NEVER

NEVER
Menyerah



      SETELAH menonton perdebatan singkat antara Alkana dan Rena, Riska memutuskan untuk mencari Jery. Menurutnya Jery berhak mengetahui masalah yang menimpa sahabatnya.


Riska melangkah tergesa menuju parkiran, namun setelah mencari kesana kemari ia tidak menemukan pacarnya. Sebenarnya ia tidak tau kendaraan apa yang sering di gunakan Jery untuk kesekolah, dulu sebelum Sandra dekat dengan Alkana Riska sering melihat Jery satu mobil bersama Alkana tapi sekarang tidak pernah lagi sebab Sandra yang saat ini lebih sering bersama Alkana dan itu membuat Riska bingung harus mencari Jery kemana.


Plak...


Riska tersentak saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya.


"Nyariin gue ya?" ucap suara itu diiringi cengiran di wajahnya.


"Iseng banget sih, di cariin dari tadi malah ngagetin!" katanya seraya mendengus sebal. Untungnya lelaki itu Jery, jika bukan mungkin sudah ia telan hidup hidup.


Cowok yang sempat mengaggetkan Riska itu tersenyum, "Serius nyariin gue? kenapa? mau ngajakin pulang bareng ya, ayo..." Jery dengan penuh percaya diri langsung menggandeng lengan pacarnya.


"Apa-apain sih," Riska melepas pegangannya, "Siapa juga yang mau ngajakin pulang bareng, kePD-an!"


"Terus ngapain nyari gue kalau bukan karena mau pulang bareng?"


"Itu... emm," Riska tidak tau apa yang membuatnya gugup tapi saat akan mengatakan masalah Alkana pada Jery membuatnya merasa terkesan ikut campur, padahal sebelumnya ia tidak perduli dengan lelaki itu. Lalu untuk apa ia memusingkan masalah sahabatnya?


"Sadarlah Riska," rutuknya dalam hati.


"Ini... soal... teman lo," akhirnya kalimat itu meluncur dengan gemilang.


Jery menyipitkan matanya, "Teman. Siapa?"


"Jadi gini," Riska menyelipkan anak rambut lalu memfokuskan diri pada lelaki di depannya, "Tadi gue nggak sengaja dengar Alkana debat sama wali murid di ruangan bu Septi, dan wali murid itu bilang kalau Sandra itu hamil sama Alkana... tapi...."


Lagi. Riska tidak melanjutkan ceritanya, dan tentu saja itu membuat Jery menunggu. 'Lanjut tidak lanjut tidak,' sungguh Riska ragu untuk mengatakannya.


"Tapi apa?"


"Alkana bilang Sandra nggak hamil sama dia tapi sama Reza," terlanjur basah mandi sekalian, itulah yang Riska lakukan saat itu.


"Alkana bilang gitu?" tanya Jery dengan sorot mata menajam.


Hal yang tidak pernah ia inginkan benar-benar di lakukan oleh temannya, Alkana lempar batu sembunyi tangan. Dan ini lebih buruk dari dugaannya.


Riska menunduk takut, ia tidak pernah melihat Jery menatapnya sesangar itu.


"Emang Reza siapa sih? ups" Riska membekap mulutnya sendiri, "Maaf, maksud gue kayaknya nggak mungkin kan Alkana gitu. Soalnya dia, kan teman lo dan pergaulan lo selama ini sama dia kayaknya... kayaknya...."


Kayaknya apa??? Oh my gosh, Riska blank. Ia tadinya berniat memberi informasi tapi malah serasa menggurui. Dan mengenai Alkana dan pergaulannya, sebenarnya ia tidak tau apa-apa, lalu untuk apa ia mengatakan itu? sial, ia salah bicara.


"Gue tinggal dulu," Jery seketika beranjak pergi.


Riska sudah menduga, dan ia menyesal karena tidak becus menyampaikan masalahnya.


"Beg0, beg0, beg0..." Riska mengetuk kepalanya berulang, "Ngapain coba pake ngomong gitu segala. Jadi pergikan dianya, huhh..." rutuknya kesal sendiri.


