
LAGI, kesendirian membawa Alkana menuju keatap gedung. Hari ini waktu terasa berputar begitu lama, padahal sejak tadi ia sudah menghabiskan waktu Dua puluh menit istirahat keduanya di kantin tapi bel tak jua berbunyi membuat Alkana harus mencari tempat untuk menepis kekosongan di dadanya.
Informasi tentang Jery tidak ia dapatkan secara akurat, dan Alkana menyesal mendengar perdebatan tak berfaedah itu hingga selesai, sebab hasilnya sia-sia. Mungkin baiknya ia tanyakan langsung nanti jika sudah berbaikan, dan entah kapan.
Langkah Alkana terhenti begitu melihat sudah ada orang di sana. Haris, si cowok cupu yang satu minggu lalu ia temui bersama Sandra di tempat ini.
Haris tidak mengetahui kedatangannya, lelaki itu sedang asik berbicara pada ponselnya.
"Aku senang dengar kamu baik-baik saja?"
Alkana mengerutkan kening mendengar percakapan itu, apalagi Haris nampak senang mendengar kabar baik dari lawan bicaranya.
"Iya aku pasti jenguk kamu kok, sampai ketemu nanti ya. Bye...."
"Siapa?" tanya Alkana tiba-tiba, Haris sampai terlonjak kaget. Untung panggilan diponselnya langsung ia matikan, jika tidak mungkin orang di seberang sana bisa mendengar siapa yang datang.
"Emm anu. Teman gue Al," jawab Haris gelagapan.
"Oh...." Alkana membalas santai, seolah pertanyaannya tidak lah penting.
Haris menarik nafas lega sebelum pada akhirnya dia bergeser memberi tempat untuk Alkana duduk.
"Gue baru tau lo sering ke tempat ini?" Alkana membuka suara, ini adalah pertama kalinya ia berbincang dengan Haris selama satu sekolah.
Haris membenarkan kaca mata sebelum menjawab, "Dulu Sandra yang sering ke tempat ini, gue ikut-ikutan."
Alkana yang semula menatap bangunan bangunan tinggi di depannya kini menoleh.
"Sandra?"
Haris mengangguk, ada kerinduan tersembunyi ketika mendengar nama itu, "Dia sering bolos pelajaran dan sembunyi disini, atau kalau nggak dia datang kesini buat merokok."
Alkana tidak tau jika Sandra sering merokok. Dan mengenai tempat ini, ia juga baru tau kalau banyak momen tentang Sandra terjadi disini.
"Dulu gue sering banget kesini, Sandra minta gue bawain makanan, kadang dia juga nyuruh gue buat beli rokok... tapi habis itu gue di usir. Dia lebih suka sendirian di sini."
Entah mengapa Haris malah menceritakan tentang Sandra pada lelaki itu, mungkin karena sikap Sandra padanya jauh berbeda dengan cara Sandra memperlakukan Alkana.
"Sandra itu galak, jutek, suka marah-marah kalau sama gue. Dia baikin gue kalau ada maunya...." Haris tersenyum kecut, rasanya sesak jika mengingat perlakuan Sandra padanya. Namun kemudian ia menepis pemikiran buruknya, biar bagaimana pun Sandra adalah satu-satunya orang yang mau menerimanya.
"Tapi kadang, dia lucu juga?"
Alkana menatap Haris tidak mengerti. "Apanya yang lucu?"
Penilaian Haris mengenai Sandra berbeda darinya. Menurutnya Sandra hanya gadis keras kepala yang bawel, dan ia sangat bersyukur Sandra tidak memperlakukan dirinya seperti Haris.
"Iya lucu aja, dia selalu bisa manfaatin gue kalau dia mau. Dan anehnya gue mau aja di akalin sama dia... Sandra tu kayak kancil yang cerdik dan banyak akal" Haris menghela nafas seraya menyapukan pandangannya kedepan, "Gue jadi kangen."
