NEVER

NEVER
Terlambat



        SUARA gemercik air hujan masih terdengar merdu seolah bernyanyi di luar sana. Memancing kantuk juga dingin yang tak bisa di abaikan. Itulah sebabnya mengapa malam ini Alkana menggunakan jaket tebal dan panjang, ia kedinginan.


Diruang tengah, didepan televisi Alkana duduk di karpet lantai dengan tubuh bersandar pada pinggiran sofa. Matanya menatap layar televisi sedangkan tanganya terulur memencet tombol pada remote memilih acara yang layak ia tonton.


"Makanan datang," ucap Sandra ceria seraya menurunkan dua mangkuk mi instan dan segelas air putih dari nampan.


Alkana menggeser duduknya memberi tempat untuk gadis itu.


Sandra merebahkan pantatnya di samping Alkana sedangkan tanganya mendorong mangkuk yang sudah di lengkapi dengan sendok dan garpu kearah pacarnya.


"Gue cuma masak mi doang nggak papa ya" tutur Sandra seraya melipat kakinya bersila. "Cuma itu yang ada. Kulkas lo kosong bersih lagi nggak ada isinya. Nggak ada sayuran, bahan bahan makanan atau apa kek. Isinya cuma telor sama air mineral, untung aja gue nemu mi rebus di lemari. Lo belum belanja bulanan ya?" cerocosnya tanpa sungkan.


"Belum" jawab Alkana singkat.


Jangankan belanja bulanan ia sendiri saja tidak pernah menginjak dapurnya selama tinggal sendiri. Alkana selalu makan di luar atau pesan di grab food.


Sandra bergumam, "Pantesan" katanya seraya mengaduk mi kuah di depanya.


Alkana perlahan menyesap kuah mi dari mangkuknya yang seketika menghangatkan tenggorokan. Perut yang sedari tadi keroncongan kini sudah tertolong. Alkana tidak pernah pilih-pilih makanan asalkan enak apapun pasti ia makan. Apalagi di saat seperti ini, tidak ada yang mengurusnya kehadiran Sandra sedikit berguna untuknya.


"Enak?" Sandra seraya menatap kekasihnya ingin tau.


"Lumayan. Bisa di makan" sahut Alkana datar.


Sandra melengkungkan bibirnya, "bagus deh" ujarnya lalu menyuapkan mi kedalam mulutnya.


Keduanya menikmati makan malam dengan hikmat seraya menatap layar televisi.


Ini bukan pertama kalinya Sandra melihat Alkana jinak dan tenang tapi Sandra suka Alkana yang seperti ini. Tidak seperti Alkana beberapa menit yang lalu.


Disisi lain lelaki berambut acak-acakan itu beberapa kali melirik gadis di sampingnya. Bahkan ketika sedang makan senyum manis di wajah Sandra tidak pudar. Gadis itu terlihat lain dari biasanya, ia terlihat lebih bahagia.


Alkana fikir selama ini Sandra marah padanya tapi ternyata tidak. Buktinya Sandra datang dan meminta bantuannya. Apakah benar gadis itu tidak marah? Atau, ia sedang merencanakan sesuatu untuk memaksanya bertanggung jawab? Entahlah.


Ukhuk... uhuk...


Makanan yang lolos dari penggilingan tiba-tiba nyangkut di tenggorokan. Sandra langsung mendorong gelas air putih pada Alkana.


Tanpa babibu Alkana langsung mengambil minuman itu dan meneguknya sampai yang mengganjal di tenggorokan mendarat dengan sempurna.


"Pelan pelan makanya" ucap Sandra dengan sorot mata tak beralih dari layar di depan.


Alkana hanya diam lalu meletakan gelasnya  di meja sedangkan pandanganya tak lepas dari Sandra.


Gadis berambut pirang itu menoleh bingung mengapa Alkana menatapnya tanpa berkedip namun sesaat kemudian ia beralih pada layar televisi.


"Lo tadi sekolah?" tanya Sandra.


"Sekolah."


Gadis itu manggut-manggut lalu meletakan sendoknya dan meraih air minum yang ada di samping Alkana. Sepertinya ia sengaja ingin meminum air di gelas yang sama.


