NEVER

NEVER
Gadis Bodoh




...Jangan lupa siapkan tissue!!!...


...Kali aja waktu baca kalian ngiler, hehe.....


...***...


Sandra menghela nafas panjang, meloloskan sesuatu yang sesak dan mengganjal di tenggorokan. Sejak tadi malam hingga menjelang pagi Sandra terus memikirkan bagaimana jika Albert tidak menerimanya. Sandra takut, cemas, khawatir juga belum siap menghadapi calon mertuanya.


Belum lagi saat sekelabat bayangan jika Alkana meninggalkannya mulai memenuhi kepala, membuat Sandra semakin gelisah. Ia tidak tenang jika terus menurus di hantui perasaan seperti ini. Mungkin ia harus melakukan sesuatu, tapi apa?


"Jadi hari ini telurnya mau di dadar apa di ceplok mbak?" tanya Yani.


Sandra terperanggah terkejut. "Hah? Ya apa?" ia seketika sadar kalau sedang berada di meja makan.


Bukannya mengulang pertanyaannya Yani malah mengomel. "Kebiasaan, nggak mas Alkana nggak mbak Sandra kalau nglamun sukannya di dapur."


"Terserah mbak ajalah," Sandra bergeming dari kursi berlalu menuju kamar Alkana. Sedang malas membuang energi sia-sia untuk meladeni Yani, si asisten rempong itu. Lebih baik ia menemui Alkana yang mungkin bisa membuatnya lebih semangat menjalani hari.


Pagi pagi sekali Sandra memang sudah datang di rumah Alkana, sepenuhnya Sandra tidak lupa jika hari ini ia harus USG. Namun sialnya yang lebih mengisi otaknya bukanlah rasa penasaran tentang bagaimana bayinya melainkan Albert. Kedatangan orang tua Alkana yang satu itu benar-benar menyita seluruh pemikiran. Padahal seharusnya satu bulan lagi Albert datang. Sandra tidak tau apa yang membuat Albert mempercepat waktunya tanpa melihat keadaan. Sandra tidak nyaman dengan itu, Sandra takut Albert membawa Alkana sebelum mereka sempat menikah.


Begitu tiba di kamar Alkana, Sandra menyibak tirai hordeng membiarkan cahaya mentari masuk melalui sela jendela kaca. Alkana yang masih terbaring di kasur berukuran king size hanya menggeliat, Sandra meliriknya seraya menggeleng singkat.


Mengetahui Alkana sepertinya masih mengantuk Sandra membiarkannya, mungkin Alkana lelah karena semalam. Entah teman-temannya pulang pukul berapa, sebab ketika Alkana mengantar Sandra pulang masih ada beberapa orang yang masih stay di rumah Alkana.


Sandra berdiri di depan jendela, tatapannya menyapu keluar ruangan mengamati beberapa tanaman bunga yang menari-nari tertiup angin. Sinar matahari yang masih mengintip di garis bumi perlahan memancarkan cahayanya. Pagi yang cerah, namun tak secerah suasana hati Sandra saat ini.


"Sayang..." Sandra terhenyak saat mendengar suara khas bangun tidur di ikuti dekapan hangat merengkuh tubuhnya dari belakang, hingga tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.


"Kenapa nggak bangunin? nungguin dari tadi ya?" Alkana bergumam dengan dagu menempel pada pundak.


"Nggak papa, lagian aku tau kamu pasti capek."


Alkana menggeleng, "Nggak akan pernah capek buat kamu."


Sudut bibirnya kembali tertarik, "Makasih ya." katanya sambil meremat lengan kekar yang melingkar pada leher.


"Aku mandi dulu, tunggu sebentar ya" Alkana menurunkan tanganya lalu berjalan menuju tempat dimana handuknya berada, menyampirkannya di pundak. Sebelum memasuki kamar mandi Alkana menyempatkan diri mendekati Sandra sambil berkata.


"Morning kiss..."


Mendengar itu Sandra memasang badan, siap menyambut kecupan manis dari Alkana.


