
SEPANJANG perjalanan Sandra berceloteh memprotes tindakan Alkana yang menurutnya tidak tau apa-apa namun ikut campur. Sandra menyesal gara-gara Alkana ia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang banyak dari Reza.
"Lo bisa diam nggak?" ucap Alkana yang lama kelamaan telinganya berdengung.
"Gampang banget lo asal nyuruh gue diem, lo nggak tau gimana rasanya di posisi gue. Gue butuh uang Al dan nggak ada cara lain selain gue minta sama dia!"
Sandra tak habis pikir apa isi kepala Alkana.
"Dia mau manfaatin lo?"
"Gue tau dan gue bisa kabur setelah gue kirim semua uang dia di rekening gue. Dan lo...." Sandra menunjuk Alkana "lo gagalin semuanya!"
Tinggal selangkah lagi ia bisa menguras rekening Reza tapi Alkana malah datang dan mengacaukan semuanya. Padahal Sandra sangat membutuhkan uang itu.
"Gue ganti, lo butuh berapa?"
Sandra terbelalak, "serius?"
Alkana tidak mau berbelit-belit ia mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Sandra.
Dengan senang hati Sandra langsung meraih ponsel itu. "Lima puluh juta."
"Buat apa?"
"Shopping lah" jawabnya enteng.
"Nggak!" Alkana merebut lagi ponsel dari tangan gadis itu.
"Lo pelit banget sih..."
"Nanti gue transfer, tapi nggak sebanyak itu."
Lagi pula siapa yang iklas memberi uang sebanyak itu hanya di gunakan untuk Shopping. Bisa bangkrut ibunya gara-gara Sandra.
"Dasar cowok pelit...!" Sandra bersidekap mengalihkan pandangannya pada jendela sambil mengerucutkan bibirnya.
Alkana menggelangkan kepala tak habis pikir, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada gadis seperti itu.
What jatuh cinta?
Alkana menepis pemikiran konyolya, ia pasti sudah gila.
***
Seusai membersihkan tubuhnya Sandra berjalan menuruni tangga, matanya meneliti setiap sudut ruang mencari Alkana tapi lelaki itu tak jua menampakkan batang hidungnya.
"Al..." Sandra berjalan melewati pintu melihat kesekeliling halaman.
Matahari masih mengitip pada garis bumi menyorotkan cahaya yang tak lama lagi akan meredup. Disana Sandra berdiri di balik tiang kokoh yang menjulang tinggi di rumah itu.
Pandangannya menyapu seluruh pekarangan berharap menemukan Alkana meski pada ahirnya hasinya sama, nihil. Sebelum Sandra bergeming dari tempatnya ia melihat kendaraan yang biasa di gunakan Alkana bertengger manis di depan garasi dan itu artinya Alkana ada di rumah. Tapi kemana dia?
Sebelumnya Sandra sempat mengintip di kamar Alkana tapi cowok itu tidak ada dan yang lebih menyebalkan Alkana meninggalkan ponselnya membuat Sandra tidak bisa menghubungi lelaki itu.
"AL-KA-NA!" pekik Sandra sambil mengayunkan kikinya menuju dapur.
"Alkana sayang...!" Sandra terkekeh geli setelah mengucapkan panggilan menggelikan itu.
"Al..."
Sebenarnya tidak ada hal yang penting, atau mendesak yang akan ia sampaikan Sandra hanya rindu. Meskipun ia masih kesal dengan Alkana tapi kali ini perasaannya jauh lebih penting daripada kekesalannya.
Mungkin Sandra sudah gila karena merindukan lelaki yang baru Enam puluh menit lalu ia temui tapi, rindu tak mengenal waktu bukan?
Sandra berhenti begitu tiba di ambang pintu dapur, ia baru ingat ada satu tempat yang belum ia periksa yaitu gudang.
"Al..." panggil Sandra lagi sambil melangkah mengendap endap mendekati bangunan yang terpisah agak jauh dari rumah.
