
SEBUAH mansion terletak di perumahan mewah terkenal London One Hyde Park dan tidak jauh dari Department Store kini menjadi tempat tinggal baru Alkana. Berbeda dengan gaya hidup Fany yang masih terbilang sederhana, nyatanya Albert mempunyai gaya hidup glamour layaknya seorang aktor papan atas.
Namun siapa sangka rumah yang memiliki serangkaian kamar megah, langit langit tinggi, kolam renang luas dan parkir bawah tanah itu tidak membuat seorang Alkana betah di rumah. Hari harinya selalu ia gunakan untuk berkeliaran bersama teman-teman barunya.
Awalnya, Alkana memang sempat kesulitan dalam memahami bahasa mereka tapi setelah bulan berganti bulan perlaha lahan Alkana menguasainya, dan kini Alkana sudah kuliah di salah satu Universitas ternama pilihan ayahnya dengan jurusan sesuai keinginan Albert, tapi jangan berfikir Alkana menurut pada ayahnya sebab jawabannya tidak sama sekali.
Alkana memang hidup dengan fasilitas lengkap dari ayahnya, kuliah seperti mahasiswa pada umumnya tapi jangankan untuk saling berkomuniksai dengan Albert untuk bertemu saja ayahnya selalu kesulitan.
Anehnya Albert tidak pernah marah dengan kelakuan Alkana, sekalipun anak laki-laki kesayangannya itu jarang pulang kerumah dan susah di atur. Kadang Alkana sampai heran, mengapa sesabar itu Albert menghadapinya. Padahal yang ia ingin Albert marah dan mengembalikan ia pada Fany tapi nyatanya tidak. Alkana sampai kehabisan akal bagaimana caranya agar bisa kembali ke tanah air, karena jika hanya merayu Albert Alkana tidak pernah berhasil.
Percuma, ayahnya pernah bilang sampai mulutnya berbusa sekalipun ia tidak akan pernah mengizinkan Alkana kembali ke Indonesia. Apalagi menemui si bodoh itu, tidak akan pernah, dan Alkana pusing harus bagaimana.
Seandainya pasrah menjadi pilihan terbaik pasti ia lakukan tapi untuk sekarang menyerah adalah pilihan terbodoh dalam hidupnya. 'Ia harus melakukan sesuatu?' itu yang selalu berputar di otaknya setiap waktu.
***
"Dimana dia?" Albert bertanya pada istrinya dalam bahasa inggis. Matanya meneliti sekeliling ruang yang memiliki detail kuning keemasan, tangannya memegang ponsel yang ia letakan pada telinga.
Baru Lima menit lalu Albert melihat Caroline ada di rumah namun saat ia tinggal ke kamar kecil istrinya sudah menghilang.
"Maksudmu anak laki-laki mu?" balas suara dari seberang sana. "Tanpa ku jawab kamu pasti sudah tau kemana dia. Kenapa sejak ada dia di rumah kau selalu bertanya putramu? padahal dulu waktu Jade dan Michelle masih bersama kita kau jarang mempertanyakan putrimu."
Albert berdecak sebal, setiap kali ia bertanya dimana putranya, Caroline selalu membandingkan sikapnya dengan cara Albert memperlakukan putrinya. Padahal kedua putri dan satu putranya memang jelas berbeda. Alkana, anak laki-laki dan satu-satunya, yang berarti harapan terbesar Albert sebagai pewaris sementara kedua putrinya kini sudah di bawa pergi oleh para suaminya.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, katakan kau melihatnya hari ini atau tidak?"
"Tidak, aku sibuk. Banyak pekerjaan yang harus ku tangani...."
"Apa mengurus anjing membuatmu sesibuk itu?"
Albert menyindir, pasalnya kegilaan istrinya dengan hewan yang satu itu terlewat overdose, Albert sampai tak habis pikir. Bahkan Caroline mempunyai sebuah markas khusus untuk anjing-anjing peliharaannya.
"Ayolah, itu sekedar hoby aku juga masih mempunyai pekerjaan lain, tapi... anggap saja kita sama? kau terobsesi dengan putramu dan aku terobsesi dengan anjingku. Sekarang kau memahaminya, kan?"
