
TERLAMBAT jika Sandra ingin menyesal, kerana semuanya telah terjadi dan ia melakukan kesalahan itu dalam keadaan sadar.
Saat pertama kali Alkana menyentuhnya Sandra menyadari jika itu salah, ia tau tidak seharusnya ia menyerahkan harga dirinya begitu saja tapi biarpun bisikan itu ada tubuhnya berkhianat dan Sandra merespon sentuhan lelaki itu dengan sangat menjijikkan sampai ia lupa diri, dan sekarang dia hamil. Itu seolah kenyataan pahit sekaligus tamparan keras untuknya atas segala perbuatan yang ia lakukan.
Sebenarnya Sandra takut saat memikirkan bagaimana jika Rena mengetahuinya, Ayahnya, dan apa nanti kata teman-temannya jika mengetahui ia hamil di luar nikah, itu pasti memalukan.
Tidak... tidak!!!
Sandra menenggelamkan wajahnya dalam selimut sambil menutup telinganya. Kepalanya sakit mendengar bisikan-bisikan yang terus menyiksanya, kalimat makian atas kebodohan itu terus menyerangnya tanpa henti. Apalagi saat pertanyaan dalam dirinya merong-rong keras dan mempertanyakan 'Mungkinkah Alkana mau bertanggung jawab???'
Tadi Sandra sengaja menghindar dari pertanyaan Alkana, ia tidak mempunyai jawaban. Sandra ragu Alkana mau menerima kehadiran bayinya, meskipun itu anaknya sendiri.
Tok... tok... tok...
Sandra terperanjat mendengar ketukan pintu kamarnya, namun ia tak bergeming malah makin menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.
'Tidak, Alkana tidak akan masuk, pintunya sudah terkunci dan Alkana tidak akan mengetahuinya. Semua akan baik-baik saja seperti semula, ya...seperti itu... tenang Sandra... tenang....' Sandra berusaha menguatkan dirinya.
Dan sial, Alkana lagi lagi mengetuk pintu kamarnya.
"Ra, kamu sakit...." pekik Alkana membuat gadis itu semakin gelisah.
"Mengapa Alkana nggak pergi aja sih," rutuknya kesal sendiri.
"Sayang, kita ke dokter kalau sakit!"
Sandra semakin tidak tenang terlebih ketika ia mendengar suara jerit pintu, membuat nafasnya semakin ngos-ngosan. Sandra lupa jika Alkana pasti mempunyai kunci serep.
"Ra...."
Suara Alkana semakin mendekat, seiring dengan suara derap langkah yang terdengar lebih jelas.
"Kamu sakit?" Sandra merasakan kasurnya bergoyang saat di duduki Alkana, "Sayang...." Alkana menyikap selimut yang menutupi tubuhnya.
"Al...."
Begitu selimut itu terlepas Sandra seketika menghambur dalam pelukan Alkana.
"Kenapa sayang kamu sakit? kamu pucat dan... kok... kamu ketakutan kenapa?" Alkana khawatir melihat keadaan pacarnya, yang seperti baru saja melihat hantu.
Hiks.... hiks... hiks...
Sandra mengeratkan pelukannya lalu menangis sesegukan. Mungkin ini saatnya untuk Sandra jujur, karena ia juga tidak mungkin menyembunyikan fakta itu sendirian, Alkana berhak tau. Lagian menurut dari yang ia lihat Alkana sudah mencurigai kehamilannya.
"Al, aku hamil."
Kalimat singkat itu lolos begitu saja, siap tidak siap Sandra harus mendengar jawaban Alkana.
Seketika itu Alkana merasa ada yang berhenti entah itu nafas, aliran darah, detak jantung, atau mungkin waktu yang berhenti berputar. 'Apa, Sandra hamil?' ralatnya dalam diam.
