NEVER

NEVER
My Heart



        ALKANA tidak pernah mengira jika hatinya mampu berkata jujur, semua yang terjadi di luar kendalinya. Ia tidak pernah bermimpi memiliki pacar dan bergantung pada satu wanita, meskipun itu wajar mengingat usianya yang masih remaja.


Alkana yang tidak pernah tertarik untuk bermain hati kini secara terus terang mengaku bahwa ia jatuh cinta dan otomatis memudarkan seluruh kepercayaan yang selama ini ia yakini.


Namun di balik semua yang terjadi, ada hal baru yang ia mengerti yaitu tentang hati yang tidak bisa ia kendalikan. Alkana tidak tau kapan tepatnya ia benar-benar jatuh cinta dan tidak tau bagaimana semua bermula, semua yang ia rasakan datang secara tiba-tiba dan siap tidak siap ia harus menerimanya.


Bohong jika ia berkata tidak bahagia karena kenyataannya ia bersyukur dengan karunia itu bahkan Alkana merasa hidupnya lebih berarti ketika bersama Sandra.


Pagi ini, matahari bersinar cerah dan senyuman Alkana tak kalah menyilaukan mata seolah menggambarkan suasana hatinya yang sedang berbahagia.


Beberapa hari terahir ini memang sudah menjadi hal biasa melihat Sandra dan Alkana berangkat sekolah bersama tapi ada yang berbeda dengan hari ini.


Jika biasanya setiap Sandra berjalan melewati koridor selalu menggandeng lengan Alkana atau lebih tepatnya nempel seperti lintah tapi tidak kali ini, karena saat ini keduanya hanya berjalan bersisian sambil bercengkrama.


Bukan hal yang istimewa, namun karena itu Alkana bagi Sandra lebih dari luar biasa. Bukan hanya saat ini bahkan sejak dalam mobil Alkana menceritakan banyak hal dan Sandra merasa beruntung bisa mendapatkan posisi sebagai pendengar cerita dari kekasihnya karena selama ini hanya Jery yang menempatinya.


Sandra fikir hanya dirinya yang terheran melihat perubahan drastis dari Alkana namun tidak, siswa-siswi yang melintasinya juga merasa aneh ketika melihat Alkana dengan santainya berbincang dengan gadis itu. Tidak seperti yang sering mereka lihat, biasanya Alkana hanya memutar bola matanya jengah pada Sandra. Jauh berbeda dengan saat ini, entah apa yang merasukinya.


Sedang disisi lain Alkana tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sepanjang koridor, Whatever. Apapun pendapat mereka Alkana tidak perduli, ia hanya ingin bercerita dan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.


"Nanti deh kalau ada waktu gue kasih tau dimana restoran seafood yang enak. Pokoknya recommend dari gue, sebagai pecinta seafood lo wajib coba" ucap gadis itu di sela langkahnya.


"Yakin beneran enak?"


Sandra mengangguk, "Yakin dong, di banding tempat yang sering lo datangin sama Jery tempat gue lebih Ok. Selain enak dan banyak pilihannya di sana kita juga bisa milih langsung Kepiting atau Ikan yang mau dimasak soalnya semuanya masih fresh."


Alkana manggut-manggut, "Ok. Kayaknya boleh juga."


Sandra tersenyum kegirangan. "Serius, jadi kapan dong?"


Keduanya berhenti ketika sampai di depan kelas Alkana.


"Lain kali ya" Alkana seraya mengusap pucuk rambut pacarnya.


Sandra langsung cembetut, padahal ia sudah sangat berharap agar bisa dinner atau ng-date bersama Alkana. Tapi sayang Alkana sepertinya belum terfikir akan hal itu.


"Soalnya nanti malam gue ada acara?" lanjutnya yang berhasil membuat bibir Sandra semakin mengerucut.


"Kemana?" Sandra menatap Alkana penuh selidik.


Alkana nampak berfikir, "Em...."


"Sama siapa? lama nggak? aku ikut?"


"Serius mau ikut?"


"Emang kemana?"


"Ke suatu tempat" jawab Alkana membuat Sandra semakin penasaran.


Sandra diam beberapa saat, "Tempat yang semalam ya?"


Entah Sandra mendapat ide dari mana mengucapkan itu, sepertinya yang ia katakan barusan di luar kendalinya.


Sandra menunduk lalu memukul pelan dahinya sumpah Sandra malu. Semalam ia melakukan itu bersama Alkana setelah libur beberapa hari dan anehnya Sandra mau saja, setiap sentuhan dari Alkana seperti sebuah candu dan Sandra tak kuasa untuk menolak.


