
"Lo nggak mikir gue bakal ngeracunin lo kan???"
Haris terhenyak, bagaimana Sandra bisa tau apa yang ia fikirkan?
"Nggak kok Ra" bantah Haris seketika.
"Kirain. Lagian nggak mungkin juga gue tega ngerjain lo, lo kan udah baik sama gue."
Haris tertegun mendengar itu, pemikirannya tentang hal buruk yang akan terjadi mulai terkikis. Ia lupa bagaimanapun Sandra juga manusia, memiliki perasaan dan tidak mungkin Sandra terus menerus menyakitinya sedangkan selama ini ia selalu baik pada gadis itu.
"Ya udah, gue makan ya?"
Sandra mengangguk. Haris meraih sendok plastik yang sudah Sandra siapkan dan mulai menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.
"Gimana?"
Gadis itu menatap Haris lekat, menunggu jawaban dari lelaki itu.
Haris diam dengan mulut masih mengunyah makanan yang semakin lama semakin terasa nikmat di lidah.
"Enak" ucap Haris.
Sandra tersenyum girang, "serius enak?"
"Serius. Ini nasi goreng kornet paling enak yang pernah aku makan, makasih ya?"
Sandra mengangguk di iringi lekukan di bibirnya.
Tak lama berselang satu persatu siswa kelas XII IPA mulai memasuki kelas.
Ada yang senang melihat keberadaan Sandra, ada yang sebal, risih, jijik tapi ada juga yang tidak perduli. Sama halnya dengan Sandra yang juga tidak perduli dan memilih mengabaikan orang-orang itu.
Sandra masih setia di sana, menemani Haris makan di mejanya. Untungnya Haris duduk sendiri jadi ia tidak ada yang mengganggunya.
"Ra?" panggil Haris di sela makannya.
"Iya."
"Gimana kalau lain kali kamu masakin aku aja, aku bosen makan makanan di kantin."
"Boleh, tapi jarang jarang aja ya?"
Haris menggeleng, "kalau kamu nggak mau aku juga nggak mau lagi bantuin kamu ngerjain PR."
"Lo ngancem gue?"
Haris nyengir kuda, "kalau nggak mau ya udah. Berarti ini terahir kalinya aku bantuin kamu."
"Ya jangan!"
"Jadi mau ya?"
Sandra menghela nafasnya gusar, "I-iya udah deh" katanya terpaksa. Daripada ia harus mengerjakan PRnya yang setiap hari menggunung, bisa cepet ubanan dia.
Haris tersenyum penuh kemenangan, kemudian tangannya terulur meyentuh punggung tangan gadis itu.
"Makasih."
Di waktu yang sama tanpa sengaja Alkana melihat apa yang di lakukan Sandra bersama mantannya.
"Ya udah tapi habisin ya makannya?"
Haris mengangguk pasti, "Iya."
Alkana masih berdiri di ambang pintu. Ia bingung harus bagaimana. Alkana ingin mengabaikan apa yang ia lihat meski itu menggangu, tapi jika ia pergi ia tidak mau Sandra menganggapnya cemburu. Sekalipun kenyataanya benar.
Dan lagi yang membuat Alkana tak habis pikir ternyata nasi goreng yang tadi ia puji setinggi langit itu bukan dimasak special untuknya melainkan untuk Haris. Jika Alkana mengetahuinya dari awal pasti Alkana tidak sudi memakan makanan itu, sumpah ia menyesal.
"Oh jadi Sandra bawain buat Haris juga" ucap Jery sambil menyampirkan lengannya di pundak Alkana, "nggak bisa di biarin ini Al."
"Brisik lo!" tukas Alkana.
"Ya nggak usah ngegas kali" Jery seraya menatap kearah yang sama dengan Alkana, "enak ya jadi Haris udah dibawain bekal, dibawain minum udah gitu makannya di tungguin lagi. Nggak kayak lo cuma di kasih bekal doang, boro-boro di temenin makan minumannya aja nggak ada. Kasian banget" ucap Jery prihatin.
"BISA DIAM NGGAK LO!!!" bentak Alkana di iringi tatapan horor pada temannya. Jery langsung kicep.
