
Noah Angelo Dirgantara
***
"Aku ingin melihat cucuku?"
Alkana dan ibunya melongo, tidak menyangka Albert mempunyai nyali di atas rata-rata. Dia datang dan secara terang terangan menyebut 'cucuku' serta berani menampakkan wajahnya di depan Hema tanpa merasa bersalah sedikitpun atas dosa yang ia lakukan.
Hema sebenarnya masih ingin memastikan siapa orang asing itu, tapi melihat parasnya yang sangat mirip dengan Alkana membuat Hema mengerti tanpa harus bertanya.
Sebenarnya Hema merasa beruntung bisa bertemu langsung tapi di sisi lain ia geram melihat lelaki tak punya urat malu itu, yang tanpa berbasa basi langsung mencari cucunya. Emang dia fikir, dia siapa?
"Boleh, kan aku melihatnya?" Albert mendekat ingin menghampiri Sandra namun belum sampai melangkah Fany sudah menghadang langkahnya.
"Fany, please... aku hanya ingin memastikan, apakah dia benar laki-laki dan memiliki mata indah seperti putraku atau tidak?"
"Apa perdulimu jika anaknya laki-laki atau perempuan, apakah itu penting, dan sejak kapan itu menjadi urusanmu?" Fany melotot, hanya melihat Albert beberapa detik saja sudah berhasil membuatnya naik pitam. Kadang ia heran, sebenarnya apa yang dulu membuatnya mau menikah dengan lelaki itu.
"Tentu itu urusanku" Albert menjawab sambil melirik lirik Sandra di belakang tubuh mantan istrinya, bahkan ia nampak beberapa kali berjinjit penasaran dengan cucu laki-lakinya. "Ayolah, biarkan aku melihatnya... kau pelit selali sih."
"Cucu," Hema meralat seraya tersenyum menyungging. "Apa kau tidak pernah belajar budi pekerti, Sir?" lanjut Hema.
Albert yang tadinya celingukan mencuri curi pandang kearah Sandra kini beralih pada Hema. "Tentu saja pernah."
Hema manggut-manggut, tangannya memegang dagu sementara tatapannya mengintimidasi calon besannya, "Lalu kemana budi pekerti mu itu kau bawa?"
Hema bertanya tak kalah kaku.
Albert menatap Hema atas bawah, dari raut wajahnya ia nampak tersinggung dengan ucapan lawan bicaranya.
"Ayo kita bicarakan ini diluar saja." Fany sambil menyeret mantan suminya keluar.
"Tidak, aku ingin melihat cucuku!" Albert memprotes, enggan Fany mengusirnya secara tidak sopan.
"Ada hal yang lebih penting dari itu!"
Hema turut melangkah keluar mengikuti kemana Fany membawa calon besannya, "Aku ikut!"
"Ayah!" Sandra memanggil sebelum Hema benar-benar menghilang dari balik pintu.
Hema menoleh sejenak, dan sebelum berlalu ia berkata "Tenanglah, ayah akan mengurusnya."
Sandra mengangguk, percaya bahwa Hema akan melakukan yang terbaik untuknya.
Tiga puluh menit kemudian...
Ketiga orang tua yang tadi meninggalkan ruangan tidak kunjung kembali membuat Sandra merasa cemas. Dan ia hanya bisa menunggu dengan gelisah, tatapannya sesekali tertuju pada Noah yang sudah ia baringkan dalam box.
"Tenang ya, ayah pasti ngelakuin yang terbaik buat kamu" Rena mengusap pundak adiknya.
Sandra mengangguk, meski di dadanya terasa berperang. Ada rasa takut ketika Hema akan berbicara langsung dengan Albert walau seharusnya itu wajar, mengingat yang mereka perbincangkan mengenai pernikahan tapi disisi lain Sandra tau betapa mengerikan calon mertuanya. Sandra takut Hema ikut naik darah menghadapi iblis berwujud manusia itu.
"Tapi kok lama banget, emang mereka kemana sih?" Sandra tidak bisa membendung rasa penasarannya. Ia lebih baik mendengar langsung perbincangan mereka dari pada menunggu seperti ini.
"Biar tante yang cari..." Amira kemudian beranjak.
