NEVER

NEVER
Hilaf



BLAMM


Satria menutup daun pintu dan segera melangkah pergi.


Huek...


Sandra berhenti ketika merasa ada yang mengaduk isi perutnya, terlebih saat ia melihat adegan Alkana dan perempuan itu, sangat menjijikkan.


"Ra lo nggak papa?" tanya Satria dengan nada cemas.


Sandra menggeleng cepat "Gue nggak papa."


"Kita harus cepat pergi dari sini?"


Sandra menurunkan lengannya dari leher Satria "Iya, lo bener Sat, sebelum Alkana mergokin kita."


"Ayo." Satria dan Sandra langsung berlari meninggalkan hotel itu.


Persekongkolan mereka berlangsung saat Satria secara tidak sengaja memergoki Sandra yang tengah mengendap-endap membuntuti Alkana kearah kamar penginapan, dan dengan mudahnya Satria mau saja di suruh Sandra untuk berpura-pura membawanya masuk ke kamar yang di maksud wanita itu.


Sandra dan Satria berlari tungang langgang melewati orang-orang yang ada di sana lalu berhenti di sebuah parkiran.


Satria berteriak saat melihat Sandra kebingungan harus berlari kearah mana. "Ra di sana mobil gue!"


Sandra mengangguk lalu mengikuti langkah Satria. Setelah sampai di mobilnya Satria menyempatkan diri membukakan pintu mobil untuk Sandra.


"Thanks Sat" ucap Sandra seraya tersenyum singkat.


Satria mengangguk, ketika Sandra sudah duduk mantap di dalam sana Satria berputar kearah pintu kursi kemudi. Bersamaan dengan itu sebuah pukulan melesat di wajahnya dan seketika membuat Satria tumbang.


Sandra terbelalak, terkejut bukan main saat melihat kedatangan Alkana yang tiba-tiba menyerang Satria.


Bugh


Bugh


Bugh


Satria terbujur lemas di depan mobilnya, ia tidak di beri kesempatan sedikitpun untuk menyerang balik dan hanya bisa pasrah menghadapi kemarahan Alkana. Seluruh tubuhnya terasa remuk di hantam pukulan bertubi-tubi tanpa jeda.


Alkana menarik kerah jaket Satria kasar, dengan sorot mata tajam dan mengerikan. "MAU LO APAIN SANDRA HAH!!!"


Ukhuk.. ukhuk.. ukhuk..


Satria terbatuk batuk, jangankan menjawab untuk bernafaspun ia kesulitan.


"KALAU LO MAU NYENTUH DIA LANGKAHI DULU MAYAT KU!!!"


Satria mengangkat satu alisnya, ia pikir Alkana marah karena ia mengetahui kelakuan bejatnya bersama wanita bayaran itu, namun nyatanya bukan. Alkana khawatir Satria berbuat hal tak senonoh pada pacarnya, diluar dugaan.


Alkana menghempas tubuh lemas tak berguna itu lalu beralih mendekati Sandra. Sandra yang sedari tadi ketakutan dengan kemarahan Alkana ahirnya berpura-pura pingsan, mencari aman.


Tanpa babibu Alkana lalu memboyong tubuh pacarnya meninggalkan mobil Satria.


***


 


Di kamar Alkana. Seusai melepas hayhils milik Sandra, Alkana menyelimuti gadis itu. Ada rasa tenang ketika melihat Sandra baik-baik saja.


Alkana duduk di samping gadis itu dengan sorot mata tak lepas dari Sandra mengamati setiap inci dari gadis itu. Tak lupa sorot matanya mencari jejak yang tertinggal di leher pacarnya tapi Alkana tidak menemukan apa-apa setelah itu barulah ia percaya bahwa Satria tidak melakukan apa pun pada kekasihnya.


"Dasar badung," bisik Alkana lirih seraya mengangkat sudut bibirnya.