Tanpa Alkana sadari ucapannya membuat seisi kelas menoleh, termasuk Haris dan Sandra.
"Al...?" Sandra bangkit menghampiri Alkana.
"Sialan lo..." umpat Alkana lalu menepis lengan Jery dan melangkah menjauh. Kepalang ketahuan cemburu ahirnya Alkana memilih pergi.
"Galak amat sih lo, lagi datang bulan!" pekik Jery namun Alkana terus menjauh.
"Dia kenapa Jer?" tanya Sandra bingung, setaunya Alkana baru datang terus marah-marah.
"Biasa."
"Biasa kenapa?"
"Cemburu, dia tapi malu. Gengsinya ketinggian" jawab Jery yakin.
"Dari tadi Alkana di sini?"
"Iya."
"Oh..." Sandra manggut-manggut dalam hatinya ia senang. "Jadi Alkana cemburu."
***
Suara riuh pertandingan basket antar siswa kelas XII Ipa dan Ips memenuhi penjuru sekolah. Meski di kelas XII Ipa bukan mata pelajaran Olahraga tapi pak Yoza selaku guru penjas memperbolehkan siswa kelas Ipa bergabung, bukan tanpa alasan pak Yoza hanya tidak ingin siswa kelas XII Ipa ribut dalam kelas mengingat guru Seni Budaya yang seharusnya mengajar berhalangan hadir.
"Satria... Satria... Satria...!" suara supporter dari seberang sana terdengar, siapa lagi pelakunya kalau buka Riska dan team Cheledersnya.
"Nggak punya malu banget deh si Riska udah tau di tolak masih aja teriak-teriak dukung Satria, ish amit-amit deh" sinis Kanaya penuh kebencian.
"Iya Nay gue juga risih banget sama tu cewek" imbuh Audi.
Sandra yang berdiri di tengah antara keduan temannya hanya menjadi pendengar sedangkan matanya fokus kearah lapangan, ralat lebih tepatnya kearah Alkana.
Sangat mudah membedakan kelas XII Ipa dan Ips. Karena kelas Ipa menggunakan seragam putih abu-abu sedang Ips menggunkan pakaian olahraga membuat Sandra mudah sekali menemukan lelaki itu.
"Michael... semangat!!!" teriak Audi.
"Bimo... i'm here, semangat!!!" Kanaya ikut ikutan.
"Kok lo malah nyemangatin kelas Ipa sih?" protes Audi.
"Lah kan pacar gue anak ipa, masak gue harus semangatin pacar lo. Ogah."
"Iya juga ya. Ya udah deh gak papa."
"Lo nggak mau semangatin Alkana Ra?" Kanaya seraya melirik kearah temannya yang masih anteng.
"Kayak lo barusan, Idih norak" Sandra sambil mengibaskan rambutnya.
"Biasa aja lagi. Tuh lihat si Riska aja nggak punya malu neriakin mantannya, masak lo yang punya pacar nggak di semangatin."
"Iya Ra, sekalian lo tunjukin sama cewek-cewek centil di kelas Alkana biar dia tau kalau lo itu beneran pacarnya. Ya nggak Nay?"
"Hm, betul betul betul."
Sandra menoleh kearah Audi lalu beralih pada Kanaya. "Harus banget ya gue alay kayak gitu?"
Audi dan Kanaya mengangguk bersamaan.
"Seorang Sandra neriakin satu cowok. Lo berdua tau kan yang naksir gue itu banyak," balas Sandra angkuh.
Oke, Sandra memang menyukai lelaki itu tapi untuk berteriak di depan semua orang menyebut nama Alkana ia harus berpikir seribu kali. Sandra tidak mau harga dirinya runtuh.
Kanaya mengelus dada, "jadi lo mau sampai kapan biarin ulat nangka itu merajalela?" Kanaya menunjuk kearah Cecilia dan teman-temannya.
"Iya juga ya?" ucapannya seraya menatap kearah cewek centil yang pernah menyerangnya.
Sandra mengangguk yakin, bagaimanapun Sandra tidak suka jika ada yang mengganggu pacarnya. Lagi pula tidak ada salahnya ia sekali-kali mengorbankan harga dirinya, demi Alkana.
