
...Akhirnya Never Up setelah melewati ribuan hari dan malam malam yang panjang....
...hehe......
...Semoga kalian bisa menikmati ceritanya....
...Happy Reading......
...***...
Beberapa saat sebelumnya...
Di sela perjalanan, disebuah pemukiman yang sepi Sandra melihat dua motor terparkir sembarangan di tepi jalan, entah milik siapa. Setelah beberapa saat mengamati keadaan sekitar, Sandra melihat Dua orang bertubuh kekar tengah menghajar seseorang.
Mulanya Sandra berfikir itu pelaku begal atau curanmor seperti kebanyakan namun pemikirannya tertepis ketika ia melihat beberapa rombongan bermotor datang. Orang orang itu adalah para preman yang pernah menggodanya di halte sekolah.
Sontak Sandra langsung berfikir jika lelaki yang terbujur lemah itu Alkana, sebab preman itu adalah langganannya dulu. Bersamaan dengan itu lelaki yang semula berdiri bersandarkan tembok pagar merosot ke tanah dengan luka lebam dimana mana dan di sana Sandra mengetahui lelaki itu bukan Alkana melainkan Jery.
"Nick, turun Nick!" Sandra mengguncang guncangkan pundak Nichol tak sabar, "Lo harus tolongin dia Nick... turun sekarang."
Nichol melirik sepion mobil yang menampakkan beberapa pengendara bermotor, mereka berhenti kemudian mendekati orang yang tengah melakukan aksi kekerasan.
"Nggak usah ikut campur, kita nggak tau apa-apa. Masih untung kita di kasih lewat, coba kalau tadi kita yang di begal, kan bahaya Ra," Nichol berkata sambil lalu, membiarkan Sandra yang masih menengok ke belakang.
"Itu Jery, temen gue lo harus tolongin dia. Nick please, kasian dia... lo lihatkan tadi dia babak belur? Nick ayo turun bantuin dia" Sandra merengek dengan nada cemas, ia yakin Nichol sudi menolongnya. Seingatnya Nichol bisa bela diri.
"Dia teman kamu?" Nichol memperlambat laju mobilnya dan menoleh.
Sandra mengangguk antusias, "Please tolongin dia... ya?" Sandra memohon, Nichol lemah jika sudah melihat Sandra seperti itu.
Nichol menghela nafas kemudian berbalik arah, "Tapi kamu jangan kemana-mana, bahaya. Ingat ya apapun yang terjadi kamu harus tetap dalam mobil?"
"Iya, iya aku nggak akan kemana kemana."
Sesampainya di perkumpulan preman itu Nichol turun dan tanpa aba-aba langsung menyerang preman yang tengah mengintimidasi sasarannya.
Hanya dalam sekali pukulan preman berambut gimbal itu seketika terkapar, membuat orang orang yang ada di sekelilingnya terkejut bukan main. Beberapa orang yang tadinya masih duduk tenang di atas motor pun seketika berdiri.
Jery mendongak, melihat siapa yang datang. Ia mengerjabkan mata menajamkan penglihatan sambil mencoba mengingat siapa lelaki itu meski setelah beberapa saat ia tetap tidak mengenalinya.
Jery memutar pandangan, matanya menangkap sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari tempatnya. Ia melihat seorang wanita tengah mengintip dari dalam mobil. Cahaya lampu jalan yang menyorot di bawah mobil membuat Jery mengetahui siapa wanita itu.
"Sandra?" Jery bergumam lirih, dari sana Jery mengetahui siapa lelaki itu.
Sedikit banyaknya Alkana sudah menceritakan pertemuannya dengan Sandra dan itulah yang membuat Jery akan menemui Alkana, meski pada akhirnya ia malah bertemu dengan anak buah Botak dan berakhir disana.
"Siapa lo, berani-beraninya ikut campur urusan gue!" lelaki bertato di lengan dengan wajah sangar itu menatap sengit kearah Nichol.