Alkana melotot mendengar itu, berani sekali Haris menyatakan kerinduannya pada Sandra.
"Eh," Haris membekap mulutnya sendiri, Dia keceplosan.
"Maaf Al, gu-gue nggak bermaksud kok buat ngomong gitu," Haris bingung membela diri, apalagi Alkana memberinya tatapan mengerikan yang membuatnya merasa bersalah.
"Santai aja lagi," sambung Alkana lalu mengedarkan pandangannya kelain arah.
Meski Alkana ingin menyumpal mulut lelaki itu dengan sepatu, Alkana tidak melakukannya. Ia harus sabar, lagipula Sandra tidak disini dan mungkin hanya Haris yang merindukannya dan Sandra tidak. Ya, ia harus berfikir begitu.
Alkana terus menenangkan diri, ia tidak ingin terpancing emosi. Anggaplah ini untuk Sementara, sebab saat ini tidak ada yang bisa ia ajak bicara selain dirinya, atau setidaknya Haris bisa menemaninya mengulur waktu hingga bel berbunyi.
Haris mengangguk gugup, Alkana nampak keberatan tapi lelaki itu tidak menunjukkannya.
"Berapa lama lo pacaran sama Sandra?"
Alkana tidak tau pertanyaannya benar atau salah, tapi sejujurnya ia sangat penasaran apa alasan Haris mau berpacaran dengan gadis liar seperti Sandra.
Haris nampak berfikir, "Kalau nggak salah kurang lebih Dua bulan.... Masih lamaan sama lo Al," Haris melirik Alkana sekilas seolah mengatakan bahwa Alkana jauh lebih beruntung darinya.
Alkana merekahkan senyumannya lalu berkata lagi. "Kenapa lo suka sama dia?"
Pertanya yang mulanya terdengar santai kini berubah mengintimidasi, belum lagi Alkana memberikan tatapan suram membuat Haris ragu untuk menjawabnya.
"Lo-lo yakin mau dengar jawaban gue?"
Lelaki berkacamata itu membalas pertanyaan Alkana takut takut, Haris tidak mau tanggung jawab jika Alkana sakit hati mendengar jawabannya.
"Yakin, kenapa?"
"Ya nggak," Haris menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gue cuma nggak mau aja ntar lo ngira gue...."
"Lo cinta mati sama Sandra sampai lo mau di suruh-suruh?" potong Alkana tidak sabar.
Namun siapa sangka saat itu Haris mengangguk, "Mungkin lebih tepatnya gitu." Dan benar, Alkana menyesali pertanyaannya.
"Gue nggak tau apa alasan gua suka sama dia... yang jelas gue suka semua yang ada dalam diri Sandra. Entah itu sisi baik atau buruknya, dan bukan cuma itu aja, sebenarnya gue juga udah suka sama Sandra sejak kelas Sepuluh."
"Jadi lo stalkingin dia selama ini?"
Haris tersenyum sekilas, "Nggak. Gue cuma sering perhatiin dia diam-diam." Alkana manggut-manggut.
"Dulu dia nggak seperti sekarang yang suka bolos, sering telat, bandel, bermasalah sama guru. Dulu Sandra itu penurut, pendiam dan meskipun dia nggak terlalu pintar tapi dia nggak pernah males buat ngerjain tugas, seperti sekarang. Sandra benar-benar udah berubah.
"Dan setau gue, yang bikin sandra seperti sekarang karena bokapnya yang ninggalin dia. Soalnya sejak saat itu Sandra jadi nggak terarah, gue bisa lihat dari sikapnya yang tiba-tiba berubah dan gue tau dia itu sebenarnya rapuh.... Dan saat itu juga Sandra selalu cari cara untuk bahagiain dirinya sendiri buat ngobatin kesedihannya, karena orang yang bisa bahagiain dia udah nggak ada.
Alkana diam seribu bahasa, ia merasa bersalah telah membiarkan Sandra begitu saja. Gadis itu sudah terlalu menderita selama ini, dan dia sebagai seseorang yang mencintainya bukan membantu Sandra meringankan bebannya malah menambah luka baru.
