
"Kalau gitu kakak minta maaf atas kesalahan Reza???"
Sandra nampak berfikir. Beberapa saat kemudian dia menjawab.
"Reza... udah Sandra maafin kak," ucapannya, terdengar ragu. Meski disisi lain Sandra sangat yakin mengatakan itu. Lagipula tidak ada gunanya menyimpan dendam. Selama beberapa bulan ini Sandra mengetahui Reza tersiksa berjauhan dari keluarganya dan menurutnya itu cukup untuk membuat Reza sadar.
Pika yang masih berada di antara ibu dan tantenya hanya menjadi pendengar, pasalnya Pika tidak tau pasti masalah yang sebenarnya.
"Tapi kalau misalnya Reza pulang Sandra mau tinggal sama ayah. Boleh kan kak?"
Rena mengangguk setuju lalu meniadakan jaraknya, Rena mengerti biarpun Sandra sudah memaafkan suaminya ia pasti masih merasa was was jika harus kembali tinggal satu atap dengan Reza.
"Kakak izinin, asalkan itu bisa buat kamu bahagia," Rena sambil mengusap pundak adiknya. "Maafin kakak ya kalau selama ini selalu marah-marah sama kamu?"
Sandra menggeleng, "Nggak, Sandra yang banyak salah kak, harusnya Sandra yang minta maaf. Sandra sering bikin kakak susah, maafin Sandra ya?"
"Kakak udah maafin," Rena menarik diri, "Semuanya."
Sandra tersenyum, senang mendengarnya.
Setelah saling memaafkan melepas pelukan hangat, Rena kemudian berpamitan dan pulang lebih dulu.
***
Rena sudah tiba di rumah mertuanya memarkirkan mobil di depan gerbang bagunan mewah berlantai tiga, namun ia ragu untuk turun. Putri kecilnya juga sudah tidur dan ia tidak tega membangunkannya. Ia ingin berbalik dan berputar arah, mungkin ada baiknya besok pagi ia datang lagi. Malam sudah larut suaminya pasti sudah tidur, begitu juga dengan mertuanya. Rena takut mengganggu istirahat mereka.
Sebelum Rena meluruskan niatnya Rena melirik Pika yang menggeliat, kemudian mengigau, "Ayah... ayah kapan pulang?"
Rena merasa bersalah melihat itu, ia seperti orang tua yang jahat telah memisahkan Pika dan ayahnya.
Rena mengusap pucuk rambut anaknya. "Hari ini ayah pulang nak."
Kemudian Rena turun dari mobil dan meraih ponselnya dalam tas. Terkadang memikirkan kebahagiaan Pika jauh lebih penting dari pada menuruti keinginannya.
Tak lama berselang, suara Reza dari balik telpon terdengar.
"Halo?"
Rena tidak menjawab, lidahnya kelu, entah apa sebabnya. Selama ini Reza selalu menelpon tapi tak pernah ia angkat, sekalipun ia mengangkatnya itu juga pasti Pika yang berbicara dan sekarang Rena yang menelpon, rasanya aneh.
"Halo?" Reza memanggil lagi, ia heran tidak mendengar jawaban apa-apa. "Pika belum tidur ya?"
Tidak ada hal lain yang Reza pikirkan kecuali anaknya, dan menurutnya tidak mungkin Rena menelpon.
"Halo... ini aku," dengan susah payah akhirnya Rena berbicara walaupun suaranya terdengar ragu dan sangat pelan.
"Rena!"
Rena mendengar keterkejutan dari seberang sana, "Ada apa, maaf aku pikir tadi Pika yang nelpon..."
"Aku ada di depan rumah kamu sekarang," Rena menggigit bibir bawah sambil menyandarkan punggungnya pada pintu mobil. "Aku mau jemput kamu" Rena berkata secepat kilat, malu menyampaikan maksud dan tujuannya.
Seusai mengatakan itu Rena tidak mendengar suara sahutan dari Reza, dan tak lama kemudian Rena mendengar gerbang didepannya berdenting tanda ada seseorang yang membuka pintunya.
Setelah gerbang terbuka dengan sempurna Rena melihat Reza muncul dan berlari kecil menghampirinya.
"Rena," tanpa aba-aba Reza langsung mendekapnya. Rena terdiam kaku, sedikit terkejut dengan kedatangan Reza yang tiba-tiba.
"Maaf," lirih suaminya. "Maaf, aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, Re. Nggak seharusnya aku nyakitin kamu. Maafin aku..." Reza berucap penuh sesal diiringi pelukan yang semakin lama semakin erat.
