NEVER

NEVER
Good Boy & Bad Girl



SEJAK turun dari mobil Alkana dan Sandra sudah menjadi pusat perhatian teman-teman sekolahnya. Apalagi saat Sandra menggandeng lengan Alkana secara terang terangan seolah sengaja mempertegas setatusnya bahwa Alkana adalah kekasihnya yang sah.


"Ish tu cewek kegatelan banget sih?" bisik seorang cewek yang tidak iklas melihat Alkana bersanding dengan gadis yang sudah di cap bad girl disekolahnya.


"Pasti Sandra pinter banget ngrayu Alkana" sahut teman di sebelahnya.


"Iya, sebel banget gue lihatnya."


"Gue rasa Alkana di pelet deh..."


"Mungkin aja."


Langkah keduanya berhenti di depan kelas XII IPA bersamaan dengan itu Alkana juga melepas genggamannya.


"Kok berhenti di sini?" tanya Sandra dengan nada yang dibuat manja.


"Ini kelas gue?" sahut Alkana datar.


Sandra menggeleng dengan bibir manyun beberapa senti, "anterin gue kelas?" rengeknya kemudian.


"Nggak!"


"Ayolah Al, nanti gue di godain sama buaya buaya darat disini. Lo kan pacar gue harusnya lo lindungin gue dong. ya ya anterin gue ya" rayunya.


Alkana menghela nafas, sepertinya yang ia lakukan kemarin adalah kesalahan besar. Mendekati Sandra sama halnya dengan membuat Sandra semakin gencar mendekatinya dan yang lebih parah gadis itu berkuasa atas dirinya.


"Diam tanda setuju. Ayo..." Sandra menautkan lagi tangannya di sela jemari Alkana lalu mengayunkan kakinya menuju kelas.


"Dasar cewek gatel..." umpat seorang cewek yang melewatinya.


"Mata Alkana kayaknya bermasalah."


"Nggak setara banget tu cewek sama Alkana."


Mustahil jika Sandra tidak mendengar ucapan-ucapan itu. Sandra mendengar, sangat jelas tapi ia menulikan telinganya. Selama ini ia memang hidup seperti itu, di puja puja oleh kaum Adam dan di pandang hina oleh kaum hawa. Sandra menganggap orang-orang yang membencinya hanyalah angin lalu. Waktunya lebih berharga dari pada menanggapi orang-orang itu. Lagipula Sandra hidup bukan untuk mereka, Jadi Whatever.


"Bisa nggak kalau jalan nggak usah mepet mepet" sinis Alkana saat semakin lama Sandra semakin mengeratkan pegangannya.


Sandra menggeleng cepat, "nggak" katanya lalu nyengir membuat Alkana jengah melihatnya.


Dari arah berlawanan tanpa sengaja beberapa teman dari kelas Alkana berjalan melewatinya namun tatapan Tiga orang itu membuat Sandra tidak nyaman.


"Apa lo lihat lihat!" ucap Sandra seraya berhenti di depan orang-orang itu, "mau gue colok mata lo!"


Cewek berbadan paling kurus lalu berkata, "emang kita lo yang nggak bisa lihat. Alkana terpaksa tau mau pacaran sama lo!" tantang cewek itu.


Sandra mendongak menatap pacarnya, dan Alkana masih memasang wajah asli andalanya, datar.


"Bilang aja lo sirik karena nggak laku ya kan?"


Cewek gendut yang berdiri di belakang itu maju. "Jomblo lebih terhormat dari pada maksain cowok kayak lo."


"Siapa juga yang maksa, Alkana cinta kok sama gue. iya kan Al?" Sandra menatap pacarnya meminta pertolongan dan sialnya Alkana hanya melengos.


Ketiga cewek itu tergelak melihat Sandra di abaikan oleh pacarnya.


"Cinta sama cewek kayak lo, apa untungnya?" cewek kurus dan sedikit tonggos itu berkata lagi.


"Alkana cinta kok sama gue" ucap Sandra yakin. "Buktinya gue kemarin di kenalin sama orang tuanya, iyakan Al?"


Jika kali ini Alkana tidak mengakuinya mungkin Sandra akan membunuh pacarnya.


"Sayang! iya kan?" paksa Sandra lagi karena saat itu Alkana hanya bengong.


Dan dengan bodohnya Alkana berkata, "Iya."


Sandra tersenyum kearah Tiga orang itu lalu menjulurkan lidahnya penuh kemenangan membuat Tiga orang itu geram melihatnya.