Sungguh tidak bergunanya dia!
"Tapi siapapun Sandra sekarang, buat gue dia adalah orang yang sama dengan Sandra yang dulu. Gue senang dia mau nerima gue jadi pacarnya, meski gue di perlakuin nggak baik sama dia tapi itu nggak masalah karena yang paling penting yang Sandra tunjukkin ke gue itu sifat aslinya, dan dia nggak pernah berpura-pura baik di depan gue.
Haris melihat Alkana sekilas, memastikan bahwa lelaki di sampingnya masih mau mendengar ceritanya. Dan Haris beruntung karena Alkana masih nampak tenang di kursinya.
"Sorry Al, gue fikir kehadiran lo di tengah-tengah hubungan gue adalah musibah, ternyata gue salah. Dengan lo datang di kehidupan Sandra lo bikin gue sadar kalau selama ini Sandra nggak pernah suka sama gue.
Alkana menatapnya iba, tapi di sisi lain ia merasa seperti perebut kebahagian orang lain.
"Lo beruntung Al," Haris melanjutkan kalimatnya. "Lo bisa bikin Sandra jatuh cinta sama lo sementara gue, gue udah bertahun-tahun cinta sama dia tapi gue nggak berhasil bikin Sandra balas perasaan gue."
Alkana mengusap pundaknya, ia tidak menyangka jika lelaki cupu itu pandai menggunakan kata-katanya.
"Gue titip Sandra ya Al, gue tau cuma lo yang bisa bikin dia bahagia."
Entah mengapa Alkana merasa terhina dengan kalimat itu, sebab kenyataannya tidak demikian.
"Gue sayang banget Al sama Sandra, dan itulah sebabnya kenapa gue rela nglakuin apapun buat dia. Gue pengen lihat dia bahagia."
Alkana serasa tersayat sayat mendengar itu. Bagaimana mungkin ada seseorang yang mencintai Sandra seperti itu, sedangkan dia yang dicintai oleh gadis itu tidak memiliki cinta sedalam yang Haris miliki. Sungguh Alkana malu pada lelaki itu. Tuhan seolah telah menunjukan orang yang tepat untuk mempermalukan dirinya.
Krrrring...
******
Alkana duduk di meja makan dengan tatapan tertuju pada botol minuman depannya, ia baru selesai fitnes. Namun sejak tadi Alkana terus terngiang perkataan Haris.
"Al, mau makan nggak?"
"Kamu kok bisa disini?" Alkana tidak percaya dengan yang ia lihat.
"Terus, dimana? aku, kan emang tinggal disini."
Alkana menatap gadis itu ternganga, lebih tepatnya bengong.
"Mas, Mas Alkana... mau makan nggak?"
Alkana mengerjab-ngerjab, "Eh iya apa?"
"Di tanya mau makan apa nggak, malah bengong?"
Belum mendapat jawaban dari Alkana assisten rumah itu sudah berjalan menuju lemari es, dan di sana Alkana tersadar bahwa ia baru saja berhalusinasi.
Sebenarnya bukan hanya hari ini, tapi sering. Alkana pernah melihat Sandra di kamarnya, ruang tamu, dibalkon bahkan di tempatnya biasa nge-gym tapi yang paling sering, di dapur. Gadis itu terlihat ada di mana-mana, dan ia tidak tau siksaan macam apa ini.
"Mas Alkana akhir-akhir ini mbak perhatiin kok sering nglamun."
Assisten itu sambil memotong motong sayuran. Alkana sampai tidak sadar jika wanita paruh baya yang bersetatus janda itu sudah hilir mudik di depannya.
"Mas Alkana punya pacar ya?" goda asisten itu sambil cengengesan, dia juga menunjuk Alkana dengan pisau dapur. "Wah ada peningkatan dong, di tinggal mbak Yani beberapa bulan."