Genggaman Rena yang masih memegang ponsel lemas begitu saja, untungnya ponsel itu tidak terjatuh dan masih melekat di tangan.
"Maaf, udah jadi suami yang nggak tau diri. Harusnya aku bersyukur punya istri seperti kamu, maafin aku Re aku benar-benar menyesal."
Reza melihat Rena mengangguk, dan merasa tangan Rena bergerak membalas dekapannya.
Setelah diam beberapa saat Reza memberi jarak lalu menyelipkan tangannya pada tengkuk istrinya, memaksa Rena untuk menatapnya.
"Kamu mau kan nerima aku lagi?" Reza bertanya dengan sorot mata menajam.
Rena diam beberapa saat sebelum pada alhirnya menjawab dengan anggukan, namun siapa sangka hal itu sangat berarti besar bagi Reza.
"Makasih Re," lagi Reza kembali membawa istrinya dalam pelukan. Rasanya seperti mimpi melihat istrinya mau membuka hati dan memaafkannya.
"Aku janji akan perbaiki semuanya, makasih sudah kasih aku kesempatan."
Rena mengeratkan pelukannya, tidak bisa memungkiri bahwa sebenarnya ia sangat merindukan suaminya.
*****
Sandra senang saat ia pindah Amira dan Hema menyambut kedatangannya. Sebenarnya sejak pulang dari Singapore Amira membujuknya agar tinggal bersama tapi Sandra selalu menolak dengan alasan ingin menemani Pika di rumah tapi sekarang setelah Reza datang Sandra tidak memiliki alasan lagi. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuknya berdamai dengan masa lalu. Ini juga merupakan impiannya sejak dulu, memiliki keluarga.
Mungkin terdengar sederhana tapi bagi Sandra tidak ada hal lain yang lebih penting dari itu. Dimana saat ia memiliki keluarga ia bisa mempunyai kekuatan untuk menghadapi kerasnya hidup, bersama keluarga Sandra merasa hidupnya lebih berarti dan karena keluarga Sandra mempunyai tempat untuk mengadu.
Meski harus tinggal di rumah yang sederhana seperti yang kini ia tinggali, tidak masalah baginya, asalkan di sana ia bisa merasa tenang aman dan nyaman. Dirumah itu dengan keluarga baru Sandra akan merlukis cerita baru, dan menata masa depannya yang baru.
"Makasih ya tante udah mau nerima Sandra di rumah ini," Sandra berkata di sela makan malam, di meja bundar dengan tiga kursi memutar. "Sandra juga senang bisa tinggal lagi sama Ayah," Sandra melirik Hema yang duduk di kursi roda dan tengah berkutat pada makanan.
Hema tersenyum lalu mengusap pucuk rambut putrinya.
Amira yang berada di seberang meja menjawab, "Iya, kamu sudah bilang terimakasih sepuluh kali loh."
"Tante ngerti, lagian udah tante lupain juga."
Senyuman di bibir Sandra terbit, kemudian tangannya terulur menyentuh tangan Amira yang tengah memegang sendok.
"Makasih ya tan sekali lagi?"
Amira membalas, ia tersenyum hangat, "Kamu bilang makasih sekali lagi tante kasih gelas cantik," goda Amira.
"Iya deh tan, nggak."
Hema dan Amira hanya terkekeh. Sebelum berkutat lagi pada makanan Amira berkata.
"Tapi tante minta maaf kalau tempat tinggal tante kurang nyaman, tante tau rumah ini jauh lebih kecil dari rumah Rena dan rumah kamu dulu," Amira seraya mengedarkan pandangan di sekitarnya. "Rumah ini sudah tua, ya maklumi saja rumah ini peninggalan almarhum orang tua tante, jadi tante nggak tega mau jual."
Sandra mengikuti pandangan Amira, menatap sekeliling rumah. Tidak ada lantai Dua atau lantai tiga, hanya ada lantai dasar. Namun rumah dengan cat warna putih dan sudah akan mengelupas itu nampak begitu bersih tidak berbeda jauh dengan rumahnya dulu yang kini di tinggali Alkana. Nampaknya Amira memiliki selera yang sama dengan Mona, suka kebersihan.
"Nggak papa tan, selama di rumah ini ada ayah tempat ini tetap nyaman kok."
Amira mengangguk, senang mendengarnya. Sementara pria berusia Lima puluh tahun itu menatap putrinya kagum, tidak menyangka gadis kecil yang dulu hanya pandai meminta uang kini sudah pandai berkata-kata.
"Oh iya ayah tau nggak rumah yang dulu kita tinggali itu ternyata rumahnya Alkana loh?"