"Aku ikut, tan?" Rena turut mengekor di belakangnya. "Kakak tinggal ya, nanti kakak langsung kesini kalau kakak sudah tau gimana keputusannya."
"Iya kak."
Setelah mendengar itu, Rena berlalu bersama Amira. Tinggal Alkana yang ada di sana, lelaki itu juga tak kalah cemas. Sandra melihat beberapa kali Alkana menggigit ibu jari sambil mondar mandir.
"Al!"
Alkana tersentak kaget, lalu menoleh. "Ya?"
"Aku takut."
Alkana mendekat, merengkuh Sandra dalam pelukannya. Dia tau Sandra juga cemas seperti dirinya, dan tidak seharusnya ia membiarkan Sandra berdiam diri dalam kegundahan.
"Nanti kalau gantian ayah ku yang marah sama ayah kamu gimana?" ucap Sandra di sela pelukan.
"Nggak.... Kita berharap keputusan yang baik, sayang"
"Aku juga maunya gitu tapi kamu, kan tau sendiri tadi ayahku marah-marah."
"Ayah kamu nggak marah," Alkana menarik diri, "Dia cuma khawatir. Semua orang tua pasti akan ngelakuin hal yang sama kalau anaknya ada di posisi kamu, jadi kamu tenang ya."
Sandra mengangguk, bibirnya masih mengerucut.
"Apapun nanti keputusan mereka kita harus jalani sama-sama. Aku yakin orang tua kita nggak akan tega pisahin kita."
"Tapi ayah kamu tega!" Sandra nyolot, seolah masih ingat dengan baik sikap Albert yang keterlaluan.
Alkana diam beberapa saat, ia memang sempat berfikir begitu dan itu yang ia takutkan. "Yang pentingkan sekarang dia datang kesini."
"Itu juga karena kamu kabur, coba kalau nggak belum tentu dia perduli..."
"Ya udah gini aja," Alkana menyerah, sikap ayahnya memang tidak bisa di tolelir. "Apapun yang terjadi nanti, mau ayahku setuju atau nggak sama pernikahan kita aku akan tetap nikahin kamu, gimana?"
Sandra seketika berbinar, "Beneran?"
Alkana menyelipkan rambut Sandra kebelakang telinga, "Iya" tuturya lemah lembut.
Kedua sudut bibir gadis itu tertarik keatas, "Makasih."
Sandra kembali menghambur dalam pelukan Alkana, ia selalu berharap Alkana menepati janjinya.
Tak lama berselang, Sandra melihat suara gaduh di luar ruangan. Alkana terkejut dan langsung melepas dekapannya, ia beranjak keluar untuk memastikan apa yang terjadi.
Begitu pintu terbuka Fany tiba-tiba masuk dan berdiri di ambang pintu.
"Tidak, Albert kau tidak boleh melihatnya!" Fany membentangkan tangan menghalangi Albert yang nampak ngotot ingin menerobos masuk. Alkana sampai mundur beberapa langkah, menghindari keributan.
Sandra yang ada di sana hanya menatap kedua mantan pasutri itu bingung.
"Kurang apa lagi, aku sudah menyetujui apapun yang kau minta. Aku hanya ingin melihat cucu-ku, itu saja" seloroh Albert ngeyel.
"Aku tidak percaya. Lebih baik kau pulang saja!"
"Hanya ingin melihat saja susah sekali sih," Albert berdecak sebal, "Tenang saja aku tidak akan memisahkan orang tuanya, aku hanya penasaran seperti apa cucuku!"
"Benarkah? tapi aku khawatir kau menculiknya kemudian membawanya pergi, dan membiarkan ibunya menderita. Kau, kan manusia tidak punya hati!"
Albert menghela nafas, "Astaga, wanita ini. Ya sudahlah... tapi awas saja kalau setelah menikah kau tidak memberikan Noah padaku. Aku akan membuat perhitungan denganmu!"
"Pasti ku berikan, beserta ibu dan ayahnya."
"Baiklah, awas saja kalau tidak..."
Albert memutar badan berlalu dari tempat itu dengan bibir menggerutu, menguncapkan sumpah serapah untuk Fany.
Fany menggelang sambil mengamati punggung Albert yang mulai menjauh.