"Kalau gue udah sekitar" Sandra menghitung jarinya "tiga, empat. Eh berapa hari ya?" cewek badung itu menggaruk rambutnya bingung.


"Nggak tau lah lupa gue berapa hari, yang jelas gue nggak sekolah sejak gue balik dari rumah lo."


Sandra menggeser pantatnya kebelakang. "Gara-gara ini nih" Sandra menunjukan telapak kaki kanannya yang masih tertempel plaster. "Ini kena pecahan gelas di rumah lo, untung aja kaki gue nggak papa."


"Asal lo tau gue pincang tau nggak jalannya, pembawa sial banget tu gelas pake nancep segala di kaki. Tapi ya lumayan juga sih, sejak kaki gue sakit gue jadi punya alesan nggak sekolah plus nggak di marahin kakak gue."


Sandra berceloteh menceritakan semua aktivitasnya selama dirumah yang kesimpulannya ia bahagia. Ia bermalas-malasan dirumah, di beri perhatian lebih oleh kakaknya sampai sampai kakaknya rela tidak bekerja demi mengurusnya padahal sakitnya tidak terlalu serius.


"Tapi habis ini gue di tinggal" lanjutnya lalu cembetut.


"Kenapa suaminya nggak ikut sekalian?"


"Mana gue tau" Sandra menaikan bahunya.


Alkana menghela nafas lalu kembali lagi terfokus pada layar di depanya ia sudah merasa lega mendengar selama ini Sandra baik-baik saja. Dan yang lebih melegakan ia tidak perlu repot repot bertanya.


"Lo nyariin gue nggak, atau kangen gitu?" tanya Sandra percaya diri.


Lelaki itu menoleh menatap gadis yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Em, gue..." kalimatnya tercekat. Alkana terdiam beberapa saat, lagi lagi bibirnya tak bisa berkata jujur.


"Gue tau kok. Lo pasti mau bilang kalau itu bukan urusan lo kan?" tebak gadis itu. Sandra nampaknya sudah sangat hafal dengan apa yang biasa keluar dari bibir pacarnya.


Alkana bungkam dengan tatapan tidak setuju.


Untungnya Sandra tak menganggap berarti ucapan itu. Lagipula ia tau tidak ada yang bisa merubah kebiasaan Alkana yang sering melontarkan kalimat pedas padanya termasuk dirinya.


Ritual makan keduanya sudah selesai. Namun keduanya masih PW di depan televisi. Sandra meraih ponselnya begitu mengingat ada nomor baru yang tadi menelponnya. Ia tidak sempat mengangkat karena bawaannya terlalu berat terlebih ponselnya ia letakan dalam koper yang membuatnya malas mengobrak abrik susunan bajunya. Alhasil ia memilih mengabaikan panggilan itu.


Sandra meletakan ponselnya pada telinga dan sesaat kemudian terdengar bunyi panggilan terhubung.


Drrrt... drrrt...


Alkana meraih ponselnya di sofa begitu mendengar ponselnya berbunyi.


"Masak?" Sandra menurutkan ponselnya kurang yakin jika nomor baru itu milik Alkana.


Dengan bodohnya Alkana menunjukan layar ponselnya. "Ini nomor lo kan?"


Melihat itu Sandra baru percaya jika orang yang mencarinya adalah Alkana. Sandra memutuskan panggilan lalu menyempitkan jaraknya.


"Jadi lo nyariin gue?" ucap gadis itu seketika di iringi senyuman yang tak Alkana mengerti apa maksudnya.


Disana Alkana baru sadar letak kebodohanya. Alkana terdiam kaku, hanya matanya yang bergerak berkedip beberapa kali seolah mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan memalukan itu.


"Mau bilang nggak? Buktinya lo nelpon gue, terus lo tadi juga ngchat gue kan?" Sandra menunjukan layar ponselnya yang berisi pesan dari Alkana beberapa jam yang lalu. "Hayo ngaku. Kenapa, lo kangen ya?"