Ternyata Sandra tidak pandai seperti yang ia kira, gadis itu ceroboh, sembrono dan bagaimana mungkin selama ini Sandra tidak melakukan sesuatu untuk mencegah kehamilan. Apalagi mereka sering melakukannya selama tinggal serumah, dasar bodoh.
'Tidak, ini pasti salah, ia pasti salah dengar. Ia harus memastikan terlebih dahulu. Benar, ia tidak boleh asal mengambil kesimpulan' Alkana mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Sayang, kamu tau dari mana? kamu jangan asal bilang kamu hamil, kita harus periksa dulu kedokter."
Sandra menarik diri lalu bergeming mengambil Test pack yang ia letakan dalam laci.
"Aku tau dari sini."
Alkana lemas melihat pemberian Sandra, sebuah tes pack strip dengan dua garis merah. "Ini nyata, ini benar-benar nyata, Sandra hamil," batinnya.
"Kamu ceroboh banget sih Ra, kamu tau kan apa yang kita lakuin selama ini. Harusnya kamu tanggap, kamu minum pil atau apa kek supaya nggak hamil, bukan malah diam aja dan nggak ngelakuin apa apa!" seloroh Alkana tanpa perasaan.
"Kamu sendiri gimana? selama ini aku juga nggak pernah lihat kamu pakai pengaman!" Sandra tidak mau di salahkan.
"Iya memang, tapi bukan berarti kamu juga pasrah. Kalau udah kayak gini gimana coba!"
Alkana mengacak rambutnya frustasi, ini adalah kabar terburuk sepanjang hidupnya. Menghamili anak orang, astaga. Ini terdengar menggelikan.
"Lagipula aku harus nanya sama siapa, aku takut." Sandra berkata seraya menunduk, "Aku juga malu mau cerita sama orang lain...."
"TERUS SEKARANG MAU KAMU APA? KITA NIKAH GITU. YA NGGAK MUNGKIN LAH RA KITA KAN MASIH SEKOLAH!!!"
Ucapan Alkana bagaikan petir yang menyambar dan meluluhlantakkan hatinya.
'Tidak mungkin?' Alkana berkata ia tidak mungkin menikah dengan Sandra, lalu bagaimana ini. Siapa yang akan menjadi ayah dari bayinya jika lahir?
Harusnya Sandra sudah menebak bagaimana jawaban Alkana, dan kini ia sudah mendengar langsung dari mulutnya yang ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang ia kira. Sandra tidak menyangka Alkana tega menyakitinya dengan cara seperti ini.
Sandra menangis di sudut ranjang sambil menenggelamkan wajahnya di antara lutut, ia merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dunianya yang beberapa minggu lalu terasa indah kini kembali berubah, bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
Habis manis sepah di buang, seperti itulah yang Sandra rasakan. Ia pikir hanya Alkana satu-satunya lelaki yang mampu membahagiakannya tapi kenyataan berkata sebaliknya.
Hiks... hiks... hiks...
Alkana menoleh melihat gadisnya, ia baru sadar dengan apa yang barusan ia katakan itu pasti sangat menyakiti perasaan Sandra. 'Mengapa ia sangat egois?'
Lelaki itu mendekat lalu menyentuh punggung tangan kekasihnya.
"Sayang maaf, aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku tadi syok, maafin aku ya?"
Sandra perlahan mengangkat kepalanya ketika mendengar sedikit ketenangan.
"Maaf..." Alkana menatap gadis itu lebih dalam seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Sandra mengangguk singkat, dan saat itu juga Alkana membawa gadis itu kedalam dekapannya.
"Jangan dengerin omongan aku tadi ya...." Alkana bergumam seraya membelai rambut pacarnya, "Kamu ingatkan, aku pernah bilang aku nggak akan ninggalin kamu. Jadi kamu nggak perlu takut."
"Jadi kamu mau tanggung jawab?"
Alkana diam beberapa saat, sepertinya memang tidak ada jalan lain selain manikahi gadis itu, lagian ia mencintai Sandra lalu apa yang memberatkannya?
