NEVER

NEVER
Wake Up




    Nichol baru saja datang, namun ia sudah dikejutkan dengan suara tangis histeris Sandra di ruangan Alkana. Begitu Nichol masuk, matanya langsung tertuju pada mesin EKG yang manampilkan gelombang datar.


Nick tak kalah panik ia lalu memanggil dokter. Beruntung, tak lama berselang seorang dokter dan satu orang perawat datang untuk menanganinya.


"Maaf bisa menunggu di luar sebentar?" pinta seorang suster padanya.


Nichol mengangguk lalu menuntun Sandra keluar ruangan.


"Ra tenang Ra," Nichol mengusap pundak Sandra sembari mendudukannya di sebuah kursi.


Sandra masih menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan ucapan lelaki di sampingnya. Kondisi Alkana benar-benar membuatnya terpukul, ia tidak akan sanggup jika kehilangan Alkana.


Sandra butuh Alkana, sangat. Dan ia takut lelaki itu meninggalkannya. Walaupun Sandra tau kecil kemungkinan untuk lelaki itu hidup tapi ia berharap Alkana masih bisa menepati janjinya. Merelakan adalah hal yang tidak pernah Sandra lakukan meskipun mungkin suatu saat perpisahan akan selalu ada.


"Ra... jangan nangis terus, Alkana masih di tangani sama dokter dia pasti baik baik saja?" Nichol mengusap pundak Sandra berkali-kali berusaha menenangkan.


Sandra masih terisak dengan kepala bersandarkan pundak Nichol, ucapan lelaki tak cukup mampu meredakan suasana hatinya yang sedang buruk.


Di saat yang sama keduanya mendengar derap langkah mendekat, Nick menoleh melihat siapa yang datang.


"Sandra kenapa Nick?" tanya wanita itu, dia nampak cemas.


Mengetahui wanita itu Amira Nicole menjawab, "Ini Tante keadaan Alkana..."


"Tante, Alkana tan..."


Melihat ibu tirinya datang dan duduk di sampingnya Sandra langsung menghambur kepelukan Amira, sementara derai air matanya terus mengalir.


"Iya Sayang Alkana kenapa?" Amira mengusap rambut Sandra lembut.


Sandra tidak menjawab, masih terisak dalam tangisan. Melihat Sandra seperti itu Nick berinisiatif menjawab. Nichol baru akan membuka mulut namun tatapannya teralihkan saat melihah lelaki berjas putih keluar dari ruangan.


Nichol bergegas bangkit menghampirinya, "Gimana keadaan teman saya Dok?"


Lelaki paruh baya itu menghela nafas berat membuat semua yang ada di sana menatap khawatir.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tadi lead Elektrokardiogram-nya terlepas dan sudah saya perbaiki sekarang keadaannya kembali normal."


"Syukurlah," ucap Nichol di susul helaan nafas lega.


"Baiklah kalau begitu saya permisi," pamit sang dokter.


"Iya Dok, terimakasih sebelumnya."


Setelah mendapat senyuman singkat dokter itu berlalu diikuti seorang perawat di belakangnya.


"Kamu dengar sendiri kan Ra," Nick seraya mendekati Sandra, "Keadaan Alkana udah normal, jadi kamu jangan sedih lagi ya?"


Sandra mengangguk, ikut lega mendengarnya.


"Tenang ya sayang ada tante disini?" Amira mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya.


"Makasih tan," lirih Sandra dengan tubuh yang masih mendekap ibu tirinya.


Sandra bersyukur Alkana masih hidup, itu artinya Alkana bisa kembali pulih kemudian menjalani tanggung jawabnya dan lebih bersyukur lagi ketika dia rapuh ada Amira yang menguatkan. Sepertinya keputusan untuk menerima Amira memang tepat.


Nichol tersenyum melihatnya, tidak menyangka bisa melihat Sandra dekat Amira. Padahal beberapa bulan lalu Amira sempat mengeluh saat bertemu Sandra yang nampaknya tidak pernah sudi menerimanya. Tapi sekarang waktu seolah berbicara dan entah tercipta keajaiban apa sehingga Sandra bisa menerima Amira.


Sebenarnya tidak semudah itu, Sandra memiliki alasan. Semua berawal sejak Sandra hamil. Di sana dia merasa sangat bersalah, pada Rena, pada almarhum ibunya dan Hema. Sandra malu untuk mengakui kebodohannya, malu telah mempermalukan keluarga, malu tidak bisa menjaga diri dan di saat itulah ia mengerti bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua orang bisa melakukan kesalahan, sengaja atau tidak termasuk Amira.


