NEVER

NEVER
Stuck With You




"Tebak deh gue habis dari mana?"


Alkana menatap Sandra dengan kening mengeryit bingung. Baru saja datang Sandra sudah berkata seperti itu, wajahnya juga berseri seri seperti habis berbelanja barang diskonan.


Tangan Alkana bergerak mengusap wajah cantik yang siang ini terlihat lebih cerah dari biasanya, "Emang habis dari mana, hm?" tanyanya.


Sandra mengerang sambil menggerakkan kaki yang mengantung dikursi, "Gue habis dari makam, jenguk nyokap gue." Sebelum melanjutkan Sandra menghela nafas panjang, "Seneng deh akhirnya gue bisa damai sama masa lalu, gue juga rasanya lega banget lihat tante Amira mau ziarah ke makam nyokap gue. Semoga aja nyokap gue nggak marah ya lihat gue dekat sama tante Amira, karena sebenarnya tante Amira tu orangnya baik, dia juga sayang sama gue. Padahal gue selalu jahat sama dia.


Alkana bangkit dari baringan, membiarkan kakinya menggantung pada brankar dan Sandra yang duduk di kursi bergerak menumpukan kedua tangannya pada paha Alkana.


"Jadi tadi tante Amira nemenin lo ke makam," ralat Alkana.


Sandra mengangguk, sementara senyumnya merekah, "Sama ayah juga sih, dan bukan cuma itu. Sebenarnya gue juga udah pindah kerumah tante Amira. Gue ngerasa udah nemuin apa yang gue impikan selama ini."


Alkana manggut-manggut, sepenuhnya ia mengetahui maksud pembicaraan Sandra.


"Lo pengen punya keluarga, kan?"


Sandra mendongak, menatap netra biru Alkana. "Lo tau?"


Alkana menghela nafas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang. "Gue pernah nemuin list yang lo buat."


"Lo baca???"


Sandra menatap Alkana berbinar, tidak menyangka Alkana melihat kalimat yang ia gantung pada dremcharter.


"Kebetulan," Alkana meraih tangan Sandra dan menggenggamnya, "Jadi sekarang, lo udah bangun dari mimpi buruk itu dan ini adalah kehidupan nyata yang sesungguhnya."


Sandra mengangguk pasti, "Gue senang banget bisa ngerasain ini lagi," ia berucap penuh haru.


"Gue ikut senang kalau lihat lo bahagia, Ra."


"Iya, dan lo juga salah satu kebahagian gue," Sandra merapatkan kepalanya pada paha Alkana dan bersandar disana, sementara tangan Alkana bergerak mengusap rambutnya.


Sandra senang berada disana, dimana ia bisa merasakan usapan lembut tangan Alkana yang selalu membuatnya tenang.


"Lo nggak pengen tau apa yang bikin gue bahagia?" Alkana bertanya setelah hening beberapa saat.


"Apa?" Sandra menjawab tanpa mendongak, tapi telinganya ia pasang lebar-lebar.


"Kalau lo mau jadi keluarga gue."


Sandra berseri-seri mendengar itu. Kalimat sederhana namun memiliki arti luas baginya.


"Lo kebahagiaan gue satu-satunya, Ra. Lo mau kan jadi bagian dari hidup gue?"


Sandra mengangkat kepala, manatap mata biru terang milik Alkana penuh haru diikuti kembang api yang meledak ledak di dadanya.


"Mau," Sandra menjawab dengan air mata mengalir di pipinya.


"Beneran mau?"


Sandra tidak menjawab, ia bangkit dan memeluk Alkana. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini tidak dapat terlukiskan.


Hiks hiks


Sandra menangis tergugu dalam pelukan kekasihnya, berbeda dengan Alkana yang hanya terkekeh melihatnya. "Sayang... Kok malah nangis?"


"Gue terharu," katanya.


