NEVER

NEVER
Aku Rindu Jiwa & Raga




"Ra, ingat ya jangan lama-lama habis ini kamu harus cek kandungan ke dokter," Nichol berpesan saat Sandra akan memasuki ruangan Alkana.


Sandra mengangguk, "Kamu nggak mau ikut masuk?"


"Nggak, aku nunggu di luar aja."


Sandra tersenyum tanpa bergeming dari tempatnya berdiri, tatapannya masih menatap Nichol dalam dan intens.


"Ra, kenapa?" kening Nicole berkerut, "Ada yang salah?" tanya Nichol heran.


Sebelum meraih gagang pintu Sandra merapatkan tubuhnya pada Nichol, memeluk lelaki itu beberapa saat lalu menarik diri.


"Makasih ya Nick buat semuanya," ucap Sandra membuat Nichol semakin tidak mengerti. Belum lagi Sandra mengatakannya dengan nada pilu, seolah Sandra akan pergi.


"Maksud kamu apa sih Ra, aku nggak ngerti. Makasih buat apa?"


"Buat semuanya, terutama buat ahir ahir ini. Lo udah banyak bantuin gue, nemenin gue, jagain gue dan selalu ada buat gue. Gue seneng bisa ketemu lagi sama lo..."


"Kamu itu tanggung jawab aku Ra selama Alkana belum sadar, itu janjiku. Sama diriku sendiri sekaligus sama ayah kamu, kamu ingatkan?"


"Gue ingat," Sandra melebarkan senyumannya, "Thanks ya" sambungnya. Kemudiam sandra menunduk. Di lihat dari matanya Sandra seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi ia nampak mempertimbangkan banyak hal.


"Mengenai..." Sandra bergumam sejenak lalu terdiam lagi, membuat Nichole yang masih berdiri didepannya menunggu potongan kalimat selanjutnya.


"Mengenai masa lalu kita dulu... gue minta maaf kalau gue udah keterlaluan," Sandra mendongak melihat sejenak pada Nick kemudiam melanjutkan lagi. "Tapi lo tenang aja gue udah lupain semuanya kok," sambungnya secepat kilat.


Mendengar itu Nichol semakin merasa Sandra akan meninggalkannya, itu juga yang mampu ia baca dari gelagat dan sorot netra abu-abu milik Sandra.


"Dan yang akan slalu gue ingat tentang lo adalah kebaikan lo selama ini. Makasih udah pernah jadi bagian terindah dalam hidup gue, gue nggak akan lupain lo Nick. Lo yang terbaik..." Sandra belum menyelesaikan kata katanya tapi Nichol sudah mendekap erat tubuhnya.


Untungnya di lorong koridor nampak sepi jadi mereka tak perlu khawatir ada yang melihatnya.


"Jangan ngomong apa-apa lagi Ra, kamu maafin aku udah lebih dari cukup" Nichol mengusap rambut lurusnya dengan lembut.


"Gue cuma nggak mau kita terpisah seperti dulu," Sandra sembari menarik diri, "Jadi sebelum gue pergi dari jauh jauh hari gue harap lo ngerti gimana perasaan gue biar semuanya jelas. Gue nggak mau ada yang di tutup tutupi."


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Nichol dengan tatapan semakin menajam.


"London," Sandra menjawab sehalus mungkin tapi terasa menusuk bagi Nichol.


"Setelah Alkana sadar gue mau ke London. Jadi gue harap perpisahan kita yang kedua ini akan buat hubungan kita lebih baik, nggak ada dendam, luka atau perasaan yang sama-sama menyiksa seperti dulu. Kalau boleh jujur Nick sebelum Alkana datang di kehidupan gue, gue masih belum bisa lupain lo sepenuhnya. Tapi begitu dia datang perlahan semua tentang lo hilang gitu aja. Meski gue nggak pernah sengaja mau lupain lo atau gantiin orang lain di posisi lo Alkana tetap bisa masuk di kehidupan gue tanpa gue duga sebelumnya. Dan gimanapun keadaan dia sekarang gue akan tetap sama dia, walaupun gue nggak tau kapan dia sadar. Gue sayang banget sama dia Nick, gue harap lo ngerti gimana keadaan gue.


