NEVER

NEVER
Kali Kedua



"Hai..." Sandra melambai singkat dengan seulas senyum yang masih sama membuat Alkana tersadar bahwa ia sedang tidak bermimpi.


Matanya menatap lekat kearah gadis yang berjarak satu meter. Ia merasa ada yang meledak-ledak di dadanya, tidak menyangka gadis itu akan datang. Tak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya hanya sorot mata yang menyorot tajam tak ingin lepas seolah tengah menenangkan hatinya bahwa ia tidak perlu menghawatirkan gadis itu lagi.


Namun sedetik kemudian keningnya mengeryit bingung mengartikan maksud kedatangan gadis itu.


Apa dia baru pulang dari suatu tempat? atau akan berpamitan? tapi mau kemana dia? dan kemana saja ia selama ini? apa dia benar baik-baik saja seperti yang terlihat? atau ada masalah lain? Banyak yang tak terdefinisi di otaknya sampai ia bingung memilih bagian mana yang lebih penting untuk di tanyakan.


"Ngapain lo kesini?"


Ahirnya pertanyaan sinis itu yang keluar dari bibir sexynya setelah melewati peperangan di dada. Sangat tidak sesuai dengan yang ia rasakan.


Senyuman gadis itu perlahan memudar, ia juga tampak murung memasang wajah melasnya.


"Gue boleh ya numpang di rumah lo seminggu aja. Kakak gue sama Pika mau liburan dan gue nggak mau tinggal sama Reza. ya-ya please" Sandra menguncupkan tanganya memohon belas kasihan.


"Nggak!" sahut Alkana seketika.


"Al please kali ini aja. Lo tau kan gimana Reza sama gue, gue nggak mau ngerusak rumah tangga kakak gue. Ya boleh ya, gue nggak tau mau minta tolong sama siapa lagi kalau bukan lo."


"Bukan urusan gue" jawab Alkana tak berperasaan.


Sandra cemberut mendengar itu, tapi ia tidak punya pilihan lain. Hanya Alkana satu-satunya orang yang bisa menolongnya.


"Gue janji, gue nggak bakal ngerepotin lo. Gue nggak akan ngepoin lo, gue nggak akan resein hidup lo. Suer" lanjut Sandra dengan tangan membentuk huruf V. "gue bakal jadi penumpang yang baik hati dan tau diri. Ya boleh ya?"


"Nggak ya nggak!" kekeh Alkana seraya menatap jengah kearah gadis itu.


"Gue bisa kok beres-beres rumah kalau lo mau, gue bisa nyuci, nyetrika dan lo juga tau kan gue bisa masak. Jadi boleh kan, boleh dong, boleh ya" Sandra belum menyerah.


Alkana menghela nafas panjang, "Nggak!" katanya lalu menutup rapat daun pintu rumahnya.


Sebenarnya ia bisa menolong gadis itu sangat bisa, mengingat ia yang beberapa hari ini mengkhawatirkan Sandra. Setidaknya dengan sandra tinggal di rumahnya membuat Alkana merasa tenang, tapi sayang bibirnya berkhianat dan bertindak seolah tidak menginginkan gadis itu


Setelah menyesali perbuatanya Alkana mengunci pintu lalu berjalan menuju kamar. Melihat Sandra baik-baik saja membuatnya merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya.


Langkahnya terayun mencapai anak tangga paling atas namun kemudian telinganya menangkap suara hujan yang tiba-tiba mengguyur deras di luar sana.


"Sandra?"


Ingatannya seketika tertuju pada gadis itu. Alkana mengurungkan niat dan langsung berbalik arah mencari payung. Sialnya ia sudah berputar-putar ke seluruh ruangan tapi benda itu tidak ia temukan Alhasil ia keluar dengan tangan kosong.


Alkana tidak mau terlambat mengejar Sandra, ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi dari rumahnya jika cuaca hujan seperti ini. Alkana tidak setega itu.


Alkana melangkah melewati derasnya air hujan sambil menatap ke sekeliling halaman, berharap Sandra belum pergi jauh. Namun di cari dan di cari tapi Alkana tidak menemukan siapa-siapa.


Rasa khawatir yang tadi sempat mereda kini menyerang lagi dan kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Alkana keluar melewati pintu gerbang tanpa perduli kini badanya sudah basah kuyup, apapun yang terjadi ia sudah bertekat untuk menemukan Sandra.


Alkana berlari menyusuri jalan. kepalanya menoleh kekiri dan kanan dengan sorot mata terus mencari kemana perginya gadis itu. Tanganya sesekali menyibakan rambutnya yang basah karena air hujan menutupi pandanganya.


"SANDRA!" teriak Alkana frustasi karena tidak menemukan jejak gadis itu.


"SANDRA!!!"


Langkah Alkana sudah jauh dari rumah, tapi tetap saja tidak ada yang ia temukan. Jangankan Sandra orang lain pun tidak ia temui di sepanjang jalan perumahannya. Hanya ia sendiri berteman derasnya air hujan yang seolah menjadi saksi betapa menyesalnya ia membiarkan gadis itu pergi.


"Arggh!!" pekik Alkana seraya menghempaskan kakinya pada genangan air yang ia lewati, menumpahkan kekesalannya.


