
SETELAH keduanya menyelesaikan ritual melepas rindu, keduanya turun dan melangkah beriringan menuju koridor.
Alkana berjalan dengan meletakkan satu lengannya di pundak seperti kebiasaannya, keduanya tidak perlu malu lagi karena semua teman-temannya sudah tau jika mereka berpacaran, bahkan Sandra sering mendengar di antaranya ada yang iri dengan kedekatan mereka kerena selama ini tidak ada wanita yang mampu menaklukkan hati Alkana.
"Ra, gimana kalau kamu coba priksa ke dokter," Alkana agak berbisik.
Sandra mendongak, "Buat apa?"
"Ya biar tau gimana keadaan bayinya, emang kamu nggak penasaran?"
Sandra berhenti, begitu juga dengan Alkana yang kemudian menurunkan lengannya.
"Tapi aku malu, aku juga nggak tau gimana caranya."
Alkana diam beberapa saat, ia juga bingung dengan siapa Sandra harus berkonsultasi. "Gimana kalau ke dokternya sama Mama aku aja?"
Sandra mengerjap, yang benar Alkana akan mengatakan kehamilannya pada Fany. Apa ia tidak salah dengar?
"Kamu yakin?" Sandra menatap pacarnya tidak percaya, "Aku takut tante Fany marah."
"Awalnya mungkin iya, tapi lama-lama Mamaku pasti ngerti. Lagian cepat atau lambat Mama ku harus tau," Alkana kemudian menoleh ke kiri dan kanan, lalu berbisik, "Kita mau nikah kan?"
"Ya mau."
"Yaudah, jadi mau ya?"
Sandra diam beberapa saat, sebenarnya ia kurang yakin tapi ia tidak punya pilihan lain, "Iya deh."
"Tinggal jawab iya aja susah, padahal tadi waktu ngomong nikah jawabnya cepat" ucap Alkana yang kemudian melangkah lebih dulu.
Tak lama kemudian, "Al tunggu!" Sandra berteriak lalu berlari mengejar Alkana.
Awalnya Alkana terus melangkah, namun sesaat kemudian ia teringat jika Sandra sedang hamil, dan Sandra berlari. Astaga, mengapa gadis itu sangat sembrono.
"Ra...." Alkana berputar arah dan berhenti, "Jangan lari-lari," katanya, sedikit panik.
Sandra yang sudah tiba di depannya hanya cengengesan, "Aku lupa."
Alkana melotot, "Sini pegangan, biar nggak jatuh." Alkana menautkan jemarinya dengan milik Sandra lalu melangkah beriringan.
"Kayaknya nggak harus gini juga deh Al,"
Sandra menatap Alkana heran, bagaimana tidak Alkana mengenggam tangannya sangat erat seperti akan menyebrang jalan raya.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa...."
Sandra tersipu dengan rona pipi bersemu merah, lalu mengangguk.
Di sisi lain, Satria yang baru saja datang tak sengaja melihat pemandangan tak mengenakkan. Rasanya ingin sekali ia merebut paksa gadis yang ia puja dari tangan Alkana tapi apalah daya, ada hati yang tak bisa dipaksa.
Tangan Satria yang mengepal ia hempaskan pada dinding dikoridor, ia muak melihat Alkana yang nampaknya sangat mudah untuk mendapatkan Sandra. Sementara ia yang selama ini mengincar gadis itu tidak mendapatkan apa-apa. Miris!
"Sat, tangan lo berdarah...." dari arah belakang Riska muncul dan langsung meraih tangan Satria yang terlihat memar.
"Bukan urusan lo," Satria menarik diri kemudian melangkah pergi.
"Harusnya lo tau kalau sandra nggak pernah lihat keberadaan lo...."
Satria berhenti mendengar kalimat itu.
"Dia udah punya Alkana dan harusnya itu bisa bikin lo berhenti ngejar dia. Sat, Sandra nggak butuh lo.... "
"Dan gue harap lo juga berhenti Ris," Satria terpaksa membalik badan, "Gue juga udah nggak butuh lo," Satria mengembalikan kalimatnya.