Cup.


Sayangnya di detik selanjutnya Sandra membrengut, Alkana tidak mencium pipi, dahi atau bibirnya melainkan perut.


Alkana tersenyum, lucu melihat ekspresi tunangannya yang berubah kesal. "Buat dedek bayinya dulu, kalau ibunya nanti habis mandi."


Setelah mengatakan itu Alkana menghilang dari balik pintu, tidak perduli jika Sandra menatapnya kesal bertubi-tubi.


***


      Keduanya menuruni anak tangga dengan hati hati untuk menuju meja makan. Sebelum berangkat ke klinik mereka menyempatkan diri terlebih dahulu untuk sarapan sambil menunggu kedatangan Fany.


Seharusnya mereka turun setengah jam yang lalu, tapi karena Alkana menepati janjinya untuk memberi morning kiss mereka harus mengulur waktu lebih lama. Namun siapa sangka, kecupan Alkana jauh membuat Sandra lebih tenang daripada sebelumnya. Dan gara gara kecupan Alkana detak jantungnya sampai saat ini masih berdebar kencang. Mungkin Alkana bisa mendengar betapa hebat getarannya.


"Sayang..." Alkana memanggil di sela langkahnya.


Sandra mendongak, "Hm."


"Masih kurang?"


Sandra melotot melihat Alkana tersenyum diiringi aura mesum. Jelas Sandra tidak kurang, sebab tadi Alkana menciumnya seperti tidak pernah bertemu selama satu tahun. Kelewat panas, Sandra sampai tidak di beri kesempatan untuk mengambil nafas.


Tangan Sandra kemudian bergerak mencubit lengan Alkana.


"Au!" Alkana menjerit.


"Al, sakit ya? maaf" Sandra mengusap lengan Alkana yang terbungkus kemeja putih kotak kotak, cemas bekas luka Alkana kembali menganga.


Alkana menyikap lengan kemejanya memperlihatkan lengan kekar yang nampak baik baik saja. "Lukanya kan sebelah kiri, yang di cubit sebelah kanan..." katanya, tanpa berdosa.


"Terus kenapa kesakitan?" tatapan Sandra yang menatap lengan beralih pada mata Alkana.


"Aku kaget, bukan kesakitan...."


Sandra berdecak sebal, "Nyebelin..." sungutnya kemudian melangkah lebih dulu.


"Eh bumil?!" Alkana melangkah gesit, mengekori Sandra.


Sandra melirik Alkana, lelaki itu terus berusaha menggapai tangannya meski selalu gagal, sementara Sandra terkekeh melihatnya. Kadang Sandra tidak tau apa yang membuat Alkana begitu menyebalkan, meski bagaimanapun sikap lelaki itu ia tidak bisa berhenti menyukainya.


Sandra suka jika lelaki itu menggodanya, bersikap absurd atau tidak peka sekalipun. Buruknya lelaki itu tidak bisa membuatnya pergi apalagi kebaikannya. Bersama Alkana seperti saat ini adalah pencapaian terbesarnya di banding beberapa bulan lalu, saat Alkana selalu dingin, acuh, bahkan tak pernah perduli. Sandra bersyukur bisa menaklukan lelaki itu, walau belum sepenuhnya Alkana menjadi miliknya. Tapi Sandra beruntung Alkana begitu perduli, menyayanginya dan selalu ada bersamanya. Itu cukup untuk membuatnya percaya sekaligus bertahan dengan perasaannya.


Setibanya di meja makan Alkana duduk bersebelahan dengan Sandra, bahkan lelaki tampan itu rela menggeser kursinya dan meniadakan jarak diantara mereka hingga lengan keduanya saling bersinggungan.


Sandra menoleh saat merasa legan Alkana menoel-noel pundaknya seolah memanggil, namun setelah ia lihat Alkana memasang wajah biasa saja seakan tengah sengaja menggodanya. Sandra mengulum senyuman lalu memilih membiarkan Alkana menempel di lengannya. Entah apa maksudnya.


