NEVER

NEVER
Masakan Sandra



           BELUM sempat Alkana membuka pintu rumahnya tapi daun pintu itu sudah bergerak seakan tau jika ada yang datang. Alkana dan Jery mengerutkan dahinya ketika melihat gadis kecil berpakaian sekolah dasar keluar dari balik pintu seraya menyilangkan tangannya di dada.


"Siapa ya?" tanya gadis mungil itu, seraya mendongak mengamati kedua tamunya.


Seharusnya Alkana yang bertanya siapa bocah itu, tapi gadis mungil itu berlagak seolah ia adalah tuan rumah.


"Anak siapa Al?" tanya Jery.


Alkana menggeleng seraya menoleh pada temannya, "Nggak tau."


Jery tambah bingung, bagaimana bisa Alkana membiarkan anak kecil memasuki rumahnya tanpa tau dari mana dia berasal, aneh?


Alkana menatap ke sekeliling halaman rumahnya mencari kendaraan atau orang yang mungkin ia kenali tapi ia tidak menemukan siapa siapa.


Tak lama kemudian gadis kecil itu mengeja nametag yang tertera di seragam kedua lelaki di depannya.


"Oh.. aku tau, kakak pasti pacarnya tantekan?" Pika seraya berdiri di depan Alkana.


"Tante siapa Al?" tanya Jery lagi.


"Nggak tau juga?"


Jery lalu menunduk dan berjongkok di depan gadis mungil itu "Emang nama tante kamu siapa?"


"Tante cantik, pacarnya kakak Al" Pika sambil menunjuk Alkana.


"Iya nama tante cantiknya siapa?"


"Tante Sandra."


Jery mendongak menatap Alkana, sedangkan Alkana tampak menepuk jidatnya. Ia menyesal karena tadi sibuk menguntit akun Sandra sampai lupa menayakan hal sepenting itu.


"Terus kamu kesininya sama siapa?"


"Di jemput sama tante, kan semalem tante nginep di sini" jawab Pika jujur.


"buset, ember banget ni bocah" batin Alkana.


"Oh... jadi gara-gara ini kenapa tadi gue nggak boleh mampir?" Jery berdiri seraya mendelik pada temannya.


Alkana nyengir, membenarkan sekaligus malu. Astaga, hal sekecil inipun tidak bisa ia sembunyikan.


"Kak..." Pika berdiri di depan Alkana sambil mengangkat kedua tangannya.


"Kenapa?" Alkana bingung.


"Gendong," pinta Pika di iringi senyuman termanisnya.


Alkana hanya bengong, ia baru melihat gadis kecil itu hari ini tapi anak itu sudah bertingkah sok akrab dengannya.


"Ayo..." Pika merengek seraya mengulurkan tangannya.


"Gendong tuh, ntar juga tu anak jadi keponakan lo" kata Jery.


Terpaksa akhirnya Alkana menggendong gadis kecil tak di undang itu lalu melangkah memasuki rumah, begitu juga dengan jery.


"Tante!..." teriak Pika, "Om Al sudah pulang!"


"dimana Sandra?" tanya Alkana.


"Di dapur, lagi masak buat Pika sama Om Al..." Pika seraya tersenyum semringah.


Alkana kemudian membelokkan langkahnya menuju dapur.


"Sandra bisa masak?" tanya Jery kurang yakin.


"Bisalah," jawab Pika percaya diri.


"Hebat juga cewek lo Al, gue pikir si Sandra bisanya cuma makan doang."


Alkana menghentikan langkahnya lalu menurunkan Pika di samping meja makan. Sandra yang melihat kedatangan Pika dan Alkana lalu menoleh sambil tersenyum.


"Udah pulang?" sapanya.


Namun Alkana hanya terpaku menatap Sandra yang terlihat lebih cantik dari biasanya, apalagi ketika sedang memasak dan menggunakan celemek pesonanya makin meroket. Dan yang membuat Alkana terheran adalah karya yang ia buat semalam sudah tidak ada di leher Sandra.


"Emang Sandra secantik itu?" bisik Jery ketika melihat Alkana tengah terpesona.


"Hahh.. apaan sih lo," Alkana lalu duduk di kursi.


"Mbok rondo emang kemana?" Jery duduk di samping temannya seingatnya temannya itu mempunyai asisten rumah tangga.


"Cuti, anaknya sakit" sahut Alkana.


Jery manggut-manggut, tak lama kemudian Sandra mulai menyusun nasi beserta lauk pauknya di meja makan.


"Sebenarnya gue udah lama nggak masak, tapi semoga kalian nggak keracunan ya?" Sandra seraya menuangkan nasi di piring Pika.


"Dimasakin aja kita udah seneng kok, iya nggak Al?" Jery menoleh pada Alkana namun Alkana diam saja.


"Al...!" Jery menginjak kaki temannya.


"Iya" jawab Alkana.


Sandra tersenyum melihat itu, "Jery mau ngambil nasi sendiri apa mau gue ambilin sekalian?"


"Sekalian boleh?" ucap Jery sambil tersenyum.


"Manja" sahut Alkana.


Jery dan Sandra beradu pandang, "cemburu?" sindir Jery.


Alkana hanya mengalihkan pandangannya. Setelah selesai mengembalikan nasi di piring Jery Sandra meraih piring Alkana.


"Gue bisa sendiri" Alkana seraya menahan piringnya, namun Sandra merebut piring di tangan Alkana.