Asisten itu mulai berceloteh, mengenai tuduhannya pada Alkana yang entah mendapat keyakinan dari mana Yani sangat yakin jika Alkana memiliki pacar. Padahal pembantunya itu baru pulang Tiga hari lalu.
"Mbak Yani kemana aja, cuti kok sampai berbulan-bulan." Alkana memotong ucapan asistennya, telinganya berdengung mendengar ocehan Yani yang tak bermanfaat.
Yani menghentikan aktifitasnya, pertanyaan itu membuatnya merasa tidak bertanggung jawab.
"Maaf mas, anak saya lahiran."
Kening Alkana berkerut. Ia terheran pasalnya kemarin mbak Yani bilang anaknya sakit. Sedikit berhubungan memang, tapi Yani harusnya mengatakan dengan jelas.
"Ada apa Mas, kok malah Mas yang bingung gitu?" Yani menarik kursi di depan Alkana lalu merebahkan pantatnya di sana.
Alkana menggeleng "Nggak, nggak papa," Alkana membuka tutup botol dan meneguk airnya.
"Saya berterimakasih sekali sama ibunya Mas, masih mau nerima saya. Kalau nggak, saya nggak tau mau kerja dimana," Yani menatap majikannya penuh rasa syukur dan seharusnya Alkana juga, karena sekalipun Yani cerewet tapi dia bisa di jadikan teman. Sejak kepergian Sandra Alkana sering merasa kesepian.
"Oh iya Mas, saya mau tanya tadi kan saya beres beres rumah kok ada barang-barang perempuan di kamar sebelah?"
Ukhuk ukhuk ukhuk
Alkana terbatuk batuk sampai air yang baru saja ia telan muncrat kelur. 'Astaga, mengapa ia melupakan hal sepenting itu.' Gumamnya dalam hati.
"Mas, pelan pelan kenapa?" tutur Yani khawatir. Kemudian ia melempar lap yang sejak tadi ia sampaikan di pundak. Lap kotor, tadi ia gunakan untuk mengelap meja, untungnya Alkana tidak mempermasalahkan hal itu.
Alkana mengibaskan kaosnya yang basah lalu membersihkan cipratan air di meja.
Melihat Alkana tak kunjung menjawab Yani bertanya lagi, "Apa ibunya Mas nginep di sini?"
Alkana hanya melirik, ia tidak mempunyai jawaban untuk itu. Tidak mungkin juga Alkana jujur, bisa saja Yani mengadu apa yang ia lihat pada ibunya.
"Tapi nggak mungkin, soalnya tadi aku lihat ada seragam sekolah" Yani bermonolog. "Kalau bukan ibunya Mas, terus siapa? masak iya orang lain."
"Anak mbak Yani beneran melahirkan, bukannya anak mbak Yani masih duduk di Sekolah Dasar?" Alkana mengalihkan pembicaraan, mungkin nanti ia akan mencari cara agar pembantunya itu mau tutup mulut.
Yani membuang nafas, alih-alih mendapat jawaban majikannya itu malah balik bertanya. "Ya nggak lah Mas itukan Tiga tahun yang lalu. Sekarang dia sudah mau lulus SMP."
"Kok sudah melahirkan, kapan nikahnya Mbak?" Alkana menemukan topik yang menyita perhatian asistennya. Tidak ada salahnya sekali-kali ia mengoreksi kehidupan orang lain.
"Anak saya hamil duluan Mas," Yani menunduk. Malu menceritakan masalahnya.
"Hamil?" Alkana mengalihkan pandangannya, "Kok bisa?" tanyanya meski ia merasa tersindir.
"Iya Mas," Yani memasang wajah prihatin, "Saya juga kaget banget waktu itu. Belum lagi orang yang menghamili anak saya nggak mau tanggung jawab, dia malah kabur Mas."
Alkana melirik Yani dengan tatapan curiga. Jangan-jangan Yani hanya menyindirnya, tapi setelah mengamatinya beberapa saat Alkana tidak menemukan kebohongan di sana.
