
Tok... tok... tok...
Sandra mengetuk daun pintu kamar Alkana. Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 tapi Alkana belum juga menampakan batang hidungnya membuat Sandra terheran, dan ahirnya memilih menemui lelaki itu di kamarnya. Hari ini memang libur tapi apa harus sesiang itu Alkana bangun?
Sebelumnya Sandra sudah masak, menyuci, dan bersih bersih rumah yang sepertinya tidak pernah di bersihkan setengah abad. Sampai banyak sarang spiderman dimana-nama dan Sandra sangat lelah sekarang. Meskipun Sandra tidak sendirian, ia dibantu oleh mbak Iren assistant di rumahnya.
Sandra sengaja menyuruh mbak Iren agar membantunya karena ia pasti kualahan jika membersihkan rumah sebesar itu sendirian. Mbak Iren lansung pulang setelah Sandra memberinya imbalan. Tak lupa Sandra juga menyuruh Asistennya tutup mulut tentang keberadaanya, untung pembantunya itu menurut saja.
"Al...!" pekik Sandra, "lo udah bangun belum sih?"
Tok... tok... tok...
Sandra mengetuk pintu itu berulang namun pemilik kamar tak jua menyahut. Penasaran dengan apa yang terjadi Sandra ahirnya memutuskan untuk masuk, dan kebetulan pintunya tidak dikunci.
"Al..." panggilnya seraya melangkah, pupilnya bergerak kesana kemari mencari seseorang.
Kamar Alkana cukup luas sehingga Sandra tidak langsung menemukannya.
"Al..." Sandra melangkah gesit menuju ranjang begitu melihat ternyata Alkana masih berbaring di kasur.
"Lo sakit?"
Alkana diam dengan tubuh masih tenggelam dalam selimut. Sebenarnya Alkana sudah bangun ia hanya tidak bisa bangkit karena demam.
Sandra menempelkan punggung tangannya pada dahi. Perlahan lelaki itu membuka mata menatap siapa gerangan pemilik tangan mungil yang berani menyentuhnya.
"Badan lo panas" Sandra mulai panik dengan tangan beralih pada leher.
"Lo demam, gue kompres ya?" katanya dengan nada cemas.
"Nggak usah" sahut Alkana lalu menarih selimut dan kembali terpejam.
Sandra bangkit lalu bergegas keluar kamar. Tak lama berselang Alkana mendengar suara jerit pintu di iringi derap kaki yang melangkah mendekat.
Alkana membuka nertra birunya ketika merasa ada yang duduk di kasur.
"Lo mau ngapain?" Alkana menatap bingung pada gadis yang tengah sibuk dengan mangkuk bawaanya. Tanganya nampak memeras handuk kecil yang di basahi dengan air hangat.
"Sini gue kompres" Sandra meletakan handuk mungil di kening Alkana, "biar panas badan lo turun."
Alkana hanya diam pasrah dengan apa yang di lakukan gadis itu, toh selama ini tidak ada yang mengurusnya. Jika sakit biasanya ia minum obat atau Jery yang mengantarnya ke klinik dan ini pertama kalinya ada yang mengurusnya setelah ia berpisah lama dengan ibunya.
Sandra mengusap rambut Alkana yang menutupi kening, bila perlu Sandra mengusap pucuk kepalanya dan menekan kompres agar menyerap panas lebih banyak.
Gadis itu tersenyum melihat Alkana menatapnya dengan sorot tajam meski ia tidak mengerti apa artinya. Sesekali Sandra mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya, sungguh sebenarnya ia lelah hari ini tapi demi Alkana ia rela. Ralat, demi misinya. Sandra rela meluangkan waktunya untuk merawat Alkana dan ini merupakan awal perjuangannya.
Setelah handuk di tanganya terasa dingin Sandra mencelupkan handuk itu pada mangkuk dan memerasnya kemudian di letakkan lagi pada dahi Alkana, begitu seterusnya. Sampai panas lelaki itu turun.