"Kenapa mama ngelarang ayah lihat Noah, Ma?" Alkana bertanya sambil mendekati ibunya.
"Biarin, mama juga sudah buat kesepakantan kalau dia nggak boleh lihat Noah sebelum dia menikahkan kamu sama Sandra, dia harus diberi pelajaran."
"Jadi ayah ngizinin Al nikah sama Sandra?"
Fany mengangguk, nafasnya menghela panjang, lega.
"Iya, sudah?" Fany menepuk pundak putranya.
"Makasih ma?" Alkana tersenyum senang, lalu memeluk Fany. Sesaat kemudian ia beralih mendekati Sandra.
"Kamu dengar sendiri, kan mama bilang apa?" Alkana meraih tangan Sandra. Wanita itu mengangguk, bibirnya pun merekah lebar. "Kita akan menikah."
"Iya, Al aku seneng banget dengernya" Sandra sampai menitikan air mata saking senangnya.
Alkana tak kalah senang, ia menciumi punggung tangan Sandra sebagai ungkapan rasa syukur.
Puas dengan itu, Alkana menuju box bayi tempat dimana Noah berada.
"Noah, makasih ya udah lahir jadi anak ayah. Kamu keberuntungan ayah...."
Si bayi laki-laki nampak sedikit menggeliat, dan Alkana menganggap itu sebagai jawaban.
Sandra dan Fany terkekeh melihat itu, senang juga terharu. Tidak menyangka setelah sekian lama akhirnya mereka sampai di titik ini. Ya, titik yang setiap waktu ia tunggu. Dengan gundah, dengan gelisah, dengan ketidakpastian. Dan setelah semua yang menyakitkan berlalu kebahagiaan ini terasa layak untuk mereka dapatkan.
Tak lama kemudian Hema, Amira serta Rena memasuki ruangan. Wajahnya terlihat tak kalah berbinar.
"Anak ayah, ternyata sebentar lagi mau menikah?" Hema berkata seraya mengusap pucuk rambut putrinya.
Sandra tersenyum, "Bukannya Sandra juga udah punya anak?"
...*************************...
...****************...
...********...
Pernikahan yang di gelar sederhana berlangsung hikmat. Biarpun hanya kecil kecilan menurut Fany tapi menurut Sandra pestanya cukup meriah, walau tidak seperti saat pertunangan.
Kali ini tamu undangannya lebih sedikit, tapi Sandra senang Fany mengizinkan beberapa temannya datang. Sandra memutuskan untuk mengundang Audi, Kanaya, Riska, Jery dan tidak ketinggalan Haris. Lelaki itu wajib datang di setiap momen, Haris banyak membantunya selama ini. Hanya itu, dan menurut Sandra cukup, mereka adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Entah tadi bagaimana critanya Sandra dan Alkana bisa terjebak di sana, di tengah-tengah keramayan pesta. Teman-temannya meminta dia dan Alkana berdansa. Padahal sebelumnya tidak ada acara seperti itu, tidak ada yang merancangnya, Sandra juga tidak pernah melakukan itu dan ini sangat konyol.
Demi menyenangkan tamu undangan dan teman temannya Sandra dan Alkana mau melakukannya. Meski terlihat kaku dan mungkin juga tidak layaknya seperti orang berdansa tapi siapa sangka orang-orang di sekitarnya nampak puas melihat keduanya bergerak ke kiri dan kanan mengikuti alunan musik.
Saat itu, satu tangan Sandra mengalung di leher Alkana dan tangan lainnya ia letakan pada dada, sementara kedua tangan Alkana merengkuh pinggang meniadakan jarak diantara mereka. Dan mungkin itu yang membuat semua orang terkesima, keduanya nampak serasi terlebih saat mereka sama-sama menatap sorot mata keduanya seolah saling bercengkrama.
Sesekali Sandra bergerak memutar ala dansa putri Cinderella yang pernah ia lihat di Film layar lebar, dan Alkana mengerti ia memberi ruang agar Sandra leluasa melakukannya.
Setelah kembali pada posisi semula bibir yang sejak tadi merekah itu melebar sempurna.
"Kenapa?" Sandra berbisik lirih, heran Alkana tiba-tiba tersenyum.