Sandra tidak tau seperti apa rona pipinya ia yakin pasti sudah sangat merah. "Kok gue malah bahas yang semalam sih. Aduh...." Rutuknya malu sendiri.


"Jadi mau kalau gue ajak ketempat yang semalam lagi?"


Sandra mendongak, matanya mengerjab tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Nggak, bukan gitu. Maksud gue...."


"Jadi nggak mau?"


"Mau kok. Eh...."


Sandra menggaruk tengkuknya, ia tambah bingung. Barusan dia bilang apa? mau, oh my gosh Sandra pasti kelepasan.


Alkana tertawa mendapati Sandra yang tidak tau harus berkata apa, dari yang ia lihat semua serba salah.


"Kalau mau ikut jam Tuju malam harus sudah siap?" Alkana seraya menepuk pundak gadis itu.


"Em-emang mau kemana?" Sandra masih penasaran.


"Yang jelas bukan di tempat semalam."


Sandra langsung membalik badan dan bergeming dari tempat itu.


"Ra, mau kan?"


Sandra mengangguk sambil berjalan menuju kelasnya. Sandra tidak mau melihat Alkana lagi, ia malu.


"Meskipun tempatnya bukan yang semalam masih mau?!"


Sandra semakin mempercepat langkahnya. Sejak kapan Alkana padaai menggodanya, ya ampun apa yang telah ia lakukan? Sandra merasa seperti gadis mesum karena membahas hal yang tidak seharusnya. Apa nanti yang di pikirkan Alkana, pasti lelaki itu juga sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. 'Dasar bodoh' batinnya kesal sendiri.


***


"Happy birthday Sayang!"


Fany datang dan langsung memeluk putranya dari belakang.


"Makasih ma" jawab Alkana.


Fany menarik diri lalu berjalan mengitari meja. "Oh sama Sandra rupanya, pantesan mama di ajakin dinner biasanya cuma nyuruh mama datang kerumah."


Sandra tersenyum lalu menyalami ibu Alkana, "Iya tante. Sandra juga nggak di kasih tau kalau tante mau datang."


"Belum tante, kita juga baru datang?"


Fany mengangguk dengan senyuman yang masih sama.


Malam ini sengaja Alkana mempertemukan Dua wanita yang paling ia cintai didunia itu di sebuah cafe karena seingatnya Sandra menyukai Fany. Mungkin lebih tepatnya Sandra merindukan ibunya dan dengan kehadiran Fany Alkana berharap bisa sedikit mengobati kerinduan Sandra pada ibunya.


Meskipun dengan hal sekecil Alkana senang bisa melihat gadisnya selalu tersenyum.


Lama mereka saling bercengkrama, dan senyuman di wajah gadis itu tidak pernah pudar. Nampak sekali bahwa Sandra menikmati kebersamaannya dengan Fany.


Sejak tadi Alkana hanya menjadi pendengar di antara mereka sedang Sandra dan ibunya tengah asik mengobrol. Namun Alkana tidak keberatan, ia malah senang bisa membuat keduanya saling akrab. Entah apa tujuannya yang jelas, ada kepuasan tersendiri saat melihat Sandra tersenyum dan bahagia. Iya, hanya itu tujuan utamanya.


"Oh iya, gimana pekerjaan mu?"


Sandra tercekat mendengar pertanyaan itu, ia tidak tau jika Fany juga mengetahui pekerjaan putranya.


"Kamu sudah berhentikan?" Fany menatap Alkana penuh tanda tanya. Di hatinya ia sangat berharap mendengar kabar baik meskipun selama ini itu hanya harapannya dan tidak pernah mengubah apapun.


Alkana mengangguk singkat sebagai jawaban, tapi Fany tidak mempercayai itu.


"Kamu nggak bohongkan Sayang?" Fany menyentuh punggung tangan putranya yang berada di atas meja diiringi tatapan yang semakin menajam.


"Iya tante Alkana sudah berhenti" Sandra membantu menjawab. "Sandra yakin tante. Alkana nggak pernah bohong sama ucapannya."


Fany menoleh pada Sandra kemudian beralih lagi pada Alkana seakan meminta penjelasan.


"Iya ma. Al udah resign, sejak ada Sandra. Al nggak mau pekerjaan Al bikin mama sama Sandra khawatir."


Sandra terhenyak. Ia merasa terharu dengan jawaban Alkana, ia baru sadar jika Alkana sudah menyamakan keberadaannya dengan Fany.