Setelah melihat Jery menghilang dari pandangan Riska melanjutkan langkahnya menuju gerbang. Namun belum sempat kakinya melangkah Riska mendengar suara keributan di koridor, belum lagi orang orang yang semula berlalu lalang menuju parkiran malah berlari dan berkerumun di sana membuatnya menjadi penasaran.


Riska berlari kecil, lalu menyelip di antara orang-orang itu. Dari yang ia lihat sepertinya ada yang berkelahi dan Riska ingin mengetahui siapa orangnya.


"Jery!!!" Riska syok dengan apa yang ada di hadapannya, ia fikir tadi Jery pulang lebih dulu tapi ternyata lelaki itu malah melakukan adu otot dengan Alkana.


Bugh... bugh... bugh...


"Brengsek! mau lo apa? belum puas lo mainin Sandra hah!!! bajlngan lo!" ucap Jery di sela pukulannya.


Saat itu Alkana tidak melawan. Tidak juga pasrah, ia hanya menghindar meski Jery selalu berhasil memukulnya.


"Lo nggak tau apa-apa Jer, dan lo nggak perlu ikut campur!"


"Persetan!" Jery menghempas tubuh Alkana sampai lelaki itu terkulai lemas di lantai. "Gue tau itu anak lo, gue tau. Dan lo... cowok pengecut yang pernah gue kenal!!!"


Bagai melihat tontonan gratis, seperti itulah kelihatannya. Anehnya di antara orang-orang yang disana tidak ada yang berniat melerai. Bukan karena mereka sengaja tapi mereka takut melihat Jery yang sudah seperti orang kesetanan.


Jery murka mengetahui sahabat satu-satunya menyakiti Sandra dengan begitu keji.


Alkana tersenyum sinis sambil menyeka cairan merah di sudut bibirnya, ia tidak menyangka Jery begitu perduli dengan Sandra. Dan darah segar itu... buktinya. Ini juga pertama kalinya Jery mengamuk padanya, lelaki itu benar-benar mengeluarkan taringnya dan sialnya lagi ia yang menjadi sasaran.


"Lo!!!"


"JERY STOP!!!"


Jery yang hampir meluruskan serangannya pada Alkana seketika berhenti, "Udah udah, ngapain sih pakai berantem segala! kayak anak kecil tau nggak!!!"


Jery diam, jika itu temannya Jery pasti sudah menepisnya jauh jauh, tapi kali ini tidak mungkin karena ini Riska, pacarnya dan dia perempuan jadi tidak mungkin Jery mengusirnya begitu saja.


"Ayo pulang sekarang!" Riska menarik paksa lengan pacarnya, tapi Jery tak bergeming.


"PULANG ATAU GUE LAPORIN SAMA BU SEPTI!!!"


Jery terhenyak, sejak kapan Riska pandai mengancamnya?


"Ayo...." Riska menariknya lagi, Jery terpaksa menurut. Tapi sebelum beranjak Jery berkata.


"Gue kecewa sama lo," katanya dengan tatapan tertuju pada Alkana, "Yang lo lakuin bukan cuma bisa ngancurin Sandra tapi juga kakaknya."


Sementara Alkan hanya menatapnya tanpa berdosa.


"Dan Satu lagi Al," sambung Jery "Gue... nyerah jadi teman lo."


Setelah mengatakan itu Jery dan Riska berlalu pergi. Alkana tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa ada yang hilang dalam dirinya.


***


BRAKKK...


Daun pintu yang tak terkunci itu terhempas di dinding, menghasilkan bunyian keras yang mengejutkan dua orang yang sedang melakukan adegan panas di atas tempat tidur.


"Rena???"


Reza terbelalak dengan yang ia lihat, dan Rena lebih terkejut lagi dari pada dirinya.


Saat itu Reza sedang berada di atas tubuh Sandra sambil menahan kedua tangannya, mulut Sandra tersumpal belum lagi tidak ada kain yang melilit tubuhnya membuat Rena tidak mau menebak sudah sejauh mana Reza menyentuhnya, meski Rena tau saat itu Reza masih menggunakan baju olahraga lengkap dengan celana training. Tapi apapun itu, tetap saja menyakitkan untuk sekedar membayangkan.