'Apa gerakannya tadi aneh?'
Alkana menggeleng singkat, "Nggak papa."
"Terus kenapa senyum-senyum?"
"Aku senang karena malam ini ditemani sama bidadari."
Sandra melebarkan senyum, "Apaan sih, Al?"
"Aku serius sayang, kamu cantik malam ini."
"Malam ini doang?"
"Setiap saat, tapi malam ini cantiknya extraordinary."
Sandra tersipu, wajahnya sudah merona seperti tomat.
"Ra?"
"Hm."
"I love you," tatapan Alkana menajam seiring dengan rengkuhan tangannya di pinggang yang mengerat. "and I never can without you."
"yes, Al. Me too, i really need you too" Sandra merasakan tangan Alkana bergerak menyelip pada tengkuknya, "Aku nggak mau ada perpisahan yang selanjutnya, aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak bisa, tanpa kamu aku sekarat, tanpa kamu duniaku runtuh, tanpa kamu hidupku serasa di neraka. Aku nggak mau ngerasain itu lagi."
Alkana mengangguk, "Aku ngerti, dan kamu juga harus tau, setiap detik yang aku lalui tanpa kamu, aku serasa mati. Sekarang kita sudah sampai di sini dan kita akan mulai hidup baru, kita tinggalin semua yang terasa sakit. Hanya ada aku, kamu, anak kita, dan bahagia."
Sandra mengangguk bersama dengan butiran bening yang jatuh, ia tidak bisa menahannya. Ini membuatnya sangat senang bahkan tidak bisa lagi di tuliskan dalam kata kata.
Di detik selanjutnya Sandra terkejut, Alkana mencium bibirnya. Pelan, dalam dan menyeluruh. Sandra sampai bisa merasakan betapa hebat degub jantungnya. Awalnya ia ingin menarik diri, tapi cumbuan Alkana terasa memabukan dan Sandra merindukan semua ini. Entah benar atau salah tapi Sandra tidak bisa bila harus diam saja, dia membalas perbuatan Alkana.
Jangan ditanya bagaimana sorak suara tamu undangan, mereka heboh dan bersorak ria menyemangati Alkana.
Setelah melewati banyaknya rintangan, gunjingan serta hinaan dari orang-orang akhirnya Sandra bisa mencium lelaki itu tanpa memikirkan semuanya. Tidak ada rasa takut, khawatir, cemas atau apapun. Dia menciunya karena ingin, dia melakukannya karena mencintai leleki itu. Dan dia telah melakukan kebenaran sebab kini Alkana telah menjadi suaminya.
...*********************************...
5 bulan kemudian...
Sesuai seperti keinginan mereka dari awal setelah menikah mereka pindah ke London, membuka lembaran baru yang kenyataanya tidak seindah bayangan Sandra.
Hidup di Negara mertuanya mengharuskan dirinya beradaptasi dengan lingkungan baru dan mempelajari bahasa Inggris. Sialnya setelah beberapa bulan di sana Sandra tidak secepat Alkana, walau lama kelamaan Sandra mampu berbicara secara fasih. Itu juga berkat dorongan Albert yang sering mengumpat dirinya menggunakan bahasa Inggris dan Sandra sering penasaran dengan apa yang di ucapkan mertuanya.
Ya, si kakek arogan masih tetap pada sifatnya. Bahkan semakin hari Sandra semakin mengenal bagaimana mertuanya, beruntung istri Albert baik, meski tak sebaik Fany tapi Caroline sering berkata untuk tidak mengambil hati ucapan suaminya karena kalau tidak "kita bisa gila" begitu ucapan yang sering Sandra dengar. Dan sekarang Sandra mengerti, ia juga tidak setakut dulu pada Albert.
"Sebenarnya kau bisa mengurus anak apa tidak?" Albert bertanya, nadanya terdengar ketus seperti biasa. Ia tidak suka mendengar Noah menangis, padahal sebagai balita itu sangat wajar.
Sandra menghela nafas, ia sedikit terkejut melihat ayah mertuanya muncul tiba-tiba. Meski ia tau Albert biasa muncul dimana saja, kemanapun dan dimanapun ia membawa Noah. Apalagi ini hanya di kamarnya, dan bukan mustahil Albert datang.
