NEVER

NEVER
I Love You Sandra



    CALVIN beranjak dari kursi begitu juga dengan Sandra. Tidak hanya itu Calvin juga merangkul pundak gadis di sampingnya, dan nampaknya Sandra tidak keberatan dengan keberadaan lengan kekar Calvin.


Alkana yang masih berdiri di sana jelas tidak bisa membiarkan itu terjadi dan tanpa basa basi Alkana langsung menarik lengan kekasihnya.


"Pulang sekarang!" bentak Alkana dan hanya dalam sekejap mampu membuat Sandra berpindah di pelukannya.


Memangnya siapa di dunia ini yang rela melihat gadis yang kita cintai tidur dengan Pria lain? jika ada, perlu di periksa kesehatan jiwanya.


"Al, lepas nggak?" Sandra tidak sudi ikut dengan lelaki itu.


"Emang lo siapa!" tanya Calvin, ia tidak tau apa yang membuat lelaki itu sangat marah.


"Gue pacarnya" jawab Alkana lantang. "Lo siapa!!!"


"Pacar?" ralat Calvin dengan satu alis terangkat seolah tidak percaya.


"Berani lo nyentuh dia gue jamin lo nggak bisa lihat matahari besok!" balas Alkana tanpa perduli jika sejak tadi ia tengah di perhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.


"Pulang sekarang!" Alkana menarik paksa pergelangan Sandra dan membawanya keluar dari tempat itu.


Plakk...


Baru saja Alkana sampai di depan mobilnya tapi tamparan panas itu yang ia dapatkan.


"Gampang banget ya lo ngaku-ngaku kalau kita pacaran. Lo pikir lo siapa!!!" ucap Sandra geram.


Kini Alkana yang di buat bingung. Cowok itu sangat yakin jika selama ini yang ia jalani dengan Sandra sama layaknya sepasang kekasih tapi mengapa Sandra berkata ia mengaku-ngaku.


"Maksud lo apa, bukannya selama ini kita emang pacaran?"


"Gue nggak sudi pacaran sama cowok murahan kayak lo!" ketus gadis itu lalu melangkah pergi.


"Sandra!" Alkana mengikuti langkah gadisnya.


"Sandra, salah gue apa?" Alkana berhasil mencekal lengan gadis itu.


"Lepas...." Sandra merintih, pergelangannya terasa sakit gara-gara Alkana.


"Harusnya gue yang marah karena lo nggak hubungin gue dan lo malah berduaan sama orang asing itu!" Alkana seraya membawa Sandra menuju mobilnya.


Sandra berhenti lalu berkata. "Terus gimana sama gue yang dari awal lihat lo peluk-pelukan sama perempuan itu. Dan di saat ada yang deketin gue, dengan gampangnya lo bilang gue pacar lo. Waktu lo pelukan sama cewek itu apa lo nggak sadar kalau lo punya pacar. Hahh!!!"


Alkana diam beberapa saat, ia baru sadar dimana letak kesalahannya. Pantas Sandra sangat marah, ia pasti sudah berpikir macam-macam padanya.


"Ra, So-sorry gue...."


"Selama ini lo jadiin gue pacar buat kepentingan lo sendiri kan. Dan lo nggak pernah mikirin gimana perasaan gue!"


"Ra... bukan gitu maksud gue."


Alkana tidak tau jika akan seperti ini jadinya, ia sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti Sandra. Ia hanya terlalu cemburu melihat gadis itu bersama lelaki lain.


"Gue capek Al...." Sandra menunduk sambil menangis dengan tubuh yang bersandar pada mobil Alkana.


"Gue capek sama permainan lo, gue mau kita putus" lanjutnya, entah ia sadar atau tidak.


Alkana menggeleng cepat. Gadis itu sudah berhasil membuatnya jatuh cinta, tapi sekarang dengan mudahnya ia meminta berpisah. Itu tidak mungkin terjadi, Sandra sudah masuk dalam hidupnya dan Alkana tidak akan membiarkan Sandra pergi tidak akan pernah.


Alkana mendekat lalu memeluk gadisnya. "Ra maafin gue... Maafin gue yang nggak bisa ngerti gimana perasaan lo." Alkana membelai lembut rambut gadis itu. "Kita mulai semuanya dari awal ya?"


Sandra menggeleng dengan posisi masih menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Alkana.


"Percuma Al, hubungan ini cuma nyakitin gue, hubungan kita nggak ada gunanya" ucapnya di sela tangisan.


"Ra?" Alkana memberi jarak pada tubuhnya lalu menatap Sandra intens.


"Gue serius waktu gue bilang, gue butuh lo. Dan gue juga serius waktu gue bilang, gue mau lo tetap sama gue. Gue nggak pernah main-main sama hubungan kita Ra."


Detak jantung yang semula melemah kini berdebar lebih cepat. Terlebih disaat Sandra menatap kedalam mata Alkana yang seakan mampu membuat jantungnya melompat keluar.


Alkana menangkupkan kedua tangannya pada pipi gadis itu, sambil mengusap lembut wajah cantiknya.