"Sudah bosan hidup lo?" imbuh preman itu di iringi gelak tawa orang-orang di sekitarnya.
Nichol diam, mengamati satu persatu preman itu. Saat ia hitung jumlahnya ada Dua belas. Cukup untuk membuatnya mandi keringat malam ini, dan Nichol tidak pernah berpikir ia akan kalah sekalipun ia melihat salah satu preman itu membawa benda tajam dan senjata api.
"Banyak bac0t!!!" tanpa mengulur waktu Nichol langsung melancarkan serangannya pada preman yang masih tergelak, sehingga mereka segera terkesiap dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang balik.
Jery menganga menatap takjub pada setiap pukulan Nichol yang melayang sempurna di tubuh preman itu, dan sukses membuat mereka terkulai lemah hanya dalam satu pukulan. Bayangkan, seberapa kuat tenaganya.
Satu persatu lelaki bertubuh besar tinggi nan bermuka seram itu ambruk di tanah sementara Nichol masih berdiri kokoh tanpa luka sedikitpun. Jery berdecak kagum, ia serasa baru saja menonton adegan laga profesional, live tanpa sensor.
"Segitu doang nih?" ejek Nichol pada orang orang yang baru saja ia pukuli sambil mengibaskan pakaiannya, "Masih minum susu aja sok sok-an jadi preman," Nichol tersenyum sinis lalu melangkah mendekati Jery.
"Nick awas!"
Saat Nichol akan mengulurkan tangannya untuk menyambut Jery seorang lelaki bangkit dengan benda tajam di tangannya bersiap menusuk punggung Nichol.
Nichol menoleh.
Bugh...
Sandra memukul lelaki itu dengan batu berukuran Dua kepalan tangan, seketika itu juga preman berambut gimbal tak sadarkan diri.
Jery menghela nafas lega, berbeda dengan Nichol yang khawatir melihat kedatangan Sandra.
"Kan aku udah bilang nggak usah keluar?"
Sandra menunduk takut sambil membuang batunya sembarang, "Gue nggak mau lo kenapa kenapa."
Nichol membuang nafasnya gusar, "Ya udah... ya udah," Nichol berbalik lalu meyambut Jery dan memapah tubuhnya, "Yang penting habis ini kita pulang."
Sandra mengangguk kemudian membantu Nichol membawa Jery menuju mobil.
"Ra, thanks ya?" ucap Jery, ia tidak tau apa jadinya jika Sandra dan Nichol tidak datang.
"Iya Jer sama sama."
Belum sempat mereka membuka daun pintu, suara gaduh dari beberapa pengendara bermotor terdengar dan kemudian berhenti di depannya. Bukan hanya itu, ada juga pengendara mobil yang turut menggiring kedatangan mereka, membuat Nichol merasakan firasat buruk.
Orang-orang itu turun kemudian berbaris di depan mobil Nichol, seolah sengaja menghadang jalan.
"Mau apa kalian!" tanya Nichol sembari melepas pegangan Jery.
Orang orang itu diam, namun tatapannya menyorot tajam bak seekor Elang yang siap menerkam mangsanya.
"Kalian nggak cukup berani buat satu lawan satu? Cih, beraninya keroyokan?" ejek Nichol, sombong.
"Gue nggak ada urusan sama lo?" lelaki yang berdiri paling depan bertubuh jangkung itu bersuara. "Gue butuh dia," orang itu menunjuk Jery.
Nichol beralih pada Jery dan menatapnya penuh selidik.
Lelaki yang sepertinya pimpinan dari kaula preman itu maju satu langkah dan menatap Jery penuh peringatan.
"Lo tinggal pilih Jer, mau kasih Alkana ke kita atau mati sia-sia!" ancamnya.
Jery mengangkat kepala menatap takut pada lelaki yang ia tahu bernama Johan beserta anak buahnya yang berjumlah tidak sedikit, kurang lebih Dua puluh orang. Jery sampai merinding melihatnya.