"Habis ini saya mau izin keluar sebentar ya mas," Yani berujar seraya menyusun lauk pauk di atas meja.


Alkana membalik piring, "Mau kemana mbak?"


"Biasalah mas" sahut Yani sambil cengar cengir.


Satu alis Sandra terangkat, "kemana?" Ia bertanya pada Alkana.


Alkana mendekatkan bibirnya pada telinga Sandra, "Mbak Yani sering kencan buta."


Sandra mencebikan bibir "Korban Facebook pasti."


"Bukan!" Yani menyahut, tatapannya tidak setuju. "Mbak Yani nggak main Facebook... cuma Tantan."


Sandra geleng-geleng, lalu turut membalik piring dan kemudian di tuangi nasi putih oleh Alkana, Sandra tersenyum sebagai ucapan terimakasih.


Selesai menyiapakan sarapan Yani berlalu, dan sebelum beranjak ia berkata. "Mas tadi mbak Sandra nglamun di meja makan, belum di kasih jatah ya?"


Belum sampat Sandra menjawab asisten rempong itu sudah ngacir duluan.


'Yani songong!!!' Sandra mengumpat dalam hati.


"Beneran?" tanya Alkana sambil mengunyah makanan.


"Musrik, kalau percaya sama Yani" Sandra menjawab setengah jengkel.


"Serius?" Alkana menatapnya lebih dalam, "Jadi dari tadi emang ngarepin jatah gitu?"


"Jadi lebih percaya sama Yani???" Sandra melotot, sebal Alkana terpengaruh.


"Oh jadi bukan karena jatah," Alkana memasukan lagi makanan kedalam mulutnya, "Terus kamu ngelamun kenapa?"


Sandra diam, tapi sedikit bersyukur Alkana lebih fokus pada kalimat "Nglamun" daripada "Jatah" walau pada akhirnya ia jadi teringat lagi dengan sesuatu yang mengganggunya sejak semalam.


"Aku, ak-aku takut ketemu ayah kamu?" Sandra menunduk, Kemudian tangannya bergerak mengusap perut, "Aku takut dia nggak bisa nerima anak kita, aku juga takut kamu dibawa pergi. Al, aku nggak mau...."


"Ssst..." Alkana menyuruhnya diam dengan meletakan jari telunjuk di sudut bibir. "Kita akan pergi sama-sama seperti yang pernah kita rencanain. Dan nggak ada yang perlu kamu takutin.... Ingat itu."


Sandra mengangguk, bersamaan dengan jemari Alkana yang mengusap rambutnya.


Alkana menghela nafas, sejujurnya ia tidak begitu yakin tapi membuat Sandra takut dan membiarkannya dalam kecemasan juga bukan ide yang baik.


"Sebentar..." Alkana meraih benda pipih yang berbunyi, "Mama telfon."


.


.


.


Setelah menerima telpon kurang lebih Tiga menit Alkana memutuskan panggilan.


"Tante Fany bilang apa?" Sandra bertanya, was-was Fany menyampaikan berita buruk.


"Mama udah di jalan, sebentar lagi nyampek."


Sandra menghela nafas, "Oh..."


***


"Al, emang Ayah kamu orangnya gimana sih?"


Alkana yang baru saja menyelesaikan sarapannya melirik Sandra. Nampaknya Sandra tidak bisa menahan keingin tahuannya mengenai Albert. Lagipula selama ini Alkana tidak pernah menceritakan bagaimana ayahnya.


"Ayahku itu... orangnya... baik," jawab Alkana kurang yakin, "Cuma sedikit arogan."


Sandra tiba-tiba lemas mendengarnya, ia tau betul bagaimana sifat Arogan. Dimana yang paling mendominasi adalah sifat pemaksa dan memikirkan diri sendiri.


"Dan... ya kalau ngomong emang sedikit kasar, tapi sebenarnya hatinya baik kok. Aku tau banget gimana ayah."