Mungkin ini jawaban dari semua rasa sakit yang mereka derita. Dari sekian banyak masalah yang datang bertubi-tubi, seakan membunuh secara halus, membuat mereka menyerah tanpa sadar, bahkan berputus asa.


Hingga pada akhirnya Tuhan memberi jalan, dan mereka menemukan sebuah titik terang yang menjadi jalan keluar. Setelah ini sepertinya Sandra percaya, kalau benar adanya, jika kebahagian akan datang tepat pada waktunya.


Alkana yang duduk pada tepian brankar sedikit mengangkat kepala saat melihat Sandra yang kini menjulang lebih tinggi. Tangan Alkana mengalung pada pinggang yang kini tak lagi ramping.


"Beneran, mau jadi nyonya Dirga?"


Sandra mengangguk tanpa pertimbangan seolah sudah sangat yakin dengan jawabannya.


Bibir sexy Alkana tersenyum simpul, sorot mata yang semula menatap lekat mulai beralih pada bibir. Sandra yang tengah menatapnya seolah mengerti dengan tatapab ingin dari Alkana. Perlahan Sandra menipiskan jarak wajahnya hingga bibir pinknya menyentuh milik Alkana.


Dada Sandra menghangat diikuti detak jantung yang berkejaran, terlebih kala Alkana menyapu lembut bibirnya secara menyeluruh membuatnya semakin mengeratkan tangannya pada tengkuk Alkana.


Sandra memejam, menyalurkan hasrat yang telah sekian lama terpendam. Sandra merasa kecupan ini yang ia rindukan, dimana hanya Alkana yang mampu memberinya dan tak pernah ia dapatkan dari orang lain. Sekalipun Sandra menyadari Alkana yang merusak dirinya tapi pada akhirnya lelaki itu pula yang memperbaiki.


Entah sudah berapa kali mereka mengulangi kecupan itu namun keduanya tak kunjung selesai sampai Jery yang sedang berada di luar harus menunggu lebih lama.


"Kenapa Jer, kok nggak jadi masuk?" Riska menatap Jery bingung. Jery sudah memegang gagang pintu namun tidak jadi mendorongnya.


"Emh..." Jery menggaruk tengkuknya. "Nanti, Lima menit lagi. Gimana kalau kita duduk dulu," Jery menuntun Riska pada kursi koridor.


"Loh, kok malah duduk. Jadi jenguk Alkana nggak sih? tinggal masuk aja apa susahnya" Riska protes saat Jery menarik tangannya menjauh dari pintu.


"Ya jadi, tapi... ya apa salahnya duduk dulu sebentar" alibinya. Jery tidak mau mengganggu kegiatan Sandra dan temannya.


"Lo nggak jelas banget deh..." Riska tak menghiraukan Jery, kemudian bergeming menuju pintu.


Belum sempat Riska menyentuh gagang pintunya Riska terbelalak, terkejut dengan yang ia lihat di balik pintu kaca tranparan. Dan di detik selanjutnya Riska menunduk, kakinya melangkah mendekati Jery.


"Kenapa?" Jery bertanya, pura-pura bodoh.


Riska menggeleng, tanpa sadar jika pipinya merona. Seharusnya jika Riska menurut saja dan tidak melihat adegan berbahaya yang barusan ia lihat mungkin ia tidak perlu menyesal.


"Mau juga?" sindir Jery diiringi cengiran di wajahnya.


Riska menggeleng lagi, lalu memberikan parsel buah yang sejak tadi ia bawa dan berlalu.


"Ris mau kemana???"


*****


         Sandra merasa lega, kedatangan Jery membawa berita baik. Selain masalah Johan yang sudah selesai di kantor polisi, Jery juga berkata Alkana lulus. Bahkan Jery membawakan surat keterangan kelulusan milik Alkana. Kini mereka tinggal menyusun rencana selanjutnya, pergi ke Landon seperti niat mereka dari awal atau tetap menetap di Jakarta. Sandra sendiri tidak bisa menuntut apa-apa, jika Alkana benar ingin membawanya ia akan ikut. Dengan senang hati.


