NEVER

NEVER
Pulang



KANTIN adalah tempat favorite siswa siswi SMA Trisakti untuk mengisi kekosongan perut. Selain banyak pilihan menu makan dan berbagai snack Kantin SMA juga di desain layaknya Cafe. Bayak tanaman hias yang di gantung memenuhi tempat itu menambah asri dan hijau suasana kantin belum lagi kursi kayunya membuat nuansa Klasik tempat itu semakin hidup. Tak heran jika siswa siswi di sana betah berlama lama di sana meskipun hanya sekedar bercengkrama bersama teman atau nongkrong. Seperti yang di lakukan Jery dan Alkana misalnya, sejak tadi keduanya hanya memesan minum lalu berbincang-bincang di sana.


"Jadi gimana Al, lo udah nemu jalan keluar untuk masalah lo?" Jery seraya mengusap peluh yang mengucur di dahinya. Ia baru selesai melaksanakan praktek olahraga.


"Kalau misalnya gue bilang sama preman itu gue naik harga menurut lo gimana?"


Jery menyesap minuman isotonik di tangannya lalu mengangguk, "boleh juga."


"Jadi gue harus beli lagi gitu?"


"ya jangan, kan lo bisa ngomong dulu mau apa nggak. Kalau dia mau baru..."


"Gue beli lagi???" Potong Alkana.


"Jangan. Kalau nggak lo kasih harga yang paling mahal, biar mereka nggak mau lagi order sama lo."


Alkana manggut-manggut. Namun sesaat kemudian ia berkata, "tapi gue nggak yakin mereka percaya gitu aja, dia itu preman?"


"Bener juga lo. Atau kalau nggak gini aja" Jery mencondongkan tubuhnya, "lo bilang aja kalau orang yang biasa lo pesen barang itu udah ketangkap polisi jadi lo nggak bisa order lagi sama dia dan barang yang ada sama lo tinggal sedikit. Gimana?"


"Ketangkap polisi, Jangan Jer. Tempat langganan gue abang abangnya baru di bebasin, itu nggak masuk akal."


Jery berdecak sebal lalu menjitak pelipis temannya. Percayalah hanya Jery satu satunya orang yang berani melakukan itu pada Alkana.


"Kok lo malah jitak gue" protes Alkana.


"Heran gue sama lo. Kok bisa ya orang kayak lo ambil kerjaan begituan sedangkan pemikiran lo nggak cermat. Gue jadi ngeri ntar lama-lama lo nyerahin diri kekantor polisi."


"Ya nggak lah" bantah Alkana, "gue nggak sebego itu."


"Gini Al..."


Begitu mendengar kata itu Alkana langsung menajamkan pendengarannya karena Jery seperti ingin membicarakan hal yang sangat penting.


"Lo tau kan pengedar yang baru baru ini di tangkap polisi?"


"Siapa?"


"Yang ada di berita, di TV."


"Nggak."


"Tugas lo cari tau siapa dia dan asal usul orang itu, dan lo ngaku ngaku kalau selama ini lo pesan sama dia. Lo gunain identitas orang itu sebagai alat buat hadapin si botak. Kalau dia masih nggak percaya, ya suruh aja dia nanya sama tuh Napi di kantor polisi. Gimana?"


"Berlian juga ide lo?"


"Ya iyalah. So otak gue selalu upgrade, nggak kayak lo isinya Sandra mulu. Dikit dikit Sandra mulu" Celoteh Jery kemudian.


"Berisik?" ucap Alkana dan seketika membuat Jery mingkem.


***


    Siapa sangka gadis yang populer karena pernah menjadi kekasih ketua osis di SMA Trisakti itu nyatanya sampai saat ini belum bisa move on.


Jika dilihat dari segi fisik Riska tak kalah cantik dengan Sandra. Bulu matanya lentik, hidungnya runcing dan berpipi chubby belum lagi tubuhnya yang tinggi langsing membuat fisiknya terlihat sempurna. Tapi jika benar-benar di sandingkan dengan Sandra maka tetap terlihat kekuranga gadis itu, yaitu dadanya yang terlihat rata dan pantatnya datar berbeda jauh dengan milik Sandra yang lebih padat dan berisi bak gitar Sepanyol. Mungkin itu yang membuat Satria lebih menginginkan Sandra di banding Riska. Selain di kenal playboy Satria juga di cap lelaki mata keranjang.


Gadis yang termasuk dalam team Childers itu memberanikan diri mendekati mantannya yang tengah menikmati segelas green tea. Untungnya satria tidak bersama Bimo jadi Riska bisa lebih leluasa mendekati Satria.


"Hai Sat. Gue, boleh duduk di sini nggak?" Riska melirik kursi kosong di depan Satria.


"Boleh, duduk aja?"


Riska tersenyum sekilas lalu merebahkan pantatnya di sana, "thanks."


Satria mengangguk singkat lalu berkutat lagi pada minuman di depannya sambil mengupas kacang yang sejak tadi ia nikmati.