Setibanya di sana Sandra tidak langsung mengetuk pintu melainkan berjongkok mengintip di lubang sebesar telur ayam yang ada di sela pintu.
Sandra mengerjab beberapa kali saat matanya berhasil melihat keseluruhan tempat itu hingga tanpa sadar bibirnya membentuk huruf O.
Disana Sandra melihat dengan jelas bahwa tempat yang dulu berfungsi untuk menyimpan barang tak terpakai kini beralih fungsi sebagai tempat nge-gym.
Di tempat itu tersusun rapi perlengkapan Fitness seperti barbell, dumbbell, bench dan peralatan lainnya. Pantas saja Alkana memiliki tubuh professional ternyata di sini rahasianya.
Puas mengamati tempat itu Sandra lalu menempelkan daun telinganya berharap dapat menangkap suara aktivitas atau suara seseorang di sana.
Di tunggu dan di tunggu ia tidak mendengar apa-apa, tempat itu kosong. Tapi bukan Sandra jika menyerah begitu saja, ia yakin Alkana ada di dalam.
Disaat Sandra tengah fokus menajamkan telinganya tiba-tiba pintu kayu itu terbuka.
Brukk.
"Auu..." Sandra tersungkur tepat di ujung kaki Alkana.
Cowok yang tengah bertelanjang dada itu menatap Sandra dengan kening mengeryit.
"Ngapain lo disini?"
Sandra buru-buru bangkit mengibaskan debu yang menempel pada siku dan lututnya.
"Lo nggak punya kelebihan lain ya selain nguntit" seloroh Alkana.
"Gue nggak nguntit" Sandra mengucir bibirnya sebal, Alkana membuatnya terjatuh. "gue nyariin lo dari..." Sandra menggantung kalimatnya begitu mendongak dan melihat Alkana tengah bertelanjang dada.
"Al, kok nggak ngomong sih kalau nggak pake baju" gadis itu seraya menutup matanya dengan telapak tangan.
Alkana menggeleng, setiap kali Sandra melihatnya bertelanjang dada pasti Sandra akan menutupi wajahnya, 'sok sokan' pikirnya lalu melangkah meninggalkan tempat itu.
"Al..." Sandra mengintip di sela jarinya. "Kok gue di tinggal sih, di cariin dari tadi juga."
Cewek brisik itu turut bergeming mengekori Alkana.
"Al... tunggu."
Sandra melangkah gesit melihat Alkana yang semakin menjauh hingga sebuah teriakan membuatnya berhenti.
"Auu..."
Sandra jatuh, kakinya gagal menggapai kramik yang lebih tinggi. Lututnya tergores sampai mengeluarkan cairan merah.
"Al tolongin" tangannya melambai sedang raut wajahnya memelas, ralat lebih tepatnya manja.
Kursi di meja makan menjerit kala Alkana menggeser ujung kakinya dan menepatkan Sandra di sana. Alkana lalu membuka salah satu lemari meraih kotak p3k.
"Lo mau ngapain?" tanya Sandra saat Alkana duduk di depannya dan menempatkan satu kakinya di paha Alkana.
"Ngobatin luka, biar nggak insfeksi."
Sandra mengangguk pasrah, lagipula jarang jarang Alkana peka.
Alkana mulai membersihkan luka itu sedang Sandra hanya meringis menahan perih sambil sesekali melirik pada Alkana. Awalnya Sandra malu ketika melihat Alkana tidak memakai baju tapi lama kelamaan lekuk tubuh lelaki itu memanjakan matanya. Sampai keinginan gila mendarat di kepalanya, Sandra ingin menyentuh perut sispek Alkana.
"Ngapain lo nyari gue?" tanya Alkana yang seketika membuat Sandra tersadar dari lamunan.
"Beneran lo mau tau kenapa gue nyariin lo?"
"Kenapa?"
Sandra mengerang, "nggak ada apa-apa sih sebenarnya. Gue cuma..."
Alkana mendongak menatap Sandra heran, ucapannya tidak terdengar penting tapi mengapa Sandra gugup?