"Ayo Ra..." titah Audi.
Sandra menarik nafas panjang lalu berteriak, "AL-KA-NA SEMANGAT, I LOVE YOU...!!!"
Bukan hanya Alkana yang menoleh tapi juga seluruh pemain dan supporter termasuk gurunya.
"Gila lo Ra, teriakan lo kekencengan."
"Masak?" tanyanya tidak sadar.
"Pak Yoza pelototin lo Ra, cabut cabut" Kanaya bergeming sambil menarik lengan temannya. Sandra menurut seakan tau jika berada dalam bahaya. Yoza memang guru paling tampan di sekolah tapi ke killerannya Sebelas Dua belas dengan bu Septi dan Sandra harus segera menghindar.
Alkana tersenyum saat melihat gadis yang baru saja berteriak menyebut namanya melipir menjauh dari lapangan. Ia merasa seperti ada yang bermekaran di dadanya.
"Senyum kan lo sekarang?" Jery sambil menyikut lengan temannya.
Alkana menyibakan rambutnya kebelakang dengan senyuman yang masih sama. "Kenapa, gak boleh?"
Jika Alkana berbung-bunga mendengar teriakan Sandra berbeda dengan Satria. Sejak mendengar gadis itu menyatakan "i love you" pada Alkana Satria langsung keluar lapangan, ia tidak bersemangat lagi.
Ketiga cewek badung itu berhasil menghindar dari tatapan macan gurunya dan sekarang mereka sudah berada di kantin.
Begitu sampai Audi lalu memesan makanan, Kanaya sibuk membeli cemilan dan Sandra mengambil minuman. Namun ketika Sandra hendak menutup Showcase matanya melirik kearah kue tart berhiaskan cery yang berada di rak paling bawah.
"Kue siapa ini pak?" tanya Sandra pada lelaki beruban yang berdiri di balik etalase.
"Oh itu, punya siswa kelas XII tapi tadi yang nitipin neng Cecil."
Sandra manggut-manggut, karena penasaran ia menarik kue itu. Siapa tau di kue itu tertera nama orang yang berulang tahun.
Happy birthday Alkana Dirga.
Sandra terbelalak melihat tulisan itu. "Jadi hari ini Alkana ulang tahun?" Sandra menepuk jidatnya, "kok gue sampe nggak tau sih" Sandra merutuki dirinya.
"Ra... mana minumnya?" pinta Audi.
"Iya iya bentar."
Sandra meraih tiga botol frestea kemudian menutup showcas di depannya dengan siku, tapi ketika ia akan beranjak ada rasa tidak iklas dengan keberadaan kue itu. Cecil dan teman-teman Alkana merayakan ulang pacarnya, masak ia tidak.
Setelah terdiam beberapa saat Sandra tersenyum smirk. Tidak ada salahnya kan jika ia sedikit memberi pelajaran untuk Cecil?
Selesai dengan aksinya Sandra lalu duduk bergabung dengan teman-temannya.
"Thanks" Audi seraya meraih minuman di tangan sahabatnya.
Sandra mengangguk. "Eh Nay gue pinjemin duit dong?"
***
"Happy birthday to you..."
"Happy birthday to you..."
"Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..."
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, saat Alkana baru akan bergeming dari kursi teman-temannya menyanyika lagu selamat ulang tahun untuknya membuat lelaki paling tampan seantreo sekolah itu mengurungkan niatnya.
Hari ini adalah hari ulang tahun Alkana yang ke Delapan belas tahun, dan setiap tahunnya teman-temannya selalu merayakan. Meski tidak di gelar seperti sebuah pesta tapi Alkana bersyukur karena masih ada yang perduli dan mengingat hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun Al semoga panjang umur?"
"Thaks ya."
"Selamat ulang tahun, semoga sehat selalu."
"Makasih."
"Selamat ya Al."
Teman-teman Alkana bergilir mengucapkan selamat beserta do'a dan harapannya setelah semuanya selesai barulah Cecil menunjukan kue tartnya yang sudah tak berbentuk.