Fany tersenyum senang lalu memuluk gadis di sampingnya. "Makasih ya, sudah bantu tante. Tante senang sekali Alkana mau berhenti dari pekerjaannya, sudah sering tante bujuk dia tapi dia nggak pernah mau. Tante bersyukur karena Alkana mau nurut sama kamu, tante tau kamu pasti anak baik-baik."


Sandra mengangguk. "Iya tante. Sandra juga senang kalau Alkana udah nggak berurusan lagi sama preman-preman itu dan sekarang Sandra nggak perlu khawatir lagi."


Fany mempererat pelukannya sambil tersenyum, ia senang ada gadis seperti Sandra di samping putranya. Begitu juga dengan Alkana yang masih terus mengedarkan senyum manisnya, pemandangan di depannya tidak pernah ia bayangkan dan itu membuatnya merasa lebih tenang.


***


        Reza dan Rena tidak tau harus bagaimana membujuk Pika agar merelakan kepergian Sandra, pasalnya sejak Sandra pergi dari rumah Pika terus merengek dan menginginkan Sandra agar pulang kerumah. Jangankan untuk berbicara pada Sandra saat ini Renapun tidak tau dimana Sandra berada. Sandra juga tidak pernah mau mengangkat telponnya sama sekali membuat Rena hanya mengelus dada ketika menghadapi putri kecilnya.


"Pika nggak mau makan sebelum tante Sandra pulang" ancam gadis berkucir kuda itu sambil bersidekap.


Rena menoleh kiri kanan melihat ke sekeliling tempat itu malu karena kerewelan putrinya mengganggu pelanggan lain, karena saat ini Rena, Pika dan suaminya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Apa lagi alasannya kalau bukan untuk menyenangkan putri kecilnya, tapi Pika bukannya senang malah mogok makan.


"Sayang kalau nggak makan nanti sakit, terus nanti gimana mau nyari tante kalau Pika sakit. Makan ya sayang dikit aja?" bujuk Rena.


Pika menggeleng cepat, "Nggak mau" katanya sambil mengerucutkan bibirnya. Pika tidak perduli dengan seberapa besar upaya ibunya untuk membujuknya, yang ia mau hanya Sandra titik.


Rena menghela nafas, tubuhnya yang belum terlalu fit kini harus di hadapkan dengan cobaan seperti ini dan itu membuat Rena kelelahan. Sebenarnya ia masih membutuhkan banyak istirahat.


Mengetahui istrinya yang sudah mulai pucat Reza akhirnya mengambil alih untuk membujuk putrinya.


"Sayang gimana kalau kita jalan-jalan dulu. Pika mau nyari buku apa beli mainan, katanya Pika pengen boneka teddy bear?" ucap Reza seraya berjongkok di depan anaknya.


Pika nampak berfikir. Belum sempat ia menjawab Ayahnya sudah berkata lagi.


"Tapi habis itu Pika makan ya, nanti Pika nggak bisa tidur kalau perutnya lapar."


Pika melirik makanan di mejanya, sebenarnya yang membuatnya tidak berselera bukan karena makanan itu tidak enak, tapi ada Udang di sana yang termasuk makanan favorite tantenya dan ia merasa sedih karena biasanya ia menyantap makanan itu bersama Sandra.


"Ada syaratnya?" pinta gadis kecil itu yang seketika membuat Rena dan suaminya beradu pandang.


"Apa sayang?"


"Habis ini kita cari tante sampai ketemu."


"Iya, Ayah janji" Reza tidak memberatkan permintaan putrinya. "Yang penting Pika makan ya?"


Pika mengangguk setuju.


Baiklah apapun itu yang penting Pika mau makan, meski setelahnya Reza tidak tau harus mencari kemana adik iparnya karena ia sendiri tidak yakin jika Sandra masih berada di rumah temannya.


"Ayo...." Pika mengacungkan tangannya pada Reza tanda bahwa putri kecilnya minta di gendong.


"Rena kamu tunggu di sini sebentar ya aku mau nemenin Pika nyari boneka dulu?"


Rena mengangguk, melihat itu Reza lalu berjalan menuju tempat penjual boneka.


Di sela perjalanan Pika tiba-tiba menepuk pundak Ayahnya.


"Ayah turun" pintanya.


"Toko bonekannya disebelah sana sayang, Pika mau ngapain?"


Reza tidak mau asal menurunkan putrinya karena dia takut anaknya hilang atau nyasar di sana.


"Turun Ayah turun...." Pika mulai merengek membuat Reza terpaksa menurunkan putrinya, dan di detik itu juga Pika langsung berlari tapi bukan ketempat penjual boneka melainkan di sebuah butik.


"Tante ayo pulang...?"


***