Setelah menempelkan plaster luka Alkana menutup kotak P3k dan menurunkan kaki gadis itu, ia sudah selesai. Kini pandangannya fokus pada gadis cantik di depannya.
"Cuma apa?"
"Gue kangen sama lo" katanya entah sadar atau tidak.
Alkana membeku. Ia tidak percaya, mungkin Sandra hanya ingin menggodanya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia senang dengan pengakuan itu. Sandra membuatnya selalu merasakan hal baru yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sandra menggigit bibir bawahnya seakan menyesali ucapannya.
"Serius?" Alkana kurang yakin.
Sandra mengangguk pelan, meyakinkan.
"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa lo kangen sama gue?"
Sandra menggaruk tengkuknya, bingung.
"Nggak tau. ta-pi bukannya kangen nggak mengenal waktu ya?"
Siapa sangka kalimat itu membuat sudut bibir Alkana terangkat. Ia lalu menyempitkan wajahnya sampai tinggal beberapa senti.
"Yang bener?" goda Alkana sambil menarik dagu gadis itu.
Sandra mengerjap beberapa kali, pipinya bersemu malu. Jika sedang seperti ini Alkana terlihat manis sekali.
"I-iya, serius."
Alkana tersenyum lagi lalu mengecup sekilas bibir gadis itu. Sandra sampai terkejut dengan gerakan Alkana yang tiba-tiba.
"Sini..." Alkana menarik lengan gadis itu menyuruhnya duduk pangkuannya. Sandra bangkit lalu duduk menyamping pada paha Alkana membuatnya harus menunduk jika menatap lelaki itu.
"Ken-kenapa?" Sandra gugup, ia heran mengapa Alkana menyuruhnya duduk dengan jarak sedekat ini.
Alkana sedikit mendongak menatap gadisnya lalu tersenyum smirk. Sandra tidak tau atau pura-pura tidak tau, padahal jelas Alkana menginginkannya.
Tanpa aba aba Alkana langsung meraih tengkuk gadis dan itu menipiskan jarak bibirnya.
Tak ada perlawanan, Sandra menyerah begitu saja. Kecupan itu terasa manis dan memabukan, Sandra tidak bisa menghindari itu.
Alkana menikmati setiap inci bibir gadis itu seolah itu adalah yang selalu ia inginkan. Lidah Alkana menempel pada bibirnya seakan mendesak masuk dan perlahan Sandra membuka akses, mengerti apa yang di inginkan kekasihnya.
Alkana mencium gadisnya dengan lapar, seakan tidak ada hari esok. Matanya memejam sedang kedua tangannya memeluk erat pinggang gadis itu bahkan mengusap punggunggnya bila perlu.
Sandra mengalungkan lengannya pada leher Alkana. Ia tidak perduli seberapa menyengat keringat Alkana, Sandra hanya menikmati sentuhan lelaki itu yang ia yakin berasal dari perasaan Alkana yang terdalam.
.
.
.
.
Alkana melepas punggutannya saat pasukan oksigen mulai menipis.
Deru nafas keduanya masih memburu dengan degub jantung tak kalah hebat.
Sandra membuka matanya lalu perlahan mengarahkan tangannya mengusap cairan yang membasahi bibir lelaki itu dengan lembut.
Alkana masih terpejam membiarkan Sandra menyentuh bibirnya dengan leluasa. Setelah selesai Sandra mengalungkan lagi lengannya pada leher Alkana.
"Al...?" panggilnya lirih.
"Hm..." Alkana membuka mata.
"Lo bohongin gue ya?"
"bohong kenapa?"
"Iya, lo bohongin gue kalau lo bilang lo nggak cinta sama gue."
Lagi, Alkana di buat membeku oleh Sandra.
"Lo cinta sama gue kan???"
****
*Maaf Updatenya lama, tapi semoga masih ada yang setia menunggu ya😊
Jangan lupa simpan di Favorite, Like dan komentar ya, bye bye*