***
Alkana mengerjab ketika merasakan hembusan angin masuk kesela kamarnya. Sebelumya jendela kamar itu tak pernah terbuka, tapi entah kerena apa Sandra membuka semua pintu itu membiarkan semilir angin memenuhi seisi kamar, membebaskan hordeng di kamarnya menari nari seirama dengan nyanyian angin.
Lelaki itu bangkit lalu menyibak selimutnya, ia merasa lebih baik. Tubuhnya berkeringat dan terasa lebih ringan sekarang tidak seperti beberapa jam yang lalu. Sebelum kakinya turun menginjak lantai Alkana melihat daun pintu kamarnya terbuka. Dari balik pintu munculah seorang gadis yang sudah pasti adalah Sandra. Dia datang membawa sebuah nampan berisi makanan lengkap dengan air minum.
Alis Alkana berpaut heran, hari ini Sandra seolah mempunyai indra keenam yang tau apa yang ia butuhkan. Selain karena gerah Alkana bangun karena lapar.
"Al mau kemana, jangan banyak gerak kan masih sakit?" Sandra sambil meletakan nampanya di atas nakas.
Lelaki itu diam saja dan tetap bergeming.
"Al..." panggil Sandra lemah lumbut seolah menginginkan agar lelaki itu menurutinya.
"Mau ke toilet," jawabnya. "Mau ikut?"
Sandra merasa pipinya merona, malu. 'Yang benar saja ia ikut ke toilet?'
"Eh enggak" ucapnya lalu nyengir.
Alkana melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Tak lama kemudian Alkana keluar dengan handuk mengalung di leher seraya mengusap wajahnya. Namun Sandra tiba-tiba menjerit saat melihat Alkana bertelanjang dada.
"Aaaa...!" pekiknya sambil menutup mata.
Alkana mengabaikan keterkejutan gadis berkucir kuda itu dan berjalan kearah lemari, toh Sandra pernah melihat lebih dari itu.
Selesai memakai baju Alkana mendekati pacarnya yang masih menangkupkan tanganya menutupi wajah.
"Lebay... " Alkana mentonyor jidatnya.
Sandra lalu mengintip di sela jemari memastikan jika lelaki itu sudah memakai baju.
"Eh.. udah tah" Sandra nyengir lucu membuat bibir Alkana sedikit tertarik keatas, sedikit.
Alkana meraih ponselnya di nakas dengan tangan menyusup kesela rambut dan mengarahkan kebelakang. Sepertinya ia perlu pergi ke tukang cukur karena pucuk rambutnya sudah panjang melewati alis.
"Al, mau kemana? makan dulu" Sandra mengekori lelaki itu yang berjalan keluar kamar sambil membawa nampannya.
"Mau ke..." ucapannya terhenti saat menoleh dan melihat Sandra membawa yang ia cari "Mau minum" katanya.
"Nih," Sandra menawarkan minumannya seraya tersenyum ceria.
Alkana meraih gelas itu dan meneguknya sampai tinggal setengah, ia mengembalikan lagi pada tempatnya dan tak lupa mencuri pandang gadis itu. Alkana merasa mempunyai kebiasaan baru sekarang yaitu senang melihat gadis itu tersenyum, lebih tepatnya seperti sekarang tersenyum ceria.
"Sini duduk dulu," Sandra melangkah mendekati kasur. Meletakan nampanya di sana lalu beralih pada Alkana dan menarik lengannya "makan dulu Al, gue tau lo pasti laparkan?"
Alkana menatap kekasihnya datar tanpa berniat menyahut.
"Gue udah masakin makanan kesukaan lo, lo sukakan? cobain deh?"
"Makanan kesukaan?" ralat Alkana sambil melirik sop ayam dalam mangkuk yang lebih terlihat banyak wortel dan kubis dari pada ayam atau kuah. Oh shit, itu sama sekali bukan makanan kesukaannya, Sandra sok tau.
"Iya, cobain makanya. Apa mau gue suapin?" Sandra menawarkan diri.
Ok Alkana lapar dan biasanya ia tidak pernah pilih pilih makanan tapi entah mengapa melihat bentuk masakan sandra yang sudah mirip danau kekeringan membuatnya belgidik ngeri.
"Nggak ah" mimik wajahnya tak yakin jika makanan itu layak di makan.