Nichol menganguk angguk, sementara matanya pedih memerah. Nichol mengaku kalah, ia tidak punya kekuatan apapun untuk menahan Sandra.


"Aku ngerti gimana perasaan kamu dan apapun rencana kamu selanjutnya, aku dukung. Asalkan itu bisa bikin kamu bahagia. Ra..." Nichol meraih kedua tangannya, "Seperti yang tadi kamu bilang, aku juga nggak mau perpisahan seperti dulu terulang lagi. Dan kalau setelah ini kamu mau pergi, aku ikhlas. Aku juga jamin hubungan kita baik-baik aja..."


Sandra tersenyum, lega melihatnya.


"Tapi ada satu pesan ku?"


"Apa?"


Nichol tersenyum sebelum menjawab, "Jaga diri kami baik-baik ya atau aku akan kecewa kalau kamu sampai kenapa-kenapa."


"Pasti..."


"Satu lagi?"


Sandra mengangkat satu alisnya, "Apa?"


Nichol menatapnya lebih dalam, "Aku harap kamu nggak bohong soal yang kamu bilang tadi."


"Yang mana?"


"Kamu nggak akan lupain aku."


Sandra melepas pegangannya, "Pasti Nick dan nggak akan pernah," sahut Sandra dan kemudian meraih gagang pintu lalu mendorongnya perlahan.


Nichol menatapnya dalam diam, hingga Sandra benar-benar menghilang dari pandangannya.


Nichol duduk di kursi yang tersedia sambil sesekali melirik kearah ruangn itu. Terkadang ia menginginkan Alkana terbangun lebih lama lagi.


'Keinginan yang buruk.'


***


    Sandra tersenyum begitu melihat tidak ada lagi lead EKG atau alat bantu apapun yang menempel pada tubuh Alkana, hanya ada selang infus yang masih tersisa dan melilit tangan.


"Pagi Al" sapanya seraya menyentuh tangan lelaki itu, meski tidak ada jawaban Sandra berkata lagi, "Gue harap keadaan lo lebih baik dari hari kemarin."


Sandra merebahkan pantatnya pada pinggir brankar sementara tangannya terulur mengusap rambut hitam pekat milik Alkana. Lelaki itu tetap terpejam dengan wajah pucat seperti biasa.


"Kapan Al lo bangun, emang lo nggak kangen sama gue? sama anak kita juga."


Sandra menghela nafas panjang kemudian mengedarkan pandangannya kelain arah.


"Padahal gue udah nggak sabar pengen dengerin cerita lo, gimana caranya lo bisa selamat dari kebakaran itu. Lo hebat Al... gue fikir setelah lo masuk gue nggak akan bisa lihat lo lagi, tapi ternyata sekarang lo masih ada di sini" Sandra menoleh pada Alkana yang masih tetap diam, tanpa bergerak sedikitpun. "Lo selamat. Gue yakin lo udah berusaha buat tetap hidup, dan tepatin janji lo sama gue. Iya kan Al...?"


Sebelum turun dari brankar Sandra mengecup sekilas kening Alkana, "Maaf ya Al gue nggak bisa lama-lama, hari ini gue mau priksa" setelah turun Sandra menggenggam tangan Alkana kemudian berbisik di telinganya. "Jangan lama-lama ya tidurnya gue udah kangen."


Sandra meraih tas yang tadi ia letakan pada kursi menyampirkan dipundak, dan sebelum berlalu ia menatap Alkana terlebih dahulu beberapa saat.


"Tapi kalau misalnya lo masih pengen istirahat gue nggak akan marah kok, mungkin gue harus lebih sabar nungguin lo seperti lo yang selalu sabar nungguin gue. Al... lo masih bernafas sampai detik ini itu lebih dari cukup buat gue, makasih ya udah tetap hidup.