"Ish Alkana kok mau maunya sih sama cewek kayak dia?" protes cewek cewek itu.


"Ya iyalah gue kan cantik, sexy dan wangi nggak kayak kalian, bau Ketek."


Ketiga orang itu lalu sibuk menciumi aroma tubuhnya. Mereka terpengaruh dengan ucapan Sandra.


Alkana hanya geleng-geleng dengan kelakuan pacarnya.


"Ayuk Sayang kita kekelas, buang buang waktu di sini" Sandra bergeming lalu melangkah pergi sambil mengibaskan rambutnya.


"Bye Trio ketek..." katanya seraya melambai penuh ejekan.


"Awas lo...!!!" pekik salah satu cewek itu.


Sandra meloleh sekilas lalu berkata, "Dari pada lo sibuk ngurusin gue lebih baik lo mancungin tu hidung, bukan moncong."


Siapa sangka ucapan Sandra membuat cewek centil paling kurus itu geram.


"Berhenti lo ular!" cewek centil itu melangkah gesit dan menyerang Sandra dengan menjambak rambutnya.


"Aaaa...!!!" Sandra menjerit kesakitan saat tangan wanita itu menarik rambutnya secara brutal.


"Cecil!!!" bentak Alkana pada wanita itu. "Apa apaan lo...!"


Cewek berponi dora itu langsung menghentikan aksinya. "Dia duluan Al yang ngatain gue."


"Pergi nggak lo sekarang!"


Cewek bernametag 'Cecilia' itu mengembang kempiskan hidungnya, kesal karena Alkana lebih membela pacarnya.


"Al sakit..." ucap Sandra seraya memegangi rambutnya manja. "Dia yang nyerang gue duluan Al" gadis itu lalu memeluk Alkana minta di kasihani.


'Cih menjijikan' umpat ketiga orang itu, sebal. Yang dilakukan Sandra hampir sama seperti sinema keluarga yang sering mereka tonton, dimana Sandra yang bersalah karena menghina Cecil tapi Cecil yang kena batunya. Sandra sangat pandai bermain drama rupanya.


"Dasar cewek ular..." kata Cecil lalu melangkah pergi di ikuti teman temannya.


Melihat kepergian Tiga orang itu Sandra menghela nafas lega.


"Udah?" tanya Alkana.


Sandra mengangguk lalu nyengir.


"Seneng di belain?"


Sandra mencebikan bibir, Alkana seperti tidak iklas menolongnya.


"Tapi sakitnya beneran tauk" Sandra sambil memegangi kepalanya.


"Ya udah sini" cowok itu lalu turut mengusap rambut pacarnya.


***


"Hai..." sapa Audi dan Kanaya pada Sandra bersamaan diiringi seyuman cerah di bibir keduanya.


Jangankan menjawab yang di sapa menoleh pun tidak.


"Yah di kacangin kita Nay." Audi sembari mendekati temannya yang nampak sibuk menyisir rambutnya dengan jari tangan.


"Lo habis ngapain Ra, pagi pagi udah kusut gitu rambut lo?" Kanaya sambil berdiri di depan meja temannya.


"Gara-gara si Cecil jangkung itu" ucap Sandra kesal. "Sumpah ya heran banget gue sama mereka, kenapa sih mereka nggak percaya kalau Alkana beneran mau sama gue. Emang gue seburuk itu di mata mereka sampai-sampai mereka bilang gue nggak pantes sama Alkana. Asal mereka tau Alkana juga bukan cowok baik-baik, mereka fikir Alkana malaikat apa?"


Kedua temannya beradu pandang kemudian beralih lagi pada Sandra.


"Minjam sisir" pinta Sandra pada Audi.


Cewek yang hari ini rambutnya di buat ikal itu langsung merogoh tas selempangnya.


"Nay, cermin."


"Nggak modal banget hidup lo" kata Kanaya lalu mengambil sesuatu dalam tas. Sandra hanya nyengir.


"Nih..." keduanya hampir bersamaan.


"Gue curiga lo berdua kembar siam ya?" Sandra seraya meraih pemberian temannya.


"Enak aja" Audi lalu duduk di samping Sandra, sedang Kanaya duduk di depan mejanya.


"Jadi lo tadi berantem?" Kanaya masih penasaran.


Gadis yang baru saja akan menggerakkan sisir di tangannya itu mengurungkan niatnya.