"Rena...!!!" Reza turun dan langsung mengejar istrinya. Meninggalkan Sandra yang hanya bisa menangis meratapi nasip.


Rena melangkah gesit menuju kamar, kemudian mengambil koper dan memasukkan seluruh pakaian Reza disana. Rena tidak mau lagi melihat suaminya, ia merasa jijik.


"Rena mau kamu apakan baju-bajuku?" tanya Reza panik, namun Rena tak menggubris ucapannya.


"Rena dengarkan penjelasan ku, itu nggak seperti yang kamu lihat...."


"Semua sudah jelas, bahkan sudah sangat jelas!!!" balas Rena sengit.


"Oke Oke, aku hilaf... aku tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku...." Reza berlutut di depan lemari, memohon belas kasihan.


Rena menghentikan gerakan tangannya, ia tersenyum miring dengan air mata yang masih mengalir. Mendengar ucapan Reza, ia jadi ingin meludah.


"Lo fikir semudah itu?"


Rena tidak perduli lagi dengan tutur katanya, bahkan ia tidak segan segan memanggil suaminya dengan sebutan 'Lo' itu sangat kasar baginya. Rena jamin jika dalam keadaan normal Reza pasti marah di panggil dengan tidak sopan seperti itu.


"Aku janji, ini yang pertama dan terakhir. Jangan ngusir aku Rena please, gimana sama Pika. Dia masih membutuhkan seorang ayah."


"Waktu lo maksain Sandra buat ngelakui itu apa lo ingat sama anak! apa lo ingat kalau lo seorang ayah. Lo cuma mikirin diri sendiri Za, lo egois!"


Rena melempar beberapa lembar kain di wajah suaminya, ia benar-benar kecewa. Suami yang selalu ia banggakan selama ini ternyata telah tega menghianatinya. Dan lagi, Sandra yang harus menjadi korban kebejatan lelaki itu.


"Gue nggak tau gimana jalan pikiran lo, mati-matian gue kerja biar bisa bantu lo, tapi lo malah seenaknya. Lo fikir gue patung, atau mayat hidup yang nggak punya perasaan, lo anggap apa gue selama ini Zaa!"


Rena tertunduk di lantai sambil menangis sesegukan, dadanya sesak. Reza seolah telah menghunuskan pedang di dadanya dan menyisakan rasa sakit tak kasat mata. Semua kebaikan lelaki itu bahkan tidak mampu mengobati betapa parah luka yang telah ia derita saat ini.


"Sandra hamil...."


Hiks... hiks...


Rena menangis tersedu sedu, mencairkan rasa sakit yang menyiksa batinnya tiada henti.


Reza yang tadinya tertunduk lemas seketika mengangkat kepala, "Nggak mungkin. Nggak mungkin dia hamil sebelum aku ngelakuin apa-apa?"


Rena mendongak mendengar itu, lalu menampar suaminya. "Belum melakukan apa-apa lo bilang! terus yang tadi lo lakuin sama dia apa?! lo udah nidurin dia, kan? lo ayah dari bayinya... lo harus tanggung jawab..."


Rena memukul dada suaminya sambil terus meraung. "Lo ayah dari bayinya lo harus bertanggung jawab, Hiks...hiks... gue benci sama lo Zaa! gue benci!!!"


"Rena dengar!" Reza memegang kedua pundaknya, "Sandra nggak mungkin hamil karena aku belum ngelakuin apa-apa," Reza kekeuh pada pendiriannya. Karena memang tidak mungkin, Sandra hamil sementara ia belum melakukannya.


"Tapi Sandra hamil!" Rena merogoh saku blazer yang ia gunakan dan mengambil surat keterangan dari dokter.


"Nggak, ini nggak mungkin," Reza menggeleng, sambil menatap kertas itu tidak percaya. "Ini bukan anakku. Aku belum melakukannya Rena percaya sama aku..."