Sandra menggeliat lalu memiringkan wajahnya, ia tidak mungkin membiarkan Alkana terlalu lama menatapnya, Sandra bisa mati kaku.


Tangan Alkana terulur menyelipkan rambut nakal yang lepas dari ikatan. Sandra mengerjap kaget ketika lelaki itu sengaja menyentuhnya untung Alkana tidak curiga. Sebenarnya Sandra takut Alkana mengambil keuntungan ketika ia tidur seperti sebelumnya tapi apalah daya ia hanya bisa berpura-pura pasrah. Sandra berharap Alkana segera pergi agar ia bisa bernafas lega.


Beberapa saat kemudian Sandra merasakan hembusan nafas menerpa bibirnya membuat Sandra yakin jika lelaki itu akan berbuat mesum padanya. Namun itu tidak berlangsung lama, Alkana langsung menarik diri ketika menyadari gadis itu tengah menipu dirinya.


Alkana bukannya ingin berbuat mesum melainkan ingin memastikan jika Sandra memang mabuk, tapi ketika ia mencium aroma di bibirnya ia sama sekali tidak menemukan bau Alkohol atau sejenisnya jadi mustahil Sandra mabuk karena tidak meminum apapun.


Tatapan yang semula menyorot kagum kini berubah menakutkan, Alkana harus memberi pelajaran untuk gadis itu agar ia mengerti bahwa ancaman Alkana bukanlah sebuah lelucon.


Berhenti atau Menyesal, Sebenarnya adalah pilihan yang sangat mudah tapi Sandra mempersulit dan lebih memilih menyesal. Sandra terlalu berani mencampuri urusannya.


Alkana bergeming melepas kaosnya menampakkan tubuh profesional kebanggaannya, kemudian tangannya melepas ikat pinggang dan membuangnya sembarang. Sandra masih terpejam dengan detak jantung yang berdebar "mati aku, mati aku, mati aku" batinnya ketakutan. Sandra merasakan Alkana bergerak-gerak di sana tapi ia tidak tau apa yang tengah Alkana lakukan.


Klekk


Sandra mendengar suara saklar lampu yang di matikan, dan hanya menyisakan cahaya redup di ruangan itu. "sialan kenapa sih Alkana nggak keluar keluar, mana lampunya di matiin lagi. Nggak tau apa kalau gue takut gelap" Sandra terus menggerutu kesal, dan sesaat kemudian Sandra merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Alkana membuang selimut yang melilit tubuhnya.


Alkana mengangkat sudut bibirnya melihat deru nafas gadis itu memburu, tampak sekali jika Sandra sedang ketakutan. Alkana merangkak menaiki tubuh mulus yang terbujur lemas dan berhenti saat wajahnya telah sejajar dengan gadis itu.


"Lo nggak akan ngelupain malam ini Ra" bisik suara itu lirih namun begitu mencekam.


Tanpa Sandra sadari keringatnya mengalir seolah menunjukkan betapa sulitnya menahan diri dari rasa takut yang menguasainya. Alkana tersenyum menyungging lalu menyeka cairan bening di pelipis gadis itu.


Tangannya meraih kedua pergelangan gadis itu lalu menahannya di atas kepala. "Gue tau lo nggak mabuk Ra" bisik Alkana lagi yang berhasil membuat detak jantung gadis itu berhenti.


"Ra, buka mata lo" titah Alkana dengan suara begitu pelan dan husky.


Namun Sandra tidak terpengaruh ia tetap kekeh menyelesaikan drama yang sudah sampai di tengah jalan.


Geram melihat Sandra yang masih diam saja, Alkana lalu melayangkan kecupan di bibir gadis itu dengan kasar. Siapa sangka hal itu mampu membuat Sandra berpikir dua kali, Sandra tidak sudi di sentuh lagi oleh lelaki bejad seperti Alkana.


Alkana menjerit saat gigi taring menancap di bibirnya, seketika ia langsung melepas lumatannya.