"Aku sudah memberinya susu tapi dia tidak mau, Ayah. Sejak tadi dia menangis aku tidak tau apa yang salah..." Sandra sambil memainkan boneka mungil berbentuk kelinci pada Noah. Namun Noah yang ia baringkan pada ranjang masih tetap menangis.
"Mungkin dia lapar, buang air atau ingin yang lain?"
"Tidak Ayah, tadi aku sudah memberinya asi" tak lupa Sandra memeriksa karpet dimana Noah berada, siapa tau Noah buang air seperti kata Albert. Tapi setelah Sandra memeriksanya karpet itu kering, "Dia juga tidak buang air, aku tidak tau mengapa ia terus menangis."
"Jangan-jangan kau tadi menjatuhkannya, ya?" tuduh Albert.
Sandra menggeleng cepat, "Tidak. Aku bersamanya sejak tadi dan aku tidak menjatuhkannya, aku menjaganya dengan baik, dia selalu dalam pengawasanku" ucap Sandra, meyakinkan kalau Noah menangis bukan karena kecerobohan seperti yang Albert tuduhkan padanya.
"Lalu mengapa sejak tadi dia menangis, aku pusing mendengarnya."
Sumpah, sebenarnya Sandra ingin mengusir saja mertuanya. Dia bukannya membantu malah membuatnya semakin emosi, dia fikir mengurus anak itu gampang?
"Aku tidak tau Yah, biasanya Noah tidak pernah rewel seperti ini."
"Ya, sudahlah" Albert yang semula berdiri di tepi ranjang kini bergerak, "Biar aku saja yang menggendongnya."
Sandra bergeser membiarkan Albert meraih cucunya. Ia sedikit lega, Albert ternyata memiliki kesadaran untuk menolongnya.
Noah yang sedang menangis di timang-timang dan di bawa keluar kamar.
Sandra berbaring di atas ranjang, nafasnya menghela berkali-kali. Rasanya Sandra kelelahan sejak tadi mengurus Noah tanpa ada yang membantunya, Caroline sibuk dan Alkana belum pulang. Sandra juga tidak mau jika meminta tolong asistennya. Ia tidak mau merepotkan siapapun, walau ia lelah mengurus Noah ia akan melakukannya dengan senang hati. Noah anaknya, dan itu tanggung jawabnya sebagai seorang ibu siap atau tidak.
Tak lama kemudian, Sandra mendengar derap langkah mendekat. Sandra buru-buru bangkit.
Rupanya Albert yang masuk, ia datang sambil membawa Noah yang entah tadi diapakan oleh Albert, namun saat itu anaknya sudah tertidur.
"Dia rewel karena mengantuk, dia ingin kau menggendongnya. Bukan hanya berbaring saja, dia juga bosan" Albert berceloteh seraya meletakan Noah dalam box tepi ranjang "Begitu saja tidak tau, ibu yang payah" lanjut Albert.
Sandra hanya diam, baru tau kalau Noah sudah mulai nakal dan minta di gendong sebelum tidur. Padahal biasanya tidak sesusah itu. Lain kali ia akan mengingatnya dan tidak akan membuat Albert mengomel seperti ini.
Tapi, siapa sangka sekalipun Albert cerewet ia benar-benar berniat membantu, buktinya sekarang ia kembali setelah Noah tertidur. Sandra sangat bersyukur untuk itu, ternyata Albert perduli padanya.
Sandra mengamati Albert yang tengah membenarkan posisi tidur anaknya. Tak lupa ia mengecup kening Noah sekilas sambil menepuk pahanya penuh kasih sayang.
Tanpa Sadar Sandra tersenyum melihat itu, senang melihat kehadiran anaknya di terima oleh Albert. Bahkan Albert nampak begitu menyayangi cucunya.
Tapi... sebentar? Sandra tiba-tiba ingat apa kata Caroline. Dia bilang kalau Albert menerimanya karena ia melahirkan anak laki-laki, dan Albert sangat terobsesi dengan anak laki-laki. Lalu apakah seadainya yang ia lahirkan anak perempuan Albert tidak akan menerimanya?