"Gue nggak tau apa apa Bang," cicit Jery lalu menunduk.
Johan tersenyum miring, tidak percaya dengan ucapan lelaki itu.
"Jadi lo lebih milih mati dari pada nyerahin teman lo yang nggak tau diri itu," ejek Johan. "Pikirin lagi Jer? kasih Alkana ke gue dan lo serta kedua temen lo ini selamat, gimana?"
Johan mencoba bernegosiasi.
"Apa yang mau Abang lakuin ke dia?" Jery menjawab sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Orang-orang yang semula menatapnya kaku penuh ancaman kini tertawa. Jery dan Dua orang di sampingnya beradu pandang tidak mengerti dimana letak kelucuannya.
"Gue cuma mau habisi dia, dan masalah selesai," katanya enteng, seolah menghabisi seseorang adalah hal yang sepele.
"Gue nggak akan kasih tau di mana Alkana... kalau abang mau bunuh gue, bunuh aja bang gue nggak takut!"
Jery berkata berbanding terbalik dengan yang dirasakan, mulutnya memang berkata demikian tapi tubuhnya gemetar ketakutan.
Sandra mengeratkan pegangan Jery, kemudian menggeleng.
"Jer lo nggak boleh ngomong gitu, lo berhak hidup," Sandra tidak ikhlas Jery menyerahkan dirinya.
"Terus, lo mau Alkana yang mati? apa lo udah nggak butuh lagi sama dia, hah?"
Sandra menggeleng singkat, dan tanpa sadar air matanya menetes. "Gue butuh, gue nggak mau dia kenapa kenapa."
"Ya udah makannya lo tenang," Jery berbisik di telinga Sandra, "Kita pasti bebas dari orang orang ini, percaya sama gue."
Sandra mengangguk lalu mengusap air matanya.
"Ohhh! jadi cewek bokingan itu pacarnya Alkana," Johan nampaknya menguping percakapan Jery dan Sandra. "Udah bosen beli yang mahal, ternyata dia nyari yang gratis," Johan berkata diiringi tawa teman-temannya
Jery dan Sandra tentunya mengerti maksud pembicaraan Johan, tidak termasuk Nichol yang mengerutkan kening.
Bugh...
Tinjuan keras mendarat gemilang pada wajah Johan sampai mengeluarkan cairan merah kental di sudut bibir.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Nichol tanpa berdosa.
Johan mengerang kesakitan kemudian menatap Nichol dengan tatapan murka.
"Bawa mereka!!!"
Nichol hampir saja menyerang lagi, namun urung sebab ia mendengar ada rombongan bermotor lagi yang datang dari arah belakang, ia sudah dikepung. Jika sudah seperti ini terpaksa ia mengalah, untuk sementara.
Dan disini mereka berakhir, di sebuah rumah tua jauh dari pemukiman. Tempat yang terpencil membuat mereka tidak yakin ada yang bisa menemukannya.
Sandra tidak tau tempat apa ini, bangunannya tua tidak terawat, lampunya redup, banyak debu, dindingnya juga di coret coret dengan pilox. Sungguh tempat yang tidak menyenangkan.
Sandra melirik Nichol yang terus bergerak di kursinya, Nichol nampak masih berusaha lepas dari ikatannya. Peluhnya mengucur deras mengguyur tubuh kekar nan atletis menandakan kerja kerasnya meski tak membuahkan hasil. Sandra jadi merasa bersalah pada Nichol, gara-gara dia Nichol terjebak di sini. Harusnya tadi ia menurut saat Nichol berkata tidak perlu ikut campur tapi Sandra kasihan melihat Jery babak belur di keroyok preman, dan tidak tau jika pada akhirnya ia harus menjadi umpan untuk memanggil Alkana.
