
"Kak Rena ngomong apa?" tanya Alkana setelah Sandra memutuskan panggilannya.
"Reza mau kemping, jadi gue harus nemenin Pika di rumah."
"Berapa lama?"
"Semalam."
"Oh, ya udah nggak papa" Alkana tidak keberatan.
"Tapi nggak mau pisah," Sandra menghambur kepelukan Alkana, "Nanti kalau aku kangen gimana?"
"Cuma semalam Ra, kalau kangen ya tinggal telpon."
"Maunya kalau kangen langsung peluk," Sandra mengeratkan pelukannya. "Kalau jauhkan nggak bisa."
Alkana terkekeh geli lalu mengusap pucuk kepala kekasihnya. Penyakit manjanya mulai kronis rupanya.
"Besoknya kan ketemu."
Sandra diam dengan bibir mengerucut, sementara kepalanya tenggelam di dada Alkana. Sandra suka berada dalam dekapan lelaki itu apalagi aroma tubuhnya, hangat dan menenangkan. Sandra merasa seperti dalam dekapan Hema.
"Ra kayaknya kamu lupa sesuatu?"
"Apa?" Sandra bertanya tanpa bergeming.
"Bukannya tadi ada yang mau kamu omongin."
Sandra membeku seketika, ia ingat bahwa memang ada yang ingin ia bicarakan, tapi ia ragu Alkana mau mendengarnya.
"Ra...." Alkana bingung melihat Sandra terdiam kaku di pelukannya dan tidak lagi mengusal-ngusal dadanya seperti tadi.
Perlahan Sandra memberi jarak pada tubuhnya, "Aku, hm aku sebenarnya aku...." Sandra ragu untuk menceritakan kebenaran tentang dirinya yang tengah berbadan Dua.
Ya, diam diam Sandra menyadari perubahan dalam dirinya, bahkan saat ia terlambat menstruasi dua bulan terakhir. Tanpa sepengetahuan Alkana ia melakukan test pack dan ternyata hasilnya positif.
Memalukan!
Alkana menatap Sandra waspada, ada yang ia takutkan dan tidak ingin ia dengar.
"Kenapa?"
Alkana berharap selama ini Sandra pandai dan meminum pil untuk mencegah kehamilan, meski ia tidak pernah melihatnya. Tapi sepertinya yang ia takuti benar-benar terjadi sebab dari sorot mata dan mimik wajah gadis itu menunjukkan sedang dalam masalah.
"Aku pengen makan di restoran Jepang?"
Alkana menghela nafas seketika, begitu juga jantungnya yang kembali bekerja normal setelah beberapa detik lalu nyaris melompat dari tempatnya.
"Tapikan sekarang udah tengah malam, dimana yang masih buka. Lagian sejak kapan kamu suka makanan Jepang, biasanya kamu lebih suka makanan lokal."
Sandra diam, itu sebenarnya hanya alibi tapi kenapa ia malah meminta makanan.
"Lagi pengen," katanya yang entah mengapa tiba-tiba ia juga menginginkan makanan itu.
"Ya udah besok kita cari restoran Jepang yang enak ya?"
"Maunya sekarang."
"Sekarang udah malam Ra, udah jam Sebelas. Mana ada restoran yang masih buka."
Sandra merengut lalu mengalihkan pandangannya.
"Ayo tidur saja, aku temani" Alkana mengalihkan pandangannya.
"Aku nggak mau, Pokoknya aku mau makan di restoran Jepang, sekarang!"
***
"Kayaknya Sogogi shabu and grill enak ya Al," Sandra seraya menelan ludahnya seolah tak sabar.
Alkana menatap miris kearah pacaran sambil mengamati jalanan ibukota yang tak pernah sepi, sementara otaknya terus berpikir dimana ia harus mencari makanan yang di maksud pacarnya sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul Dua belas malam.
"Ra, semua tempat yang kamu maksud udah tutup. Gimana kalau kita nyarinya besok aja?"
Entah sudah yang keberapa Alkana berkata demikian tapi Sandra tak jua mengerti. Sandra ngotot ingin memakan makanan itu, sekarang. Alkana jadi curiga jika pacarnya itu tengah ngidam.
"Coba cari dulu, siapa tau masih ada yang buka."
"Mau kemana lagi Ra, dari tadi kita udah muter muter di sini."
"Kamu nggak mau banget sih nyenengin aku," Sandra mendengus sebal lalu mengedarkan pandangannya kelain arah.
Alkana menepikan mobilnya di pinggir jalan, menuruti ucapan Sandra hanya membuang bahan bakarnya sia-sia.
"Yaudah gimana kalau kamu aja yang nyetir, terserah kamu mau cari dimana," Alkana berbicara hati-hati takut menyinggung perasaan pacarnya.
Bukannya menjawab Sandra malah memplototi pacarnya. "Ya udahlah pulang aja" ketusnya kemudian.
Alkana kembali menyalakan mesin mobil lalu memutar arah menuju kediamannya.
"Kalau sate padang aja mau nggak?" tawarnya saat melewati para penjual sate yang berbaris di pinggir jalan.
Alkana sedang berusaha memperbaiki mood Sandra yang rusak.
"Nggak!" sahutnya tanpa pertimbangan.
Alkana bungkam mendengar penolakan itu, baru sekali berusaha langsung di tolak mentah-mentah.
Tiga puluh menit berselang Alkana menghentikan laju mobilnya, ia sudah sampai.
