
ACARA makan malam dan mengobrol sudah selesai tapi Fany masih ingin berlama-lama bersama Sandra dan Alkana, akhirnya sebelum pulang Fany mengajak Sandra dan putranya singgah terlebih dahulu di sebuah pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari Cafe, mengingat waktu masih menunjukan pukul 21.00.
Fany akan pulang sekitar pukul sepuluh, sesuai dengan batasan waktu yang di berikan oleh suaminya.
"Tante sering lihat baju-baju bagus seusia kamu disini. Tante pengen beli tapi tante malu karna Tante udah nggak pantas lagi, jadi Sandra mau ya tante pilihin baju sesuai kemauan tante?"
Sandra menatap Fany bingung. Ia fikir tadi Fany hanya butuh teman untuk belanja, tapi ternyata malah Fany yang ingin membelanjakannya, ini tidak benar.
Baiklah ini memang tidak terdengar buruk lagipula meskipun ia menjadi bahan percobaan yang penting Sandra dapat pakaian bagus, dan yang perlu di ingat ini gratis.
Sandra mendekati wanita yang tengah antusias memilih pakaian, lengan kirinya sudah dipenuhi lembar kain tapi tangan lainnya masih memilah milah sebuah dress. Nampak sekali Fany sedang bingung menentukan pilihan selanjutnya karena semuanya terlihat bagus.
"Tante nggak usah repot-ropot, punya Sandra udah banyak kok" Sandra seraya menahan legan Fany yang akan menarik satu dress lagi.
Fany menghela nafas lalu memutar badan dan melanjutkan kegiatannya memilih pakaian yang ada di bagian belakang.
"Iya, tante tau. Dulu juga waktu tante seusia kamu baju-baju tante banyak" jawabnya santai Sandra hanya mengekorinya.
"Tapi anehnya meskipun Tante punya banyak baju tante tetap bingung kalau mau bepergian, kalau kamu gitu nggak?"
Sandra tersenyum, ia ingin mengangguk tapi tidak mungkin. Fany sudah terlalu baik karena mau menerimanya sebagai kekasih putranya dan itu lebih dari cukup. Fany tidak perlu melakukan apapun karena baginya kehadiran Fany sudah termasuk anugrah dan apa yang di lakukan Fany saat ini sepertinya berlebihan.
"Iya sih Tan, tapi Sandra nggak mau ngerepotin Tan...." Belum sempat Sandra menyelesaikan kalimatnya Alkana tiba-tiba datang dan langsung menyahut.
"Terima aja, bukannya kemarin minta uang Lima Puluh juta buat shopping!"
Fany menoleh kearah sumber suara begitu juga dengan Sandra, keduanya tidak tau sejak kapan Alkana membuntutinya karena tadi Alkana bilang tidak mau menemani ibunya berbelanja dan memilih untuk menunggu di lantai dasar.
Sandra melotot tidak terima aibnya di umbar, tapi Alkana malah nyengir seakan tidak berdosa.
"Ember banget sih!" Sandra sebal dan akan mencubit Alkana namun belum sampai keinginannya tercapai Alkana menghindar.
"Sudah sudah" Fany pusing karena lama-kelamaan keduanya malah berlari-larian memutarinya membuat Fany tidak leluasa bergerak dan menganggu kegiatannya.
Alkana berhenti di belakang ibunya lalu menjulurkan lidahnya, mengejek.
Sandra cemberut, sebal karena Alkana berlindung di belakang ibunya. Tapi di sisi lain ia senang karena Fany tak mengindahkan yang di bahas Alkana tentang Lima puluh juta.
"Sandra sini" panggil Fany.
Sandra mendekat dengan bibir yang masih monyong beberapa centi.
Fany menempelkan baju pilihannya pada Sandra. "Nah ini bagus, ini juga" Fany nampak puas dengan beberapa gaun pilihannya.
"Apalagi ini, wah kayaknya semua pilihan tante memang cocok ya? atau emang kamunya yang cantik pakai baju apa aja."
Sandra tersenyum, "Tante bisa aja."
"Ya udah kamu tunggu sini sebentar, Tante mau bayar ini di kasir dulu ya?"
"Sebanyak ini Tan?" Sandra menganga karena yang ada di lengan Fany sekitar sepuluh lembar kain, dengan berbagai jenis ada Sutra, Satin, borkat dan wool peach. Dan itu semua dress.
"Iya, kan semuanya cocok sama kamu" Fany menjawab enteng seolah tidak mempermasalahkan seberapa banyak nominal uang yang harus ia keluarkan.
"Tapi Tan...."
"Udah nggak papa." Fany berjalan melewati Sandra sambil membawa belanjaannya.
Sandra kebingungan, ia tidak tau bagaimana caranya menolak pemberian Fany.
"Al bantuin, malah diam aja sih."
Bukannya membantu Alkana malah mengendikkan bahu yang membuat Sandra semakin kesal.
Sandra akhirnya mengikuti langkah Fany menuju meja kasir, namun belum sampai disana tiba-tiba seorang anak kecil berlari kearahnya dan memeluk pingganggnya.