"Keluar lo dari sini," Rena menunjuk pintu.


Percuma bagi Rena mendengarkan penjelasan lelaki itu, bahkan sampai mulutnya mengeluarkan busa pun Rena tak bisa lagi mempercayainya. Sudah cukup Reza menyakitinya, dan yang ia lihat tadi telah menjelaskan betapa buruknya sifat lelaki itu.


"Rena, aku bersumpah," Reza memegang kedua tangannya, "Aku emang salah, tapi mengenai anak yang di kandung Sandra aku nggak tau. Bukan aku ayahnya Rena...." Reza memohon dengan sangat, berharap Rena percaya padanya namun Rena bukannya memberi pengampunan malah mengemasi seluruh pakaiannya lalu menarik kopernya keluar.


"Rena tunggu!" Reza mengejar istrinya dengan langkah terburu-buru. Namun ketika sampai di teras rumah langkah Rena tercekat.


"Mama mau kemana?"


Pertanyaan sederhana itu terucap bibir dari gadis kecilnya. Pika yang baru saja pulang bermain menatap heran kearah ibunya yang nampak habis menangis


"Mama, kan baru pulang tadi pagi," Pika melirik koper bawaan ibunya.


Reza yang melihat kehadiran putrinya seketika mengambil tindakan, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Bukan mama yang mau pergi," Reza sambil mendekati anaknya, "Tapi ayah...."


"Pika ikut," sahut Pika tanpa pertimbangan.


Disana Rena merasa kalah, Pika lebih dekat dengan Ayahnya dan tidak mustahil Reza memanfaatkan situasi ini.


"Boleh," Reza menjawab tanpa keberatan.


"Kalau Pika ikut sama Ayah Pika nggak akan bisa ketemu sama mama lagi," Rena tidak main-main dengan ucapannya, lagipula yang ia lakukan untuk memberi pelajaran kepada suaminya.


Bukannya menjawab, Pika malah menangis. Entah mengapa ia merasakan aura buruk terjadi dalam rumah tangga ayah dan ibunya.


Sebenarnya Pika juga belum bisa memilih apalagi memutuskan sesuatu yang mungkin akan berpengaruh untuk masa depannya, tapi apa boleh buat ia harus melakukannya.


Rena berjongkok menyamai tinggi anaknya, "Pika ikut mama ya?" katanya sambil membelai pucuk rambutnya namun kemudian Pika menggeleng.


"Pika ikut Ayah."


Keputusan Pika adalah yang terbaik baginya. Pika memilih ayahnya bukan karena tidak membutuhkan Rena, tidak. Tapi Pika hanya lebih menyukai ayahnya karena Reza selalu ada di saat ia membutuhkan, tidak seperti Rena yang selalu sibuk dengan pekerjaan.


Reza tersenyum, puas melihat itu. "Ayo sayang...." Reza mengamit lengan anaknya dan Pika mengangguk setuju.


Jangan membayangkan bagaimana sakitnya Rena, Reza sudah merusak adiknya, menghianati pernikahannya dan kini Reza mengambil putrinya. Sungguh lelaki itu telah menorehkan luka yang teramat sempurna untuknya.


Di saat Rena tengah pilu meratapi kepergian putri dan suaminya Sandra tiba-tiba keluar, ia melangkah menuju dapur.


"Tante!!!"


Mata jernih gadis kecil itu berbinar ketika melihat tantenya, ia tidak menyangka Sandra pulang kerumah. Padahal pagi tadi ia sempat khawatir saat Alkana yang menjemputnya, ia fikir Sandra berbohong dan akan meninggalkannya lagi. Ternyata tidak, dan Pika senang mengetahui Sandra menepati janjinya.


"Tante pulang!" Gadis kecil itu memekik girang sambil berlari mengejar tantenya.


"Pika mau kemana?!" Reza berteriak melihat putrinya berlari kedalam rumah. "Pika bukannya mau ikut ayah?"


Pika berhenti, lalu membalik badan. "Pika mau ikut Mama!"


Dan Rena sangat senang mendengarnya. Anak pintar!


***