"Kurang ngajar banget kan Mas? ya... saya sadar, saya juga salah karena jauh dari anak saya tapi kalau saya tetap di rumah anak saya juga tidak bisa makan apalagi sekolah. Saja jadi serba salah...."
Alkana manggut-manggut.
"Nah Mas kan juga jauh dari orang tua, Mas jangan seperti anak saya ya. Kasian ibunya Mas yang sudah susah payah membesarkan Mas dari kecil, jangan sampai buat ibu Fany kecewa."
"Iya Mbak," Alkana menjawab seadanya. Tadi ketika di sekolah Haris yang mempermalukan dirinya, sekarang Yani. Mengapa hari ini ia begitu sial.
"Oh iya, Mas tadikan belum menjawab pertanyaan saya?"
Damn, ternyata Yani masih ingat dengan pertanyaan konyolnya.
"Terus, anaknya Mbak gimana. Dia ngelahirin tanpa seorang ayah?"
Lagi, Yani merasa kalah. "Untungnya waktu itu orang yang hamili anak saya kecelakaan sebelum kabur keluar kota sampai patah tulang, jadi mau nggak mau dia hubungin keluarganya dan akhirnya terpaksa dia tanggung jawab."
Sebentar, tadi Yani bilang apa? kecelakaan, patah tulang, dan itu masih untung. Apa ia harus patah tulang juga baru ia mau tanggung jawab. Tidak, tidak Alkana tidak mau patah tulang.
Alkana mengangguk mengerti, "Jadi gitu Mas ceritanya kenapa saya libur lama, saya nunggu orang yang menghamili anak saja mau tanggung jawab sekaligus nunggu anak saya lahiran. karena saya belum bisa tenang kalau cucu saya lahir belum ada ayahnya. Tapi syukurlah sekarang masalahnya sudah selesai, anak saya juga sudah di bawa kerumah mertuanya.
"Oh, begitu...."
"Jadi sekarang sudah bisa kan Mas jawab pertanyaan saya?" seloroh Yani sambil menatap majikannya penuh tanda tanya.
"Hah..." Alkana nampak berfikir, ia berharap dapat menemukan ide cemerlang agar lolos dari pertanyaan itu, tapi setelah selang berapa menit tidak ada satupun ide yang mendarat di kepalanya. Hingga pada akhirnya suara bel berbunyi dan otomatis membuat pembantunya bergegas menuju sumber suara. Alkana menghela nafas, lega.
Selamat, selamat...
Melihat punggung asistennya yang mulai menjauh, Alkana meraih ponselnya di atas meja. Ia akan mencoba menghubungi pacarnya. Cerita asistennya membuat Alkana tersadar, untuk apa ia terus menghindar karena biar bagaimanapun bayi dalam kandungan Sandra adalah anaknya dan ia tidak mungkin rela melihat Sandra menikah dengan orang lain.
Tut tut tut
Panggilan di ponselnya terhubung namun tidak ada jawaban dari seberang sana, hingga suara operator memutus panggilannya. Di sana Alkana mengetahui jika Sandra masih marah padanya.
Alkana memang tidak akan mengatakan langsung jika ia mau bertanggung jawab, tapi setidaknya ia ingin Sandra bersabar dan memberinya waktu untuk membicarakan masalahnya pada Fany.
"Mas ada tamu!" Yani belum sempat mendekat tapi ia sudah berteriak.
"Siapa mbak?"
"Mbak nggak kenal Mas, pacarnya Mas Alkana mungkin."
"Serius Mbak?" Alkana langsung bangkit dan berlari menuju ruang tamu.
Yani hanya mengamati Alkana yang nampaknya antusias dengan kedatangan pacarnya.
"Sandra!" Alkana terkejut saat melihat seseorang perempuan berdiri menatap keluar jendela dengan rambut tergerai dan tangan melipat di dada.
**********