Tak lama kemudian mereka menikmati makanan itu dengan hikmat. Sebenarnya Sandra memang bisa memasak, dulu ibunya yang sering mengajarinya tapi setelah ibunya meninggal ia tidak pernah lagi menyentuh peralatan dapur.


Entah karena apa Sandra hari ini ingin memasak, mungkin karena dulu di rumah ini Sandra di ajari ibunya atau karena Alkana yang telah menolongnya ia tidak tau pasti apa alasan sebenarnya, yang jelas ia merasa betah jika berada di rumah ini.


Ayam kecap yang semula penuh satu piring itu kini tinggal tulang belulang. Capcay seafood yang tadinya utuh, kini tinggal kuah. Begitu juga dengan nasi dan telur dadar yang kini tinggal wadah, semuanya habis tak tersisa.


"Ternyata lo pinter masak ya Ra, nggak nyangka gue" Jery seraya menyuapkan suapan terakhirnya.


"Iya, dulu nyokap gue yang ngajarin. Tapi... sekarang dia udah nggak ada" Sandra lalu menunduk.


"Sory Ra gue nggak bermaksud nanya gitu kok?"


"Nggak papa Jer, biasa aja lagi" Sandra bangkit dari kursinya lalu memberesihkan meja makan.


"Tante tante Pika mau telpon ayah...?" pinta Pika.


"Tante nggak punya paketan" kata Sandra asal.


"Tante pelit, sebentar aja tante..." rayu Pika, "nanti ayah nyariin Pika gimana?"


"Ya udah tapi jangan lama lama ya?"


Pika mengagguk menurut, kemudian Sandra memberikan ponselnya. Dengan senang hati Pika menerimanya.


Alkana dan Jery masih berada di kursinya mereka masih sibuk pada ponselnya masing-masing.


"Ayah..." Pika melambai pada ponselnya, Pika melakukan panggilan video.


"Pika dimana sayang?" tanya suara dari seberang sana.


"Pika di rumahnya pacar tante, Om Al namanya..." Pika mengganti kamera belakang dan menyorot Alkana yang tengah memainkan ponselnya.


"Pacar?" Reza yang semula duduk bersandar di sofa lalu bangkit.


"Iya Ayah, tante juga tadi masakin buat pacarnya  lho."


"Tante mu bisa masak?"


"Bisa, masakan tante enak kayak masakan mama."


"Masak sih kok ayah nggak tau kalau tante Sandra bisa masak."


"Pika juga baru tau kalau tante bisa masak."


"Sekarang tante Sandranya mana, ayah mau ngomong?"


"Sebentar ya" Pika turun dari kursinya lalu menghampiri Sandra yang tengah mencuci piring.


"Tante ayah mau ngomong," Pika sambil mengulurkan ponselnya.


"Tante lagi sibuk" jawabannya malas.


Jery dan Alkana yang melihat itu hanya beradu pandang.


"Ish tante cuma sebentar aja, piringnya nggak di cuci juga nggak papa."


"Nanti pacar tante marah kalau piringnya kotor" Sandra seraya melirik Alkana tapi cowok itu hanya diam seolah tidak mendengar apa apa. Emang sejak kapan Sandra menganggap Alkana pacarnya?


"Tante cepetan nanti ayah marah" gadis kecil itu mulai merengek.


Sandra menghela nafasnya lagi lagi ia harus mengalah "Iya iya sebentar" Sandra segera mencuci tangan.


Setelah mengelap tangannya dengan celemek Sandra lalu meraih ponselnya yang terulur. Namun sebelum Sandra berbicara Sandra mengganti mode panggilan suara.


"Halo..." Sandra melangkah meninggalkan dapur dengan ponsel di telinganya.


"Mau lo apa sih?" tanya Sandra sejurus kemudian.


"Pulang sekarang?" perintah Reza.


"Lo pikir lo siapa? lo orang paling jahat yang pernah gue temuin tau nggak!" Sandra tidak bisa menahan amarahnya, apalagi jika mengingat apa yang di lakukan Reza semalam.


"Lo cuma brengsek yang beraninya sama cewek mabuk!"


"Dimana lo sekarang, gue jemput?"


Sandra tersenyum kecut mendengar itu. "Gue nggak sudi di jemput sama lo!"


Tanpa sengaja Pika yang melihat Sandra nampak kesal lalu memasang wajah murungnya.


"Tante pasti marahan lagi sama ayah" bisiknya seraya mengamati Sandra dari kejauhan.


Mendengar itu Alkana lalu menyimpan ponselnya di saku "Emang, tante Sandra sering marah marah ya?" tanya Alkana, ia penasaran sudah sejauh mana Reza berprilaku kurang ajar kepada Sandra.


Pika melangkah menghampiri Alkana lalu dengan percaya diri duduk di pangkuan pacar tantenya.


"Iya, padahal ayah nggak pernah marah sama tante."


"Sejak kapan tante sering marah marah?"


"Sejak mama sering keluar kota."


Alkana manggut-manggut mendengar itu, "Oh.. jadi kamu cuma tinggal bertiga di rumah?" Alkana sambil melingkarkan kedua lengannya pada perut gadis mungil itu.


Pika mengangguk, "Tapi...."


"Ekhem" deheman itu membuat Alkana terperanjat.


"Nanya apa lo barusan???"


***