"Aku nggak mau aborsi, aku takut Al...." Sandra menatap Alkana dengan sorot mata sayu.
"Kamu yakin mau nglahirin anak kita?"
Melahirkan? membayangkan saja Sandra takut, tapi... tidak, tidak... ia harus berani.
"Mau, asalkan kamu selalu ada buat aku, dan kamu yang akan kasih aku kekuatan."
Alkana tersenyum, "Iya. Aku janji, I will never leave...."
Sandra mengeratkan pelukannya seraya melengkungkan sudut bibirnya keatas. Ini terdengar lebih baik.
Apapun akan ia lakukan, menghadapi Rena, menghadapi kekecewaan Ayahnya atau apapun, ia tidak takut asalkan Sandra berdua, bersama Alkana.
"Sebulan lagi kita ujian, dan setelah ujian kita nikah, gimana?"
"Dan setelah kita nikah, kita pergi ke London ya....?"
"Mau...." jawab Sandra tanpa pertimbangan.
Alkana merekahkan senyumannya, ia bersyukur di saat seperti ini ia bisa memiliki ide secemerlang itu. Alkana berharap semua berjalan lancar dan mimpinya untuk menemui ayahnya di London dapat tersampaikan.
***
Keesokan harinya, sesuai seperti yang di katakan Rena hari ini Reza kemping, tapi sebelumnya ia akan menjemput Sandra terlebih dahulu.
Reza tidak perduli Sandra mau atau tidak yang jelas ia akan menjemputnya. Lagi pula ia bersama Pika dan ia yakin Sandra tidak bisa menolak ia sudah tau dimana kelemahan adik iparnya yang keras kepala itu.
"Pika ingat kan apa pesan ayah tadi?" Reza bertanya setelah mobilnya terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
"Ingat."
"Apa coba?"
"Kalau tante Sandra udah pulang tante nggak boleh pergi lagi."
"Kalau tante tetap pergi Pika harus apa?"
"Pika mau pura-pura sakit makan biar Mama paksa tante buat pulang kerumah."
Reza tersenyum licik, "Pinter anak Ayah, tos dulu dong...."
Pika tersenyum senang lalu turut melambaikan tangan dan tos pada Ayahnya.
Bukan Reza namanya jika tidak kongkalikong dengan anaknya, meskipun ia tidak di rumah tapi kesempatan Sandra pulang tidak mungkin ia sia-siakan.
Tidak mustahil Pika sangat penurut pada Ayahnya mengingat ia yang memang lebih dekat dengan Reza dari pada ibunya, apalagi akhir akhir ini Pika merindukan tantenya jadi kesepakatan pada ayahnya memang sedikit membantu untuk menahan Sandra di rumahnya.
"Ayah Pika cari tante dulu ya?"
"Iya...."
Pika melepas seatbelt lalu melompat turun untuk mencari keberadaan tantenya.
Reza yang melihat putrinya menghilang di tengah lautan siswa berseragam SMA hanya menatapnya waspada, ia berharap Sandra belum pulang dan Pika dapat segera menemukannya.
Reza melakukan itu bukan karena ia benar-benar mencintai adik iparnya, tidak. Mungkin lebih tepatnya ia hanya terobsesi karena Sandra sangat cuek dan tidak pernah menganggapnya ada di rumah itu.
Sebelum Rena sering keluar kota Reza tidak pernah memperdulikan bagaimana sikap Sandra padanya, karena ada Rena yang selalu memperhatikannya setiap saat, dan semuanya benar-benar terasa setelah Rena pergi.
Dari yang ia lihat Sandra tidak menyukainya, atau mungkin lebih tepatnya jijik melihatnya padahal ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun dan ia juga tidak tau apa penyebab adik iparnya itu membencinya.