"Tante ayo pulang?"
Sandra menunduk, keinginannya untuk menghampiri Fany langsung hilang seketika. Sandra terpaku saat mengetahui gadis kecil itu adalah keponakannya.
"Pika." Sandra melepas dekapan itu lalu berjongkok sambil menatap sekelilingnya, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa.
"Pika sama siapa?" tanyanya cemas sambil memegang kedua pundak anak perempuan itu.
"Sama mama, sama Ayah."
"Terus mama sama ayah dimana?"
Pika menunjuk kearah tangga escalator dan benar saja tak jauh dari sana ada Reza yang tengah berdiri menatapnya.
"Tante ayo pulang?"
Sandra menarik pandangannya pada Reza dan beralih pada Pika.
"Nggak bisa sekarang, Tante masih ada urusan."
Pika berkaca-kaca mendengar itu, ia kecewa karena Sandra mengingkari janjinya.
"Pika, Tante janji nanti kalau urusan Tante udah selesai Tante pasti pulang."
Pika menggeleng cepat diiringi derai air mata yang mengalir.
"Pika nggak percaya lagi sama Tante, kemarin Tante janji mau nemenin Pika tapi Tante bohong sekarang Pika maunya Tante pulang."
Hiks... hiks... hiks...
Tangisan gadis kecil itu semakin menjadi, Sandra bingung harus bagaimana sedang kakak iparnya malah menghilang entah kemana.
Alkana yang tadinya hanya menonton kini bergeming dan mendekati gadis kecil itu.
"Al..." Sandra mengangkat kepalanya menatap lelaki yang berdiri di sampingnya. "Bantuin" pintanya.
Alkana menghela nafas gusar lalu turut berjongkok. Ia tidak ahli dalam merayu anak kecil, tapi demi Sandra ia akan mencobanya.
"Om Al anterin Tante pulang Om, Pika mau Tante tinggal lagi sama Pika. Ya Om... ya?"
Belum sempat Alkana bersuara tapi Pika sudah menyerangnya diiringi dengan tatapan iba, sungguh Alkana tidak tega jika melihat anak kecil menangis.
"Pika...."
Sandra menurunkan tangannya ketika perhatian Pika beralih pada Alkana.
"Nanti Om antar Tante kalau urusan Tante sudah selesai ya?" bujuknya dengan suara yang di buat selembut mungkin.
Pika menggeleng sambil mengusap air matanya. "Om Al bohong."
"Nggak, Om janji. Kalau Om bohong Pika boleh jemput Tante di rumah Om, Pika tau kan rumah Om ada dimana?"
Pika tidak langsung menjawab, ia malah menatap Sandra lalu beralih pada Alkana seolah sedang mencari persekongkolan di antara keduanya.
Perlahan Pika mengangguk. Sandra tersenyum senang melihat itu.
"Pika jemput Tante besok" ucapnya kemudian yang sukses memudarkan senyuman di bibir Sandra.
"Emang Pika mau kasih tante apa, kok Pika pengen banget Tante pulang?" Alkana mencoba menjinakkan gadis kecil itu terlebih dahulu.
"Oleh-oleh dari Pika belum Tante terima, kan kasian dia nggak punya teman."
Alkana mengerutkan dahi tidak mengerti, "Apa?" tanyanya pada Sandra.
"Kucing."
"Kok kucing" Alkana bingung.
Sandra lalu berbisik pada Alkana, "Pika emang suka kucing dan dia beliin gue."
Alkana manggut-manggut "Oh gitu."
"Jadi mau kan Om anterin Tante pulang?"
Sandra dan Alkana kembali menegang, bersamaan dengan itu suara Rena mengalihkan perhatiannya.
"Sandra!"
Sandra dan Alkana mendongak kearah sumber suara lalu berdiri, ia fikir Reza tadi benar-benar pergi ternyata ia memanggil Rena.
"Kak Rena" Sandra menatap Rena prihatin, saat itu Rena nampak pucat dan lesu seperti orang sakit.
"Mama, Ayah" Pika membalik badan dan berlari mendekati ibunya.
"Mama bawa Tante pulang ya Ma?"
Rena mengangguk sambil mengusap pucuk kepala putrinya.
"Sandra kamu pulang ya, kakak khawatir sama kamu. Kakak nggak akan paksa kamu buat nemuin papa kalau kamu nggak mau, tapi kamu harus pulang ya?"
Sandra menggeleng lalu tangannya menyelip di sela jemari Alkana dan menggengamnya seolah sedang berlindung.
Rena melirik lelaki tampan yang berdiri di samping adiknya.
"Siapa dia?"
Gadis berambut pirang itu tidak menjawab malah beradu pandang dengan Alkana, Sandra merasa pertanyaan itu lebih horor bahkan melebihi rumah hantu sekalipun, entah karena apa.
Hening, Sandra tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan kakaknya. Lagipula tidak mungkin ia jujur, Sandra takut Rena marah.
"Siapa pun dia Kakak nggak akan marah, tapi kamu pulang ya?"