"Ayah," Sandra memanggil Albert pelan, "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Albert melirik Sandra sekilas, "Apa?"
"Bagaimana kalau seandainya... aku melahirkan anak perempuan? apa... Ayah akan menerima ku?" Sandra bertanya gugup, sedikit tidak nyaman mengatakan itu tapi dia penasaran akan jawabannya.
"Oh, mengenai itu ya..." Albert berdiri tegak, tangannya memegang dagu, seolah sedang memikirkan jawabnya yang tepat.
Sandra menatapnya was-was, Sandra tidak berharap Albert berkata akan menerimanya dalam kondisi apapun hanya saja ia ingin Albert memberi jawaban yang tidak terlalu menyakitkan.
"Tentu saja, tidak" seloroh mertuanya, pupil Sandra sampai membulat karena terkejut.
Jawabannya tidak menyakitkan, tapi cukup menusuk. Sangat tidak sesuai dengan yang diharapkan.
"Oh," Sandra menunduk kecewa.
"Untuk apa kau bertanya?" Albert menatapnya suram, raut wajahnya berubah tak suka.
"Tidak papa, Ayah. Hanya ingin tau."
Albert mengangguk, "Kadang aku heran dengan wanita. Mengapa ia senang bertanya hal yang tidak terjadi. Kau tidak bersyukur sekali, harusnya kau jalani saja apa yang kau dapatkan saat ini, tidak perlu kau pusingkan bagaimana jika anakmu perempuan atau hal lainnya yang pentingkan sekarang aku sudah menerimamu?"
Sandra mengangguk, "Iya Ayah, maaf."p
"Tidak perlu minta maaf, aku hanya berkata. Aku juga tidak tersinggung dengan pertanyaanmu. Yah, sepenuhnya aku mengerti kebanyakan wanita memang seperti itu. Tapi ya... sudahlah" Albert berjalan memutari ranjang, "Lupakan saja. Aku ingin istirahat."
Setelah mengatakan itu Albert menghilang dari balik pintu.
Sandra kembali berbaring. Senang, mendengar Albert berkata begitu. Biarpun awalnya terdengar menyakitkan tapi kata-katanya ada benarnya. Kini Albert sudah menerimanya, dan seharusnya ia bersyukur bisa sampai disini.
Ya, untuk saat ini Sandra perlu banyak bersyukur. Semua yang berlalu memberinya banyak pelajaran, pelajaran tentang arti kesabaran, tentang bagaimana pentingnya kehadiran, tentang sebuah penerimaan dan yang paling penting adalah keberadaan keluarga.
Sandra bisa sampai disini karena ada Hema yang menguatkannya, Amira yang mendukungnya, Fany yang menemaninya dan Rena yang mengawasinya. Semua orang-orang itu memiliki peran penting dalam hidupnya. Sandra tidak tau bisa apa ia tanpa kehadiran keluarganya.
Sandra sering berhayal, seandainya dari dulu ia memaafkan ayahnya dan menerima Amira mungkin hidupnya tidak akan kacau. Nyatanya setelah memaafkan Hema hidupnya jauh lebih mudah.
Ya, keluarga. Hal sederhana yang Sandra impikan sejak dulu dan sekarang ia telah mendapatkannya. Ia tau keluarga hanyalah bagian terkecil dari sebuah negara, tapi bila semua keluarga hidup dengan harmonis niscaya negara tersebut akan sejahtera.
*********
Sandra perlahan membuka mata saat merasakan dekapan hangat terasa melilit pinggang diiringi helaan nafas yang terdengar menelisik indra pendengaran.
"Al?" Sandra memanggil, menyadari kini ada yang memeluknya dari belakang.
Tadi setelah Albert pergi Sandra langsung tertidur, dia sampai tidak tau kapan Alkana pulang.
"Ssst" Alkana menyuruhnya diam, "Noah masih tidur, jangan keras-keras" suaminya menjawab tak kalah pelan. Nampaknya Alkana belum terlelap.
Sandra memutar badan, menghadap Alkana menjadikan lengan suaminya sebagai alas tidur.
"Pulangnya udah dari tadi?" Sandra bertanya lirih, kepalanya sedikit mendongak menatap Alkana.