"Maaf Al kuenya rusak" Cecil seraya menunduk malu begitu juga teman-temannya.
"Tapi tadi nggak gitu kok, tadi bagus" bela teman Cecil yang berpawakan jumbo.
Alkana menatap miris kearah kue tart yang bentuknya seperti habis di cacah, hancur tak beraturan.
Tak lama berselang kemudian datanglah suara ribut-ribut memasuki ruang kelasnya.
"Minggir minggir pacar Alkana mau lewat!" kata Audi, "Eh lo Cecil minggir lo. Ngapain berdiri di situ, awas ya ntar kue buat Alkana lecet lagi gara-gara lo!"
Cecil bergeser dengan sorot mata menatap horor kearah tamu tak di undang.
"Apa lo liat-liat" sinis Audi yang kemudian menepi memberi ruang untuk Sandra, sedang Kanaya berdiri di belakangnya.
Di sini Sandra berdiri di depan Alkana tangannya membawa kue tart rasa Coklat bertuliskan 'Happy Birthday Sayang.' Meskipun nampak terlihat tenang tapi Sandra merasa sangat gugup saat itu, apalagi saat netra biru lelaki itu menatapnya lekat membuat degup jantungnya tidak bekerja dengan benar.
"Happy birthday Al, Wish you all the best" Sandra menggigit bibir bawahnya, ia sangat gugup. Apa lagi ia berada di tengah teman-temannya, ia tidak tau harus mengucapkan apa lagi.
"Em.. God bless you" lanjutnya.
Senyuman di bibir Alkana terbit begitu mendengar kalimat singkat dari Sandra. Itu memang ucapan yang sering ia dengar tapi karena di sampaikan oleh seseorang yang special maka do'a itu juga terasa berarti untuknya.
"Sorry kuenya nggak gue kasih lilin, gue pikir lo bukan anak-anak yang harus tiup lilinkan?"
Alkana mengangguk singkat membuat Sandra bingung harus mengatakan apa lagi. Ahirnya Sandra menunduk, kalah jika harus terus menatap kedalam mata lelaki itu.
"Udah?" tanya Alkana.
Sandra mendongak, "sebenarnya belum. Ada satu lagi" katanya malu malu.
"Apa?"
Sandra berjinjit kemudian satu tangangannya meraih kerah baju Alkana.
Cup
Kecupan singkat mendarat dengan sempurna di bibir Alkana membuat siapapun yang melihatnya merasa iri.
Sengaja Sandra melakukan itu, ia ingin mengetahui perasaan Alkana yang sebenarnya, sebab kemarin sore saat Sandra menayakan tentang perasaan lelaki itu Alkana hanya diam kemudian menghindar dan sekarang ia ingin mencobanya lagi.
Seingatnya bibir lelaki itu adalah titik sensitiv bisa menyebabkan Alkana balik menyerangnya. Dan disini di depan teman-temannya Sandra ingin melihat bagaimana reaksi lelaki itu.
Perlahan Alkana mendekat lalu menipiskan jarak wajahnya. Sandra mulai menegang, 'apa yang akan dia lakukan?'
Cup
Dadanya menghangat saat benda lunak itu menyentuh keningnya. Sandra tersenyum dengan mata terpejam merasakan kecupan hangat yang masih menempel di keningnya. Kali ini Sandra berhasil menemukan jawaban atas pertanyaannya, Alkana mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Alkana menyudahi ciumannya lalu beralih memeluk gadis itu.
"Thanks ya Ra?" ucapnya tulus dan dalam.
Sandra tersenyum lalu mengangguk. Bukan hanya Sandra yang mengetahui perasaan Alkana melainkan juga teman-temannya.
Gadis itu terlena dengan usapan lembut Alkana pada rambutnya membuat satu tangangannya yang tengah menopanh kue oleng dan ahirnya jatuh.
Sandra terkejut saat benda itu mendarat di lantai.
"Yah kuenya jatuh..." Sandra menatap sedih kearah kuenya yang rusak bahkan lebih hancur dari milik Cecil.
Alkana menghela nafas kasar, "gadis ceroboh" batinnya.
***