Reza sering kali bertanya pada dirinya sendiri, mengoreksi apa yang salah padanya tapi ia tidak menemukan kesalahannya. Hingga pada akhirnya ia tidak ingin menebak nebak, jika Sandra membencinya tanpa sebab maka ia yang akan membuat penyebabnya.
Berlaku kurang ajar, memang sudah tabiat lelaki itu. Menurutnya tidak masalah bermain main dengan adik iparnya, Sandra memiliki paras yang cantik dan bodynya lumayan tak jauh beda dengan Rena, itu membuatnya betah dirumah meski sampai saat ini ia belum mendapatkan apa-apa.
"Tante...!!!"
Pika berlari kecil menghampiri Sandra yang sedang berdiri di depan koridor setelah beberapa menit kebingungan di tengah lautan manusia yang berbondong-bondong memenuhi perkiraan.
"Pika," Sandra terkejut melihat keponakannya ada di sana, "Pika sama siapa?" Sandra seraya berjongkok.
"Tante Pika kangen," Pika memeluk Sandra erat seolah menumpahkan rasa rindunya.
"Iya tante juga."
Pika mencium aroma tantenya, yang tak jauh beda seperti aroma ibunya. Ada bau parfum, kosmetik, deodorant dan bercampur keringat tapi apapun itu Pika menyukainya, bahkan aroma itu sangat ia rindukan beberapa hari ini.
"Tante malam ini nemenin Pika dirumah kan?" tanyanya seraya menarik diri.
"Iya, oh iya Pika di antar Mama ya?" Sandra celingukan mencari mobil kakaknya, dan anehnya sejak tadi ia tidak melihatnya.
Pika menggeleng cepat, "Pika sama Ayah."
"Oh," Sandra memutar bola matanya, hanya mendengar kata 'Ayah' sudah membuatnya malas untuk pulang.
"Sandra, kok ada Pika disini?" kata Audi yang baru saja datang bersama Kanaya.
"Iya nih, dia jemput gue."
"Eh ada tante kembar," Pika menyapa sambil memamerkan senyuman paling ceria yang ia punya.
"Enak aja, tante nggak kembar kok?" protes Audi.
"Kembar tante, soalnya kan kemana-mana tante Audi sama Kanaya berdua. Kayak Upin dan Ipin."
Sandra tergelak mendengar itu.
Kanaya lalu berjongkok dan berbisik pada Pika, "Kalau tante Audi sama Kanaya Upin dan Ipin berarti tante Sandra kak Ros dong?" Kanaya sambil melirik Sandra jahil.
Pika mengangguk setuju kemudian mengacungkan kedua jempolnya, "Iya nggak papa, lagian tante Sandra kadang kadang emang galak," balasannya.
Sandra dan Audi hanya beradu pandang tidak mengerti.
"Om Al...!!!"
Pika melambai kegirangan saat melihat lelaki yang ia kenali berjalan santai dengan satu tali ransel tersampir di pundak.
Entah Pika mempunyai indra keenam atau insting yang kuat Sandra tidak tau, sebab saat ia memanggil Alkana jarak lelaki itu masih berpuluh puluh meter.
"Heran deh gue. Nggak keponakan nggak tantenya, matanya nggak pernah keblinger kalau lihat Alkana" Kanaya sambil geleng-geleng.
Sandra hanya tertawa, sebenarnya ia juga kagum dengan kemampuan yang Pika miliki.
"Tapi ngomong-ngomong, kok bisa Pika kenal sama cowok lo?" Audi penasaran.
"Ya kenalah, Afika gitu loh...." Pika menjawab dengan percaya diri sebelum pada akhirnya ia berlari menghampiri Alkana.
"Om Al...."
"Pika kok bisa disini?" Alkana bertanya ketika jaraknya tinggal beberapa meter.
"Pika jemput tante, Om Al mau ikut?"
Alkana nampak berfikir, tak lama kemudian ia berkata, "Kalau sekarang nggak bisa, gimana kalau besok pagi aja, biar sekalian Om Al antar Pika ke sekolah?"
****