Sesak, itu yang Riska rasakan. Riska ingin menyerah dengan semua ini, tapi ia tidak pernah mampu melupakan Satria. Seandainya ia bisa dengan mudah jatuh cinta seperti Satria, mungkin ia bisa hidup lebih baik sekarang.
"Gue udah berhenti Sat," Riska berkata dengan gemetar, ia sedang berupaya menahan sesak di dadanya agar tidak meluap menjadi butiran air mata. "Gue cuma pengen lo sadar kalau apa yang lo lakukan selama ini buat Sandra sia-sia, sama seperti apa yang gue lakuin sama lo. Tapi makasih Sat, karena lo udah buka mata gue, dan gue pastiin ini terakhir kalinya gue ngomong sama lo.
Satria tercengang mendengar itu, Riska tadi bilang apa? "terakhir." Kalimat itu terdengar asing di telinganya, dan sialnya ia merasa kehilangan. Selama ini Riska selalu mengejarnya dan berharap agar ia memberikan kesempatan kedua, tapi jangankan mencobanya bahkan yang Riska dapatkah hanyalah pengabaian.
Selesai mengatakan itu Riska berbalik arah dan berlari meninggalkan tempat itu.
Air matanya sudah tumpah, tapi Riska beruntung karena Satria tidak melihatnya. Entah tadi ia mendapat keberanian darimana, namun setelah mengucapkan itu ia merasa lega meski yang ia katakan bertolak belakang dengan keadaannya.
Riska masih sangat mencintai Satria ia hanya tidak ingin terlihat lemah, apalagi Satria sudah menolaknya berkali-kali dan itu cukup membuatnya sadar.
Brukkk...
Riska hampir saja tumbang saat tubuhnya menabrak seseorang, harusnya orang itu yang jatuh karena ia tadi berlari namun malah ia yang nyaris mental.
"Sorry... sorry" Riska berucap sambil menunduk namun tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu Riska langsung melanjutkan langkahnya. Ia tidak perduli apa pendapat orang itu yang jelas ia harus segera menuntaskan rasa sesak di dadanya.
Riska duduk di taman belakang, tempat dimana ia sering berkumpul bersama dayang dayangnya saat jam istirahat tapi pagi ini ia sendirian. Suasana taman yang sepi membuatnya lebih leluasa untuk menangis.
"Belum di maafin udah kabur duluan," suara seorang lelaki membuatnya Riska tergeragap dan buru-buru menyeka air matanya. Riska yakin orang itu adalah lelaki yang tak sengaja ia tabrak, jika bukan lalu siapa lagi? ia pikir lelaki itu pergi dan melupakan kejadian tadi, tapi nyatanya ia malah menyusul kemari.
"Oh, lagi nangis, " lanjut cowok itu seraya duduk di sampingnya.
"Maaf, gue nggak sengaja" Riska berkata sambil melirik kearah lelaki itu, ia malu menampakkan wajah sedih dan mata merahnya.
"Gue maafin," jawab cowok itu.
Bukannya senang, tapi Riska malah sebal mendengarnya. Jika dengan semudah itu ia maafkan mengapa lelaki itu harus repot repot mengekorinya kemari.
Perlahan Riska mengangkat kepalanya untuk melihat siapa cowok itu, "Jery!" sumpah ia fikir tadi siapa.
"Iya, kenapa?"
"Ish, lo ngapain disini. Ganggu orang aja tau nggak, pergi sana... gue nggak butuh lo, Pergi pergi pergi..." Riska memukul pundak cowok itu lalu mendorong punggungnya menjauh, kehadiran Jery membuat moodnya yang sudah hancur jadi tambah rusak.
"Gue pikir lo tau gimana rasanya nggak di butuhin...."
Riska langsung bungkam, mungkin Jery tadi mendengar percakapannya dengan Satria.