Alkana menatap Sandra prihatin, Sandra seperti tidak mempunyai keberanian untuk menghadapi ayahnya.


"Kalau nanti misalnya ayah ngomong yang macam-macam nggak usah di dengerin, ya? dia emang sering ngomong apa aja kalau lagi marah..."


"Maksud kamu, ayah kamu pasti marah sama aku?" Sandra menatap dengan mata berkaca kaca.


"Ya belum tentu. Aku cuma kasih tau, buat sekedar jaga-jaga aja...."


Air mata Sandra yang semula menggenang akhirnya tumpah. Ia belum bertemu Albert, dan Sandra sudah terluka bagaimana jika nanti Albert benar-benar bertemu dengannya? Sandra takut untuk sekedar membayangkan.


"Sayang..." Alkana membawa Sandra dalam pelukan, "Kamu tenang ya. Belum tentu juga ayah datang hari ini, siapa tau besok atau besoknya lagi.... Udahlah nggak usah di pikirin."


Di sela tangisan dan usapan lembut Alkana, keduannya mendengar derap langkah mendekat.


"Sandra kenapa Al?" tanya wanita itu yang tak lain ibu kandungnya.


Sandra mengangkat kepala, mengintip siapa yang datang.


Alkana melihat Sandra mengusap cairan bening dipipinya, "Nggak papa Ma, cuma... manja" Alkana menjawab sekenanya.


Sandra mendelik, bibirnya mengerucut beberapa senti.


Fany nampak tersenyum, memaklumi. "Ayo berangkat, kalau kesiangan nanti antrinya lama."


Alkana berdiri lebih dulu, "Ayo sayang..." kemudian membantu wanitanya berdiri.


"Mama udah nggak sabar pengen lihat gimana cucu mama, cewek atau cowok ya?" Fany sambil melangkah lebih dulu. Sandra tersenyum mendengar ucapan Fany, senang melihatnya antusis.


Mungkin seharusnya memang hanya itu yang Sandra fikirkan dan bukan memikirkan kedatangan Albert yang belum pasti.


Begitu Fany, Sandra dan Alkana melewati pintu utama ketiganya di kejutkan dengan kedatangan sebuah mobil yang baru saja memasuki gerbang.


Sebuah mobil Fortuner berwarna hitam pekat itu nampak begitu mengkilap. Mereka hanya saling menatap satu sama lain, bingung tidak ada yang merasa memiliki teman atau kerabat pemilik mobil itu.


Kemudian sebuah kalimat meluncur dari mulut Fany, hingga nyaris membuat jantung Sandra terlepas dari tempatnya.


"Sepertinya itu Ayahmu."


Diluar dugaan, Sandra yang baru beberapa detik lalu menyingkirkan pemikirannya mengenai Albert kini benar-benar di hadapkan langsung dengan orangnya.


Meski dalam dada mereka saling berperang melawan rasa takut namun sorot matanya sama, tertuju pada seseorang didalam mobil yang tengah melepas seatbelt dan kemudian turun dari mobil.


"Ayah?" Alkana berbisik lirih, sementara Sandra gemetar di tempatnya.


Seorang lelaki berusia kurang lebih Lima puluh tahun itu nampak menjulang tinggi. Wajahnya sangat mirip dengan Alkana, kebarat-baratan meski aura lelaki itu terlihat lebih kuat. Kulitnya putih dan rambut cepaknya hitam pekat meski disisi kiri dan kanannya terlihat memutih.


"Fany," lelaki itu memanggil diiringi langkah yang mendekat. Sandra yang begitu takut merapatkan tubuhnya dengan Alkana. Dan Alkana dapat merasakan ketakukan itu, ia lalu meraih tangan Sandra dan menggenggamnya.


"Kebetulan kamu datang. Apa kalian sedang menyambut kedatanganku???" Albert berkata dengan senyum menyungging, namun entah mengapa hanya mendengar suaranya aura mencekam serasa melingkup di sekitarnya.


