
DITAMAN belakang sekolah di bawah pohon yang rindang Alkana duduk di sebuah kursi kayu. Ia sengaja menyendiri di sana menenangkan diri. Matanya menatap lurus namun tatapanya kosong tak sebanding dengan betapa banyak yang bercokol di kepala.
Tak berapa lama kursi panjang yang ia duduki terasa bergoyang tanda bahwa ada orang lain yang duduk di sampingnya. Alkana menoleh melihat siapa orang itu.
"Sorry Al" ucap lelaki di samping Alkana sejurus kemudian, "Nggak seharusnya gue ngungkit-ngungkit masalah nyokap lo" sesal orang itu yang tak lain adalah sahabatnya.
Jery adalah orang yang paling tidak bisa marah terlalu lama jika dengan Alkana. Lagipula ia laki-laki, sesakit apapun pukulan dari temanya tidak akan membuatnya dendam. Berbeda dengan perempuan yang bisa saling mendiami satu sama lain sampai berhari-hari bahkan tidak saling menyapa. Jery tidak seperti itu, ia ingin pertengkarannya segera usai.
Pada dasarnya sesama lelaki memang lebih mudah berdamai jika dalam masalah bukan?
"Gue nyesel" lirih Jery lagi.
Alkana tertegun mendengar pengakuan itu, tapi ia lega Jery mau mengakui kesalahannya.
"Lupain, nggak penting dibahas" tutur Alkana datar seraya mengalihkan pandangannya menatap objek lain.
Jery mengangguk mengerti lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Alkana.
"Lo udah nemuin dimana Sandra?" Jery menatap lekat temanya "Gue tau lo lagi nyari dia" tebaknya penuh keyakinan.
Alkana mengangkat sebelah alisnya seraya melirik Jery sekilas, "Lo tau dari mana?"
Keduanya masih tampak canggung meskipun seharusnya tidak perlu.
"Lo sendiri yang cerita ke-gue."
Alkana mengerjap mengingat kapan ia bercerita mengenai Sandra, tapi sekeras apapun ia berusaha Alkana tidak bisa mengingatnya.
"Kapan?"
Jery tersenyum hambar lalu berkata, "Waktu lo mabuk. Bukan cuma itu lo juga bilang tentang semua yang lo lakuin ke Sandra."
Alkana menghela nafas panjang lalu memijat pelipisnya. Bodoh, ia merasa benar-benar bodoh. Mengapa ia sangat ceroboh dan membuka aibnya sendiri.
"Selama ini lo nggak pernah mabuk, tapi tadi malam lo kehilangan kendali. Apa sepenting itu Sandra di hidup lo, sampai bisa bikin lo mabuk berat?"
Jery sengaja melontar pertanyaan yang menyudutkan, ia geram melihat Alkana selalu menghindar jika di tanya mengenai perasaanya terhadap Sandra.
"Bahkan saat lo punya masalah sama keluarga lo, lo nggak pernah sampai lost control."
Alkana diam, menunduk tidak mempunyai jawaban untuk pertanyaan Jery.
Lama Jery menunggu jawaban dari lawan bicaranya namun Alkana hanya diam. Tidak ada satu kosa katapun yang mampu Alkana ucapkan untuk membela diri.
Jery mengangguk. Mengerti jika sahabatnya tengah berada di fase dilema. Dimana ia belum bisa memutuskan tentang perasaanya. Mungkinkah benar jatuh cinta atau sebatas merasa bersalah atas secandal yang terjadi.
Jery menepuk pundak temanya, "Gue cuma nanya, lo mikirnya serius banget."
Lelaki berambut ikal itu berusaha mencairkan suasana "Biasa aja lagi, lo bisa jawab lain waktu."
Alkana menoleh, Jery memang paling bisa membuatnya terbebas dari himpitan tak kasat mata yang menyiksanya.
"Iya" Alkana mengangguk linglung tidak punya pilihan lain.
"Udah berapa kali gue bilang kalau ada masalah cerita sama gue. Kurang baik gimana coba gue jadi teman?"
"Gue nggak ada masalah."
"Terus Sandra bukan masalah?" Jery langsung nyolot. "bukanya lo lagi nyari-nyari dia?"
Alkana berdecak sebal mendengar Jery selalu menyulutkan dirinya "Oh jadi tadi pagi lo marah karena lo cemburu gue udah nyentuh dia. Lo nggak terima, lo naksir sama pacar gue!"
"Gue..." Jery menunjuk dirinya. "Cemburu sama Sandra?" Jery heran melihat ekspresi Alkana yang langsung sewot padahal beberapa detik yang lalu ia nampak kaku. Dan yang lebih membingungkan Alkana menuduhnya menyukai Sandra. 'Astaga terlintas sedetikpun tidak.'
Sejenak keduanya saling menatap penuh arti namun sesaat kemudian Jery tergelak.
"Ya nggak mungkin lah Al. Gue nggak buta meskipun katanya cinta itu buta, tapi mata gue masih bisa lihat kalau Sandra pacar lo."
Alkana melengos masih kesal di tertawakan.
"Lo nggak usah takut gue tikung gitu lah. Tenang aja!" Jery menepuk dada temanya sebagai tanda bahwa Sandra mutlak miliknya.
Alkana menatap Jery kikuk, ia baru sadar dengan yang barusan ia katakan, seolah-olah ia takut ada yang merebut Sandra darinya. What's wrong with me? Batinya Awkward.
"Maksud lo?"
"Gue ngrasa gagal jadi temen yang baik buat lo?"
Kening Alkana mengerut berlapis tak terhitung jumlahnya. "Gue nggak ngerti?"
"Gue terlalu biarin lo menghirup nafas kebebasan sampai lo nggak bisa nahan diri" Jery memasang wajah serius membuat Alkana ikut tegang dibuatnya.
