NEVER

NEVER
Garam di Atas Luka



           SEPULUH menit lagi lonceng tanda di mulainya pelajara akan berbunyi, tapi Alkana masih berdiri mematung di samping pintu mobilnya. Bukan tanpa alasan, Alkana sedang menunggu Sandra.


Entah ada angin apa sampai ia rela berdiri di sana berjam-jam tanpa kejelasan. Matanya sesekali menatap benda pipih di tangannya, menggesernya bila perlu dan selebihnya mengintai parkiran juga gerbang sekolah.


Kakinya terasa pegal terlalu lama berdiri, hilir mudik orang orang yang melintasinya lama kelamaan mulai curiga karena Alkana nampak tidak seperti biasa, dia terlihat gelisah.


Nihil, hingga lonceng berbunyi Alkana tidak melihat Sandra. Sebenarnya Alkana hanya ingin memastikan Sandra baik-baik saja tapi bagaimana jika Sandra tidak kesekolah? Ia tidak bisa mengetahui keadaan gadis itu. Untuk menyakini Sandra baik-baik saja sepertinya tidak mungkin, mengingat bercak darah yang kemarin mengotori kamarnya.


Ya, bercak darah itulah yang membawa Alkana ke sana. Itu sangat mengganggu sampai membuatnya berpikir semalaman tentang bagaimana kondisi Sandra. Seperti karma, dimana malam sebelumnya ia mempermainkan gadis itu sampai puas, namun kemudian Alkana di buat mati dalam kecemasan dan rasa khawatir yang menyerangnya tiba-tiba.


"Dimana Sandra?"


"Apa dia baik-baik saja?"


"Apa yang terjadi?"


"Mengapa ia sampai tidak kesekolah?"


"Apa dia terluka?"


Langkah Alkana terayun menuju koridor dengan ribuan pertanyaan berkecamuk di otaknya. Menyiksa tanpa henti, menyuarakan betapa ia tidak mampu menahan rasa penasaran yang menyerangnya tanpa jeda.


Kedua tangannya menyusup kesela rambut mengacaknya frustasi. Ini pertama kalinya ia kecewa karena seorang gadis. Jika biasanya Alkana tinggal memilih wanita mana yang ingin ia miliki tapi kali ini ia harus membayar mahal. Bahkan lebih mahal dari pada uang yang ia keluarkan, Alkana harus membayar gadis itu dengan hatinya.


Seberengsek apapun, Alkana hanyalah manusia biasa dan masih memiliki hati. Dan hati yang tak pernah terpakai itu kini perlahan menunjukan fungsinya.


***


"Al nanti malam gue ikut lo ya? janji deh gue nggak bakal gangguin lo sama Ratu" Jery menatap Alkana penuh kesungguhan namun Alkana melengos tidak perduli.


"Eh, di ajak ngomong juga?" Jery bersungut sebal tidak di gubris temannya.


Alkana melahap makanannya berniat ingin segera enyah dari kantin. Berlama-lama duduk dengan Jery membuat kepalanya semakin pusing, belum lagi saat Jery berceloteh menilai satu persatu cewek penghuni kantin mencari gadis yang kira-kira cocok di jadikan pacar itu terdengar sangat membosankan.


"Tapi boleh kan ya?" Jery mulai lagi "kali aja jodoh gue ada di sana, usahakan nggak ada salahnya. Ya nggak?"


Alkana melirik Jery sekilas lalu mengangguk.


"Al Al.. Riska lewat Riska lewat" Jery menyikut lengan Alkana tapi cowok bermata biru itu masih asik dengan baksonya.


Jery melambai ketika mantan ketua osisnya melintas bersama dayang dayangnya. "Hai Riska, makin hari makin cantik aja" rayu Jery di iringi senyuman terbaik yang ia punya.


"Ya-iyalah emangnya elo, makin hari makin hancur!" jawab Riska dan seketika membuat penghuni kantin tergelak.


"Makan tuh jodoh!" Alkana menimpali.


Jery mendengkus, tidak terima Alkana lebih membela gadis sombong itu. "Teman macam apa lo yang tega ngasih garam di atas luka" ucap Jery dramatis.


Alkana meyeruput orange jus di tangannya lalu menoleh, "Mendingan lo makan terus balik ke kelas. Gue pusing dengerin lo ngomong dari tadi nggak berfaedah."


"Ya-ya-ya..." Jery menghela nafas, mengalah. Ia lalu menarik mangkuk mi ayam yang sejak tadi menganggur.


Tak berapa lama kemudian Jery melihat Audi dan Kanaya memasuki kantin. Jika biasanya ia bertiga bersama Sandra tapi hari ini Audi dan Kanaya berempat, mereka bersama Bimo dan Michael.