Nyatanya setelah Sandra menerima Amira Hema tidak marah dengan kehamilannya, sebab di balik semua itu ada kesalahannya yang tidak pernah mendidik putrinya dengan baik. Bagi Hema Sandra mau memaafkan dan menerima Amira sudah lebih dari cukup meski Sandra tak pernah memanggil Amira dengan sebutan ibu, itu tak masalah baginya.


***


    Sandra tidak ingat sudah berapa hari Alkana terbaring lemas di rumah sakit, tapi ia sungguh sabar menunggu. Sekalipun Rena melarang ia terlalu lelah Sandra tetap abai, Sandra ingin selalu memastikan keadaan Alkana ia harus mengetahui setiap perkembangan kesehatan ayah dari bayinya agar ia merasa tenang.


Tidak perduli terkadang dia lupa makan atau bahkan istirahat, meskipun tidak selalu sebab Nichol selalu mengingatkan. Sebenarnya Nichol tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk Sandra, hanya saja selalu meluangkan sepulang kuliah. Seperti hari ini misalnya, Nichol baru bisa datang pukul Empat sore sebelumnya ada tugas yang harus ia selesaikan.


Setelah Nichol lulus SMA lelaki itu tidak ikut pindah ke California, walau ayahnya memaksa ia tetap kekeuh. Nichol lebih suka tinggal di negara kelahiran ibunya. Lagi pula di Indonesia ia tidak sendirian, ada banyak saudara dari ibunya yang juga mau menerima dan menyayanginya. Amira salah satunya, dan alasan Nichol lainnya adalah ingin hidup mandiri.


Dan siapa sangka Sandra sangat senang dengan kehadiran Nichol. Terlebih mengetahui lelaki itu masih menyayanginya, bukan sebagai kekasih melainkan Sandra menganggap Nichol sebagai saudaranya.


Begitu sampai di ruangan Alkana pandangan Nichol beredar keseluruh ruangan, anehnya ia tidak menemukan Sandra. Hanya ada Alkana yang masih terbaring dengan selang infus melilit tangan.


Nichol kemudian keluar, menatap bingung disekitar koridor tidak biasanya Sandra menghilang dari ruangan Alkana.


'Mungkin Sandra mencari udara segar' pikirnya lalu duduk di salah satu bangku yang ada disana, menunggu beberapa saat.


Benar saja, tak berselang lama Nichol melihat Sandra datang bersama seorang dokter. Wanita berjas putih memakai kacamata dan berambut pendek itu nampak sedang menjelaskan sesuatu pada Sandra.


"Kira kira Empat minggu lagi, kemungkinan sudah bisa," ujar sang dokter menutup kalimatnya.


"Terimakasih Dok sebelumnya."


Wanita berambut pendek itu tersenyum singkat lalu pamit undur diri. Setelah mendapat anggukan dari Sandra ia kemudian berlalu.


"Lo udah datang dari tadi?" Sandra beralih menatap Nick.


"Barusan." Nichol berdiri, "Dokter itu bilang apa? nggak terjadi sesuatukan sama Alkana?"


Sandra menggeleng, "Em... enggak kok, tadi gue cuma nanya nanya soal USG tapi.. kata dokter belum bisa, kandungan gue masih terlalu muda."


"Oh, kirain."


Sandra menunduk menekan bibirnya kebawah, sementara kedua tangannya ada dibawah perut khas ibu hamil. Sebenarnya Sandra malu harus menceritakan hal itu pada Nichol, ia terkesan seperti tidak sabar.


Tapi setiap ibu dari belahan dunia manapun kalau berada di posisinya pasti tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak yang tengah di kandungnya walaupun ada yang sengaja tidak di lihat saat USG dan ingin mengetahui saat lahir, tetap saja rasanya sama mendebarkan saat memikirkannya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Nichol, Sandra langsung mendongak.


"I-iya kita pulang sekarang."


Nichol tersenyum singkat, kemudian melangkah lebih dulu.


Seharusnya Nichol senang melihat Sandra bersemangat melihat bayinya, lagipula keadaan Alkana semakin hari semakin membaik walau belum sadar akan tetapi di waktu tertentu mungkin Nichol akan kehilangan.