***


      Alkana melangkah gontai menuju rumahnya, tubuhnya sudah gemetar tidak mampu lagi menerjang air hujan. Ia menggigil kedinginan, lagi-lagi ia kalah.


Tanganya menyentuh handle pintu dan mendorongnya perlahan, ada rasa hangat ketika tubuhnya masuki rumah besarnya. Kakinya terayun menuju kamar dengan lengan sesekali mengusap peluh bercampur air hujan.


Disela perjalanan tiba-tiba indra penciumannya menghirup aroma masakan yang membuat Alkana yakin aroma itu pasti berasal dari dapur.


Asistenya belum kembali lalu siapa yang menggunakan dapurnya? Tak mampu membendung rasa penasaran Alkana lalu berbalik mencari asal bau masakan itu.


Gadis yang Alkana cari sampai ia rela basah kuyup dan menggigil kedinginan itu ternyata tengah berada di dapurnya. Entah sedang memasak apa Alkana tidak tau yang jelas kondisi Sandra tampak lebih baik dari pada dirinya.


Saat itu Sandra sudah mengganti bajunya dengan Piyama lengkap dengan sandal bulu-bulu kesukaanya membuat Alkana miris melihatnya.


Mendengar derap kaki mendekat Sandra lalu menoleh sambil tersenyum tanpa berdosa. Wajah sok polos itu seolah sedang mengejek Alkana.


"Al...?" Sapa Sandra dengan tidak memudarkan senyuman termanisnya. "lo dari mana?"


Sandra mengecilkan api pada kompornya lalu mendekati Alkana. Pupilnya bergerak dari atas kebawah mengamati penampilan Alkana yang basah kuyup.


"Kok lo basah-basahan?" Sandra menyentuh baju kaos milik Alkana. "A**re you okey?" tanya Sandra bingung.


Alkana mengerjab lalu menepis tangan itu. Seharusnya Alkana yang bertanya, karena ia yang sejak tadi mengkhawatirkan Sandra tapi kini keadaanya terbalik, Alkana yang terlihat lebih memprihatinkan.


"Lo masuk dari mana?" kalimat itu yang berhasil keluar dari bibir pucatnya.


Sandra nyengir hingga menciptakan kerutan di sudut mata, "dari pintu belakang" katanya.


"Oh..." sahut Alkana datar lalu berbalik arah meninggalkan Sandra.


"Al, ish kok main pergi pergi aja" Sandra seraya menahan pergelangan pacarnya. "jawab dulu, ditanya juga" omelnya kesal sendiri.


Alkana beralih menatap gadis itu dan melangkah lebih dekat, bahkan sangat dekat sampai membuat Sandra melangkah mundur.


"Lo tadi bilang kalau lo mau tinggal di rumah gue lo nggak akan kepo" Alkana menipiskan jaraknya yang membuat Sandra terus menghindar dan berahir ketika pantatnya mentok pada sebuah meja. "Jadi lo nggak usah nanya nanya soal urusan gue, ngerti!" ucapnya penuh peringatan.


Sandra menelan salivanya susah payah tidak nyaman dengan di posisi mencekam dan terhimpit seperti sekarang. Terlebih ketika tidak ada jarak di antara mereka membuat Sandra ikut merasakan betapa dinginya tubuh lelaki itu.


"Jadi. lo. ngizinin. gue tinggal di sini?" ucap Sandra memberanikan diri.


Bukanya menjawab Alkana malah menyempitkan jarak wajahnya. Netra birunya menyorot tajam menusuk ke dalam matanya. Ini bukan pertama kali Sandra berada dengan jarak sedekat ini tapi tetap saja ia salah tingkah. Sampai ia yakin jantungnya bisa melompat kapan saja.


Kedua tangan yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya di meja kini mulai terasa dingin, apalagi saat tangan Alkana menyentuh jemarinya kiri dan kanan. Entah apa maksutnya tapi dalam hitungan detik sukses membekukan tubuhnya.


"Lakuin sesuka lo ra" bisik Alkana lirih.


Lalu keduanya saling menatap penuh arti dan terkunci beberapa saat.


"Jangan pernah berfikir macam-macam. Gue ngizinin lo tinggal di sini karena menurut gue lo memang perlu di kasihani, nggak lebih."


Nafasnya tercekat di tenggorokan tanpa mampu ia loloskan. Tekat Sandra sudah bulat untuk menaklukan lelaki itu tapi melihat perlakuan Alkana padanya seperti ini ia jadi ragu, apa dia mampu?


Alkana menarik diri mundur dua langkah memberi jarak pada tubuhnya.


Sandra menghela nafas, lega terbebas dari siksaan lelaki itu.


Keduanya tampak canggung namun kemudian Sandra berjalan mendekati kompornya. Melihat itu Alkana mengambil kesempatan untuk berlalu meninggalkan dapur.


"Al...!" panggil Sandra.


Alkana mendesah, malas meladeni gadis itu lagi.


"Al nanti habis ganti baju lo turun ya, gue udah masakin" seru Sandra berusaha bersikap senormal mungkin.


Alkana menoleh sejenak, "Iya" katanya lalu mengayunkan kakinya pergi dari tempat itu.


Sandra tersenyum girang, tidak menyangka Alkana menerima tawaranya.


***


***Terimakasih untuk yang sudah membaca "Never" 😘