"Iya. Tapi kalian tau nggak tadi Alkana belain gue" Sandra seraya tersenyum, kesem sem. Jika di gambarkan dalam sebuah komik mungkin di sekeliling Sandra akan di gambar bunga-bunga.


Kanaya melongo melihat ekspresi Sandra yang lain dari biasanya. "Serius Alkana belain lo, kesambet apa dia?"


"Nggak tau, yang jelas gue seneng banget. karena ahirnya Alkana perduli juga sama gue."


Tatapan gadis itu menerawang jauh seolah mencoba mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Kedua temanya lalu manggut-manggut baru mengerti bahwa Sandra tengah di landa asmara.


"Kebaca kan lo sekarang. Lo kepincut sama dia?" tebak Kanaya.


Sandra menglum bibirnya, malu mengakui.


"Beneran???" Audi ikut nyolot.


Dan ahirnya Sandra mengangguk, "menurut gue nggak masalah kalau gue suka sama dia, ya gak?"


Kanaya menepuk jidat, tak habis pikir. "Aduh Ra lo kayak nggak tau Alkana aja. Dia itu cowok dingin, kaku, mulutnya pedes dan nggak punya hati. Apa yang mau di harapin sama cowok kayak dia."


"Iya bener banget Nay. lagian Ra lo jadi orang plin plan banget sih, kayaknya baru kemarin gue denger lo bilang nggak suka tapi kenapa sekarang udah klepek-klepek. Di apain aja lo sama dia?" imbuh Audi.


"Gue yakin kok sebenarnya dia cowok baik-baik. Mamanya aja baik sama gue apa lagi anaknya."


"Mama???" ralat Audi dengan alis menyatu.


"Iya. Jadi kemarin gue ketemu sama nyokapnya, dan ternyata tante Fany baik banget sama gue. Dia lemah lembut, ramah dan hangat gitu orangnya. Sampai-sampai gue ngrasa gue tu seperti anaknya sendiri."


"Lo cuma lagi kangen sama nyokap lo Ra, nggak usah baper."


"Nggak Audi gue tau banget kalau dia itu emang sayang sama gue, dan asal lo tau dia juga nggak keberatan kalau gue pacaran sama anaknya. Beruntungkan gue, udah di restuin?"


"Terserah lo deh Ra terserah ya.... yang penting sebagai temen kita udah ingetin. Ok jadi kalau terjadi apa-apa nantinya jangan nuduh kita nggak peduli sama lo."


Sandra mengangguk. "Ok, tenang aja gue bakal buktiin sama kalian kalau Alkana adalah cowok yang tepat buat gue. Gimana?"


"Kita restuin kalau lo emang bener, iya nggak Nay."


Kanaya mengangguk meng-iya kan.


"Ok sepakat ya kita, deal" Sandra mengulurkan tangannya meminta berjabat tangan dengan Audi.


"Deal."


****


Brakk...


Sandra meletakan tumpukan buku paket dan buku tulisnya di depan meja. Sampai membuat cowok berkaca mata itu terlonjak kaget.


"Ini PR gue, di kumpul kamis depan. Terus..." Sandra mengambil salah satu buku tulis pada tumpukan itu. "Khusus yang satu ini lo harus catet teks UUD 1945 Sepuluh rangkap. Ngertikan lo?" ucap gadis berambut panjang itu sejurus kemudian.


Haris mendongak seraya membenarkan kaca matanya, "buat apa teks UUD Ra?"


Sandra mendesah lalu duduk di seberang meja sambil melipat tangannya.


"Itu tugas ulangan lisan dari pak Yosef. gue remidi."


"Kok Undang-undang?"


"Soalnya gue nggak hapal undang-undang, udah deh lo tinggal ngerjain aja nggak usah nanya nanya!"


"Iya deh" Haris lalu mengangguk.


"Oh iya" Sandra mencondongkan tubuhnya, "tapi gue belum bisa teraktir lo. Tapi gue janji kalau lo udah ngerjain semua PR gue lo pasti gue traktir sepuasnya. Gimana?"


"iya nggak papa."


Sandra melompat dari meja lalu mendekati mantannya, "Serius nggak papa?"


"Iya nggak papa lagian aku juga lagi nggak laper kok."


"Ok deh kalau gitu, lo emang cowok paling baik sedunia."


Haris mengerjap, 'apa yang baru saja Sandra katakan?' pikirnya.


"Gue tinggal dulu ya" pamit gadis itu sambil tersenyum, "Bye" Sandra melambaikan tangannya kiss bye.


***