
Matahari sudah sepenggal naik tapi Sandra masih enggan untuk bangkit dari kasur. Belum lagi saat Alkana menyusul ke kamarnya membuat ia menemukan PW-nya.
Sandra fikir Alkana akan membangunkannya, tapi lihatlah sekarang lelaki yang wajahnya tetap tampan dalam kondisi apapun itu malah ikut meringkal di dalam selimutnya.
"Al...." Bisik Sandra lirih dan hanya di balas erangan oleh lelaki di belakangnya.
"Kita nggak sekolah?"
"Hari ini libur" jawab Alkana dengan nada sensual khas bangun tidur.
Sandra membalik tubuhnya menghadap Alkana tapi lelaki itu mengeratkan dekapannya seolah ingin tetap memeluk Sandra dari belakang.
"Tapi makannya nggak libur, kan?"
"Nggak."
"Ya udah gue mau masak."
Bukannya bangkit atau segera pergi tapi Alkana malah mengeratkan pelukanya.
"Nggak mau di tinggal" ucap Alkana manja.
Sandra terkekeh geli mendengar ucapan Alkana, setelah sekian lama ia tinggal disini baru kali ini Sandra melihat Alkana semanja itu.
"Serius nggak mau di tinggal?" tanyanya.
Sandra merasakan Alkana mengangguk di belakangnnya, "Stay here, I miss you."
Sandra menggigit bibir bawah saat merasakan ada yang meledak ledak di dadanya.
"Sekarang aku percaya kalau rindu itu memang nggak mengenal waktu."
Sandra menoleh sedikit kebelakang, "Kenapa?"
"Karena kamu...."
Sandra tak henti berseri, tadi Alkana menyebut dirinya, 'Aku' lalu menyebut Sandra dengan sebutan 'Kamu' sepertinya Alkana akan merubah nama panggilan mereka dari 'Lo gue' menjadi 'Aku kamu.'
"Karena kamu aku bisa ngerasain apa yang belum pernah aku rasain sebelumnya. Thanks ya?" lanjut Alkana lalu mengecup sekilas pucuk kepala gadisnya.
Sandra melebarkan senyumnya lalu mengangguk.
"Aku nggak bisa bayangin kalau kemarin kamu ikut sama Reza. Kamu tau kenapa?"
Sandra menggeleng pelan. "Emang kenapa?"
"Karena aku nggak percaya kalau dia bisa jagain kamu, dia udah kurang ajar Ra. Dan kamu jangan gampang percaya sama omongan dia, bisa ajakan dia...."
"Kamu cemburu?" potongnya.
Entah mengapa, tapi mendengar Alkana berbicara aku kamu Sandra jadi ikut ikutan. Lagipula ini momen langka, dan Sandra tidak ingin menyia nyiakan momen ini.
Alkana diam, membiarkan gadis itu menunggunya dalam hening. Kemudian tangannya bergerak mengusap rambut lurus kekasihnya.
"Apapun itu, yang jelas aku nggak mau kamu pergi."
Alkana tidak pandai dalam mengungkapkan kata kata, apa lagi merayu ia hanya mampu berkata jujur. Namun siapa sangka kalimat sesederhana itu mampu membuat Sandra berbunga, bahkan tanpa Alkana jelaskan Sandra mampu menjabarkan betapa luasnya makna dari kalimat itu.
Sandra membalik badannya menghadap Alkana, "Kalau misalnya aku tetap mau pergi gimana?"
"Boleh, asal aku ikut."
***
Sandra melangkah menuruni anak tangga dengan pandangan menyapu ke sekeliling rumah. Matanya mencari seseorang namun sejak tadi ia tidak menemukannya.
Sandra tadi sempat mencari Alkana di kamarnya tapi tidak ada lalu di rooftop namun hasilnya masih sama nihil, kini Sandra akan ke gudang belakang siapa tau ia bisa menemukan Alkana di sana.
Baru tiba di dapur Sandra sudah berhenti mengayunkan langkahnya.
"Sandra...!" Alkana begitu terkejut saat melihat Sandra sudah berdiri di belakangnnya. "Kamu mau ngapain?" tanyanya gelagapan seolah tengah menyembunyikan sesuatu di belakangnnya.
Mata gadis itu menyipit, heran dengan tingkah Alkana. "Kamu... bisa masak?"
"Emh... bisa" katanya yang kemudian berbalik mematikan kompor.
"Masak air?" tebak Sandra dengan satu alis terangkat.
Alkana nyengir kuda lalu menghampiri Sandra yang berdiri mematung tak jauh darinya.
"Kamu tunggu di sini sebentar," Alkana menuntun Sandra ke meja makan dan mendudukkannya di sana.