"Lo gila!" bentak Alkana saat melihat Sandra telah membuka matanya. Sandra melengos dengan seringaian tak kalah licik.


Tapi bukan Alkana jika menyerah hanya karena sebuah gigitan, ia akan menuntut balas. Alkana mulai lagi mencengkram kuat lengan gadis itu lalu menyempitkan jarak bibirnya, tanpa basa basi Alkana langsung membalas perbuatan Sandra.


Sandra merintih merasakan sakit perbuatan Alkana, namun kemudian Alkana tidak melanjutkan serangannya ia tidak tega melihat Sandra kesakitan. Alkana memberikan ******* dan kecupan kecil di bibir gadis itu membuat Sandra terpejam merasakan nikmat.


Merasa puas dengan bibirnya Alkana beralih kearah leher, namun Sandra tersadar bahwa yang ia lakukan ini salah, sangat salah.


"Al lepas..." Sandra meliuk-liuk kan tubuhnya, enggan lelaki itu menyentuhnya lebih dalam lagi.


"Sssttt" Alkana meletakkan telunjuknya di ujung bibir, "Lo nikmati aja Ra, ini hukuman buat lo."


Sandra menggeleng cepat, "Gue nggak sudi, lo cowok berengsek!"


Alkana tersenyum penuh arti, "Bukannya kita sama, lo juga bukan cewek baik-baik Ra."


"Tapi gue nggak sebejad lo, lo penjahat!" pekik Sandra tepat di wajah Alkana.


Alkana tergelak. Sandra menggeleng melihat Alkana tertawa lepas di depannya. Ia baru sadar di balik sikap dingin lelaki itu ternyata ada jiwa iblis di dalamnya.


"Gue pernah kasih lo pilihan Ra tapi itu tetap bikin lo nggak bisa berhenti jadi jangan salahin gue kalau gue bikin lo nyesel. Lo masih ingatkan konsekuensinya?"


"Al lepas gue nggak sudi!!!" Sandra terus berteriak seraya meronta, meskipun ia tau itu percuma. Kekuatan Alkana tidak sebanding dengannya.


cup


Sandra berhenti berteriak saat Alkana menyumpal bibirnya dengan kecupan. Awalnya kecupan itu sangat lembut namun lama kelamaan menjadi liar, sampai membuat Sandra terbujur lemas.


"Al berhenti" Sandra berucap dengan sisa tenaganya. Ia tidak tahan ketika Alkana mulai menjalarkan kecupannya kearah leher.


Alkana mendongak menatap sorat mata sayu milik Sandra.


"Tapi tubuh lo bilang lanjutin Ra" jawaban itu terlalu berengsek untuk di dengarkan.


"Al gue mohon..." Sandra mengiba dengan sorot mata berkaca-kaca. Ia tidak tau lagi harus bagaimana mempertahankan harga dirinya.


Alkana menggeleng di iringi seringaian licik di wajahnya, untuk hal yang menguntungkan Alkana tidak ingin mengalah.


"Al... hiks hiks" Sandra menggeleng dengan derai air mata yang mengalir deras membanjiri pipinya. Sayang, Alkana terlalu kejam untuk menuruti permintaan gadis itu. Alkana tidak perduli tangisan itu, ia kembali melanjutkan kegiatannya dan mulai lagi mengulum bibir merah yang selalu menggodanya.


Sandra ingin menolak menepis lelaki itu menjauh namun Alkana memperlakukannya dengan sangat lembut sampai Sandra melayang di buatnya dan berahir pasrah. Perlahan Alkana melepaskan cengkraman lengannya kemudian kedua tangannya mengarah di dada gadis itu dan meremas benda lunak di dadanya berulang ulang.


Sandra mengeluarkan desahan halus di bibirnya, satu tangannya meremas seprei dan tangan lainnya mengalung di leher Alkana membuat lelaki itu semakin memperdalam ciumannya. Sepenuhnya Sandra sadar ini salah tapi tubuhnya berhianat Sandra tidak bisa memungkiri bahwa sentuhan Alkana membuatnya menggila.