Malam itu, Sandra tengah menyuapi Alkana. Ia duduk di tepi brankar sementara Alkana bergantian duduk di kursi. Keduanya nampak bercakap cakap ringan, dan Alkana sesekali mengusap perut buncit di depannya.


"Al, gue takut deh kalau misalnya nanti bokap lo tau keadaan lo yang sebenarnya? kira-kira dia bakal terima gue nggak ya?" Sandra mendesah pelan, ngeri jika membayangkan bagaimana ekspresi ayah Alkana.


"Apapun itu, yang penting lo harus ikut gue. Kita harus hadapin ini sama-sama. Ra, ini yang kita impikan selama ini. Lo ingat kan?" Alkana menatap Sandra lekat-lekat, meyakinkan.


"Gue ingat, tapi... lo harus selalu ada buat gue ya. Kalau misalnya nanti bokap lo nggak mau nerima anak kita, lo jangan tinggalin gue. Gue nggak mau sendirian..." Sandra berkaca-kaca saat mengatakan itu, "Gue nggak mau pisah" lanjutnya diiringai air mata yang menetes.


"Ssst," Alkana meletakan jari telunjuknya di ujung bibir. "Harus berapa kali gue bilang, gue nggak akan pergi. Perpisahan kita yang kemarin nggak akan pernah terjadi lagi, never Ra. I will never leave. Promise"


Sandra mengangguk yakin, dengan hati yang selalu berharap Alkana menepati janjinya.


Kedua tangan Alkana bergerak mengusap air mata di wajah kekasihnya. "Lo selalu nangis, padahal gue nggak suka lihat air mata di pipi lo."


Sandra mengusap air matanya dengan punggung tangan, tak ingin membuat Alkana merasa buruk.


Setelah menyelasaikan ritual makannya Alkana bergeming dari kursi, mendekati Sandra dan turut duduk pada tepian brankar. Sandra yang melihatnya tanpa aba-aba langsung menyandarkan kepalanya pada pundak Alkana, dan tanpa keberatan Alkana membiarkannya. Bukan hanya itu, Alkana juga nampak menautkan tangannya pada Sandra dan mengecup pucuk rambut, membuat Sandra terpejam beberapa saat sebelum pada akhirnya menarik diri.


"Awalnya gue nggak tau apa alasan gue di lahirkan, tapi setelah gue ketemu sama lo gue tau alasannya."


"Apa?" Sandra sedikit mengangkat kepalanya, menatap lelaki yang paling ia cintai.


"Buat lo, gue di lahirkan buat melengkapi hidup lo. Begitu juga sebaliknya, dan seandainya kita nggak bersama mungkin gue akan ngerasain gimana rasanya mati dalam hidup. Dan gue nggak mau ngerasain itu, Ra..."


Sandra merapatkan sandarannya, menenggelamkan kepala pada dada bidang Alkana. Menyembunyikan senyuman lebar yang merekah sempurna, ia tidak tau sejak kapan Alkana pandai berkata-kata, tapi Apapun itu Sandra menyukainya.


Sandra hanyut dalam dekapan hangat Alkana untuk beberapa saat, namun tak lama kemudian ia bergumam.


"Oh iya Al, lo belum cerita ke gue gimana caranya lo bisa bebas dari kebakaran itu?"


"Emang kenapa?"


"Gue penasaran. Soalnya seinget gue Johan udah nyuruh anak buahnya buat kunci semua pintu, jadi aneh aja. Kok bisa lo keluar tanpa ada luka bakar sedikitpun?"


"Gue nggak akan mati semudah itu Ra," Alkana menjawab santai, seakan keluar dari rumah tua itu hal yang sepele. "Jadi waktu Johan nyalain api di bagian depan, gue langsung lari kebelakang. Naasnya waktu itu emang semua pintunya di kunci dan semua juga di tralis, tapi... ada satu jendela yang saat itu nggak di tralis. Jendela kaca. Terus gue pecahin kacanya dan keluar dari sana sebelum apinya sempat merambat kebelakang.


