NEVER

NEVER
Pengecut



          JALANAN ibukota yang terik siang itu di penuhi para pengemudi. Baik roda dua, roda empat atau lebih. Ramainya suara kendaraan menelisik pendengaran di tambah suara klakson yang saling bersahut sahutan membuat suasana hari semakin panas.


Di sana Sandra berada di jalanan ibukota yang kini tersendat akibat padatnya kendaraan. Pantatnya sudah panas karena terlalu lama duduk di jok mobil. Padahal seharusnya ia sudah tiba di rumah setengah jam yang lalu.


Alkana masih setia pada jalanan, menginjak gas bila perlu sedangkan selebihnya menunggu. Berbeda dengan Jery yang tengah asik pada ponselnya tanpa menghiraukan keadaan di sekitar.


Alkana menoleh saat mendengar gadis cantik yang duduk di sampingnya menghela nafas. Sorot matanya menyorot keluar jendela dengan tatapannya kosong seolah banyak yang tengah berkecamuk di otaknya. Ada rasa penasaran melihat gadis yang biasanya selalu riang itu terlihat murung.


'Apa sebenarnya yang mengganggu gadis itu?'


Lelah terlalu lama menatap ponsel Jery akhirnya mengangkat kepalanya dan tanpa sengaja melihat apa yang terjadi. Alkana beberapa kali menoleh memperhatikan Sandra yang hanya diam. Alkana nampak khawatir dengan keadaan gadisnya namun lelaki itu memilih diam memendam rasa penasarannya.


'Cih munafik!' kecam Jery dalam hati.


"Lo kenapa Ra?" tanya Jery mewakili temannya.


"Cerita dong Ra kalau ada apa-apa, jangan di pendam sendiri." Jery mengalah, tidak ada salahnya membantu temannya yang menurutnya pengecut itu.


Alkana sedikit merasa lega mendengar pertanyaan yang tidak mampu ia lontarkan.


"Gara-gara gue, kue tartnya tadi rusak" ucap Sandra lemas menyesali perbuatannya.


"Ya elah Ra, gue kira ada apaan" Jery menyesali ucapannya ia pikir ada hal yang serius.


"Udahlah lupain aja lagian Alkana nggak marah, ya nggak Al?" Jery beralih menatap temannya dan hanya di bales anggukan oleh Alkana.


Sandra memutar bola matanya melihat Alkana, "beneran nggak marah?"


"Nggak" jawab Alkana singkat.


"Tapi gue nyesel banget. Tau nggak itu kue tart yang pertama kali gue beli dan khusus buat lo..."


Alkana hampir saja melengkungkan sudut bibirnya, baru menyadari jika Sandra sangat perduli padanya namun di detik selanjutnya senyuman yang baru akan merekah itu memudar.


"Dan asal lo tau kue itu masih ngutang, mana mahal lagi harganya. Rugikan gue, belum sempet nyicip juga, kan sayang..."


Jery tergelak di belakang sana, sumpah ia pikir tadinya gadis itu benar-benar perduli tapi nyatanya Sandra lebih memikirkan kerugiannya.


Alkana menginjak gas begitu jalanan sudah mulai longgar, ini pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya di lambungkan setinggi langit lalu di hempas kedasar jurang, sesak.


Sandra mengulurkan tangan kanannya pada Alkana.


"Kenapa?" tanya cowok itu sambil melirik sengit kearah pacarnya.


"Katannya lo mau nafkahin gue, gue lagi butuh uang buat bayar utang" pinta Sandra tanpa rasa sungkan sedikitpun.


Alkana mengalihkan pandangannya kelain arah lalu meraba dompet yang ia letakan disaku celana.


Sandra berbinar dan tanpa permisi langsung merebut dompet kulit warna coklat dari tangan pacarnya.


"Dari kemarin kek" katanya sambil menarik beberapa lembar uang bergambar Suekarno dan Hatta.


Jery mengerjap melihat kejadian langka itu terjadi, nyata tanpa filter. Alkana yang biasanya pelit kini dengan suka rela membiarkan Sandra menguras isi dompetnya. Hanya Kapitan Patimura dan Pangeran Diponegoro yang di tinggalkan sebagai juru kunci sedangkan semuanya amblas.


"Nih" Sandra mengembalikan dompet kulit itu pada pemiliknya, sedangkan Jery masih terbengong-bengong.


Sandra tersenyum semringah sambil menatap jalanan, kini moodnya sudah kembali cerah bersamaan dengan dompetnya yang terisi. 'Alkana I Love You so much' batinnya.


***


  Sandra berbaring di kasur sambil menatap langit langit kamar, angan angannya berkelana jauh entah kemana.


 


Sesekali terkadang bibirnya merekah jika mengingat sekelebat bayangan tentang bagaimana pertemuannya dengan Alkana. Lelaki dingin yang dulu ia sebut cupu itu nyatanya mampu membuatnya jatuh cinta. 'Ahh payah' pikirnya.