Sandra melengkungkan bibirnya keatas dengan tatapan berair dan kemudian sebuah tetesan air itu tumpah, ia buru-buru menyeka. Sandra tidak mau Nick melihat ia menangis, lelaki itu pasti khawatir.


Setelah puas melihatnya Sandra memutar badan lalu melangkahkan menuju pintu. Belum genap Dua langkah Sandra bergeming sebuah tangan kekar tiba-tiba mengalung di leher di iringin sentuhan dagu yang menempel pada pundak dan hembusan nafas mengenai wajahnya. Untuk beberapa saat Sandra membeku, sama dengan detak jantung dan aliran darah yang seketika berhenti.


'Alkana bangun?' Sandra bergumam dalam hati, tidak menyangka.


Dekapan Alkana terasa begitu hangat dan nyata begitu juga dengan hela nafas yang terdengar begetar tak beraturan seolah lelaki itu tengah merasa kesulitan saat berdiri.


"Al?" Sandra berbisik sambil melirik lelaki yang tengah merengkuhnya dari belakang. Keadaan seperti ini membuat Sandra teringat kejadian beberapa bulan lalu ketika Alkana memeluknya di tengah derasnya hujan. Meski kini keadaanya berbeda, hujan itu tidak membasahi tubuh melainkan pipinya.


Alkana masih diam, namun tangan kekarnya mengerat seolah tak menginginkan Sandra pergi.


"Al," Sandra bergumam lagi dengan jemari menyentuh lengan yang mengalung leher.


"Gue juga kangen sama lo Ra," balas Alkana dengan suara yang lebih mirip seperti bisikan, "Kangen... banget."


Sandra merasa jantungnya berpacu lebih cepat seiring dengan bunga bunga yang bermekaran di dadanya. Sandra sangat senang bisa mendengar suara itu lagi, terlebih saat Alkana mengecup pipinya membuatnya merasakan kembali sesuatu yang telah lama ia rindukan.


"Seperti yang lo minta Ra, gue akan tetap hidup buat lo, buat anak kita dan gue juga akan tepatin janji gue."


Alkana melihat Sandra mengangguk diiringi tangis.


"Maaf udah bikin lo nunggu lebih lama, tapi lo harus percaya sama gue setiap detik yang gue lewatin tanpa lo itu seribu siksaan buat gue. Gue nggak bisa tanpa lo Ra, gue butuh lo...."


Sandra tidak kuat lagi mendengarnya Sandra membalik badan dan memeluk lelaki itu dengan benar. Sandra tidak perduli Alkana telah berbohong dan membiarkannya berbicara sendirian tadi, ia melihat Alkana sadar sudah cukup melegakan baginya. Tangisnya pecah diikuti dekapan yang mengerat begitu saja.


Alkana mengusap rambut panjang milik Sandra dan membiarkan Sandra menangis dalam pelukan. Ada lega yang luar biasa saat Alkana dapat memeluk kekasihnya tanpa beban, meski Sandra sedang menangis namun ia tau itu tangis kebahagiaan. Dan setelah ini Alkana berjanji tidak akan menyia-nyiakan Sandra lagi, tidak akan.


"Ra," Alkana memberi jarak pada tubuhnya kemudian mengusap air mata. "Kita bisa kan mulai lagi dari awal, kali ini gue mau ngelakuin semuanya dengan benar. Gue mau perbaikin kesalahan gue, gue mau bangun harapan yang dulu penah gue hancurin, nepatin janji yang dulu gue lupain, kemudian bahagian lo dan anak kita... bisa kan?


Sandra mengangguk dengan air mata masih terus membanjiri pipinya. "Kita mulai sama-sama," katanya dan lagi lagi menghambur dalam dekapan Alkana.


Bibir pucat Alkana tersenyum lebar dan sebelum Sandra memberi jarak Alkana mencium pucuk rambutnya.


"Makasih ya Ra."


Sandra mengangguk dengan tatapan hangat tertuju padanya.


Cklekk...