"Baru Lima belas menit yang lalu," Alkana sambil mengusap rambut istrinya.
Sandra bergumam, "Oh.... Terus kuliah kamu gimana?"
"Em," Alkana nampak berfikir, tangannya mulai bergerak memainkan rambut Sandra.
Hal baru yang Sandra sukai setelah mereka menikah adalah mendengar cerita Alkana. Lelaki yang super diam itu kini harus menyetor cerita sepulang dari kampus, dan siapa sangka akhir-akhir ini Alkana mulai terbiasa banyak berbicara dirumah apalagi kalau dengan istrinya.
"Tadi nggak ada apa-apa sih, biasa-biasa aja. Cuma ada beberapa tugas, tapi mungkin besok aku kerjain."
"Bener nggak ada apa-apa lagi?" Sandra kurang yakin.
"Ada, sebenarnya..."
"Apa?" Sandra memasang telinga lebar-lebar siap menjadi pendengar setia.
"Tadi ada cewek yang minta nomor HP gitu."
"Terus kamu kasih?" Sandra nyolot.
"Ya iyalah, masak nggak."
"Tuh kan," Sandra membrengut lalu memutar badan, "Udah punya anak punya istri juga masih keganjenan."
Sandra menggerutu, kesal Alkana begitu mudah memberi nomor ponselnya pada orang asing. Sayangnya Sandra tidak di sana dan tidak tau siapa wanita itu, seandainya dia tau pasti Sandra sudah melabrak wanita tak tau diri itu, yang tidak tau malu menggoda lelaki beristri.
"Ya mau gimana lagi, aku kan harus ikut grup teman-teman se-lokal. Masak kasih nomor aja nggak boleh... ntar kalau ada informasi apa-apa aku nggak tau."
Sandra menghela nafas, kalau untuk grup di kampus kenapa Alkana harus berkata seolah-olah ada wanita yang menggodanya?
"Beneran, cuma karena itu?" Sandra melirik Alkana dibelakang.
"Iya sayang, emang apa lagi?" Alkana bergerak merapatkan jaraknya dengan Sandra, "Aku kan udah punya kamu, buat apa cari yang lain. Lagian nggak mungkin tiba-tiba aku suka sama orang lain, nanti istriku yang cantik ini gimana?"
Sandra tersenyum, kepalanya mengangguk pelan.
"Udah banyak yang kita lewatin sama-sama, sayang." Sandra dapat merasakan Alkana mengusap rambutnya, "Aku nggak mau semuanya percuma. Apa yang kita impikan selama ini juga udah terwujud, dan aku bahagia bisa hidup sama kamu" dekapan tangan Alkana mengerat, sampai hembusan nafas Alkana terasa hangat di belakang leher.
"Aku bersyukur punya kamu, punya Noah dan orang lain nggak akan ada yang bisa gantiin semua itu."
"Al," Sandra menyentuh lengan kekar yang melingkar di perutnya, "Maaf, ya? harusnya aku percaya sama kamu."
"Aku ngerti kok" Alkana mengecup pucuk rambut Sandra sekilas, "Aku tau kamu khawatir, tapi kamu tenang aja. Nggak ada yang lebih cantik dari kamu, nggak ada yang lebih bawel dari istriku dan nggak ada yang lebih baik dari ibunya Noah."
Sandra membalik badan dengan bibir merekah.
"Kamu adalah awal dan akhirku, Ra?"
Mendengar itu Sandra lalu mendekap suaminya. Seharusnya dia percaya, bahkan sejak pertama kali Alkana mengucapkan sumpahnya pada Tuhan untuk menjaganya. Lelaki misterius yang pernah mempunyai kehidupan kelam itu nyatanya sudah benar-benar menepati Janjinya.
"Makasih, Al. Kamu juga yang terbaik, dan bagiku kamu istimewa."
Alkana menarik sudut bibirnya keatas lalu mengecup bibir pink wanitanya. "Jadi sekarang udah beneran percaya?"
Sandra mengangguk pasti.
"Nggak akan curigaan lagi?"
"Mungkin... masih."
"Lah, barusan tadi bilang katanya udah percaya?"
"Curiga nggak papa, yang penting kan aku nggak nuduh?"