"Apa maumu Albert, ini belum saatnya kamu datang?" Fany bertanya menantang, nada bicaranya sama kaku dengan ucapan Albert.


Lelaki berkaos putih dengan dada bertuliskan Supreme itu tersenyum, angker. "Untuk apa lagi kalau bukan mau mengambil... anakku" katanya dengan pandangan beralih pada Alkana.


Kemudian dengan suka rela Albert membuka lebar dada bidangnya memberi kode agar Alkana mendekat dan memeluknya. Terpaksa Alkana melepas pegangannya pada Sandra, memenuhi permintaan Albert dan mendekap ayahnya.


Albert tersenyum bangga, "Kau tumbuh dengan baik nak?" Albert sambil menepuk punggung jagoan kesayangannya, "Dan lihatlah, kau sangat mirip dengan ayah."


Alkana merekahkan senyum, turut senang melihat Ayah yang sudah lama ia rindukan.


"Anak kesayangan ayah, apa kamu sudah siap ikut ayah ke London?"


Alkana diam, tidakkah pertanyaan itu terlalu cepat?


"Aku tau kamu pasti sudah lama menunggu ayah, ikutlah dengan ayah, aku juga tau kamu sangat merindukan ayah, kan?"


Sialnya Alkana tidak bisa menjawab, lidahnya kelu.


"Alkana masih punya waktu satu bulan di sini," Fany menyahut membuat Albert seketika melirik Fany yang berjarak satu meter darinya "Jadi biarkan dia tinggal, dan setelah satu bulan kamu boleh membawanya."


Albert tergelak beberapa saat, "Kenapa? dan ada apa dengan satu bulan itu?"


Fany memutar bola mata, jengah melihat mantan suaminya berpura-pura. Padahal jelas Albert mengetahui kondisi Alkana dari orang suruhannya. Fany sangat hapal jika Albert sangat terobsesi dengan anak laki-lakinya.


"Oh, aku sampai lupa. Kamu pasti akan menikahkan putraku dengan gadis bodoh ini ya?"


Albert menatap Sandra dengan mata menyipit, sementara pupilnya bergerak keatas hingga bawah meneliti setiap inci wanita hamil di depannya.


"Ck ck ck" Albert menggeleng sambil memegang dagu, "kau terlihat menyedihkan" katanya tepat di hadapan Sandra, tanpa menyadari ucapannya membuat hati Sandra terkoyak.


"Kamu masih muda dan... lumayan cantik, tidak mustahil jika anakku menyukaimu, tapi..." Albert menggantung kalimatnya begitu melihat perut buncitnya, "Kenapa kamu sangat bodoh?"


"Ayah..." Alkana menyela, namun tidak berhasil membuat Albert berhenti berkata kata.


"Aku bisa jamin kamu pasti sering bolos di sekolah, kamu suka keluyuran, melawan guru dan... tidak di didik dengan baik oleh orang tua. Begitukan? dan itu yang membuatmu tidak memikirkan masa depan. Astaga aku tidak tau apa yang ada di kepalamu, sampai kamu membiarkan perutmu membesar sementara di luar sana anak-anak seusiamu menghabiskan masa mudanya dengan bersenang senang. Kau bodoh sekali, nak....


"Albert, dia hamil anak putramu. Jangan hanya menyalahkan Sandra" bela Fany, geram melihat Albert menyalahkan Sandra.


Sandra hanya tertunduk diam, matanya memerah menahan rasa sakit di hatinya. Alkana bilang Albert akan berkata kasar jika sedang marah, tapi saat ini Sandra tidak melihat Albert sedang marah. Lelaki itu nampak begitu santai dalam mengucapkan kata-katanya yang terasa begitu menusuk. Dan haruskah Sandra tidak mendengar semua ucapan itu?


"Aku tau, tapi bukankah setidaknya dia bisa sedikit saja lebih cerdas. Nak... kamu tau kan apa yang kamu lakukan dengan anakku bisa membuatmu hamil, seharusnya kamu berpikir seribu kali sebelum melakukannya. Ya, terkecuali kalau kamu memang benar-benar bodoh dan tidak pernah memikirkan masa depan.