"Owh... gue tau nih kenapa lo dari tadi bengong?" Jery melirik jahil pada temannya, "Ibu negara nggak berangkat ya?" tebaknya.


Tanpa sadar Alkana menjawab, "Tau dari mana lo kalau Sandra nggak sekolah?"


"Noh liat?" Jery menunjuk teman-teman Sandra tanpa sungkan. "Itu para pengikut cewek lo kan?"


Alkana mengikuti arah pandang temannya "Oh." Alkana beralih pada makanannya "Iya."


Jery mencondongkan tubuhnya kearah Alkana, "Beneran lo suka sama Sandra?" bisik Jery. Ia yakin hanya Alkana yang bisa mendengarnya.


Alkana terdiam beberapa saat. Namun kemudian ia tertawa, lebih tepatnya ia memaksa bibirnya untuk  tertawa.


Jery bengong, bingung mengartikan ekspresi temannya. "Mustahil mustahil suka beneran baru tau rasa!"


***


       BARU saja Alkana merebahkan pantatnya di kursi Bar tapi Ratu sudah datang menghampirinya seakan sedang menunggu lelaki itu.


Lagi, Alkana datang ke tempat terkutuk itu. Sebenarnya ia malas hanya saja Jery yang merengek meminta agar ditemani. Selebihnya Alkana ingin mencari Sandra. Seingatnya gadis itu gemar menghabiskan uangnya untuk berkeliaran di sana. Apalagi Alkana yakin saat ini Sandra sedang membutuhkan ketenangan dan disinilah Sandra biasa melepas kegundahan hatinya.


"Al gue ke toilet dulu ya?" pamit Jery begitu melihat Ratu menghampiri temannya.


Alkana mengangguk singkat. Jery bergeming melewati ruang remang-remang di padati banyak orang.


"Gue tau lo pasti datang Al?" Ratu seraya memeluk lengan lelaki itu.


"Ada apa?" tanya Alkana dingin.


Ratu mendongak mengamati lelaki itu lebih dalam, "Ada yang belum selesai" bisiknya.


Kening Alkana membentuk kerutan, "Apa?"


Bukannya wanita sexy itu menjawab Ratu malah berdecak sebal dan melepas rangkulannya.


"Lo keterlaluan ya Al? Lo udah ninggalin gue udah gitu pura-pura lupa. Mau lo apa sebenarnya?"


Lebih dari sekedar jawaban, Alkana mendapat omelan panjang lebar dari Ratu atas tindakannya yang pernah meninggalkan gadis murahan itu di hotel.


"Udah."


Pertanyaan dari Alkana terlontar saat Ratu berhenti di sela kalimatnya dan sepontan membuat Ratu bungkam.


"Sandra pacar gue" kata Alkana kemudian.


Ratu mengembang kempiskan hidungnya. "Terus kenapa kalau dia pacar lo?" Ratu mulai nyolot.


Alkana paling tidak suka jika ada yang ikut campur dengan urusannya. Alkana menatap tajam gadis di sampingnya. "Siapa lo berani nanya urusan gue. Lo cuma cewek yang gue booking buat gue mainin, lo udah kelewat batas Ra!"


Ucapan itu sukses membuat Ratu gemetar. Ratu terlalu percaya diri untuk mendekati Alkana dan tidak menyadari jika lelaki itu hanya menganggapnya sebagai mainan. Kesalahan terbesarnya adalah Ratu menyukai Alkana dan ingin memiliki lelaki itu tanpa pernah berfikir bahwa kini ada gadis lain yang menempati posisi yang ia inginkan.


Senyum Alkana tersungging sinis, namun begitu menusuk di hati Ratu. Alkana meraih dompet lalu menarik beberapa lembar uang.


"Gue fikir ini cukup" Alkana memberikan uang itu di telapak tangan Ratu. "Untuk bayar pemanasan kemarin, lo kerja dengan baik."


Ratu meremas uang itu, sakit hati mendengar pelecehan Alkana.


"Harusnya cuma uang yang lo cari, bukan gue" Alkana mengangkat sudut bibirnya, puas melihat Ratu terdiam dalam genangan air mata.


"Lain kali lo harus tau diri" imbuh Alkana kemudian beranjak pergi meninggalkan Ratu yang masih mematung dengan amarah yang menggebu- gebu.


"ARGHH...!!"


Kepalan tangan gadis itu memukul meja. Kalah, ia merasa kalah. Ratu pikir dengan ia menunjukan dimana kamarnya bisa membuat gadis yang di sukai Alkana pergi tapi malah ia yang mendapat pengabaian dari Alkana.


Shit shit shit Shit!!!


***


Terimakasih buat yang udah baca sampai sejauh ini...☺☺☺