Sandra merasa lega saat Rena tidak mempermasalahkan siapa Alkana, tapi untuk kembali ke rumah Sandra belum siap.
"Sandra, dia siapa?"
Suasanya yang sudah tegang semakin meremang ketika Sandra melihat kedatangan Fany.
Mall yang luas dan tadinya sangat nyaman kini terasa panas dan menyesakkan, orang-orang yang semula berlalu lalang juga nampak sepi seolah sengaja memberi ruang untuk mereka, namun ruang itu terasa mencekam untuk Sandra.
Karena Sandra diam saja Fany akhirnya bertanya pada putranya, "Sayang dia siapa?"
"Di-dia Kakaknya Sandra Ma." Jawabnya.
"Oh...."
Fany nampak tidak menganggap serius keberadaan Rena, lihat saja kini ia malah mendekati Sandra dan memberikan semua tas belanjaannya.
"Sandra Tante harap kamu suka ya?"
Sandra mengangguk kaku, sambil menerima pemberian Fany. "Makasih Tante, maaf udah ngerepotin."
Fany tersenyum lalu mengangguk, "Iya nggak papa. Oh iya Sandra kamu nggak mau ngenalin kakak kamu sama Tante?"
Sandra tergeragap, di saat posisi tegang seperti ini ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan, bahkan keinginan Fany tak pernah terlintas di otaknya.
"Iya Tante kenalin ini kak Rena" ucap Sandra kaku. Sandra hanya berharap ini tidak memperburuk keadaan.
Berbeda dengan Fany yang malah terlihat senang, ia lalu menyalami Rena, Reza, lalu Pika dan tak lupa ia menyebutkan namanya.
"Eh ada si cantik" Fany berjongkok saat berbicara dengan Pika, "Namanya siapa?"
"Pika" ucapnya tegang.
Fany tersenyum lalu mencubit gemas kedua pipi gadis kecil itu. Fany sepertinya tidak bisa merasakan ketegangan di antara mereka.
"Sandra ternyata kamu mirip ya sama kakak kamu, sama sama cantik lagi."
Sandra meringis, memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Iya tante."
"Ngomong-ngomong kamu mau pulang bareng sama kakak kamu ya?"
Entah sudah berapa kali Sandra merasa nafasnya tercekat, keadaan ini sungguh menyesakkan.
"Iya, saya mau bawa dia pulang" Reza yang sejak tadi diam saja akhirnya bersuara.
Fany nampak kecewa mendengar itu. Fany lalu mendekati Sandra dan memeluk lengannya, "Padahal Tante masih mau sama kamu."
Rena tidak tau siapa wanita itu dan apa perannya dalam hidup Sandra tapi melihat kedekatannya Rena bisa menebak bahwa Sandra merasa nyaman berada di dekat wanita itu dan dari yang ia lihat wanita itu memiliki kepribadian hangat seperti ibunya.
"Gimana kalau Alkana aja yang ngantar kamu pulang" lanjutnya.
"Bolehkan?" pinta Fany pada Rena, "Sandra pasti pulang tepat waktu. Nggak papakan kalau Sandra Tante pinjam dulu?"
Fany tidak sadar dengan yang ia ucapkan ia fikir pertemuan Sandra dengan Rena tidak begitu penting hingga ia dengan mudah mengutarakan keinginannya.
"Maaf Tante tapi sepertinya Sandra harus pulang sekarang" ucap Reza, ia geram melihat Rena hanya diam saja.
"Sandra mau pulang sama Alkana aja kak" ujar gadis itu yang seketika membuat Reza dan putrinya membulatkan mata akibat terlalu terkejut, namun siapa sangka Rena mengangguk.
"Rena apa-apaan kamu, Sandra nggak akan mau pulang kalau kamu ngizinan dia sama wanita itu" protes Reza dengan suara lirih, ia yakin hanya rena yang bisa mendengarnya.
"Nggak papa, dia ada di tempat yang aman" jawab Rena yakin.
Reza membuang nafas lalu memijat pelipisnya tak habis pikir.
"Ya sudah kalau gitu saya permisi" pamit Rena lalu menuntun Pika dan berlalu pergi.
Sandra menghela nafas, ia merasa semua yang menyiksanya menghilang dengan sendirinya.
"Ma kenapa Mama nggak minta Tante pulang?" tanya Pika di sela langkahnya.
"Tante cuma butuh waktu sayang, Mama yakin nanti Tante pasti pulang."
Dengan berat hati Pika akhirnya mengangguk, meskipun di hatinya tidak iklas, sama seperti Reza. Keduanya ia masih tidak mengerti dengan jalan fikiran Rena.
Rena sendiri tidak tau benar atau salah jalan yang ia pilih, tapi melihat Sandra tadi ia merasa Sandra hanya butuh waktu untuk menerima semuanya dan itu butuh proses. Rena tidak mau mengekang Sandra lagi, karena ia tau cara yang selama ini ia gunakan tidak berhasil membuat adiknya patuh.
***
*Thanks yang sudah Like😘