"Enak Al serius, kalo nggak enak lo boleh jitak kepala gue" ujar gadis itu yakin, "sini gue suapin" katanya lalu memangku baki dan menyendokan nasinya.
"Oke" Alkana bersemangat, entah karena apa ia jadi bernafsu ingin menjitak gadis itu.
"Tapi jangan makanannya enak lo bilang nggak enak ya?"
"Enak menurut lo belum tentu enak menurut gue."
Sandra mencebikan bibir, merasa di bodohi.
"Yaudah deh terserah yang penting lo makan" Sandra menyerah, Apapun akan ia lakukan untuk menyenangkan lelaki itu.
Alkana membuka mulutnya saat Sandra menyuapakan nasi beserta potongan wortel dan kubis sambil berdo'a dalam hati semoga makanan itu tidak mengecewakan lidahnya.
Beberapa saat kemudian. "Gimana?" Sandra menatap Alkana berbinar, "Enak kan?"
Alkana mengangguk, "Lumayan."
Seulas senyum yang semula melebar kini memudar. 'Lumayan?' sederhana tapi terdengar menyebalkan. Alkana tidak pernah berkata terus terang, pasti kata itu yang menjadi andalannya.
"Lumayan doang" Sandra lalu cembetut.
"Iya enak."
Sandra terbelalak, "Serius enak?"
Alkana tidak menjawab malah mengalihkan pandangannya kelain arah. Ekpresi Sandra membuatnya ingin tersenyum tapi ia tahan.
"Kalau gitu habisin ya, udah gitu minum obat?" Sandra semakin percaya diri dan beremangat menyuapi Alkana. 'Nggak sia-sia gue bangun jam empat subuh' gumamnya dalam hati.
***
Pukul 15.00 setelah sandra bangun tidur dia melangkah menuruni tangga. Pandangannya langsung tertuju pada lelaki tampan yang kini tengah duduk di sofa seraya menonton acara favoritnya, filem action. Sandra lalu berinisiatif mengambil cemilan di dapur.
Selain membersihkan rumah dan memasak tadi pagi pagi sekali Sandra juga sempat mengajak asistenya berbelanja kebutuhan, termasuk makanan ringan.
Alkana menengok kearah pemilik derap kaki yang mendekatinya.
"Udah sembuh ya?" Sandra berjalan mengitari kursi lalu duduk di sofa yang sama dengan Alkana.
'Apa lagi yang akan dilakukan gadis ini' pikir Alkana seraya menatap Sandra datar.
Sandra membuka snack Qtela berukuran jumbo di tangannya, mengambil satu dan menyuapkan kedalam mulutnya.
Kress... kress... kress...
Dari suaranya sudah pasti keripik singkong itu sangat renyah, sayang Sandra nampaknya tidak berniat menawarkan cemilan itu pada pacarnya malah asik menikmatinya sendiri.
Alkana memutar bola matanya, mengerti jika gadis itu hanya pamer. Mungkin ia sengaja memancing Alkana agar memberinya salah satu dari snack yang ia bawa tapi seorang Alkana tidak akan pernah memintanya.
"Mau...?" Sandra mengacungkan cemilan itu tapi lelaki itu hanya meliriknya tanpa bersuara.
Sandra sudah memakan sebagian dari makanan itu mengapa baru sekarang ingat untuk menawarinya, ia jadi tidak yakin.
"Nggak mau ya udah" Sandra menarik lagi makanan yang tadi ia sodorkan lalu menatap layap televisi.
Alkana menggeleng, tidak mengerti dengan sikapnya.
"Kata nyokap gue kalau orang lagi sakit nggak boleh makan snack. Jadi kalau mau ngemil cemilanya ya buah." Sandra seraya melirik lelaki itu yang menatapnya tidak setuju.
"Misalnya buah jeruk, buah semangka strawberry, kelapa atau buah buahan lain yang mengandung banyak air. Katanya biar cepet sehat, gitu?"
Dan Sandra menyesal telah berkata seperti itu karena lelakinya hanya melengos.
"Di kasih tau juga, nggak percaya."