"Al gue nggak pernah tau gimana ada di posisi lo. Gimana susahnya hidup dalam kekosongan kayak lo gue nggak pernah tau. Tapi jalan lo selama ini salah Al. Ok soal lo jual garam mungkin kalau gue ada di posisi lo gue bakal nglakuin hal yang sama tapi soal lo yang sering nidurin cewek-cewek yang lo temuin di club itu salah, salah besar Al.
Telinganya terasa panas, ini pertama kalinya seorang Jery menasehatinya membuat Alkana tidak nyaman. Jery terkesan menggurui padahal Jery tidak tau persis apa yang terjadi.
"T**o the point aja Jer?" potong Alkana.
"Oke" Jery mengerti apa maksud temanya. "Gimana kalau Sandra hamil???"
Kalimat itu sukses membuat Alkana tercengang. "Nggak, nggak mungkin" bantah Alkana.
"Lo pakai pengaman?"
Alkana menggeleng pelan dengan ingatan tertuju pada malam itu. Saat ia dan Sandra sama-sama tenggelam di lautan kenikmatan tanpa memikirkan apapun yang terjadi nantinya.
"Asataga..." Jery menepuk jidat tidak menyangka temanya seteledor itu.
"Masa depan Sandra masih panjang Al, dan lo hancurin itu semua. Lo nggak mikir gimana perasaan keluarganya kalau sampai tau Sandra udah nggak virgin. Parah lo Al!"
"Dia bisa aborsi" jawab Alkana tanpa perasaan.
Jery tersenyum menyungging seolah sudah menebak apa yang ada di kepala temanya. "Di sini Al. Di sini gue ngrasa gagal jadi temen lo. Gue fikir lo cuma bukan cowok baik-baik, tapi ternyata lo juga brengsek."
"Al udah cukup lo mainin dia dan lo nggak perlu hancurin dia lagi" Jery bangkit dari kursi, "kalau suatu saat itu sampai terjadi gue nyerah Al jadi temen lo" lanjut Jery lalu melangkah pergi.
Alkana hanya bengong seraya menatap punggung temanya yang mulai menjauh. Ia tidak menyangka kalimat itu bisa keluar dari mulut sahabatnya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 tapi Alkana masih berbaring di sofa, bermalas malasan. Jangankan untuk makan menyentuh air untuk mandi pun ia malas. Sejak tadi Alkana tidak melakukan apapun semangatnya hilang apalagi jika mengingat Sandra yang berhari-hari tidak kesekolah.
Sudah sekitar lima hari gadis itu raib, menghilang tanpa jejak bagai di telan bumi. Membuat Alkana bingung harus kemana mencarinya.
Alkana memeluk bantal dengan pandangan menatap lekat layar ponsel. Televisinya di biarkan menyala menonton dirinya yang tengah galau menatap sebuah nomor ponsel.
Alkana sudah mendapatkan kontak Sandra tapi ia belum menghubunginya. Sebenarnya ia tidak tahan di kekang rasa gelisah, ia ingin tau apakah gadis itu baik-baik saja atau sebaliknya. Sayangnya Alkana terlalu gengsi. Bayangkan, sudah tiga hari setelah ia meminta nomer Sandra pada Haris tapi belum sekalipun ia menghubunginya.
"Argghh..." Alkana menyerah lalu membuang bantalnya sembarang. Ia memutuskan untuk menghubungi Sandra, ia kalah mempertahankan gengsinya.
tutt... tut... tut...
Nafasnya tertahan mendengar panggilan di ponselnya terhubung. dadanya berdebar kencang seolah ada yang berperang di dalamnya antara harga diri dan ego.
Alkana berdecak sebal seraya bangkit dari tidurnya saat panggilan terputus tanpa sebuah jawaban. Hanya sekali tapi mampu membuatnya sangat kecewa. Alkana menghela nafas berkali-kali berusaha menghirup oksigen banyak-banyak agar mood yang sudah ia bangkitkan susah payah tidak hancur.
Setelah merasa tenang ia mulai lagi menghubungi nomor kekasihnya. Dua kali, tiga kali, empat kali Alkana mencoba tapi nihil tidak ada jawaban apa-apa dari gadis itu. Alkana menyerah dan akhirnya memilih mengirim pesan.
'Ra lo dimana?'
Sedetik kemudian pesan terkirim dan bersamaan dengan itu Alkana mendengar bel rumahnya berbunyi.
Alkana meletakan ponselnya di sofa kemudian beranjak dari kursi mendekati pintu rumahnya dengan raut wajah kesal. Lagi pula siapa yang malam malam begini bertamu, saat ia sedang suntuk dan tidak ingin menemui siapapun.
Daun pintu perlahan terbuka menampakan raut wajah Alkana yang tak bersemangat, berantakan dan alakadarnya berbanding terbalik dengan seorang gadis yang menjadi tamunya.
Gadis itu nampak rapi, ia mengunakan baju kaos putih mencetak tubuh idealnya dengan jaket panjang berwarna hitam yang sengaja tidak ia kancing dan celana jeans warna senada lengkap dengan sepatunya. Rambut pirangnya di biarkan tergerai seperti biasa, satu tanganya memegang tali tas selempang dan tangan satunya memegang koper.
Alkana membulatkan matanya terkejut bukan main dengan yang ia lihat. Ya, itu Sandra gadis yang membuatnya nyaris gila. Gadis itu kini ada di depanya memamerkan senyuman paling ceria yang ia punya. Gadis itu nampak baik-baik saja jauh berbeda dengan dirinya.
Kehadiran gadis itu membuat Alkana berpikir seribu kali, 'mungkinkah ia bermimpi???'
***