
ALKANA menyapukan ibu jarinya mengusap air liur yang menempel di bibir kekasihnya. Sandra hanya terdiam menatap mata biru yang masih menyorot kearahnya, membiarkan jemari Alkana menyentuhnya meskipun kini nafasnya tengah terengah-engah, tubuhnya bergetar dan jantungnya berdebar tak beraturan. Butuh waktu bagi Sandra untuk memulihkan detak jantungnya seperti semula.
Malam ini Sandra telah melakukan kesalahan karena berani menyentuh bagian sensitif dari Alkana yang membuat lelaki itu menyerangnya dan tidak bisa ia dihentikan.
Ketika tatapan keduanya masih terkunci menyorot satu sama lain keduanya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang membuat keduanya terperanjat dan seketika saling memberi jarak.
"Al...!" panggil seorang wanita yang berpakaian tak kalah sexy dengan Sandra. "Lo ngapain?"
Alkana menoleh lalu buru buru mengusap bibirnya "Nggak ngapa-ngapain" katanya gelagapan, kemudian Alkana beranjak dari tempat itu.
Seusai kepergian Alkana wanita bertubuh tinggi langsing itu mendekati Sandra sambil melipat tangannya.
"Lo siapanya Al?" tanyanya dengan nada menginterogasi.
"Bukan urusan lo" ketus Sandra lalu melangkah pergi.
"Lo cewek bokingan kan?"
Ucapan wanita itu berhasil membuat Sandra menghentikan langkahnya. "Apa Alkana sering memesan wanita semacam itu?" Batinnya.
Sandra berbalik arah, "Gue pacarnya" jawabnya penuh percaya diri.
Wanita berpakaian minim itu tergelak, meremehkan "Pacar?"
Kening Sandra mengeryit, bingung.
"Lo pikir Alkana mau pacaran sama cewek rata kayak lo?" wanita itu mengamati bentuk tubuh lawan bicaranya dari ujung kaki hingga ujung rambut, "Lo nggak ada rasanya" imbuhnya penuh kesombongan.
Wanita itu memang lebih berisi daripada Sandra tapi bukan berarti Sandra mau di remehkan, Sandra tidak terima penghinaan ini.
"Heh! urusan lo ya mau percaya apa nggak!" Sandra nyolot dengan kedua tangan berkacak pinggang, "Kenyataan Alkana emang pacar gue, apa lo nggak liat gue sama dia tadi ngapain?" Sandra mendelik menatap sinis wanita itu.
Lagi, Wanita bermake-up tebal itu tergelak, "Lo cuma ciuman. Sedangkan gue pernah lebih dari itu?"
Sandra terdiam mengartikan maksud ucapan Wanita itu, namun tak lama kemudian ia berkata "Maksud lo?"
"Ups, kayaknya gue salah ngomong. Gue lupa kalau lo masih bau kencur" wanita itu melangkah melewati Sandra seraya mengibaskan rambutnya.
Namun Sandra tidak membiarkan wanita itu pergi sebelum rasa penasarannya terpenuhi, "Maksud lo apa?"
Wanita sombong itu berhenti "Kamar 013" ucap wanita itu tanpa menoleh, "Dan kalau lo udah tau milik siapa Alkana, lo jangan nangis" ejeknya kemudian berlalu.
Sandra terpaku menatap kepergian wanita itu, semua kemungkinan buruk tentang Alkana terlintas di benaknya "Apa Alkana sering bermain dengan wanita itu?"
***
Alkana menunduk menatap gelas di tangannya dengan tatapan kosong. Otaknya terus berputar memikirkan apa yang tengah terjadi padanya. Semakin hari ia semakin tidak bisa mengontrol dirinya jika bersama Sandra, gadis itu seperti sebuah candu yang bisa membuatnya terus menginginkannya lagi dan lagi.
"Arghhh..." Alkana mengacak rambutnya frustasi.