Sandra manggut-manggut seraya mengeratkan dekapannya. Ia juga mengerti sekarang dari mana goresan luka yang ada di lengan kiri Alkana, tak lain dan tak bukan pasti dari kaca jendela itu.


"Gue takut banget waktu itu, gue takut nggak bisa lihat lo lagi."


Alkana meremat tangan yang berpaut dengan milik Sandra, mengarahkan pada bibir mengecup punggungnya.


"Gue ngerti, dan sekarang lo nggak perlu takut. Gue disini. Lo juga bisa lihat gue kapanpun lo mau."


Sandra mengangguk, kepalanya lalu mengusal ngusal dada bidang Alkana, bibirnya membentuk garis melengkung keatas. Hatinya selalu berbunga setiapkali mendengar ucapan Alkana yang menenangkan.


"Kalau sekarang gue yang gantian nanya boleh?" lirih Alkana.


"Boleh."


"Kenapa waktu lo pelukan sama Nichol?"


Sandra membeku untuk beberapa saat, kemudian memberi jarak pada tubuhnya. Matanya sesekali melirik Alkana yang memberinya tatapan tidak terbaca.


"Tapi janji jangan marah," Sandra berkata takut-takut.


Alkana menghela nafas panjang, kemudian mencubit gemas hidung wanita hamil disampingnya.


"Nggak, sayang janji," Alkana bahkan mengacungi Sandra jari kelingking.


Sandra sepakat, dan mengaitkan jarinya dengan milik Alkana.


"Jadi kenapa?"


Sandra memperbaiki posisi duduknya, dan berujar "Sebenarnya gue cuma ngucapin terimakasih sama dia, karena selama ini dia udah selalu ada buat gue sekaligus ngucapin selamat tinggal," Sandra menggigit bibir bawah. Ragu melanjutkan, tapi Alkana menyela.


"Terus?"


"Ya soalnya, dulu waktu gue putus sama dia kita pisahnya dengan cara yang mengenaskan dan gue nggak mau hal itu terulang lagi."


Sandra melirik Alkana, melihat bibir lelaki itu yang membentuk huruf "O"


"Tapi gue nggak punya perasaan apa-apa lagi kok beneran, gue cuma anggap dia saudara. Waktu itu juga Nichol dekat sama gue karena permintaan ayah. Ayah khawatir lihat gue kemana-mana sendirian, dan dia nyuruh Nichol jagain gue selama lo belum sadar. Dan sekarang setelah lo sadar dia udah sibuk lagi sama aktivitasnya, dia nggak pernah gangguin gue.... Ya maaf kalau gue kelewatan?"


Setelah mengatakan itu Sandra menunduk, merasa bersalah.


"Ra," Alkana menarik dagunya agar Sandra balas menatap, lalu jarak bibirnya ia sempitkan hingga sebuah kecupan singkat mampu mengalihkan perhatian lawan bicaranya.


"Gue maafin," lanjut Alkana. "Gue juga percaya sama lo, gue seneng lo bisa belajar dari kesalahan, dan gue salut lo mau jujur sama gue. Kedepannya gue harap kita bisa lebih terbuka ya? biar hubungan kita tetap berjalan seperti yang kita harapkan."


Sandra menghambur dalam pelukan Alkana seraya berkata, "Iya, pasti. Gue akan usahain, lo yang terbaik buat gue Al. Gue juga akan usahain yang terbaik buat hubungan kita."


Senyuman Alkana terbit dengan manisnya, lega mendengar ucapan dari Sandra.



...**Nantikan Chapter endingnya ya......


...Bye bye, thanks yang udah mampir....


...😘...


...Kecup basah dari author**.......