Tiba-tiba pintu terbuka membuat keduanya terkejut dan seketika menoleh.


Nichol si pembuka pintu ikut terkejut namun akhirnya dia bergumam. "Maaf, aku cuma khawatir tadi dengar Sandra nangis. Kalau gitu aku tunggu di luar."


Belum mendapat jawaban dari Sandra atau Alkana Nick sudah langsung menutup pintu.


"Nichole," jawabnya.


Alkana menghela nafas panjang lalu duduk di tepian brankar. "Lo nggak nikah sama dia kan?"


Alkana sangat ingat saat Nicole mengaku ngaku anak dalam kandungan Sandra adalah anaknya dan itu cukup mengangganggunya selama ini.


"Nggak, kata siapa?" Sandra bingung ketika Alkana memasang wajah suram.


"Cowok itu yang bilang sendiri waktu itu."


Bukannya merasa bersalah atas salah paham yang dia ciptakan Sandra malah tersenyum jahil pada Alkana. Sandra merapatkan jaraknya pada Alkana kemudian menarik dagu agar mendongak dan menatapnya lebih dekat.


"Lo cemburu?"


Alkana memalingkan muka, tidak seharusnya pertanyaan itu yang keluar. Ini kesalahan serius dan bisa berakibat fatal, Alkana tidak menganggap hal ini sepele.


"Lo fikir gue bisa nikah sama orang lain sementara gue hamil sama lo."


"Jadi kalau lo nggak hamil gimana?" Alkana menjawab tanpa perlu berpikir panjang membuat suasana yang semula penuh haru berubah menegangkan. "Lo akan ninggalin gue, gitu...?"


Dari sorot matanya Sandra bisa melihat Alkana marah dan menganggap serius masalah ini.


"Al, bukan itu maksud gue?"


"Tapi dia mantan lo, kan?" tatapannya menajam dan menusuk, "Apa anak kita beban buat lo?"


"Nggak Al, sedikitpun gue nggak pernah anggap anak kita seperti itu..."


"Terus maksud kedatangan dia apa???"


Sandra menunduk, matanya mulai memerah begitu juga rasa sesak yang tiba-tiba datang dan menyerang didadanya. Menjelaskan pada Alkana tentang posisi Nicole ternyata tidak semudah bayangannya, ia fikir dengan berkata Nicole sepupu ibu tirinya semua akan selesai namun belum sempat ia mengatakan apa-apa Alkana sudah berpikir terlalu jauh. Kesalahan mungkin memang berpusat padanya yang terlalu dekat dengan Nichol dan tentu saja Alkana sebagai kekasihnya merasa tidak nyaman dengan keberadaan lelaki itu.


"Gue juga lihat lo tadi pelukan sama dia," Sandra mengangkat kepala, terkejut mendengarnya. "Gue udah nungguin lo sejak Satu jam yang lalu, tapi begitu lo datang pemandangan itu yang gue lihat. Ok, gue emang pura-pura nggak sadar dan gue ngelakuin itu karena gue bingung harus bersikap gimana sama lo. Gue nggak tau jalan fikiran lo Ra, tapi apa yang barusan gue lihat bikin gue berpikiran buruk tentang lo.


Kedua tangan Sandra terulur menangkup wajah Alkana, tidak mau pandangan lelaki itu teralihp kemanapun.


"Dengerin gue," Sandra menatapnya intens, "Dia cuma sepupu nyokap tiri gue dan gue udah nggak punya perasaan apa apa sama dia, percaya sama gue. Al... gue cuma cinta sama lo, dan anak kita ini juga bukan beban buat gue. Ini bukti cinta kita, meskipun mungkin cara kita yang salah tapi keberadaan bayi ini menunjukan seberapa dalam perasaan gue sama lo. Dan ada atau nggaknya anak kita gue nggak pernah berfikir buat ninggalin lo demi Nicole, cinta gue nggak serendah itu. Seperti yang pernah lo bilang ke gue Al, lo satu satunya orang di hati gue nggak ada yang lain.