"Tumben lo nggak sama Bimo?"


"Gue sama dia, cuma dia lagi di toilet."


"Oh."


"Ada apa Ris?" tanya Satria dingin.


Sebenarnya Riska ingin menanyakan apa alasan Satria menolaknya, meski dari yang ia ketahui Satria menyukai Sandra. Tapi Riska tidak pernah mendengar dari mulut Satria jika gosip itu memang benar.


Riska diam beberapa saat lalu menjawab, "Ada yang mau gue tanyain sama lo?"


"Apa?"


"Kenapa lo nggak mau balikan sama gue?"


Satria mengangkat sebelah alisnya, ia sampai bosan mendengar pertanyaan itu.


"Udahlah Ris, semua udah jelas kan?"


"Apa karena Sandra?" ucap Riska sejurus kemudian.


"Menurut lo?"


Riska menunduk. Ia merasa dadanya sesak dan tanpa teras cairan bening menggenang di pelupuk matanya.


"Sat, satu tahun kita sama-sama dan lo semudah lupain gue" Riska seraya menyeka air matanya yang mulai jatuh, Riska tidak perduli lagi dengan orang orang di sekeliling kantin yang diam-diam mengamatinya.


"Lalu gimana sama lo Ris. Cuma gara-gara Sandra godain gue lo asal mutusin gue. Lo egois Ris."


Riska mendongak menatap Satria dengan sorot mata memerah, "lo keterlaluan. Lo tega nurutin kemauan dia dan lo nggak perduli sama perasaan gue."


Satria menghela nafas gusar, "dan lo lebih percayakan sama omongan orang lain dari pada omongan gue. Lo percayakan kalau waktu itu gue bener-bener ngancingin bajunya Sandra. Iya kan?"


Riska menunduk dan masih terus menangis.


"Sandra nggak semurahan itu Ris. Lo tau sendiri gimana selama ini cowok-cowok SMA Trisakti biar bisa jadi pacarnya. Mereka rela ngemis-ngemis, dan bukan karena gue ketua osis gue bisa dapatin Sandra segampang itu. Dia tetap perlakuin gue sama kayak cowok yang lain."


"Kalau lo bilang lo kecewa sama gue. Gue lebih kecewa sama lo dan menurut gue lebih baik lo lupain gue, Karena gue nggak mau lagi kecewa untuk yang ke dua kalinya gara-gara lo."


Gadis berambut sebahu itu semakin terisak ucapan Satria bak pedang yang menusuk nusuk di ulu hatinya.


Bersamaan dengan itu Satria melihat Sandra memasuki kantin dan melewati mejanya. Ia datang bersama Audi dan Kanaya.


Satria langsung berdiri hendak menghadang langkah gadis itu tapi Riska menahan lengannya.


Satria beralih kearah Riska menatap tajam kedalam matanya. "Lo bisa nasehatin gue, tapi apa lo bisa nasehatin diri lo buat berenti ngejar-ngejar gue?"


Riska bungkam. Tidak mampu berkata apa-apa lagi, ia mengaku kalah.


'Harus kemana ia bawa perasaannya?'


***


        Alkana menghentikan laju mobilnya begitu tiba di depan rumah berlantai dua.


"Lo tunggu sebentar di sini. Kalau misalnya gue lama lo langsung masuk aja, ya?" Pesan Sandra sebelum turun dari mobil.


"Hm..." Jawab Alkana seadanya.


"Al, gue serius. Ntar kalau gue di dalam di apa-apain sama Reza gimana. Lo nggak khawatir apa sama gue?" Sandra saraya melirik melihat ekspresi Alkana.


"Nggak" kata Alkana tanpa menoleh.


"Gimana sih lo? sebagai cowok harusnya lo itu lindungin gue. Bukan malah biarin gue dalam bahaya, lo jadi cowok nggak bisa di andalin" Sandra bersungut sebal sambil melepas seatbelt tapi ketika Sandra akan membuka pintu mobil Alkana menahan lengannya.


"Kenapa?" tanya Sandra sambil menatap kearah pacarnya.


"Gue nggak khawatir karena gue percaya..." Alkana memberi jeda pada kalimatnya membiarkan gadis itu menunggu. "Lo... akan baik-baik saja selama ada gue?"


Sandra tersenyum lalu menggigit bibir bawahnya, ia merasa ada yang meledak ledak di dadanya. Mungkin sekarang wajah gadis itu sudah seperti kepiting rebus. 'Alkana ngomong apa sih?'


"Kalau gitu gu-gue turun dulu ya?" katanya yang tiba-tiba jadi gugup.


"Iya."


Mendengar jawaban singkat itu Sandra kemudian turun dan menutup daun pintunya.


Baru beberapa langkah ia menjauh dari mobil namun kakinya terpaksa berhenti, begitu juga senyumannya yang kemudian memudar. Matanya melihat seorang wanita keluar dari rumah bersama gadis kecil seumuran keponakannya.


