menyerah.


Sandra Akhirnya mengangguk, dan Reza senang melihatnya.


"Tunggu sebentar," Reza lalu bergegas kedapur.


Sementara itu Sandra bangkit dan mengunci pintu kamar. "Begini lebih baik," gumamnya lalu ke kasur.


Tak berselang lama, Sandra mendengar daun pintunya di ketuk. Ia tau itu Reza tapi ia mengabaikannya. Namun nampaknya percuma karena Reza tetap bisa membukanya dengan kunci cadangan.


Sial.


"Kamu kunci pintunya, ya?" Reza seraya membawa teh hangat buatannya.


"Iya, lupa..." Sandra menjawab asal.


"Ini minum dulu?" Reza menyodorkan minuman di gelas membuat Sandra terpaksa duduk.


Sebelum menyesap teh hangat dari tangan Reza Sandra berkata. "Lo nggak kasih minuman ini sesuatu, kan?"


Reza tersenyum, ia baru tau jika sandra mempunyai indra ke-enam.


"Iya, aku kasih sesuatu."


Sandra berdecak sebal, kejujuran Reza membuatnya percaya jika memang ada sesuatu di minuman itu.


"Gula sama air," lanjutnya.


"Lo serius nggak sih Za!"


"Ya nggak mungkinlah Ra, biar bagaimanapun aku ini kan kakakmu."


Sandra akhirnya menyeruput minuman itu, "Udah gue minum, keluar sana!"


"Aku nggak akan keluar sebelum kamu habisin tehnya."


"Masih panas beg0" tukasnya. Untungnya Reza tak pernah sakit hati dengan sesinis apapun ucapan Sandra. "Tapi, kalau lo mau tetap di sini ya terserah. Gue mau tidur..." Sandra barbaring lagi lalu menarik selimut.


"Ya udah tidurlah..." Reza meletakkan teh hangat di tangannya pada nakas, dan setelahnya ia turut membenarkan selimut adiknya.


Sandra diam saja dengan mata terpejam, membiarkan Reza yang duduk di sana sambil mengusap rambutnya. Ia berharap setelah ini Reza keluar karena ia sedang tidak memiliki tenaga untuk berteriak dan mengusirnya. Tapi bukan Reza namanya jika menyia-nyiakan kesempatan, apalagi melihat Sandra jinak seperti ini otak mesumnya langsung bekerja.


Tangan yang semula mengusap rambut kini beralih pada bibir, dan itu membuat Sandra seketika membuka mata.


"Kenapa?"


Sandra merasakan ada hal buruk yang akan terjadi, "Keluar lo sekarang!"


Reza menggeleng dengan tangan yang kemudian mencengkram pergelangan adiknya.


"Za lo gila?"


"Aku sudah lama nunggu momen ini Ra...."


"Za ingat kak Rena Za!" Sandra mulai panik saat melihat Reza yang menatapnya penuh rasa ingin, Sandra tau dimana muaranya.


"Aku ingat, tapi sekarang yang ada cuma kamu...."


"Berengsek!"


Sandra tak bisa berkutik ketika Reza menahan kedua tangannya di atas kepala.


"Diam, dan nikmati," entah bagaimana Reza kemudian menyumpal mulutnya dengan sapu tangan membuat Sandra tak bisa lagi berteriak, belum lagi tenaganya belum pulih ia benar-benar tak berdaya.


Reza mulai menggerayangi tubuhnya yang masih terbungkus seragam putih abu-abu, tapi nampaknya ia tak membiarka lekuk tubuh indah itu terbungkus sebab satu tangannya kemudian membuka satu persatu kancing bajunya.


Sandra mengeleng cepat sambil berusaha lepas, meski ia tau itu sia-sia. Reza sudah berada di atasnya mengapit kedua kaki yang membuatnya terpaksa menyerah.


Cup


Rasa dingin tiba-tiba hinggap di lehernya, diiringi deru nafas yang semakin lama semakin membuatnya meremang. Hingga akhirnya hal gila itu muncul di benaknya. Sandra tak ingin Reza berhenti menyentuhnya. Dan di sisi lain Sandra menyadari jika Reza memberi sesuatu pada minumannya.


Reza tersenyum miring melihat Sandra menyerah, ia tau pemberiannya sudah bereaksi. Hanya dalam satu tarikan kemeja putih yang membungkus tubuh Sandra terlepas, dan bersamaan dengan itu Reza melihat tubuh gadis itu yang terdapat beberapa kiss mark.


"Kamu pernah melakukannya?"


Dan sial, Sandra lupa jika bekas Alkana masih tertinggal di sana.


"Seandainya aku tau dari awal mungkin aku nggak ragu melakukannya."


Sandra fikir Reza akan kecewa lalu berhenti, tapi lelaki itu malah kembali menyerangnya.


Reza menciumi seluruh tubuhnya dengan hikmat, seolah Sandra adalah permen yang manis. Bodohnya gadis itu hanya bisa pasrah, ini memalukan.


Dalam panasnya gairah, Sandra masih berharap ada yang bisa membuat Reza berhenti melakukannya.


*****


STEVEN SYAHREZA