"Sebentar lagi selesai, dan ingat jangan lihat pas aku lagi masak apalagi ngintip."
"Kenapa?"
"Ya jangan pokoknya."
Sandra mendongak, menatap curiga pada Alkana. "Kamu nggak mau ngerjain aku kan?"
"Ya nggak mungkinlah sayang, aku nggak setega itu."
Barusan Alkana bilang apa? "Sayang" apa Sandra tidak salah dengar.
"Bilang apa tadi?" tanya Sandra dengan bibir tertarik lucu.
"Yang mana?"
"Barusan?"
Alkana berpikir sejenak mengingat apa yang baru saja ia katakan, tak lama kemudian ia berkata.
"Sayang."
Sandra mengangguk mendengar itu.
"Ada yang salah ya sama panggilan itu?" lanjut Alkana.
Sandra menggeleng, "Emang, beneran sayang?"
"Iya dong" jawab Alkana yakin. "Nggak percaya?" Alkana menipiskan jarak wajahnya membuat Sandra mengerjab beberapa kali.
"Apa mau bukti?" katanya lagi.
Dan tanpa Sadar Sandra mengangguk. Di saat itu juga Alkana langsung mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu.
"Dah percaya, kan?"
Alkana tersenyum lalu membalik badan dan berlalu menuju kompornya. Sementara, di sana Sandra masih menormalkan detak jantungnya. Ia seperti baru saja tersengat aliran listrik.
"Ingat, jangan ngintip." Alkana mengingatkan.
Namun Sandra tidak mendengar itu, ia hanya tersenyum sendiri di meja makan. Oh my gosh ia tidak pernah merasa sebahagia ini.
Alkana mungkin bukan lelaki yang romantis tapi kecupannya mewakili seluruh perasaan yang ia punya.
Kurang lebih lima belas menit Sandra menunggu akhirnya Alkana menyelesaikan ritual masaknya.
"Sebentar ya Tuan Putri."
Sebelum memberikan karyanya pada Alkana menuangkan air minum terlebih dahulu.
"Nah makanan datang" Alkana berseru seraya meletakan sebuah nampan berisi hasil kerja kerasnya.
Sandra mengangkat kepalanya dengan bibir tak henti merekah, ia lebih fokus pada Alkana daripada dengan makanan di depannya.
"Thanks ya, udah dimasakin?"
"Jangan bilang makasih dulu, coba cicipin. Kalau enak baru bilang makasih."
Sandra mengangguk lalu beralih menatap makanan di depannya. Sejenak Sandra ingin tertawa tapi sepertinya kurang sopan, Sandra tau Alkana sudah bekerja keras untuk ini.
"Kenapa? dari bentuknya kelihatan nggak enak ya?"
Alkana menatap Sandra was-was, dari mimik wajahnya sepertinya Sandra tidak yakin jika ia bisa masak.
"Nggak, cuma dari bentuknya aneh aja."
Alkana nyengir kuda, "Itu garnisnya sayang."
"Owh...." Sandra manggut-manggut lalu meraih sendoknya.
Sandra fikir tadi Alkana memasak fried rice, atau roti goreng ternyata bukan yang Alkana masak adalah mi. Dan lagi, mi kuah itu di beri toping irisan timun dan beberapa lembar daun selada padahal di dalam mi itu sudah terdapat sawi dan telur rebus.
"Aku tau kalau makan mi istan itu nggak sehat, dari maka itu aku kasih telur sama sayuran biar gizinya tetap seimbang" jelas Alkana.
"Kalau udah ada telur sama sawinya kenapa di kasih timun sama daun selada segala?"
Sandra menatap miris pada mangkuk di depannya, keberadaan daun selada dan timun itu mengganggunya. Sepertinya Alkana mendapat inspirasi dari warung pecel lele.
"Biar rame," sahut Alkana lalu nyengir.
Ok, baiklah. Apapun itu yang jelas Sandra menghargai usaha Alkana, ia tidak mau membuat Alkana kecewa hanya karena toping masakannya yang tak masuk akal.
"Aku kreatif kan?" lanjutnya.
Sandra ingin tertawa tapi ia menahannya. Meski sepertinya Alkana harus meralat ucapannya, karena dia bukan kreatif tapi absurd.
"Aku cobain ya?" katanya dan di balas anggukan setuju oleh Alkana.
Sandra akhirnya memutuskan untuk mencicipi makanan itu. Sepertinya ia tidak perlu mengkhawatirkan soal rasa karena itu mi instan dan sudah pasti Alkana tinggal menuangkan bumbunya dan tidak perlu memberi tambahan, mungkin hanya perlu cabai. Dan Sandra bersyukur karena melihat ada potongan cabe rawit di sana yang membuatnya yakin Alkana memang sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
"Gimana?" Alkana menatap Sandra cemas, ia hanya berharap masakannya tidak meracuni kekasihnya.