Nichol sudah bisa menebak jika Alkana terbangun nanti Sandra pasti lebih memilih Alkana dari pada dirinya. Padahal Nick masih ingin lebih lama bersama Sandra, jujur Nichol tidak iklas kalau suatu saat Sandra harus pergi. Nichol tau perasaan itu tidak seharusnya ada, namun ia tidak bisa mengendalikannya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


Berharap Sandra berada di sisinya mungkin terdengar mustahil, jadi Nicole hanya akan berusaha supaya Sandra tidak melupakannya. Sepertinya tidak terlalu berlebihan.


*****


"Mana anakku, kau lupa dengan kesepakatan kita!"


Suara matang dari seberang sana terdengar Sarkas, Fany terkejut sampai menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Dengar Fany, aku sudah sangat berbaik hati membiarkan kamu mengurus Alkana jadi sekarang kembalikan. Kembalikan anakku!"


Fany belum sempat menjawab namun Albert menyambung kalimatnya.


"Tepati janjimu, kamu hanya memintanya sampai ia lulus dan aku tau Alkana sudah lulus lalu apa lagi alasan mu? kamu menipuku!"


"Tidak Albert, berhenti menuduhku," Fany yang tadinya mondar mandir di depan ruangan Alkana kini duduk, "Alkana belum bisa pergi, bukan aku yang menahannya."


Terdengar helaan nafas kasar dari balik ponsel kemudian di susul nada cemas.


"Apa terjadi sesuatu dengan anakku???"


Fany membeku, dia tidak mungkin menceritakan keadaan Alkana yang sebenarnya bisa habis Fany di caci maki oleh mantan suaminya. Apalagi sebelumnya Albert sudah mewanti wanti agar Fany menjaga anaknya dengan baik membuat Fany takut untuk berbicara jujur.


"Ada apa Fany, jujur. Sebelum aku menyuruh orang suruhanku, dan kalau aku mengetahui putraku terluka sedikit saja aku akan memenjarakanmu ingat itu!"


Fany memijat pelipisnya, baru saja berbicara dengan Albert Dua menit kepalanya sudah terserang migrain.


"Tidak Albert, dengarkan aku dulu. Anakmu baik-baik saja," Fany meyakinkan, ia harus berhati-hati dalam hal ini. Fany sangat ingat Albert terobsesi dengan anak lelaki satu satunya. "Dia butuh waktu untuk menunggu ijazah, atau setidaknya surat keterangan kelulusan. Kamu tau kan baru beberapa minggu lalu Alkana mengikuti ujian dan butuh waktu untuk menunggu hasilnya, aku harap kamu bisa lebih bersabar, Bert" Fany membeberkan.


"Lalu harus berapa lama lagi aku menunggu?"


Fany menghela nafas, "Tiga bulan. Jika selama waktu itu Alkana tidak datang padamu kau boleh menuntutku."


Fany mendengar Albert tertawa, di dusul kalimat selanjutnya yang terdengar seperti peringatan, "Tidak hanya menuntutmu, aku juga akan membakar rumahmu ingat itu!"


"Baiklah, apapun itu..."


"Sepakat, Tiga bulan. Dan bersiap siaplah mencari hunian baru..."


Setelah itu Fany tidak mendengar bunyi apa-apa lagi, Albert memutuskan panggilannya secara sepihak.


"Dasar psikopat!" Maki Fany pada ponselnya.


Fany menghela nafas berulang, menyibak rambutnya kebalakang dengan detak jantung masih berpacu cepat.


Fany tidak menyangka Albert sampai mengancamnya, memang terdengar tidak masuk akal tapi di setiap ucapannya cukup membuat Fany ketakutan. Nampaknya ancaman Albert tidak main-main.


'Apa yang harus ku lakukan?' Fany menyentuh dahinya pusing.


Setelah terdiam cukup lama, Fany bangkit lalu memasuki ruanga Alkana. Fany duduk di kursi yang tersedia disamping brankar dan menatap putranya dengan tatapan sendu.


"Bangun nak, ayahmu sudah menunggu?" Fany berkata sambil menyentuh tangan putranya yang terbebas dari selang infus. "Dia pasti merindukanmu?"


"Bangunlah, mama mohon... kamu sudah tidur terlalu lama. Bangun nak untuk mama, mama tidak bisa melihatmu seperti ini..."


Fany menggenggam tangan putranya, menunduk dan menangis. "Bangun nak, mama sudah memaafkan mu. Mama tidak akan marah dengan semua kenakalan mu asalkan kamu bangun sayang. Mama merindukanmu, bangunlah demi mama..."


Fany terisak dikursinya, dadanya sesak setiap kali melihat putranya yang terbaring lemah tidak berdaya.


Di sela kesedihannya Fany mendengar suara lemah terucap dari bibir putranya.


"Mama..."