"Berjuang sendirian itu emang sulit Ris, tapi kalau lo udah nggak sanggup... nggak ada kok yang maksain lo buat bertahan."
"Lo denger semuanya?" Riska menatap Jery penuh tanda tanya.
Riska menurunkan kepalan tangan yang tadi ia gunakan untuk mengusir lelaki itu lalu menunduk, ia malu. Ia merasa menjadi orang terbodoh di dunia. Riska tau Satria sudah jatuh cinta pada wanita lain tapi dengan bodohnya ia masih terus mengejarnya.
"Gue udah sadar sekarang, harusnya gue emang nyerah dari dulu."
"Ya bagus deh... lagian bukan cuma Satria satu-satunya cowok yang bisa buat lo bahagia, buktinya sekarang dia nyakitin lo-kan?"
Riska mengangguk singkat lalu, menghela nafas. Ada benarnya apa yang di katakan Jery, lagi pula untuk apa terus mengejar sesuatu yang tidak bisa di raih, bukankah lebih baik merelakan dan mencari kebahagiaan lain.
"Ayolah Riska cowok di dunia ini nggak cuma satu, masih banyak kok cowok lain yang lebih baik dari dia... ya contohnya..." Jery menggantung kalimatnya, ia sengaja membiarkan Riska menunggu.
"Contohnya apa?"
Jery nyengir, menampilkan deretan gigi putihnya, "Ya gue contohnya."
Riska agak terkejut mendengar itu, "Lo?" tanyanya kurang yakin.
"Iya, gue. Emang kenapa?"
Dan Riska kecewa mengetahui itu, ia fikir Jery tulus ingin menghiburnya, nyatanya ia memiliki tujuan lain.
"Bullshit banget sih lo. Gue pikir niat lo baik. Nggak taunya lo punya maksud lain, lo tu sama aja sama tau nggak kayak cowok-cowok yang lain, suka memanfaatkan situasi. Kalau mau nolong yang nolong aja nggak usah nyari kesempatan dalam kesempitan!!!" sewot Riska kesal.
"Iya sih... kesannya gue emang gitu ya," Jery manggut-manggut, sepertinya cara yang ia gunakan untuk menyampaikan perasaannya memang salah.
"Tapi gue serius, Ris" lanjutnya dengan sorot mata menajam, sampai Riska salah tingkah di buatnya.
"Lo ngomong apa sih!" ketus Riska lalu mengedarkan pandangannya kelain arah. Siapa sangka tatapan Jery membuatnya berdebar.
Riska akui selama ini Jery memang sering menggodanya, tapi ia fikir Jery hanya basa-basi dan tidak mempunyai maksud tersembunyi apalagi perasaan. Tidak, itu sama sekali tidak pernah terlintas di otaknya.
Jery merebahkan punggungnya pada sandaran kursi lalu berkata, "Selama ini gue emang sering sih iseng godain lo, tapi gue ngelakuin itu cuma sama lo."
Perlahan Riska memberanikan diri menatap lelaki itu, dari yang Jery ucapan kedengarannya ada ketulusan di sana.
"Awalnya gue juga nggak tau gue kenapa, tapi setelah gue pikir-pikir ternyata gue suka sama lo."
Riska semakin bungkam, tidak ada kalimat yang mampu ia lontarkan untuk menjawab perkataan Jery. Bukan karena ia terlalu gugup, ia hanya tak habis pikir jika ternyata selama ini Jery menyukainya.
Sebenarnya jika di lihat secara fisik, Jery tidak terlalu buruk. Ia memiliki tubuh atletis, kulit putih, hidung bangir dan yang paling khas Jery mempunyai bola mata yang hitam pekat, membuat setiap tatapannya menyorot tajam
Bukan hanya itu, Riska juga kerap mendengar dari teman-temannya yang sebagian besar adalah penggemar Alkana, tapi mereka sering berkata. 'Jika tidak bisa mendapatkan Alkana Jery-pun tak masalah.' Bagi mereka Jery lumayan tampan, dan lagi lelaki itu tidak sekaku Alkana. Jery memiliki selera humor yang bagus, friendly, dan mudah berbaur meskipun ia sedikit berisik tapi itu tidak membuat aura dalam dirinya pudar.