"Al...." Sandra menahan lengan Alkana yang tengah melepas seat belt, "Aku mau sate."
"Aku maunya sate Madura, tadi kan yang kamu tawarin sate padang."
"Iya, tapi yang di sebelahnya itu jual sate Madura. Kenapa nggak bilang dari tadi, sekarang kita udah nyampe rumah. Besok lagi ya?"
"Besok," Sandra menggigit bibir bawahnya sambil memasang wajah melas. "Tapi, maunya sekarang."
Kalimat itu lolos dengan gemilang tanpa memikirkan lelaki di depannya.
Kekesalan Alkana yang tadinya mengendap di dada kini mencapai ubun-ubun. Ia tidak mengerti sejak kapan Sandra pandai membuatnya naik pitam.
Sejak Sandra memaksanya untuk mencari restoran Jepang Alkana sudah kesal, tapi ia menahannya dan saat Sandra memutuskan untuk pulang sepanjang jalan Sandra mengucir bibirnya yang tak kalah membuatnya emosi lalu sekarang dengan mudahnya gadis itu meminta agar kembali lagi? Oh my gosh.
"Tapi aku maunya yang di dekat sini, di simpang itu loh Al sebelum kita belok di perumahan," Sandra menunjuk arah penjual sate yang tadi sempat ia temui.
Alkana menarik nafas lalu membuangnya perlahan ia harus tenang, tidak boleh marah, begitu kata hatinya.
"Mau ya?" pinta gadis itu.
Karena Alkana tidak merespon Sandra mengguncang lengannya, "Sayang. Mau ya?"
"Iya."
***
Alkana melangkah gontai menuju rumah. Ia pikir penderitanya akan berakhir setelah ia membelikan sate untuk pacarnya, ternyata tidak.
Buktinya sekarang, Sandra sedang bergelayut di punggungnya ia minta gendong.
Awalnya Alkana akan memutar arah dan menggunakan mobilnya tapi Sandra ingin berjalan, karena malas berdebat Alkana mengalah. Dan setelahnya ia menyesal sebab gadisnya itu sangat manja, dan malah minta di gendong.
"Udah sampe...." pekik Sandra kegirangan saat Alkana menurunkannya di depan pintu, "Makasih...." Sandra memamerkan senyuman paling ceria sedunia dan sialnya Alkana tidak jadi kesal melihat itu.
"Iya...." Jawabnya seraya membuka kunci.
Sandra memeluk lengan Alkana. "Jadi makin Sayang...."
Lelaki itu tersenyum melihat tingkah gadisnya yang tidak tau mengapa jadi gemas.
Keduanya kembali berjalan menuju meja makan berbentuk bulat persegi panjang dengan Empat kursi saling berhadapan. Tempat itu memang terlalu luas untuk mereka berdua tapi disanalah keduanya sering sarapan dan makan malam bersama.
Alkana mengambil piring, sementara Sandra tak sabar dan langsung melepas bungkusan satenya.
"Udah laper?" Alkana memberikan piring seraya duduk di sampingnya.
Aroma khas sate ayam menyusup penciuman, membuat Alkana jadi ikut lapar.
"Kenapa?" Alkana menatap Sandra bingung, gadis itu tidak lagi antusias. Ia malah diam di kursi seraya menutup hidungnya.
"Daging ayamnya nggak fresh deh Al kayaknya?" Sandra mendorong sate itu menjauh seolah jijik.
"Fresh kok, aku dulu sering beli disana."
"Aku nggak mau...."
Sandra tidak tau mengapa, tapi mencium aroma sate itu perutnya langsung mual.
"Sayang, kita udah capek lo belinya, masak nggak di makan."
Sandra menggeleng cepat, "Kalau kamu mau, kamu aja yang makan!!!"
Tangan Alkana mengepal, ia tidak tau harus bagaimana lagi ia bersikap. Tapi hari ini Sandra benar-benar membuatnya darah tinggi.
Di sisi lain, semakin lama Sandra merasa ada yang mengaduk isi perutnya. Apalagi saat Sandra mencium bau sate itu membuat mual di perutnya semakin menjadi.
Sandra beranjak dari kursi menuju wastafel kemudian.
Huekkk....
Sandra muntah, tapi tidak mengeluarkan apa-apa, hanya air.
"Ra kamu kenapa?" Alkana panik dan ikut menghampirinya.
"Perutku mual...." katanya setelah membasuh mulutnya.
"Mual?" Ralat Alkana, "Sejak kapan?"
Alkana menatap dalam mata gadisnya, tebakannya Sandra hamil tadi sempat lolos. Tapi bagaimana dengan sekarang?
Sandra merasakan perutnya buncit meski tidak terlalu terlihat, tadi ia meminta aneh-aneh seperti orang ngidam, dan sekarang dia mual-mual. Namun jika benar Sandra hamil, apa Sandra tidak menyadarinya atau Sandra sengaja menyembunyikan kehamilannya.
"Sejak...."
Sandra tidak melanjutkan ucapannya, bahkan saat ia berkata mulas, ia tadi keceplosan.
"Kamu nggak sakit kan?"
"Aku, ak-aku...."
Sandra dilema, jika ia berkata ia hamil ia takut Alkana tidak mau bertanggung jawab, ia takut Alkana meninggalkannya. Atau Alkana akan menyuruhnya aborsi. Tidak tidak Sandra tidak mau. Resiko aborsi terlalu berbahaya, tapi ia juga takut melahirkan.... lalu bagaimana ini???
"Kamu nggak hamil kan?"
****