"Siram sekarang, sebentar lagi dia datang!" titah Johan pada anak buahnya setelah panggilan terputus.
"Siap bos!"
Lima orang menjawab bersamaan, lalu dengan gesit Tiga orang melangkah keluar sementara Dua sisanya mengambil dirigen air dan menyiramkan isinya pada sekeliling ruangan.
Sandra dan Jery terbelalak, sebab isinya bukan air biasa melaikan bahan bakar.
"Jer gue nggak mau mati di sini, kita harus keluar Jer..." Sandra merengek sambil menangis, ia tidak tau mengapa orang orang itu sangat kejam padanya.
Seandainya saja Jery bisa melarikan diri pasti ia lakukan, ia tidak sudi terperangkap di sana namun apalah daya ia juga terikat di kursi kayu. Sama seperti Sandra dan Nichol, sungguh ini keadaan yang paling mengenaskan seumur hidupnya.
"Ra, lo tenang ya. Kita pasti baik-baik aja ingat itu..." Jery meyakinkan, walaupun dia sendiri tidak begitu yakin.
"Tapi gue takut Jer..." Sandra terus menangis, tidak tau apa yang harus di lakukan.
Johan mendekati Sandra lalu mencondongkan tubuhnya, "Lo nggak perlu takut cantik, karena setelah pacar lo itu datang lo akan bebas. Gue butuhnya Alkana, nggak butuh lo sama temen lo yang nggak berguna itu," Johan melirik Jery, seolah orang tak berguna yang dimaksud adalah dia.
"Jangan sakiti Alkana, gue mohon..." Sandra menangis tergugu, memikirkan keselamatannya saja rasanya tidak mungkin lalu untuk apa ia menyembah orang itu agar tidak menyakiti Alkana. Sandra merasa sangat bodoh.
Johan menggeleng, "Ck ck ck... lo yakin kalau permohonan lo bakal gue kabulin? padahal lo tau jawabannya."
Johan tergelak sendiri, seakan baru saja melihat drama komedi yang amat lucu. Sedangkan Sandra menatapnya miris, baru tau jika ada iblis berwujud manusia.
Selang beberapa saat Lima orang yang tadi di tugaskan untuk menyiram bensin datang menghampiri Johan.
"Sudah selesai bos," ucap salah satunya.
"Semua pintu sudah di kunci?" Johan memastikan, layaknya seseorang bos. Nampaknya kepemimpinan preman untuk sementara jatuh ketangannya.
Lelaki bertubuh besar tinggi berpakaian serba hitam menjawab. "Sudah bos."
"Bagus," Johan mengangguk puas, "Bawa mereka keluar."
Nichol menganga mendengar itu, masih tidak percaya bahwa mereka di biarkan keluar begitu saja.
Bodyguardnya menurut dan tanpa babibu langsung melepas ikatan tangan ketiga tawanan yang semula diikat pada kursi kini diikat kebelakang punggung.
Sandra sedikit lega preman itu membawanya keluar, meski dia tidak tau apa rencana selanjutnya yang penting ia tidak terbakar lalu hangus. Itu mengerikan.
"Masuk!!!" ketika sampai di luar salah satu preman itu membentaknya untuk masuk kedalam mobil milik Johan. Sandra dan Jery menurut tapi tidak dengan Nichol.
Nichol menendang salah satu preman hingga terjerembab di tanah.
Johan yang mengikutinya dari belakang langsung bertindak, "Kalau lo melawan nyawa cewek itu taruhannya!" Johan sambil mengarahkan senjata api pada Sandra.
Walau jarak Johan jauh dari Sandra namun Nichol tidak mungkin menyepelekan keselamatan gadis itu. Dia tau preman tidak pernah main-main.
"Cih," Nichol meludah sembarang, paling tidak suka keadaan seperti ini. "Ok oke, turunin pistol itu," pintanya yang kemudian masuk kedalam mobil.