"Masak?" Hema bertanya dengan kening berkerut.
"Iya ayah," Sandra meletakan sendoknya, "Rumahnya juga masih tetap sama seperti dulu, cuma furniture nya aja yang berubah. Makannya Sandra betah tinggal di sana."
Hema melirik istrinya sebelum menjawab, "Kamu... tinggal di sana???" Hema menatapnya penuh tanda tanya.
"Emh..." Sandra nampak berfikir, ragu melanjutkan kalimatnya. Sandra tidak sadar dengan yang baru saja keluar dari mulutnya. Secara tidak langsung ia seperti menceritakan pada Hema bagaimana ia bisa hamil.
"Maaf yah," Sandra menggigit bibir bawah lalu menunduk, "Sebenarnya Sandra cuma keinget terus sama mama."
Sandra mengalihkan pemikiran buruk ayahnya, lagipula ia tidak berbohong.
Hema menghela nafas, meletakan sendoknya. Ia lemas jika Sandra sudah membahas mantan istrinya.
"Sandra kangen mama..." lanjut Sandra diikuti air mata yang mengalir di pipi.
Sandra tidak perduli ia sudah merusak acara makan malam, tapi bagaimana pun ia tidak bisa menahan perasaannya bila sudah menyangkut Mona. Lagipula siapa di dunia ini yang tidak rindu kalau orang tua yang paling kita cintai telah tiada. Terkadang Sandra ingin bertemu dengan ibunya sekali lagi untuk mengobati kerinduannya meski ia tau itu hal yang mustahil. Mona sudah pergi untuk selamanya dan tidak mungkin bisa bertemu dengannya.
Amira bergeming dari kursi mendekati Sandra dan memeluknya dari samping.
"Maafin tante ya," Amira berucap diiringi isak tangis.
Seperti tuduhan Sandra sebelumnya, Amira merasa bersalah atas meninggalnya Mona, walaupun ia tau Mona meninggal karena sakit dan tidak ada campur tangannya.
Dulu Amira menikah dengan Hema juga karena Mona sudah bercerai dengan suaminya, dan selama ini Hema tidak pernah memberitahu kedua anaknya dengan alasan tidak mau melihat Sandra dan Rena sedih dan menyalahkan Mona yang sakit-sakitan, sebab Hema bercerai atas permintaan Mona. Dan mungkin itu yang membuat Sandra membenci ayahnya dan menuduh Amira pembunuh ibunya.
Selama ini Sandra salah paham pada Amira, namun Hema membiarkannya. Baginya itu lebih baik, Hema lebih tidak tega jika dulu Sandra meninggalkan Mona yang sedang sakit. Meski pada akhirnya ia harus menunggu lama untuk mendapatkan maaf dari Sandra
Sandra menggelang cepat, mendengar ucapan Amira. "Tante nggak salah, kak Rena bilang mama meninggal karena sakit. Bukan karena tante."
Hema memutar pandangan, matanya mulai memerah. Sejujurnya ia ingin membongkar apa yang ia simpan selama ini, namun tidak mungkin. Hema tidak ingin Sandra membenci ibunya.
Amira mengangguk, tangannya lalu bergerak mengusap rambut lurus yang selalu tergerai.
"Gimana kalau besok kita ziarah ke makam ibu kamu?"
Sandra menoleh menatap Amira, tidak percaya dengan yang barusan ia dengar. "Emang tante mau, nemenin Sandra?"
"Kenapa enggak?" Amira menjawab yakin.
Sandra seketika melengkungkan bibirnya keatas, buru buru menyeka air matanya.
"Ya udah jadi besok pagi kita ziarah ke makam mama ya tan?" Sandra berkata dengan wajah berbinar.
Amira menjawab dengan pelukan, dan Sandra membalasnya dengan senang hati.
"Jadi ayah nggak di ajak?" nampaknya Hema iri, keberadaannya tidak di anggap.
"Ayah mau ikut?" Sandra bertanya di sela pelukan.
"Ya kalau boleh, kalau nggak ya terpaksa ayah nunggu di rumah," Hema sambil menyuapkan nasinya dalam mulut, agaknya ia merajuk di perlakukan tidak adil.
"Boleh..."
...huuuu.......
...Never Up....... yeayyyyy!!!!...
...Hehehe, mapin otor yak telat buanget....
...Kemarin otor kira Platfomnya lagi perbaikan soalnya punya otor nggak bisa di buka, eh nggak taunya otor nggak ada paketan🤦♀️...
...Readers ampunilah otor yang masih polos ini🙏...