Hiks... hiks... hiks...


Sandra menangis tergugu, ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. Ini begitu menyakitkan, bahkan lebih sakit dari yang ia pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Kamu pasti sangat percaya diri kalau anakku mau bertanggung jawab..." Albert menatap Sandra dengan tatapan miris, "Ya ampun aku jadi kasihan. Sayangnya aku sengaja datang untuk menggagalkan mimpi indahmu itu nak, aku akan membawa anakku karena aku tidak bisa membiarkan Alkana menikah di usianya yang masih muda. Kamu harus membuang jauh-jauh khayalan mu....


"Albert, apa kamu tidak sadar dengan ucapan mu!" potong Fany kesal.


"Kenapa memangnya?" Albert tidak menganggap berarti protes mantan istrinya.


"Lebih baik kamu pergi!!!" Fany memaksa seraya mendorong Albert menjauh, tapi tubuh kekar lelaki itu tak tertandingi oleh tenaganya.


Di sela ibu dan ayahnya saling berdebat, Alkana mendekati Sandra.


"Sayang," Alkana mendekat, meniadakan jaraknya memeluk Sandra, memberi kekuatan "Jangan dengerin apa kata ayah ya, kamu ingatkan aku bilang apa tadi?"


Sayangnya perkataan Alkana tidak mampu meredam tangisannya, ucapan Albert terlalu menyakitkan untuk di anggap angin lalu.


"Kita akan menikah, apapun yang terjadi" jemari Alkana bergerak mengusap air mata wanita cantik di depannya.


"FANY CUKUP, AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU MELAKUKAN HAL BODOH LAGI DENGAN ANAKKU. AKU AKAN MEMBAWANYA TANPA GADIS BODOH ITU!!!" bentak Albert, yang membuat Sandra semakin terisak.


"Setidaknya biarkan mereka menikah, Alkana harus tanggung jawab Albert!" ucapan Fany tak kalah keras, meski tak mampu menyaingi suara lantang Albert.


"Tidak... dan tidak akan pernah!" tegas Albert.


Mungkin memang salah jika Alkana tidak langsung menikahi Sandra sementara gadis itu sudah hamil, tapi Alkana juga tidak mau asal menikah. Alkana ingin menikahi Sandra secara resmi, baik dimata agama atau negara dan tentu itu membutuhkan waktu lebih lama untuk mengurus segala sesuatunya. Alkana tidak mau bertanggung jawab setengah-setengah, cukup caranya yang menghamili Sandra yang melanggar aturan tapi pernikahannya jangan sampai. Begitu niat Alkana sebenarnya namun tidak tau jika pada akhirnya Albert datang dan mengacaukan semuanya.


"Gadis itu," Albert menunjuk Sandra, "Tanggung jawab mu. Kau juga bodoh membiarkan mereka pacaran terlewat batas dan itu balasan mu...."


"Albert kau gila!" Fany berteriak frustasi.


"Al, ayo ikut ayah" Albert menarik paksa anaknya, tapi Alkana tidak mau melepas Sandra dari dekapannya.


"Tidak ayah, kecuali Sandra ikut!" tolaknya.


"Kamu mau jadi anak durhaka!!!" Albert mengeraskan suaranya, menjadikan aura seram terpancar sempurna di wajahnya.


"Al, mencintai Sandra ayah... Al mohon biarkan kami hidup bersama," Alkana memohon dengan air mata mengalir.


"Banyak wanita lain yang lebih baik daripada si bodoh itu, ayo pergi!" Albert menarik lengan putranya hingga Sandra terjerembab di lantai.