Kecupan Alkana turun kearah leher dan meninggalkan bercak merah di sana yang mungkin akan terlihat besok.


"Al..." panggilan itu yang terdengar begitu menggoda.


Alkana tersenyum puas melihat Sandra ahirnya mengikuti permainannya. "Malam ini gue nggak akan lepasin lo Ra."


Dan malam itu Alkana merenggut sesuatu  yang Sandra jaga selama Tujuh belas tahun. Tidak ada yang Alkana lewatkan sedikitpun, ia menikmati setiap inci tubuhnya.


***


         Sandra mengerjapkan matanya kala mendengar dengkuran halus menelisik indra pendengarannya, ketika dua bola matanya terbuka dengan sempurna Sandra melirik ke arah Alkana yang berbaring di sampingnya dengan lengan melingkar pada perut dan kaki melilit tubuhnya.


Ingatannya berputar mengingat kejadian beberapa jam lalu, dimana Alkana mampu membuatnya mengerang, merintih, menjambak rambutnya demi merasakan sensasi gila yang membuat inti tubuhnya meledak.


Sandra menutup wajahnya dengan telapak tangan ia merasa pipinya merona, malu dengan apa yang ia lakukan. Apalagi saat Sandra memberikan Kehormatannya secara suka rela membuat dirinya merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia.


Lalu apa bedanya ia dengan Nicol? ia sama kotornya dengan lelaki itu. Tapi tidak, setidaknya Sandra tidak berselingkuh.


Hal yang seharusnya ia hindari kini telah terjadi dan ia tidak bisa mengubahnya. Setelah ini Sandra benar-benar merasa hidupnya hancur. Tidak ada lagi sisi baik dalam dirinya, semuanya rusak. Alkana harus bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi apakah lelaki itu mau?


Sandra ingin mengutuk dirinya, bagaimana mungkin ia membuat keputusan besar tanpa memikirkan akibatnya, "bodoh" pekiknya dalam hati. Apa Sandra lupa bahwa lelaki itu hanya mengambil keuntungan untuk memenuhi hasratnya kemudian setelah itu ia akan di buang seperti sampah? Tidak, Sandra tidak pernah melupakan itu ia hanya hilaf. Ya mungkin lebih tepatnya seperti itu.


Cukup ayahnya, Nicol dan Reza lelaki yang pernah memperlakukannya dengan kejam, Alkana jangan sampai. Setelah ini Sandra akan berusaha keras menaklukkan hati lelaki itu, ia tidak mau dirugikan.


Sandra menarik selimutnya saat merasakan lengan kekar Alkana mengerat, ia takut Alkana terpancing lagi dengannya mengingat tubuhnya tidak terbelit sehelai benang pun.


Sandra memiringkan tubuhnya mengamati wajah damai lelaki itu. Sebenarnya sulit mempercayai jika lelaki itu adalah penjahat kelamin, tapi fakta sudah membuktikan segalanya.


"Kenapa bangun?" tanya Alkana tanpa membuka matanya.


Sandra diam, Alkana pasti hanya mengigau, pikirnya. Alkana membuka netra biru yang membuat Sandra tertangkap basah karena diam-diam mengamatinya. Alkana tersenyum melihat Sandra menatapnya, tapi Sandra lalu berbalik arah membelakangi Alkana namun Alkana tidak membiarkan gadis itu bergeming.


"Ken-kenapa?" tanya Sandra.


Secepat kilat Alkana sudah menyambar bibirnya dengan ganas. Sandra memukul pundak Alkana yang kini sudah berada di atasnya.


"Al lepas," Sandra kehabisan oksigen menghadapi ciuman brutal dari Alkana.


Sesaat kemudian Alkana menyudahinya lalu berkata, "Gue mau lo, lagi Ra?"


Shit, Sandra membeku mendengar permintaan itu, haruskah ia hilaf untuk yang kedua kalinya?


***