Alkana menghela nafas, "Ya udah lah" tangannya menggapai Sandra, memeluknya erat. Alkana mengalah saja, asalkan istri tercintanya senang.
Disisi lain kadang Sandra iri melihat Alkana kuliah sementara ia dirumah mengurus Noah. Sebenarnya ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya ke kampus dan bertemu teman-teman baru. Sayangnya ia harus menunda dulu untuk merasakan itu, mungkin tahun depan ia akan mulai merancang untuk kuliah dan sebelunya ia perlu mengambil ujian paket C.
"Sayang," Alkana kembali bergumam setelah diam beberapa saat, "Masih ingat nggak waktu pertama kali kamu ngilang?"
"Kapan?" Sandra sedikit mendongak, ingin menatap suaminya lebih leluasa.
"Waktu kamu nggak sekolah karena kaki kamu kena pecahan gelas."
"Oh, itu. Iya ingat.. kenapa?"
"Itu saat pertama kali aku ngerasa cemas karena kamu," Alkana sambil menerawang jauh, seolah mencoba mengingat kejadian itu. "Aku ngrasa bersalah, aku ngrasa takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku khawatir banget kamu kenapa-kenapa."
Sandra tidak tau apa yang membuat Alkana tiba-tiba membahas masa lalu, tapi dia senang Alkana mau menceritakan apa yang pernah dia rasakan tanpa perlu memintanya.
"Saat itu mungkin juga saat pertama kali aku suka sama kamu. Aku nggak tau kenapa? tapi sekeras apapun aku berusaha untuk menahan diri, aku tetap nggak bisa buat nggak jatuh cinta sama kamu. Aku fikir, selama ini aku yang memegang kendali penuh atas diriku, ternyata nggak. Perasaan nggak bisa di atur, dan kamulah alasannya."
"Dan setelah aku cinta sama kamu, aku selalu memikirkan perasaan ku sendiri. Sampai aku punya keinginan buat milikin kamu seutuhnya dengan cara yang mungkin nggak seharusnya kita lakuin. Ra, maafin aku ya?" Alkana menyelipkan tangannya pada tengkuk wanitanya, diiringi tatapan tulus penuh sesal.
Terkadang cinta memang membutakan, membuat manusia begitu egois hingga menghalalkan segala cara untuk memilikinya. Seandainya ia sedikit lebih dewasa ia pasti tidak akan pernah mengatas namakan cinta untuk kepentingan yang sesat.
"Maafin aku karena bikin kamu menderita. Mungkin kalau aku tau cara yang benar buat mencintai kamu, kamu nggak akan hidup susah?"
"Al" Sandra balas menatap suaminya, "Buat apa kamu minta maaf? kamu udah tanggung jawab, dan itu cukup. Aku bahagia sama kamu sekarang, Al."
Tatapan itu, tatapan penuh keyakinan yang membuat Alkana senang sekaligus lega mendengarnya.
Untuk saat ini semuanya masih terasa indah, cerah, ceria dan penuh kebahagiaan, dan keduanya menikmati itu. Mereka akan menantikan ketika salah satunya akan menjadi sangat menyebalkan, atau bahkan dua duanya. Saat mereka berbeda pendapat, saat mereka tak saling sejalan. Sepenuhnya mereka menyadari, saat saat seperti itu akan tiba, cepat atau lambat. Mereka hanya perlu berjalan melaluinya siap atau tidak. Kedewasaan menjadi penentu jalan yang telah mereka pilih.
Mereka menyadari, bahwa perjalanan yang harus mereka tempuh masih sangat panjang, biarpun masih terlalu dini mereka harus tetap melewatinya sebab itulah pilihannya.
...******* TAMAT******...
...Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada Tuhan yang Maha Esa, dan pada teman-teman terdekat yang terus mendukung saya untuk terus berkarya....
...Selain itu juga untuk para readers, yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan memberi like, vote serta berkomentar. Sekecil apapun dukungan kalian saya ucapkan terimakasih, sebanyak-banyaknya....
...Tanpa kalian novel ini nggak ada apa apanya....
...Mohon maaf untuk setiap dosa yang saya tulis, saya hanya manusia biasa yang masih harus banyak belajar....