Kali ini bukan hanya rasanya yang membuat Sandra terkejut tapi juga ukuran mi-nya yang sudah sebesar tambang dan tak layak dimakan. Sepertinya tadi Alkana merebusnya terlalu lama.
"Kayaknya bumbunya ada yang ketinggalan deh?"
"Apa?" Alkana menoleh kearah dapur, tapi matanya tidak menangkap apapun karena dapurnya sudah bersih.
"Kurang asin."
Sandra berbohong saat itu karena kenyataannya bukan kurang, melainkan tidak asin sama sekali.
Alkana bangkit dari duduknya lalu mengecek kedalam kotak sampah, dan seketika itu ia kecewa saat melihat apa yang di maksud Sandra berada dalam kotak sampah. Alkana benar-benar tidak becus.
"Bumbunya udah di buang ya?" tanya Sandra saat melihat Alkana menatap sedih kotak sampah.
"Kayaknya kita makan di luar aja deh," Alkana mengalihkan topik pembicaraan.
"Kenapa, kan kamu udah masak. Aku bisa kok kasih bumbu yang lain."
"Nggak-nggak kita makan di luar aja. Kamu suka seafood kan ayo kita kerumah makan seafood" katanya sambil mendekati pacarnya.
"Serius nggak papa?"
"Serius."
Sandra beranjak dari kursi. "Ok, i like it."
Cup.
Alkana membeku, barusan apa ya yang nempel di pipinya?
***
"Kamu tau dari mana kalau aku suka ini" Sandra menunjuk lobster bakar yang ada di depannya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba di restoran, karena perumahan Alkana berada di tempat yang strategis dan dekat dari mana saja.
Alkana mengeluarkan ponselnya. "Dari sini" katanya sambil menunjuk layar ponsel.
"Kok bisa?"
"Instagram."
Sandra menegang. Instagram? itu berarti Alkana melihat semua postingannya, dan di sana ada 'Nicole' mantannya. Oh my god!
"Nicole siapa?"
Belum sempat Sandra bernafas lega Alkana sudah melontarkan pertanyaan yang tak ingin ia dengar.
Alkana bukan lelaki posesiv yang suka melarang ini itu pada Sandra, ia hanya ingin tau. Meskipun sebenarnya ia terganggu dengan nama akun yang masih terpajang nama 'Nicole' didepan nama kekasihnya.
"Cuma mantan" jawabnya kaku.
"Oh..."
Alkana kemudian menyendokkan nasi kedalam mulutnya seolah tak mempermasalahkan tentang lelaki itu. Berbeda dengan Sandra yang sudah tak berselera sekalipun yang berada di depannya adalah makanan kesukaannya.
Pertanyaan Alkana tentang Nicole membuat
Sandra teringat akan kenangan buruk yang tak mungkin bisa ia lupakan, sekaligus mengingatkan dirinya tentang betapa bencinya dulu ia pada laki-laki.
Sandra malu jika melihat dirinya yang sekarang, apalagi jika mengingat ia yang sudah tidak virgin membuatnya merasa benar-benar bodoh.
"Al...."
Sandra menyentuh punggung tangan kiri Alkana yang menganggur di atas meja.
"Kenapa?"
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
Sandra memperbaiki posisi duduknya dengan mata menajam "Jangan pernah tinggalin aku, ya?"
Hanya satu itu yang bisa menyelamatkan Sandra dari kebodohan, setidaknya lelaki yang merenggut harga dirinya mau bertanggung jawab.
Sebelum menjawab Alkana tersenyum sekilas, "Bukannya kamu tau kalau habis lulus sekolah ini aku mau keluar negri?"
Sandra merasa jantungnya diremas, ia baru saja di tampar oleh kenyataan. Mengapa ia sampai melupakan hal itu. Dan hal buruk yang ia takuti selama ini sebentar lagi akan terjadi.
"Sayang... kamu nangis?"
Alkana tidak menyangka jika kalimatnya bisa sangat menyakitkan untuk Sandra. Alkana meletakkan sendok lalu bangkit dan berjalan memutari meja menghampiri kekasihnya.
"Maaf sayang" Alkana mengusap cairan bening yang mengalir deras di pipi gadisnya. "Aku nggak serius...."
"Aku nggak akan pergi kalau kamu nggak ngizinin" lanjutnya.
"Janji...." ucap Sandra di sela tangisannya.
Alkana mengangguk pasti, "Janji... aku nggak akan ninggalin kamu, never."
***