"Tapi, lo tenang aja, lo nggak perlu jawab apa apa kok. Dan, anggap aja apa yang lo dengar tadi angin lalu, lagian gue tau diri... nggak mungkin kan lo mau jadi pacar gue???" Jery menatap Riska lekat begitu juga sebaliknya, bedanya tatapan dari Riska tak terbaca olehnya.
Jery akui, selama ini ia memang menyukai gadis itu bahkan sejak Riska masih berhubungan dengan Satria, dan Jery sangat senang saat mendengar kabar mereka putus.
Setelah mendengar kabar itu Jery sering menggoda Riska secara terang terangan di kantin, atau dimana pun gadis itu berada. Meskipun selama ini Riska acuh padanya tapi ia senang bisa mengungkapkan perasaannya.
"Sebenarnya lo tu serius nggak sih suka sama gue?" seloroh Riska kemudian, jujur ia bingung dengan cara Jery mengungkapkan perasaannya. Belum apa-apa ia sudah merasa seperti di tarik ulur.
Awalnya Jery berkata menyukainya, tapi sesaat setelah itu ia memintanya untuk melupakannya, maksud Jery apa coba?
"Ya serius, banget malah" lelaki itu amat yakin.
"Kalau emang suka ya bilang suka aja, nggak usah nyuruh gue ngelupain apa yang barusan lo bilang... gimana sih."
"Emang kalau gue beneran serius, lo mau nerima gue?"
Damn, Riska mengerti sekarang, ternyata ucapan Jery barusan hanya merupakan jebakan. Bagus sekali.
"Ya... nggak... juga sih," Riska menjawab kikuk, entah karena apa tapi dalam hatinya ia tidak iklas mengatakan itu.
"Harusnya lo nggak perlu jawab," Jery seraya menyorotkan tatapan kecewanya.
"Kenapa?"
"Karena gue udah tau jawabannya."
Riska menatapnya prihatin, "Sorry?"
"Gue nyadar kok siapa gue, lagian nggak mungkinkan lo mau nerima orang kayak gue yang serba biasa aja ini buat jadi pacar lo."
"Gue nggak pernah kok cari cowok yang sempurna buat jadi pacar gue, ya... termasuk lo." Jery berbinar mendengar itu, Riska seperti baru saja memberinya lampu hijau ,"Gue cuma butuh waktu...."
"Waktu?" Ralat Jery seraya berfikir, "Waktu buat?"
"Ya buat nerima elo lah, emang apa lagi?"
Lelaki itu memiringkan tubuhnya menghadap gadis di sampingnya, lalu berkata.
"Maaf gue nggak mau kasih lo waktu, karena gue udah lama suka sama lo dan kalau lo nggak suka sama gue nggak papa lagi, santai aja...."
Riska diam dengan otak yang terus menimbang ucapan lelaki itu, ia takut menyia-nyiakan kesempatan. Menurutnya Jery lelaki yang baik, dan tidak ada salahnya ia mencoba.
Bukannya Jery jual mahal, ia hanya tidak ingin tersakiti oleh harapan. Sebenarnya bisa saja jika ia ingin memberi Riska waktu, tapi ia tidak mau sebab belum tentu Riska mau menerimanya.
Krrring....
Lonceng berbunyi dengan nyaringnya, dan terpaksa Jery harus menyudahi percakapannya.
"Udah lonceng, gue duluan ya...." Jery beranjak dari kursi sambil menyampirkan ranselnya di pundak.
Baru beberapa meter Jery melangkah, Riska memanggilnya.
"Jery tunggu!"
Lelaki itu berhenti lalu membalik badan, "Kenapa?"
"Gue... gu-gue mau jadi pacar lo."
******