Gadis yang seharusnya ia hindari malah selalu melekat di ingatan, dan itu sangat mengganggu. Alkana tidak bisa hidup jika terus seperti ini, ia harus segera membebaskan dirinya seperti dulu.
Tidak ada yang berhak ia cintai, lagipula ia hidup dengan caranya sendiri. Ya, seperti itulah Alkana ia tidak membutuhkan orang lain. Ia hidup dengan aturannya yang ia ciptakan sendiri, dia hanya perlu bersembunyi untuk menutupi siapa dia sebenarnya.
"Al...!" Panggilan itu membuyarkan lamunannya. "Kenapa?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Ratu, cewek yang ia temui tadi di toilet. "Lo lagi ada masalah?" Ratu meletakkan lengannya di pundak Alkana sambil menatap netra biru milik lelaki itu.
Alkana terperanjat ketika Ratu menyentuhnya, "Nggak papa?" katanya, perlahan Alkana menurunkan lengan wanita itu.
Ratu bersungut sebal, tidak biasanya lelaki itu menolaknya. "Ko nggak lagi kehabisan uang kan?" Ratu menaikan sebelah alisnya.
"Nggak."
"Terus?"
"Lagi nggak mood" Alkana memutar pandangannya menatap kearah lain.
Ratu mengalungkan kedua lengannya di leher Alkana persis yang Sandra lakukan tadi, Ratu sengaja mencontek gaya Sandra untuk menggoda Alkana, ia berharap akan berhasil.
"Lo masih ingat nomor kamar gue kan?" Ratu semakin menyempitkan jarak wajahnya, namun Alkana menatapnya datar.
"Masih."
"Kita udah lama Al, udah sebulan lebih?" nadanya terdengar seperti keluhan tapi suaranya begitu menggoda.
Semenjak Alkana memutuskan berpacaran dengan Sandra ia memang tidak pernah lagi melakukan kegiatan menyenangkan bersama wanita itu.
Seperti Ratu contohnya, ia sudah menjadi langganannya ahir-ahir ini. Ratu adalah seorang model majalah dewasa, tak heran jika ia memiliki bentuk tubuh sexy dan menggiurkan. Ratu tak kalah cantik dengan Sandra meskipun Sandra jauh lebih menarik dari pada wanita itu.
"Al... " Ratu berucap manja. "Malam ini ya?" rayu wanita itu, "Nanti gue kasih diskon deh, gimana?"
Alkana mengangkat salah satu sudut bibirnya, tawaran yang menarik. Tapi sayang Alkana sedang tidak ingin bermain malam ini.
"Lain kali deh Ra."
Ratu mendengus lalu menurunkan lengannya, "P**erlakuan macam apa ini" gerutunya kesal sendiri.
"Lo kenapa sih Al?" Ratu tidak terima dengan perlakuan Alkana.
"Lagi males" Alkana menunduk memutar gelas di tangannya dan menatapnya kosong.
"Gara-gara cewek bau kencur itu!" Ratu langsung sewot.
Alkana diam, malas menanggapi kekesalan wanita itu.
"Dia emang siapa? apa sih hebatnya dia?" Ratu berceloteh mengoreksi kelemahan fisik gadis yang ia anggap bau kencur dan lebih membanggakan bodynya yang sempurna.
"Lo cari yang lain aja" potong Alkana dan seketika membuat Ratu bungkam.
Ratu merebahkan pantatnya di kursi seraya mengerucutkan bibirnya, "Aneh deh lo" lanjut Ratu. "Teman-teman gue bilang lo juga berhenti kerja dan sekarang gue ajak main lo nggak mau, sebenarnya ada apa sih Al sama lo?"