"Ya sudahlah, lakukan saja apa maumu..." Albert yang sedang malas berdebat akhirnya mengalah, "Akan ku tutup telponnya."
"Ah, sebentar" Caroline tidak melanjutkan dari kedengarannya ia nampak sedang kebingungan mencari sesuatu.
"Apa lagi?"
"Kau melihat Hermes ku, dimana ya? aku lupa meletakannya dimana, tidak ada dalam mobil."
Albert yang masih berada di ruang tengah melirik pada sofa dan melihat tas jinjing yang mungkin di makud istrinya.
Albert menghela nafas, selain penyuka anjing dan super sibuk istrinya itu semakin hari juga semakin pikun "Kau meninggalkannya di sofa."
"Sungguh, syukurlah" Albert dapat mendengar jelas Caroline membuang nafas, lega. "Untung kau menelpon, aku akan kembali setelah Lima menit."
"Hm...." Albert menjawab malas kemudian mengakhiri panggilannya.
Sesuai seperti ucapannya, Caroline datang tidak lama setelah Albert memutus panggilan, dan tanpa berbasa basi langkahnya langsung tertuju pada Hermes berwarna silver kesayangannya.
"Oh my god, aku fikir aku meninggalkannya di kantor."
Albert meletakan remote TV begitu melihat wanita berambut pirang dengan bibir yang di beri warna merah menyala. "Kapan terakhir kali kau melihatnya?" Albert bertanya seraya menyincing lengan kemeja.
Caroline yang hendak bergeming kini tertahan, ia nampak berfikir "Sekitar Lima hari yang lalu."
"Apa dia pergi bersama teman-temannya?"
"Sepertinya tidak, sudahlah memangnya tidak ada pertanyaan lain. Itu itu saja yang kau tanya setiap hari, aku bosan...."
Caroline beranjak, meninggalkan Albert yang sepertinya masih ingin menanyakan banyak hal.
"Tunggu sebentar?" Albert bangkit menghampiri istrinya. "Apa kau tau mengapa ia tidak membawa mobil?"
Albert menatap istrinya penuh tanda tanya, sepenuhnya Albert tau istrinya sering menyibukkan diri di kantor mengingat istrinya juga wanita karir tapi satu hal yang Albert ingat, Caroline juga menyukai Alkana sekalipun ia tau Alkana adalah anak dari Fany, Caroline tidak mempermasalahkan itu sebab selama ini Caroline tidak pernah di karuniani keturunan laki-laki, mulai dari anak hingga cucu dan sepertinya mustahil jika Caroline tidak tau sama sekali dimana Alkana. Setidaknya sebagai orang yang paling sering pulang pergi Caroline pasti tau putranya menghilang kemana.
"Oh mengenai itu," Caroline bergumam. "Apa dia belum mengabarimu?"
"Tenanglah putramu baik-baik saja aku bisa menjamin" Caroline melangkah, Albert mengikutinya. Ia tidak tau mengapa isrtinya begitu yakin Alkana baik-baik saja.
"Kau mengetahui dimana putraku?"
"Tentu, dia ke Indonesia..."
"Apa?" Albert tak habis pikir bagaimana Caroline mengatakan Alkana ke Indonesia dengan begitu santai, berbeda dengan dia yang seketika berapi-api.
"Kau tau dia ke Indonesia tapi kau tidak memberitahiku, kau bodoh atau apa! kau tidak tau bertahun tahun aku menunggunya tapi kau membiarkannya pulang begitu saja. Kau benar-benar wanita tidak berguna!!!"
Caroline membalik arah, tidak terima dengan tuduhan itu.
"Tidak berguna kata mu? baik tapi itu menurutmu" Caroline mengangkat kepalanya tinggi seakan menantang, "Cobalah Albert gunakan sedikit saja hati nuranimu, kekasihnya melahirkan dan dia membutuhkan putramu. Aku sebagai sesama wanita sangat mengerti bagaimana jika aku berada diposisinya. Kau fikir mengeluarkan kepala manusia semudah kau mengolok-olok kekasih putramu itu, Hah?! tidak Albert kau salah besar, kami para wanita harus bertaruh nyawa untuk hidup seseorang. Dan kau laki-laki tak penah mengetahui bagaimana rasanya!!!