Sandra mematung melihat perempuan berseragam dinas harian itu melewatinya. Ia tidak tau apa penyebab kedatangan wanita itu, tapi mengapa ia datang ketika kakaknya sedang tidak di rumah.


Setelah wanita itu benar-benar menghilang dari pekarangan Sandra langsung berlari memasuki rumahnya.


Awalnya kedatangan Sandra kerumah ingin meminta uang jajan pada Reza sesuai perintah kakaknya tapi melihat Reza diam-diam menemui wanita lain ia tidak bisa tinggal diam.


"Sandra!" Reza terkejut melihat kedatangan adik iparnya lalu bangkit dari kursi dan menghampiri adiknya sambil melirik kearah halaman rumah memastikan bahwa Sandra tidak melihat tamunya. "Sama siapa kamu kesini?"


"Oh jadi gitu kelakuan lo selama gue nggak ada di rumah" ucap Sandra santai sembari bersidekap.


"Itu nggak seperti yang kamu lihat. Dia datang cuma mau nitipin anaknya karena dia fikir Pika ada di rumah, itu saja" jelas Reza.


"Maling mana ada yang mau ngaku."


"Ok dia hanya mampir sebentar, terus pulang."


Sandra tersenyum miring, "tadi bilangnya mau nitipin anaknya. Sekarang mampir terus nanti apa?"


"Aku serius dia hanya mampir" Reza sambil mengekori langkah adiknya kearah dapur.


Sandra meraih botol minuman di kulkas dan menenggaknya sampai tinggal setengah. "Lo pikir gue percaya???"


"Aku nggak mungkin ngapa ngapain, tadi kamu lihat sendiri kan dia datang sama anaknya."


Sandra manggut-manggut lalu mengembalikan botol minumnya. "Jadi kalau nggak ada anaknya lo tadi udah ngapa ngapain?"


"Sandra, itu pertama kalinya dia kerumah. Sebelumnya nggak pernah ada orang lain yang datang kesini" Reza berusaha meyakinkan.


"Oh ya...?" balas Sandra remeh.


Jika di lihat dari ucapan lelaki itu, nampaknya ia tidak berbohong. Soalnya tidak mungkin Reza mau berselingkuh dengan wanita kurus, pendek dan tak sedap di pandang. Kurang lebih Sandra tau apa yang paling di incar oleh kakaknya, dada dan tubuh ideal.


"Aku serius. Jangan pernah mikir macam-macam, aku nggak pernah menjalin hubungan apapun sama orang lain."


Sandra duduk di meja makan dan bersandar disana, ia jengah mendengar celotehan lelaki itu.


Reza berdiri di samping Sandra. Satu tangannya memegang kursi sedang tangan lainnya ia letakan pada meja. Kepalanya menunduk fokus menatap adiknya.


"Kamu kemana selama ini, kenapa nggak pernah pulang kerumah?"


"Tempat teman" jawab Sandra dingin.


"Kalau kakak kamu tau pasti aku yang kena marah."


"Ya lo jangan ngadu, gimana sih lo?" Sandra sambil mendengus.


"Oke" Reza sepakat lalu duduk di samping adiknya, "asalkan kamu pulang kerumah."


Sandra menyipitkan matanya, "kalau gue nggak mau?"


"Cepat atau lambat Rena pasti tau."


"Gue lebih baik nggak pulang. Gue nggak takut sama ancaman lo" kekeh gadis itu.


Reza terlihat menghela nafas, "Rena sering nelpon dan dia nanyain kamu terus aku bingung kalau tiap hari harus cari alasan. Emang apa susahnya tinggal di rumah selama Rena nggak ada?"


Bukannya menjawab Sandra malah mengalihkan pandangannya. Sejujurnya ia trauma gara-gara kejadian di Mall dan malam itu, ia takut Reza menyerangnya lagi.


"Ok, aku minta maaf soal kejadian kemarin" sesal Reza dan seketika membuat Sandra menoleh.


"Aku nggak bermaksud buat kuarang ajar sama kamu, aku menyesal dan aku janji kalau kamu mau pulang ke rumah aku nggak akan nglakuin itu lagi. Ya..." bujuknya dengan tangan terulur mengusap pucuk kepala gadis itu.


Sandra terdiam dengan sorot mata memandang kakaknya tidak percaya. 'Benarkah Reza akan berubah?'


"Atau gini aja" Reza meraih ponselnya di saku, "kamu boleh tulis berapapun yang kamu mau, asalkan kamu pulang sekarang. Kamu pasti kehabisan uang kan???"


Sandra menatap ponsel itu berbinar. Jika ia menulis sendiri nominal yang ia inginkan ia pasti bisa bersenang-senang, belanja sepuasnya, dugem setiap malam dan mungkin liburan. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Namun ketika Sandra hendak meraih ponsel itu suara seseorang meruntuhkan keinginannya.


"Nggak perlu, Sandra nggak butuh uang!"


***