"Kita mulai lagi dari awal ya" Suara halus itu terdengar tulus, begitu juga dengan tatap matanya yang penuh kesungguhan.


"Please Ra, kasih gue kesempatan. Gue akan perbaiki semuanya" Alkana setengah memohon.


"Kenapa?" Sandra menitikan air matanya. Ia sudah berusahan menahannya tapi cairan bening itu tetap mengalir. "Kenapa gue harus percaya sama lo?"


"Karena kita punya perasaan yang sama, gue cinta sama lo."


Sandra terpaku mendengar itu, ia tidak percaya Alkana mengakui perasaannya. Sandra pikir perasaan Alkana padanya hanya fantasi yang ia ciptakan sendiri tapi ternyata bukan, itu adalah sebuah kebenaran.


Alkana tersenyum melihat keterkejutan gadis itu lalu dengan lembut mengusap air matanya.


"I love you Sandra" katanya lagi.


'Alkana i love you too'


***


          Alkana tidak percaya saat Sandra berkata ia akan kembali kerumahnya. Tapi begitu melihat sebuah koper bertengger manis di tepi ranjang ia baru percaya.


"Jadi beneran balik lagi?" Alkana seraya melangkah mendekati koper itu.


"Iya dong" Sandra menutup pintu kamarnya lalu mengikuti Alkana, "Boleh kan?"


"Boleh..." Alkana melirik gadisnya. "boleh banget" lanjutnya.


Senyuman gadis itu kembali merekah kemudian Sandra menghambur dalam dekapan Alkana. Entah mengapa malam ini ia ingin selalu berada dalam pelukan Alkana, mungkin itu evek karena ia sedang bahagia atau entahlah. Yang jelas Sandra senang karena Alkana mau mengakui perasaannya.


"Apa Reza nggak marah?" tanya Alkana.


Sebelumnya Sandra sudah menceritakan semuanya, mengenai alasan mengapa ia bisa kembali lagi kerumah Alkana dan untunglah pacar satu-satunya itu bisa mengerti.


Sandra menggeleng, "Nggak kayaknya."


"Yakin?"


Sandra mengangguk, yakin.


Saat Reza mengantarnya tadi Sandra sengaja minta di antar di rumah Kanaya, tapi begitu Reza pergi Sandra langsung memesan taxi online untuk mengantarnya ke rumah Alkana. Sandra tidak mau Reza mengetahui keberadaannya.


Alkana tersenyum lalu mengeratkan pelukannya, begitu juga dengan Sandra yang tak ingin lepas seolah sedang mengobati rindunya. Padahal hari ini ia hanya berpisah beberapa jam.


"Ra?" bisik Alkana dengan suara halus.


"Hm."


"Udah malam, tidur ya."


Sandra menggeleng dengan bibir mengerucut. "Masih kangen" katanya manja.


Alkana seolah mengerti dengan keinginan gadisnya. Ia lalu memberi jarak pada tubuhnya.


"Beneran?" tanyanya sambil memandang wajah cantik gadis itu.


"Hm'm."


Alkana yang masih berdiri lalu menuntun Sandra kearah kasur dan merebahkan tubuhnya.


Sandra mengerjap ketika Alkana berada di atasnya dengan keduan tangan menahan pergelangannya di atas kepala. Kakinya yang menggantung di bawah di apit oleh Alkana menggunakan lutut sehingga ia tak bisa berkutik.


Sandra mempunyai firasat buruk akan hal ini.


"Kangen sama apanya?" tanya Alkana dengan tatapan menyorot tajam.


Pupil gadis itu bergerak kesana kemari memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan itu.


"Umm...."


Itu bukan pertanyaan yang sulit tapi di saat terhimpit seperti ini membuat otaknya tidak bekerja dengan benar.


Cup.


Sandra memejamkan matanya kala bibir mungil itu mengecup bibirnya dan membukanya lagi setelah Alkana menarik diri. Perbuatan Alkana hanya mengacaukan konsentrasinya. Lihat saja, kini Sandra hanya terpaku dan memandangi Alkana dari bawah dengan rona pipi memerah.


Alkana tersenyum simpul melihat gadis itu memasang wajah memerah. Hanya dengan sekali kecupan Sandra sudah terlihat lemah. Sepertinya gadis itu memang menginginkan sentuhan darinya dan dengan senang hati Alkana akan melakukannya.


Alkana mulai lagi menipiskan jarak bibirnya tapi belum sampai mendarat Sandra bersuara.


"Al, ma-mau ngapain?"


Bibir sexy lelaki itu tersenyum lagi, Alkana pikir Sandra sudah mengerti keinginannya tapi dengan polosnya ia masih bertanya.


"Gue mau bawa lo ke suatu tempat."


Sandra diam seraya berfikir. Saat ini ia sedang berada di kamarnya bersama Alkana dan jika memang Alkana ingin mengajaknya pergi mengapa ia tidak menyuruhnya segera berkemas.


"Suatu tempat?" tanyanya bingung.


Alkana mengangguk, "Iya... dan di tempat itu hanya ada kita berdua."


Dan dengan bodohnya Sandra masih bertanya. "Dimana???"


***


Thanks buat yang sudah like...😊