Sandra mengalihkan pandangannya lalu fokus pada layar televisi sedangkan tangannya masih terus bergerak menyuapkan keripik singkong kedalam mulutnya.
"Ra...!"
"Hm." Sandra menoleh mendengar panggilan Alkana.
Entah karena apa tiba-tiba lelaki itu mendekat lalu menarik tengkuknya. Sandra tergeragap tak percaya, lelaki itu akan menciumnya.
Kresss..
Suara itu menyadarkan dirinya atas pikiran kotor yang sempat mengendap di kepala.
Kenyataanya tadi Alkana menggigit snack yang ada di mulutnya lalu menarik diri. Ia sukses membuat pipi gadis itu merona.
Gadis itu menghela nafas, dia pernah melakukan yang lebih dari ini tapi entah mengapa rasanya tetap saja mendebarkan jika berada dalam jarak terlalu dekat Alkana.
Sandra mulai lagi memasukan makanan itu kedalam mulutnya setelah beberapa detik terdiam kaku.
Alkana yang masih bersandar di sofa hanya mengulum senyumannya. Yang menarik perhatian Alkana bukanlah snack di mulutya tapi bibirnya. Makanan itu hanya alibi agar ia bisa meluruskan maksudnya.
Tanpa sadar beberapa kali lidah gadis itu menjulur menjilati sisa sisa bumbu di bibirnya, membuat Alkana gemas.
Dan lagi, gadis itu mengulangi perbuatannya seolah memancing Alkana. Ralat mungkin Sandra tidak memancing Alkana saja yang tidak tahan melihatnya.
Kini Alkana merangkul pundak gadis itu dan dengan bodohnya Sandra hanya menoleh menatap Alkana tidak mengerti, tanpa pikir panjang Alkana langsung meluncurkan serangannya.
Satu tangan Alkana beralih mengalung di leher, sedang tangan satunya menahan tengkuk gadis itu seakan memaksanya untuk tidak berpaling.
Cup.
Bibirnya mendarat tapat sasaran dan kali ini Alkana tidak akan melepas gadis itu, tidak akan. Jangan salahkan Alkana karena gadis itu yang memancingnya.
Anehnya jika lelaki itu menyentuhnya Sandra hanya pasrah. Sandra selalu merasa terhipnotis dengan sentuhan lelaki itu. Alkana terlalu mahir dalam hal ini.
Sandra terpejam, tidak perduli lagi kemana cemilan yang tadi ia pegang. Keduanya lengannya kini sudah mengerat memeluk Alkana bahkan ia tidak sadar kapan kecupan itu mulai beralih pada leher.
"Shhh..."
Sandra merasa geli ketika bibir sexy lelaki itu mengigit kecil kecil telinganya, memberi kecupan singkat lalu menyusuri leher jenjangnya.
Keduanya tak bisa menahan diri dan Alkana akan menuntaskan keinginanya.
Drrrt... drrt...
Sandra tersadar saat mendengar suara ponsel Alkana berdering lalu memberi jarak pada tubuhnya.
"Biarin," kata Alkana yang kemudian menyerangnya lagi.
Sandra kini berbaring di sofa dengan Alkana yang menindih tubuhnya dan tak henti memberinya kecupan.
Drrrt... drrt...
Shit, ponsel sialan itu berbunyi lagi. Dan lagi-lagi Alkana mengabaikannya.
Alkana tidak perduli siapa orang itu, ia hanya ingin menyelesaikan kegiatannya. Lagi pula sore hari adalah waktu yang tepat untuk bercinta bukan?
Tangannya mulai menyelip kesela baju menggrayangi tubuh mulus gadis itu. Sandra menggigit bibir bawahnya ia merasa sudah gila karena pasrah dengan lelaki itu. Ia seakan terus berharap lebih agar segera mencapai puncaknya dimana ada yang meledak-ledak pada inti tubuhnya, dia bener-benar sudah gila.
Bersamaan dengan itu keduanya mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Jika sudah begini terpaksa Alkana menghentikan kegiatannya.
Ia tau siapa orang yang berani memencet bel rumahnya sekaligus menelponya di sore hari.
"Pasti wanita itu?"
***