"Albert," Fany melangkah gesit begitu melihat Albert berhasil merebut putranya, ia berlutut tepat di hadapan Albert yang hendak bergeming membuka pintu mobil, "Aku mohon, ini permintaanku yang terakhir... biarkan Alkana menikahi Sandra" Fany mengemis dengan air mata membanjir di pipinya. Apapun akan ia lakukan asalkan Sandra bisa menikah dengan putranya, Fany tidak mungkin membiarkan cucunya lahir tanpa seorang ayah.  Fany seorang wanita dan ia tau bagaimana perasaan Sandra kalau hal itu sampai terjadi.


"Tolonglah Albert kasihani anaknya, dia juga cucumu...."


Dari Fany Albert beralih menatap Sandra yang manangis tergugu di lantai, dan parahnya tatapannya jijik, tatapannya tidak menginginkan.


"Maaf Fany, sayangnya aku tidak bisa membiarkan Alkana tinggal lebih lama. Aku fikir dia sudah cukup menderita di sini...." sebelum melanjutkan, Albert menghela nafas panjang, "Bukankah selama ini kamu tidak bisa mengakuinya sebagai anak di depan suamimu?"


Albert menggeleng, "Bukannya itu tidak masuk akal, kau berani sujud di depanku untuk membela calon cucumu tapi anakmu sendiri selama ini kau terlantarkan.... kau ini wanita seperti apa? bodoh, aneh atau apa sebenarnya? dan bagaimana aku bisa percaya dengan mulut busukmu."


"Albert aku tau aku salah, dan aku memohon karena aku tidak ingin menelantarkan anak lagi. Aku menyesal...."


"Sudahlah... urus saja keluargamu, bukannya selama ini kau lebih bahagia bersama mereka."


Fany menggeleng cepat, sebenarnya masih banyak kalimat yang ingin ia lontarkan namun rasa sesak lebih menguasai dadanya. Fany hanya bisa menangis.


"Ayo kita pergi," Albert menyeret Alkana untuk memasuki mobil, "Biarkan mereka menelan kebodohannya sendiri!"


"Aku tidak bisa Ayah, aku tidak bisa pergi" Alkana kekeh saat tubuh kekar Albert memaksanya memasuki mobil.


"JADI KAU MAU SELAMANYA IKUT BERSAMA FANY YANG BAHKAN TIDAK BISA MENGAKUIMU SEBAGAI ANAK!!!"


Alkana diam, mungkin Albert memang kejam tapi Albert mau mengakuinya. Albert selalu membaggakan ia sebagai seorang anak laki-laki. Alkana sangat ingat bagaimana dulu Albert sering membawanya kemanapun ayahnya pergi dan memamerkan pada teman-temannya tidak seperti Fany yang selalu mengasingkan dirinya.


"Tapi ayah..." tatapan Alkana beralih pada Sandra, "Bagaimana dengan..."


"KALAU KAU MEMULIH TETAP TINGGAL DISINI SELAMANYA AYAH TIDAK AKAN PERNAH MENEMUIMU!!!"


Sandra semakin meraung mendengar itu, terlebih saat melihat Alkana masuk kedalam mobil dan berlalu meninggalkan pekarangan tanpa memperdulikan bagaimana derasnya air mata yang mengiring kepergiannya.


Sandra memaksa kakinya berdiri kemudian melangkah menuruni Dua anak tangga mengejar mobil yang berlalu tanpa perasaan.


"ALLL...!!!" Sandra menjerit diiringi raungan keras, ia ingin menagih janjinya maski ia tau akan percuma.


Kakinya melemas tidak mampu lagi berdiri, dan Sandra menyerah membiarkan kakinya bersimpuh pada bibir gerbang. Mungkin memang ini jawaban dari segala ketakukannya. Alkana pergi, kenyataan yang cukup menyiksanya. Di tambah lagi dengan hinaan Albert yang sangat menyakiti dirinya.


"Sandra... sudah nak" Fany menghampiri kemudian memeluknya, "Biarkan dia pergi."


Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan kala mengingat kebahagiaan yang seolah berubah menjadi ketidakmungkinan.



...Lega sudah menyelesaikan bagian ini, semoga kalian menikmati ceritanya......


...😘😘😘...