Alkana menyentuh kedua tangan yang menyentuh wajahnya, tatapan tulus gadis itu membuatnya yakin kalau Sandra berkata jujur. "Bener lo nggak akan ninggalin gue?"


Sandra mengangguk sambil mengusap air mata.


"Gue nggak akan ninggalin lo Al, seperti lo yang tetap bernafas buat gue."


Tatapan tajam Alkana melunak diikuti garis melengkung di bibirnya. Tangan yang semula menangkup pada wajah kini turun memeluk pinggang. Pinggang yang kini tidak lagi terlihat langsing, namun perut buncit Sandra tetap membuat aura sexy dalam dirinya terpancar.


"Maafin gue?" Sandra merundukan wajahnya hingga kening dan hidungnya saling menempel dengan Alkana. "Jangan marah, please..."


Rambut panjang Sandra yang tidak di ikat berjatuhan di sisi wajahnya. Bibir pucat Alkana masih merekahkan senyum tanpa berniat menjawab pertanyaan kekasihnya. Melihat keberadaanya Sandra sangat dekat Alkana kemudian mengecup sekilas bibir pinknya sebagai jawaban.


Sandra menarik diri menjauhkan wajahnya, sedikit syok dengan kecupan singkat dari Alkana.


"Gue nggak marah," Alkana mendongak memandangi wajah cantik yang masih menatapnya dalam diam. "Gue cuma nggak mau ada pintu yang terbuka buat orang lain di antara kita, siapapun itu."


Sandra mengangguk mengerti, "Nggak akan ada orang lain Al."


Alkana merekahkan senyum lalu memeluk Sandra yang tengah berdiri, karna posisi Alkana lebih rendah Sandra mengelus rambutnya.


Setelah benerapa saat Sandra melihat Alkana bergerak lalu mencium perut buncitnya. "Baik-baik ya sayang di dalam, jangan nakal sama mama" Alkana melirik Sandra yang juga tengah menatapnya sambil terkekeh. Bagaimana tidak ini adalah pertama kalinya Alkana berbicara dengan anaknya selama Sandra hamil. Anehnya Alkana tidak terlihat kaku sama sekali, caranya mengusap perut sampai cara ia berbicara terlihat seperti ayah yang sudah sangat menantikan buah hatinya. Sandra sampai terharu, dan anehnya lagi Alkana tidak terlihat seperti ayah di bawah umur melainkan sosok ayah yang dewasa. Secepat itu Alkana beradaptasi.


"Sehat terus ya sayang, emuuah."


Alkana menciumnya berkali-kali sebelum pada akhirnya menatap wanitanya, "Kayaknya anak kita cowok deh."


***


      Rena sangat lega mendengar kabar Alkana sudah sadar, ia turut senang. Hari ini Rena juga menjenguk langsung untuk memastikan keadaanya. Dan ternyata Alkana memang terlihat sudah pulih, dokter juga berkata beberapa hari lagi bisa pulang membuat Rena merasa bersyukur.


Tapi di sisi lain ada yang membuatnya mengeluh yaitu mengenai putri kecilnya. Akhir-akhir Pika sering rewel dan memaksanya untuk berbaikan dengan Reza. Mungkin Rena keterlaluan membiarkan Reza berlarut-larut tanpa memikirkan anaknya, tapi memaafkan lelaki itu juga tidak semudah membalikan telapak tangan. Sulit. Reza telah membuat kesalahan fatal dalam hidupnya dan tidak mudah bagi Rena untuk percaya lagi pada suaminya.


Malam itu seusai menjenguk Alkana Rena mengajak putrinya pulang tapi entah karena apa Pika kemudian teringat ayahnya. Pika menangis di lantai koridor sambil menghentak-hentakan kakinya. Sumpah Rena malu, belum lagi saat beberapa orang melintas dan melihat anaknya yang menangis meraung-raung membuatnya benar-benar frustasi.


"Pokoknya Pika mau sama ayah, Pika maunya ayah... nggak mau sama mama!"