Alkana beralih dari gelasnya menatap Ratu, ia baru sadar jika Sandra sudah membuat pengaruh besar dalam hidupnya. Saat pertama kali ia bertemu Sandra di tempat itu Alkana mulai meninggalkan pekerjaan sesat yang sudah ia tekuni satu tahun lamanya. Menurutnya tidak mungkin ia tetap menjadi pengedar sementara Sandra mengetahuinya. Alkana takut Sandra berkoar-koar mengumumkan pada semua orang tentang sisi buruknya. Gadis itu terlalu sulit di abaikan dan itulah yang membuat Alkana selalu waspada.
Namun tidak seperti ini yang ia inginkan, sampai ia meninggalkan kegiatan menyenangkan yang bisa membuatnya melupakan semua masalahnya.
Alkana tidak pernah mengizinkan gadis itu masuk kedalam hidupnya, tapi Sandra sudah mempunyai tempat bahkan telah bertahtata di sana menguasai semua sisi kehidupan Alkana, nyaris tanpa sela. Dan bodohnya, Alkana tidak menyadari itu.
"Al, di tanya kok malah bengong sih" Ratu mencebikan bibir, lagi-lagi cowok itu mengabaikannya.
"Eh iya gimana?" Alkana mengerjap berusaha menepis kegalauan di hatinya.
"Lo tu makin hari makin aneh tau nggak?"
Alkana menghela nafas, "Ya udah ayo" Alkana bangkit. Ia menyerah dan memilih menuruti keinginan Ratu.
"Serius?" pupil gadis itu melebar.
Alkana melengos enggan memperjelas lalu berjalan lebih dulu, Ratu tersenyum girang kemudian mengekori Alkana melangkah menuju kamarnya.
Alkana lebih memilih mengiyakan keinginan Ratu dari pada harus menjelaskan apa yang terjadi. Mustahil Ratu bisa mengerti paling tidak ia hanya menjadi bahan ejekan Ratu dan teman-temannya.
Jatuh cinta adalah hal yang ia hindari, bukan karena ia terlalu naif ia hanya takut merusak tanpa mampu memperbaiki. Alkana menyadari sepenuhnya, ia bukan lelaki yang baik.
***
Alkana duduk di pinggiran kasur dengan bertelanjang dada sedangkan Ratu sudah berada di pangkuannya dengan lengan mengalung di leher dan kaki melingkar pada pinggang Alkana. Pemanasan akan di mulai, tapi Alkana masih menatap datar kearah Ratu yang mulai sibuk melucuti pakaiannya.
Alkana menghirup aroma parfum wanita itu yang jelas sangat berbeda dengan milik Sandra. Ratu menyisakan celana pendek serta kaos dalam di tubuhnya lalu tanpa aba-aba Ratu langsung menyambar bibir Alkana yang membuat laki-laki itu mengerjap beberapa kali.
"Gue kangen lo Al?" bisik Ratu di sela kegiatannya.
Alkana mengangguk seraya mengangkat sudut bibirnya, tapi bukan untuk Ratu melaikan karena Alkana mengingat kejadian tadi bersama Sandra. Geloranya membuncah jika mengingat gadis itu bahkan saat ini yang ia fikirkan adalah Sandra.
Saat keduanya tengah kalut dalam aktivitasnya, daun pintu kamar itu tiba-tiba terbuka lebar. Mereka tampaknya terlalu bergairah sampai melupakan hal penting untuk sekedar mengunci pintu.
Brakkkk...
Alkana dan Ratu terlonjak kaget, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah seseorang yang membuka pintu itu.
Sorot mata Alkana membulat sempurna ketika mengetahui orang itu adalah Satria, dan ia tidak sendirian melainkan bersama Sandra. Sandra berdiri lemas dengan satu lengan mengalung di leher Satria, Sandra mabuk.
"So-sory Al, gu-gue salah masuk" meskipun masih syok dengan yang barusan ia lihat Satria langsung beralih ke tempat lain.
Tanpa menunggu jawaban Alkana Satria langsung kembali menutup pintu membawa gadis pemabuk itu pergi.
***