Sepakat, Johan menyeringai sinis tanda kemenangan lalu menurunkan tangannya.
Pintu mobil di tutup rapat, Johan dan teman-temannya berkumpul di depan mobil. Mereka berjaga di sana meski lebih terlihat seperti sedang menyusun sebuah rencana.
Seharusnya ini kesempatan paling tepat untuk menyerang, sebagian dari preman itu sudah pergi hanya menyisakan sekitar Lima belas orang. Seandainya tadi Johan tidak mengancam, sangat mudah bagi Nichol melumpuhkan mereka.
Sepuluh menit berselang datang sebuah mobil putih menghampiri orang orang itu dan di sambut penuh binar oleh Johan dan teman teman-temannya. Mereka tidak menyangka orang yang di tunggu sudah tiba.
"Alkana beneran datang Ra," Jery seraya mengintip keluar jendela, "Dia sendirian."
Sandra hanya bisa menangis di sana, tidak mengerti apa yang ada dalam kepala Alkana. "Jer gue mau keluar Jer, tolongin gue."
"Ya gimana gue juga di ikat Ra?"
Sandra tidak siap dengan semua ini. Ia harus keluar, ia tidak mau terjadi apa apa pada Alkana.
"Ra tenang Ra, jangan panik kita harus cari cara biar bisa keluar dari sini," Nichol yang ada di sisi kanannya menenangkan.
"Tapi gimana caranya Nick!"
Nichol membalik badan, "Coba lo lepas ikatan gue?"
Sandra bengong, tidak yakin dengan perkataan Nichol.
"Ra, cepetan kita nggak punya banyak waktu."
Sandra mengangguk, kemudian membelakangi Nichol dan melepas ikatannya. Tidak mudah baginya, sebab Sandra tidak melihat langsung bagaimana simpul dan ikatannya, belum lagi tali itu di ikat sangat kuat dan berlapis sehingga Sandra kesulitan. Tenaganya yang tak seberapa juga mempengaruhi usahanya.
"Ra cepetan," Nichol mengerang tidak sabar. Ia melihat Alkana sudah berjalan menuju rumah tua itu, Johan mengarahkan kesana.
"Nick gimana, gue nggak tau. Gue nggak bisa" Sandra menyerah, usahanya berakhir percuma.
"Biar gue aja," Jery menawarkan diri.
Sandra mengangguk, lalu dengan bersusah payah bertukar posisi.
Awalnya Jery mengalami kesulitan seperti Sandra namun akhirnya ia bisa melepas ikatan Nichol, bersama dengan itu salah satu anak buah Johan membuka pintu mobilnya seolah membiarkan Sandra menyaksikan proses terbakarnya Alkana bersama rumah tua itu.
Sandra melihat Alkana masuk kedalam rumah itu sendirian sementara Johan bergerak menutup pintunya.
"ALLL!!!" Sandra berteriak sekenceng-kencangnya, seolah mengatakan bahwa ia berada diluar dan Alkana tidak perlu memasuki rumah itu.
Alkana mendengar teriakan Sandra, dia menoleh dan melihat pintu yang semakin lama semakin tertutup kemudian rapat.
"Jangan!" Sandra berteriak lagi ketika Johan menyalakan korek api, "Berhenti!!!"
Johan tidak menghiraukan teriakan itu dan terus meluruskan niatnya.
Di detik selanjutnya, Sandra melihat rumah tua itu menyala yang membuatnya tidak sanggup lagi menyaksikan ataupun menerka apa yang terjadi. Sandra pingsan.
****
...Semoga kalian membayangkan ceritanya dengan baik ya......
...Salam dari penulis amatir yang gapunyaadab....
...wkwkwkwk......
...Ketika semua Author berbondong-bondong update cerita sehari Tiga kali kek orang makan nasi (Sering) lah aku update seminggu sekali....
...Xixixixixi......
...Author mah bebas....
Jangan bully author ya🙏🙏🙏