"Sayang udah ya jangan nangis kita pulang aja, nanti kalau nangis terus kena marah pak dokter loh..." Rena sambil melirik pada seorang dokter yang kebetulan melintas diikuti beberapa perawat, "Nanti kalau Pika di suntik gimana?" Rena menakut nakuti, namun nampaknya tidak mempan sebab Pika malah menjerit.


"NGGAK!" Pika mendorong Rena yang tengah berjongkok di depannya. "Mama pergi... Pika nggak mau mama."


Hiks hiks...


"Mama jahat... mama nggak sayang Pika, mama nggak sayang ayah. Mama jahat... mama pisahin Pika sama Ayah. Pika kangen ayah...!"


Menangis sambil mengomel adalah kebiasaan buruk putri kecilnya, jika terus di biarkan seisi rumah sakit bisa mengetahui masalah keluarganya. Dan itu akan lebih memperburuk keadaan. Rena bingung harus bagaimana, sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan anaknya.


Rena menghela nafas, "Ya udah... gimana kalau kita pulang terus jemput ayah" bujuknya sambil kembali mendekat.


Pika terbelalak, "Beneran?" tanyanya di sela isak tangis.


"Iya, tapi janji ya Pika jangan nangis lagi?"


Pika seketika mengangguk pasti kemudian mengusap air matanya, "Janji" katanya dengan bibir masih mengerucut beberapa senti.


"Ya udah yuk," Rena mengangkat tubuh mungil putrinya untuk berdiri, bersamaan dengan itu Rena melihat Sandra keluar dari ruangan Alkana.


"Kakak udah mau pulang?" Sandra bertanya sambil menutup pintu kemudian mendekat.


"Iya. Pika kayaknya udah ngantuk," Rena beralih pada putrinya, "Besok jugakan Pika mau sekolah."


Pika mengangguk sambil mengusap ingus yang masih terus mencair.


"Kamu gimana Ra, mau pulang sama kakak atau bareng Nicole?"


"Kayaknya Sandra mau jagain Alkana aja deh kak soalnya Nick udah pulang duluan dan tante Fany dari tadi belum datang, aku kasian ninggalin dia sendirian."


"Loh Nick sudah pulang?" Rena heran pasalnya beberapa hari ini Nick selalu ada di samping adiknya everyday everytime tapi mengapa sekarang tiba-tiba menghilang.


Sandra mengangguk pelan. Sandra juga tidak tau kemana perginya lelaki itu. Siang tadi juga saat Sandra periksa kehamilan Sandra sendirian, Nichol pergi setelah melihat Alkana sadar. Sandra hanya di kirimi pesan bahwa ia ada tugas kuliah, entah benar atau tidak. Nichol seperti menghindar darinya, Sandra curiga Nick mendengar pembicaraannya dengan Alkana.


"Ya udah tapi nanti kalau tante Fany sudah datang minta anterin tante Fany pulang ya, jangan sampai kecapean?"


"Iya kak."


"Kakak pulang dulu?"


"Ma, kita kan mau jemput ayah dulu. Nggak langsung pulang kan?" Pika memprotes ucapan Rena.


Sandra yang mendengar itu langsung menatap keponakannya dan kemudian beralih pada Rena.


"Beneran kak?" Sandra penasaran.


"Iya tante, tadi mama bilang sendiri. Iya kan ma?" Pika langsung menyambar sebelum Rena sempat membuka mulut.


Rena mengangguk pelan, sangat pelan seolah malu mengakuinya.


"Seharusnya dari dulu kakak maafin dia."


"Nggak, malah seharusnya kakak nggak perlu maafin dia."


"Kak..."


"Ra," Rena menyela. "Dia sudah keterlaluan sama kamu, harusnya dari dulu kakak dengerin kamu," Rena menunduk, "Kakak minta maaf...."


"Kakak nggak salah dan nggak ada yang perlu di maafin."


"Kalau gitu... kakak minta maaf atas kesalahan Reza?"