Namun jika di lihat dari keseluruhan Alkana tidak seburuk yang ia fikirkan dulu, meskipun lelaki itu tak layak di sebut lelaki baik-baik tapi nyatanya ia juga tidak pantas di sebut buruk. Alkana sama seperti manusia lain pada umumnya mempunyai kelemahan dan kelebihan.


Sandra menoleh, melihat kalender di atas nakas. Ia tidak menyangka sudah hampir satu minggu ia tinggal di rumah Alkana. Ia merasa waktu berputar lebih cepat, padahal seingatnya baru kemarin ia datang kerumah ini. Tapi tanpa terasa tiga hari lagi ia harus segera pergi.


Sebenarnya Sandra masih ingin tinggal. Sandra merasa sangat aman disini, ia tidak pernah merasa ketakutan seperti saat tinggal di rumah kakaknya.


Semilir angin menerobos jendela kamar membuat pandangan gadis itu tertuju pada Dreamcatcher yang menggantung di jendela kamar. Benda itu terus berbunyi seiring dengan hembusan angin yang menerpanya.


Sengaja Sandra membawa benda itu, karena harapannya ada di rumah ini. Sandra ingin mimpi buruknya segera berahir agar ia bisa berbahagia bersama Alkana.


Disisi lain tempat itu. Alkana dan Jery hari ini sengaja ingin menemui botak, preman langganannya. Kini mereka sudah berada di sebuah gang kecil yang terletak jauh dari pemukiman. Disanalah tempat mereka biasa bertemu untuk bertransaksi.


"Lo serius Al, mau berhenti" tanya Jery kurang yakin.


Entah sudah berapa kali Jery pernah merayu Alkana untuk berhenti dari pekerjaannya tapi Alkana tetap kukuh pada pilihannya, dan sekarang tiba-tiba Alkana ingin berhenti tanpa sebab. Aneh bukan?


"Serius, gue udah capek kucing kucingan terus sama polisi."


"Cuma gara-gara itu???"


Alkana melirik temannya yang menatapnya penuh selidik. Punggungnya kemudian ia sandarkan pada tembok pembatas jalan.


"Lebih tepannya mungkin karena Sandra. Dia tau semua tentang gue, dia berbahaya."


"Yakin lo?"


Alkana mengangguk pasti.


"Kalau dari yang gue lihat maksud lo bukan itu. Bukan Sandra yang bahaya tapi Sandra dalam bahaya, lo berhenti karena lo mau lindungi dia. Lo nggak mau dia kenapa kenapa gara-gara lo iya, kan???"


Alkana menyipitkan matanya. Bagaimana malah Jery yang lebih tau tentang keinginannya dari pada dirinya sendiri. Alkana memgakui ucapan Jery memang benar, hanya saja ia yang terlalu pengecut untuk mengakuinya.


"Masih mau bilang nggak?"


"Apa pun itu. Yang jelas gue nggak mau ada yang celaka gara-gara pekerjaan gue."


Jery tergelak, "Al... Al udahlah lebih baik lo akuin aja perasaan lo, mau sampai kapan. Lo itu kelihatan kayak anak SD tau nggak."


Alkana mendelik, tidak setuju. Mengakui perasaannya pada Sandra? Tidak mungkin, bisa besar kepala gadis itu.


"Ok, ok kalau sama gue lo nggak perlu jujur. Cukup sama diri lo sendiri dan sama Sandra. Jangan jadi lelaki pengecut yang selalu diam, tapi diam-diam perduli."


"Gue udah pacaran sama dia, itu lebih dari cukup."


"Ya tetep harus lo ungkapin Al, lo pacaran sama dia kan terpaksa" Jery menatap intens kearah temannya, heran. Hal sepele seperti ini saja harus membuat Alkana berpikir. "Lo nggak takut dia nggak cinta sama lo kan?"


"Nggak!"


"Iyalah jelas Sandra suka sama lo, lo-nya aja yang kegedean gengsi."


Alkana mendelik lagi.


"Gue ngomong FAK-TA ya, bukan ngatain."


Jery sengaja menekan kata 'Fakta' agar temannya tidak bisa lagi menepis kenyataan yang sebenarnya.


"Coba aja kalau gue yang jadi lo, nggak akan gue sia-siain perasaan Sandra ke gue" Jery menerawang jauh, berkhayal seandainya ia di cintai oleh gadis secantik Sandra. "Mulus udah, bening udah, sexy udah, this is a perfect girl. Kurang apa lagi coba?"


Ctakkk...


Bukan jawaban yang Jery dapatkan tapi Alkana malah menjitak pelipis temannya.


"Diam lo!"


Jery mencebikan bibir sambil mengusap pelipisnya yang terasa ngilu.


"Sakit Bambang" gerutunya tidak ikhlas.


Setelah beberapa saat keduanya mendengar suara beberapa motor yang mendekat. Siapa lagi orang itu kalau bukan preman botak beserta rombongannya.


"Mana barang gue?"


***


To Be Continue



Update "Never" sampai di sini dulu, thank you buat yang sudah mampir.


Sorry kalau Up-nya luamma soalnya Author nggak punya jadwal khusus buat Up, hehe.


bye bye....