Balas istrinya tak kalah sengit.
"Ok ok, dan apapun itu aku akan merebut purtaku lagi...." Albert sambil bergeming.
"Tidak perlu," Caroline menghalangi, "Alkana akan membawanya kemari?"
"Bersama si bodoh itu?"
Caroline mengangguk, "Tepat seperti dugaanmu."
"Aku tidak sudi menampung wanita itu, aku akan menyusulnya."
Albert beranjak, mencari dimana ia meletakan dompetnya kemudian berlalu dari tempat itu.
"Apa yang akan kau lakukan?" Caroline menghadang langkah suaminya.
"Mengambil putraku, ia harus pulang setelah kekasihnya melahirkan."
"Kau gila?" wanita itu bersidekap dengan tatapan elang menyorot tajam. "Apa yang salah dengan wanita itu, dia sudah melahirkan cucumu?! apa kau benar-benar tak punya hati?"
"Kau lupa Carol, ini urusanku dan dia anak laki-laki ku... kau tidak perlu ikut campur," kecam Albert penuh peringatan, tatapannya tak kalah seram dan menyala-nyala.
Caroline diam, menahan amarah juga rasa dongkol di dadanya. Ia sangat mengenal Albert, dimana saat berdebat ia tidak pernah berujung menang karena si arogan suaminya selalu bisa mengalahkannya dengan ego yang membabi buta.
"Kau tidak tau apa-apa termasuk kebahagiannya, aku ayahnya, dan aku yang lebih tau apa yang terbaik untuk anakku!!!"
"Really???" Caroline menyela namun kedengarannya mengejek. "Ok, begini..." Caroline mengambil nafas berusaha tenang sekaligus bersiap menyambung kalimat berikutnya.
"Anakmu, Alkana Dirgantara memang datang ke Indonesia dan bermaksud baik Albert. Dia menemani kekasihnya yang sedang melahirkan, setelah itu membawanya kemari. Tidak kah kau ingin mengetahui seperti apa cucumu?" Caroline bertanya dengan sorot mata melunak, namun suaminya mengalihkan pandangan.
"Kau sungguh tidak ingin melihatnya, ya? kau tau Albert cucumu laki-laki.... Coba bayangkan jika kau menggendong seorang bayi laki-laki bermata biru yang menggemaskan, tidakkah itu menyenangkan???" Caroline menggodanya, tatapan penuh binar tak lupa ia kilapkan. Caroline yakin Albert menyukai kabar baik darinya.
Albert nampak berfikir, amarahnya seketika mencair begitu mengetahui cucunya laki-laki.
"Benarkah... anaknya... laki-laki?" Albert bertanya malu-malu.
Caroline mengangguk antusias, "Alkana sendiri yang memberitahuku, dia bilang anaknya laki-laki dan lahir dengan berat Tiga kilo gram, bukankah kedengarannya bayi itu sangat sehat?"
Albert diam, sungguh ini kabar paling bahagia yang ia terima setelah beberapa minggu kepalanya diisi dengan rasa penat karena pekerjaan. Albert sampai serasa ingin melompat saking senangnya, tapi ia harus menahan diri. Tidak mungkin ia menunjukan kegembiraannya di depan Caroline.
"Sepertinya kau harus mempertimbangkan lagi jika kau tidak mau menerima kekasih putramu, sebab tidak mungkin kau membawa cucumup tanpa ibunya."
"Aku tetap harus memastikan kebenarannya."
Setelah mengatakan itu Albert melangkah pergi.
Yang Albert katakan memang ingin memastikan tapi kenyataannya ia sudah tidak sabar ingin segera melihat seperti apa cucu laki-lakinya.
'Cucu, laki-laki, bermata biru, sangat sehat dan menggemaskan....'
"Aku harus segera melihatnya."