Sandra menopang dagunya dengan senyuman yang masih merekah menunggu jawaban. Tidak bisa di pungkiri ia senang mengetahui Alkana mencarinya, sangat senang.


"Gue emang nyari lo?" sahut Alkana yang otomatis membuat Sandra berbunga-bunga. "Tapi, gue di suruh Jery" alibinya.


"kenapa?"


"I-iya dia yang nyuruh gue" katanya kurang yakin "buat basa basi aja."


"Yakin basa basi doang?"


"Iyalah emang ada alasan lain kalau bukan karena basa basi."


Senyum manis itu perlahan memudar. Sungguh sebenarnya Alkana tidak rela melihat wajah cantik yang semula bersinar cerah itu meredup tapi lebih tidak mungkin jika ia berkata yang sejujurnya.


"Oh.." ucap Sandra mewakili rasa kecewanya. Ia serasa baru saja di tampar kenyataan.


***


 


Sandra bangkit dari tidur ketika bunyi alarm mengusik indra pendengaran. Matanya menyapu keseluruh penjuru ruangan mencari sosok yang ia kenali, namun ia tidak menemukannya.


 


Sandra sengaja tidur di kamar Alkana karena semalam mati lampu dan hujan lebat. Belum lagi petir menyambar nyambar di luar sana membuat Sandra takut dan mau tidak mau harus mengorbankan harga dirinya untuk menumpang tidur di kamar Alkana.


Untungnya Alkana berbaik hati dan tanpa perlu bernegosiasi langsung memberi izin untuk Sandra agar tidur di kamarnya. Dan yang lebih membuat Sandra bersyukur semalam Alkana merelakan dirinya tidur di sofa kamar sedangkan ia tidur di kasur.


"OMG!!!" Sandra terkejut saat melihat waktu sudah menunjukan pukul 07.00.


"AL-KA-NA!!!" pekiknya sebal.


Lelaki itu tega meninggalkannya padahal apa susahnya untuk sekedar membangunkan. Sandra mungkin cewek badung tapi untuk sekedar bangun tidur ia tidak susah, apalagi ahir ahir ini ia istirahat dengan cukup dan pasti mudah di bangunkan. Ia yakin Alkana sengaja membiarkannya.


Entah bagai mana caranya Sandra sudah menyelesaikan mandinya dan sekarang ia tengah menyetrika baju sambil menggunakan handuk dan mengapit ponselnya di telinga.


"Ada apa?" sahut suara dari seberang sana.


"Ada apa ada apa lo tega banget sih nggak bangunin gue, udah gitu main tinggal tinggal aja. Terus gue berangkatnya gimana coba, mana udah telat lagi. Lo keterlaluan jadi cowok, lo sengaja kan nggak bangunin gue. Emang apa susahnya sih?" cerocos Sandra seraya menyemprotkan pewangi pada bajunya.


Tanpa sepengetaguan Sandra Alkana tertawa di seberang sana.


"Gue lupa" jawab Alkana enteng.


"APA LUPA!" nafas gadis itu tersengal menahan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun. "Gue segede ini masak nggak kelihatan, lo katarak apa gimana?"


"Jadi lo nelpon gue cuma buat marah-marah?"


"Oke-oke" Sandra menghela nafas berkali-kali. Ia harus tenang, ia harus menahan diri agar amarahnya tidak meledak. Karena saat ini ia butuh Alkana lebih tepatnya ia butuh tumpangan. "Lo dimana sekarang?" tanyanya dengan nada lebih rendah.


"Di jalan."


"Puter balik, jemput gue."


"Nggak bisa gue udah setengah jalan, nanggung."


"Al..." Sandra merengek "Kalau mau nolongin orang jangan setengah-setengah dong."


"Gue nggak pernah nawarin bantuan. Lo sendiri yang datang ke gue"


"Iya deh iya tapi ayolah Al please jemput gue. Nggak mungkin gue pesen taksi Online atau sejenisnya gue nggak punya waktu lagi buat nunggu. Gue juga nggak mungkin nggak sekolah poin gue tinggal..."


"Gue udah di depan, cepetan turun" potong Alkana.


"Serius?"


"Lima menit lo nggak selesai gue tinggal."


***